
Tidak ada yang tahu usia seseorang. Hanya Tuhan yang menentukan. Sepintar pintarnya seorang manusia membuat manusia menghilang, jika Tuhan belum mengijinkan, dia akan selamat, bagaimana pun caranya. Apa yang terjadi dengan Egnor saat itu? Bagaimana dirinya menyelamatkan diri juga menyelamatkan kedua anak buahnya yang setia?
...
Flashback 20 April 2020
Satu setengah bulan yang lalu ketika Egnor selesai mengirimi pesan pada Claudia.
Egnor tersenyum setelah mengirim pesan pada Claudia. Dia masih memandang foto istrinya. Dia yakin istrinya pasti sudah terlelap. Dia juga sudah memastikan dengan Frank. Egnor menatap langit malam saat itu. Dia memicingkan matanya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan anginnya. Dan benar saja anggapannya. Tak berapa lama kemudian turun rintik hujan.
"Aneh, mengapa tiba tiba gerimis?" Egnor bertanya tanya. Dia mengeratkan jas yang diberikan Claudia padanya. Sejak kemarin dia tidak mau menggantinya. Toh, masih dalam sekitar kapal. Mungkin ketika acara nanti di Nederland dia baru menggantinya.
"Tuan Egnor, sepertinya akan turun hujan, silahkan masuk Tuan!" Joe mengingatkan dan Egnor menganggukan kepalanya. Dia masuk ke dalam kapal menyusul Joe. Mereka berdua menuju ke kamar mereka masing masing. Gabe sudah berada di kamar. Egnor mendapatkan kamar deluxe sendiri sedangkan Joe harus berbagi kamar bersama Gabe.
"Selamat malam, Tuan. Menurut perkiraan, besok siang kita sudah sampai," ucap Joe sebelum memasuki kamarnya. Kamarnya ada berada di samping kamar tuannya.
"Ya, Joe. Terimakasih. Selamat malam," balas Egnor dan memasuki kamarnya disusul Joe yang juga memasuki kamarnya.
Egnor pun berbaring. Dia begitu merindukan istrinya sehingga belum melepaskan jas pemberian istrinya. Rasanya tertinggal setiap aroma serta sentuhan tangan Claudia pada jas ini. Egnor mengeratkan lagi jasnya dan memejamkan matanya. Dia membayangkan wajah istrinya yang pasti tertidur dengan pulas. Kalau dia di sana, Egnor pasti mengelus lembut perut buncit itu.
"Hem, good night, Cloudy. I miss you." Egnor menyunggingkan senyumnya sebelum ia masuk kedalam tidur nyenyaknya. Dia sempat mengingat wajah sang istri yang merenggut masam hanya karna ia memanggilnya Cloudy. Sangat menggemaskan pikirnya.
Sekitar pukul 3 pagi, Egnor terbangun karna merasa seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan sangat kencang disertai panggilan namanya.
"Tuan Egnor Tuan Egnor, cepat bangun Tuan!!" panggil Joe dan Gabe secara bergantian.
Egnor segera beranjak dan menuju ke pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Egnor membuka pintu.
"Hujan begitu deras dan angin sangat kencang Tuan. Semua harus berkumpul di balkon kapal," jawab Gabe dengan sedikit panik.
"Oh God! Mengapa bisa begini?" Egnor menutup pintu kamarnya dan mulai menuju ke balkon.
"Cuaca sangat tidak memungkinkan tuan. Pihak kapal sudah mengumumkan untuk pertolongan pertama." jawab Joe sambil mengusap usap lengannya karna keadaan genting, dia langsung keluar bersama Gabe. Dia lupa meraih baju hangat atau jasnya.
"Mengapa kau tidak mengenakan baju hangatmu?" Selidik Egnor melirik ke arah Joe.
"Terburu buru sehingga lupa, tuan! Kalau aku harus kembali lagi sepertinya sudah tidak mungkin. Semua penumpang sudah ke balkon." keluh Joe merasa hawanya begitu mencekam. Egnor menghela napas. Dia pun melepas jas nya.
