
Intinya, sampai titik darah penghabisan dan selama detak jantung masih terasa maka malam akan menjadi pagi dan pagi akan menjadi malam. Selesaikan sampai ke akar akarnya karena kita tidak tahu sebuah kejatuhan akan menjadi awal keterpurukan yang kembali menuntaskan dendam atau kemenangan. Bagaimana akhirnya Egnor mendapatkan surat Otentik dan kuasa serta mengalahkan seorang Bruce?
...
"Argh!" Pekik Egnor hampir terjatuh ke lantai satu jika August yang datang tiba tiba tidak menahannya.
"August, aku harus ke ruang bawah tanah mansion ini, untuk sementara, kau yang menahan Bruce, dia sudah seperti orang kesetanan!" Pinta Egnor menyuruh August menahan Bruce.
"EGNOR! KAU YANG PENGECUT, PECUNDANG! KEMBALI KAU! KAU TIDAK AKAN MENDAPATKAN SURAT TERSEBUT! EGNORR!!!" Teriak Bruce yang sudah memegang daun pintu dengan napas tersenggal, sementara Egnor sudah berlari sambil memegang perutnya. Dia harus lebih dulu mendapatkan surat tersebut.
Tak lama kemudian terdengar bunyi sirine tanda penyusup memasuki daerah mansion.
"Bodoh! Kingsler, mengapa baru sekarang kalian mengetahuinya!" teriak Bruce lagi hendak mengejar Egnor namun tertahan orang suara seorang pria suruhan Egnor..
"Kau yang bodoh! Kau tidak tahu siapa yang kau lawan!" decak August memberi sindiran halus.
Bruce menoleh ke arah August. Dia memicingkan matanya. Tubuhnya percis seperti Egnor, pikirnya. Dia juga tahu kalau pria ini yang melindungi Kate.
"Cih! Kau, bagaimana wanita buanganku? Apa masih bisa kau nikmati?!!!" celetuk Bruce asal. seketika tubuh August kembali memanas. kenyataannya Kate malah terus merasa bersalah terhadap August yang mulai ia sukai. setiap pagi dan malam Kate menangis merasa tak pantas menjadi wanita yang August sukai sampai mau menjaga serta melindunginya. August terus menenangkan dan berusaha merubah cara berpikir Kate. semua ini tidak akan terjadi kalau bukan Bruce yang merusak mentalnya.
"Diam kau! Kau tidak pantas menyebutnya dengan mulut berbisamu!" Pekik August tidak menerima dengan ocehan tak bermutu Bruce. Dia menghampiri Bruce dan langsung melayangkan pukulannya. Bruce tentu menahannya.
"Tuan, kita di serang!" kata Kingsler yang sudah naik ke lantai dua.
"Aku akan membunuhmu jika tidak bisa mengalahkan semuanya! Cepat ringkus semuanya!" perintah Bruce geram.
Buak!
August berhasil memukul Bruce sampai terhempas kembali ke kamar karena perhatiannya teralihkan oleh Kingsler. Kingsler tentu kembali menghampiri mereka hendak membantu Bruce.
"Tuan?!" pekik Kingsler ingin membantu tuannya.
"Ini mudah, cepat kau kerahkan semua aparat dan kau kejar Egnor! CEPAAATTT!!!" Perintah Bruce mencoba mengangkat dirinya. Bruce dan August terlibat baku hantam yang cukup sengit. Bruce mengakui anak buah Egnor yang satu ini sama kuatnya seperti Egnor.
Sementara Kingsler segera menghubungi penjagaan dari pintu pertama memasuki hutan yang ternyata sudah dibobol dan para penjaga dihabisi oleh Devon bersama anak buahnya. Kingsler menuju kamar Dawney dan Richie sekaligus berteriak untuk menghabisi para penyusup yang sudah menyiapkan diri di depan gerbang mansion.