"Pakai ini!" Egnor memberikan jas nya untuk Joe kenakan. Dia masih menggunakan kemeja lengan panjangnya.
"Tidak usah, tuan. Semoga sebentar lagi semua akan reda." Joe menolak namun bukan Egnor kalau ditolak akan menyerah.
"Pakai saja! Aku masih terasa hangat! Nanti kau yang cuci dan harus dikembalikan!" Egnor memaksa. Joe pun menerimanya dan ia segera mengenakannya.
"Terimakasih tuan!" ucap Joe sudah terasa nyaman.
__ADS_1
"Heemmm."
Egnor, Joe dan Gabe pun segera berjalan ke balkon kapal dan di sana sudah banyak penumpang yang hendak mengamankan diri. Namun, ketika baru saja mereka hendak menggunakan pelampung masing masing, angin kembali menghantam kapal. Kapal sedikit ikut terseret sehingga semua penumpang pun bergoyang mengikuti arah bergeraknya kapal.
Joe juga Gabe secara tidak sadar langsung menahan tubuh tuannya.
"Ada apa dengan kalian? Aku tidak apa apa! Sebaiknya kalian juga menjaga diri! Tetaplah bersama dan segera menuju ke tempat pelampung," perintah Egnor juga hendak menjaga anak buahnya.
"Biar aku saja yang mengambilnya tuan. Kau dan Joe tunggu sini saja!" Gabriel berinisiatif.
"Hati hati Gabe!"
Gabe segera berlari ke arah pembagian pelampung. Suara riuh telah memenuhi balkon kapal yang terbuka itu.
"Perhatian! Harap semuanya tetap tenang dan siaga! Sebentar lagi tim penyelamat akan datang." Pemberitahuan dari pihak kapal terus dikumandakan. Perkiraan mungkin akan terjadi badai karna meskipun hujan rintik namun anginnya begitu kencang.
Gabe sudah berhasil meraih 3 pelampung untuk dirinya, Egnor dan Joe. Namun, baru saja Gabe ingin memberikan kepada Egnor, angin kembali menerpa dan kali ini benar benar hampir membuat kapal terbalik. Joe sudah terseret dan dia hendak terjatuh dari kapal. Egnor pun juga mengikuti arah kapal tersebut beserta yang lainnya. Joe kurang persiapan karna dia merasa sangat kedinginan meskipun Egnor telah meminjamkannya jas, dia terpelanting ke luar kapal tetapi Egnor dengan sigap meraih tangannya.
"Argh!" Joe memegang tangan Egnor juga
"Joe!!! Bertahanlahh, aku akan mengangkatmu!" Egnor berusaha menarik tangan Joe. Angin terus menderu dan benar benar diluar dugaan. Gabe sudah mengenakan pelampungnya dan menahan tubuh Egnor agar tidak ikut terjatuh.
Karena angin yang tak lama disertasi hujan deras Egnor menjadi kurang keseimbangan. Dia dan semua penumpang terombang ambing angin dan ombak yang bersautan satu sama lain.
"Tuan, sulit sekali!" Gabriel masih menarik tubuh tuannya untuk mengangkat Joe.
"Tarik terus, Gab!"
"Tidak tidak, diamlah dulu! Aarrgghhhh!!!" Egnor berusaha terus menarik tubuh Joe namun semua terjadi begitu cepat dan sangat hebat. Sebuah ombak telah menaik dan menghampaskan semua yang ada di balkon.
Dengan kekuatan deru air yang luar biasa, Egnor hampir saja melepaskan tangan Joe tapi dia tetap memegangnya tidak peduli dia harus ikut jatuh bersama bodyguardnya itu. Egnor pun terseret ombak juga arah kapal yang mundur sehingga dia berhasil menaiki Joe kembali. Mereka akhirnya terhempas membentur dinding kapal bersama Gabe. Mereka merintih namun ketika ombak kembali merendah, Gabe berusaha merangkak meraih satu pelampung dan ia berikan pada Egnor. Egnor malah memberikannya pada Joe.