Begitulah strategi yang Egnor susun dengan sangat matang. Egnor, Dion, Frank, August, Leon dan Gabriel lebih dulu masuk. Egnor dan Dion bertugas langsung ke kamar Bruce menyelamatkan Viena serta menantang Bruce. Sementara Frank dan August berisaja mengambil cincin Claudia kembali dari Kingsler karena di sanalah sistem kecanggihan yang diciptakan Eleazar sebagai alat yang bisa mendeteksi logam mencurigakan, garis merah detektor juga peralatan elektronik dengan teknologi tinggi. Sedangkan Leon dan Gabriel yang menyusup ke ruang cctv dan mencari tombol untuk mematikan garis merah detektor sehingga mereka dapat menyerang dengan leluasa. Namun, ketika Frank Baru saja memasuki ruangan dan mengambil cincin yang terdapat di atas meja Kingsler, Kingsler kembali memasuki ruangannya.
Frank malah menyuruh August menemui Egnor karena mereka sudah terlihat. Frank dan Kingsler terlibat dalam perkelahian sampai Grace memberi tahu di mana ruangan mencurigakan pada mansion tersebut. Frank mematahkan serangan Kingsler untuk melarikan diri terlebih dahulu.
"Gabe, Leon, apakah sistem detektor sudah dimatikan?" tanya Frank memegang earphone untuk menyamakan signal. dia pun keluar dari kamar Kingsler.
"Sudah! Sekarang apa yang harus kami lakukan?" tanya Leon lagi.
"Grace, di mana posisi ruang bawah tanah tersebut? Beritahu tuan Egnor jangan lupa!" Perintah Frank terus menjauh dari kamar Kingsler sambil memegang lengan yang sempat terkena sayatan pisau lipat Kingsler.
"Di sudut ruangan di dapur. Matikan perapian elektronik yang ada di sana. Setelah itu ada pintu bujur sangkar. kalian masuk ke sana dan Di sanalah perpustakaan bawah tanah yang mereka sembunyikan," jawab Grace terus mendeteksi seluruh sudut mansion.
"Sial, mereka memang benar benar niat!" decak Frank mengarah ke dapur.
"Itu surat penting Frank! Baiklah kami juga akan ke sana!" saut Leon.
"Tetap berhati hati karena lawan sudah mengetahui posisi kita!" Frank memperingati.
"Tenang saja!"
__ADS_1
Leon dan Gabriel berjalan perlahan sambil berjaga jaga menyusul Frank. Leon dan Gabriel tidak menyadari kamar Dawney dan Richie. Dawney yang sudah diberitahu Kingsler bersiap memberikan tendangan pada Leon tapi dengan instingnya, Leon bisa menghindar. Terjadi pertarungan sengit. Dua lawan satu. Dawney kalah telak. Leon berhasil menjatuhkan Dawney ke lantai bawah sementara Richie mengendap endap melarikan diri. Gabriel melihatnya. Entah mengapa di dalam pikirannya mengingat Mytha. Mytha meninggal karena Gabriel tidak lebih awal mengetahuinya. Semua ini karena Gabriel terpaksa harus terdampar karena ulah Gabriane tua yang tidak mempunyai perasaan itu.
"Gabe, what's wrong?! Come on!" Pekik Leon menyadari Gabriel terdiam melihat Richie yang lari tunggang langgang.
"Kau duluan saja Leon, aku harus memberesi tua bangka ini!" Saut Gabriel mengejar Richie. Dendamnya sudah melebihi akal sehatnya. Leon menaik turunkan bahunya dan segera ke ruang bawa tanah tersebut.
Sementara Dion berhasil keluar dari mansion tersebut membawa istrinya tanpa adanya perkelahian. Grace yang kini dibantu Lina memberikan arahan untuk Dion dan Viena.
"Viena, aku harus kembali ke dalam karena mereka sudah mulai melakukan penyerangan kembali," kata Dion meminta ijin pada istrinya.
"Tidak Dion! Kau di sini saja! Aku yakin Kak Egnor dan lainnya akan baik baik saja," balas Viena menahan suaminya. Dia tidak mau merasakan kekhawatiran lagi.
"Tidak, aku sudah berjanji sayang! Aku harus membantunya! Kauntidak lihat Bruce begitu memiliki senjata yang ia sembunyikan sementara kakakmu hanya membawa pistol itupun kalau tidak penting sekali ia tidak mau menggunakan. Aku hanya ingin mendampinginnya saja!" ujar Dion menjelaskan pada Viena.
"Jangan aku mohon! Aku tidak mau terjadi apapun padamu!"
Dion tersenyum dan langsung mencium Viena dengan penuh kelembutan disaksikan Devon di depan mereka dan anak buahnya.
"Aku Dion Prime, tidak akan mati jika tidak bersamamu! Hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita bukan manusia, ingat kata kataku!" bisik Dion tepat di depan wajah Viena.
"Dion ..."
"Kakakmu membutuhkanku!"
"Baiklah, jaga dirimu, kita harus membesarkan Dior bersama," kata Viena lagi agar Dion mengingat dia harus berjuang hidup di sana.
"Pasti! Kepala Polisi Devon , bawa masuk istriku ke dalam mobil bersama polisi wanita yang kau ajak!" perintah Dion pada Devon.
"Siap tuan Prime! Nyonya Prime pasti aman!"
...
Bruce sudah kehabisan tenaga. Begitu juga dengan August. August harus terus menahan Bruce sampai Egnor menjdapatkan surat tersebut sementara Bruce harus mencari celah agar bisa melarikan diri dari August dan menyusul Egnor. August memang sangat membuang buang waktu Bruce.
Bruce menuju ke pinggir tempat tidur dan membalikan kasur di sana. August sangat terkejut karena terdapat beberapa senjata dan pisau. Bruce dengan cepat mengambil sebuah machine gun dan menembakkannya pada August. Rentetan peluru keluar dengan cepat mengarah pada August.
Untung saja August sudah mengerti ketika melihat semua persenjataan mengerikan itu sehingga ia keluar dari kamar dan bersembunyi di balik dinding. August juga mengeluarkan pistolnya.
"Jangan halangi aku! Aku harus memusnahkan si pengacara busuk itu!" Teriak Bruce mengarahkan tembakannya keluar kamar.
Dor!
August menembakan sekali pistolnya.
"Tidak semudah itu!" Decak August melintasi ruangan dan masuk ke kamar sebelahnya. Bruce pun keluar dan kembali menembakan peluru berentet itu.
"Sial! Kemari kau!" Teriak Bruce dan August kembali menendang lengan Bruce tetapi tidak jatuh dan menembakan lagi ke arah August tapi dengan ceoat dia menutup pintu kamar dan meminggirkan tubuhnya namun ada satu peluru yang mengenai lengan August.
"Menganggu!" Sindir Bruce berhasil melumpuhkan August dan berjalan menuju ruang bawah tanah.
Bruce melintasi lantai dua dan hendak turun ke bawah. Dia melihat dari jendela yang sejajar dengan tangga perkelahian aparatnya dan aparat pemerintah sudah terjadi. Bruce tersenyum bengis. Dia tidak bisa menunggu lama untu segera menghabisi mereka yang dengan berani mengepung mensionnya. Kalau dia kalah dan tertangkap apalagi Andreas Morris bertindak, tidak ada lagi jalan hidup untuknya kembali ke Japanis. Bruce pun membuka pintu utama mansionnya dan menembakan peluru yang keluar bertubi tubi itu ke arah luar.
"Mati kau semuaaaa!!!!" Kata Bruce dengan mudahnya menekan pelatuk tembakan tersebut. Namun, tak lama kemudian, seseorang memberikan tendangan langsung ke kepalanya sehingga kepala Bruce terbentur daun pintu.
"Itu tendangan karna kau sudah mengecup tangan istriku! Jahanam!" Decak Dion masih menghampirinya. Dia meraih machine gun Bruce dengan paksa dan membuangnya asal. Dion kembali meraih kerah kemeja Bruce.
__ADS_1
"Dan ini, karena kau sempat menginginkan tubuh istriku!" kata Dion lagi.
Buak buak buak!
Dion memberikan pukulan bertubi tubi pada wajah Bruce sampai terpental. Sepertinya Bruce akan kembali dalam perkelahian sengit tapi dia dengan cepat meraih vas bunga yang ada di tengah ruangan tersebut dan melemparnya pada Dion. Dion sedikit teralihkan karena vas itu pecah tepat di kepala dan pundak Dion. Saat itu Bruce kembali melarikan diri menuju ruang bawa tanah. Tidak lupa dia kembali mengambil pistol di ruang persenjataan khusus. Dia mengambil pistol yang ringan, tipis tapi mematikan. Memiliki kecepatan peluru yang begitu akurat. Dia bisa dengan cepat memusnahkan antek antek Egnor dan Egnor pada akhirnya.
...
"Leon, Alex, kalian berjaga di sini! Aku dan Frank yang akan mencarinya di dalam!" Perintah Egnor hendak memasuki perpustakaan kecil itu.
"Leon, gunakan instingmu! Firasatku Bruce akan menggunakan senjata mematikan. Jangan terlalu terlihat menjaga di depan sini. Sebaiknya kalian bersembunyi. Ketika terlihat Bruce atau bawahannya baru kalian serang!" tambah Egnor lagi.
"Siap tuan!" Kata Leon dan mengajak Alex bersembunyi.
Tak berapa lama Leon bersembunyi muncul Kingsler yang hendak masuk ke dalam perpustakaan tapi dengan cepat Leon keluar dari persembunyian. Leon menghantam kan satu pukulan keras ke belakang leher Kingsler. Kingsler tampak kebal dan membalas pukulan Leon tapi Leon berhasil menangkisnya. Mereka saling memukul dan menendang juga menahan sampai Alex di kejauhan sana menyadari kehadiran Bruce yang hendak mengarahkan pelurunya ke Leon.
"Leon, awas!" Teriak Alex menerjang tubuh Leon sehingga mereka berdua terjatuh.
Tang!
Peluru mengenai pintu perpustakaan berbahan besi itu.
"Argh! Kalian berdua sangat menggangguku!" Decak Bruce menarik kerah jas Alex dan mengancam mereka berdua.
"Hey, kau! Pergi dari sini atas kuhabisi temanmu ini!" Kata Bruce menahan Alexa dan mengarahkan pistol mematikannya ke leher Alex. Sementara Kingsler pun telah menguasai tubuh Leon. Dia mencekik dan mengunci tubuh Leon. Sepertinya Leon harus menyelamatkan Alex terlebih dahulu jadi mereka harus menuruti Bruce. Tak lama datang lagi bodyguard Bruce dan menahan Alex. Mereka berempat meninggalkan perpustakaan itu.
Bruce tersenyum licik membuka pintu perpustakaan tersebut.
Dor!
Bruce menembakan pelurunya ke arah lemari yang sedang Frank bongkar. Bruce sengaja tidak mengarahkan pada Frank sebagi peringatan.
"Suruh si anak tiri Ron itu keluar kalau kau memang menaruh dendam padaku dan hendak menghancurkanku dengan tanganmu sendiri! Aku menantangmu Egnor Jovanca!!" Pekik Bruce dengan bengis dan tatapan lurus menajam ke arah Egnor yang menoleh kepadanya akibat tembakan tersebut.
Egnor juga menatapnya. Dia mengarahkan tubuhnya juga berhadapan dengan teman satu kelas kuliahnya dulu. Egnor pun berdehem.
"Aku tidak punya banyak waktu mengurusimu Bruce Dalton, ketua mafia yang agung, tapi jika kau memaksa aku bisa apa?" Kata Egnor menggulung tangan kemejanya dan berjalan mendekati Bruce setelah memberi kode pada Frank untuk terus menjalankan aksinya membuka kunci kode brangkas berisi surat tersebut.
"Nyalimu besar juga ya menghampiriku tanpa perlindungan sedikitpun?!" Bruce mendesis sedikit memundurkan tubuhnya.
"Simpan senjatamu jika kau masih laki laki yang menantang laki laki!!!" Teriak Egnor dengan gerakan tendangan berputar tepat mengenai wajah Bruce sehingga dia tersungkur bersama pistolnya yang terlempar entah kemana.
Buak! Buak! Buak!
Egnor kembali meraih kerah kemeja Bruce dan memberikan pukulan demi pukulan sementara Frank akhirnya berhasil membuka brangkas dan mendapatkan surat surat tersebut. Sebelumnya memang Ron memberikan cairan crush atom pada Frank sebelum mereka ke pengadilan waktu itu jadi Frank menggunakan cairan tersebut untuk membuka brangkas tersebut.
...
to be continued ...
bagaiman hasil akhir Egnor menantang Bruce atau sebaliknya?
next part 153
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