"Tidak tuan! Kau saja!" Joe menolak.
"Kau saja! Cepat kenakan, Joe! Ini perintah!" Bentak Egnor memberikan pelampung pada Joe. Joe tidak begitu saja menerimanya. Tuannya sudah menolong dirinya sehingga tidak jatuh dan dia harus menjalankan tugas sebagai bodyguard kepercayaan Egnor.
"Gabe!" Panggil Joe memberi kode untuk membantunya memaksa Egnor mengenakan pelampung.
"Apa apaan kalian!" Egnor meronta dan mereka berdua berhasil mengenakan Egnor pelampung baju itu.
"Aku akan meraih satu lagi disana, tunggu kau di sini, Joe!" Tutur Gabe dan kembali hendak merangkak meraih pelampung yang memang tadi ia bawakan untuk Joe. Namun baru saja Gabriel merangkak, sekali lagi ketika ombak surut malahan badai itu datang dengan angin kencang, air yang meninggi memasuki kapal. Kapal sudah tidak dapat dikendalikan. Semua penumpangan bertebaran entah kemana mengikuti arah angin dan ombak menghantam mereka. Egnor, Gabriel dan juga Joe tentunya ternyata masuk ke dalam kapal juga beberapa penumpang orang pengadilan.
Tubuh mereka terbentur benda benda di dalam kapal pesiar itu seperti kursi, meja, pecahan kaca jendela yang hancur karna air sudah menerjang serta beberapa platform ruang kapal yang terlepas dari penahannya.
Badai terus bergelora mengombang ambingkan Kapal pesiar yang tidak terlalu besar itu. Karena kemudi sudah tidak terarah, kapal akhirnya menabrak sebuah tebing tinggi yang berdiri sendiri di laut lepas itu. Dengan kecepatan angin yang luar biasa dan benturan yang kuat kapal terbelah menjadi dua. Egnor yang menarik Joe agar tidak terbawa bagian kapal yang tenggelam perlahan berusaha keluar kapal. Kapal sudah mulai terisi oleh air karna hampir tenggelam. Gabriel juga membantu Egnor mencari celah untuk keluar dari kapal tapi Joe malah terhantam sebuah kabin loker. Egnor mencoba untuk mengejarnya tetapi Gabriel sudah menemukan celah untuk keluar dari kapal. Gabriel pun menahan pelampung yang dikenakan Egnor sebelum menghampiri Joe yang sudah terseret bersama kabin tersebut.
"Gabe, Joe terlepas! Dia tidak mengenakan pelampung!" gertak Egnor sekuat tenaga.
__ADS_1
"Sudah terlambat Tuan, ayo!" Gabriel menarik tangan Egnor untuk keluar dari kapal dan Joe tertinggal di sana. Egnor dan Gabe tergenang naik kepermukaan air laut sementara kapal telah tenggelam. Tidak sampai situ, angin dan ombak kembali menghantam. Gabriel, Egnor dan beberapa penumpang kembali tersapu ombak. Egnor telah memejamkan matanya mengikuti deru air kemana akan membawanya. Dia memikirkan Joe, dan khususnya melihat wajah istrinya di sana yang menanti kepulangannya.
'Entahlah, Clau. Aku masih hidup atau tidak. Maafkan aku. Jaga dirimu. Joe, maafkan aku!' Tutur Egnor dalam hati.
...
Tangannya bergerak perlahan dan meraba daerah sekitarnya. Seluruh tubuhnya sakit sekali dan napasnya sesak. Kepalanya terasa panas karna sinar matahari yang menusuk pagi menjelang siang itu. Ya, pria itu, sang pengacara handal itu terdampar di sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Dia tidak sendiri. Ada beberapa orang yang juga terdampar bersamanya. Dia berusaha mendongakan kepalanya. Tangannya sangat pegal sehingga tidak dapat mengangkat tubuhnya.
"Aku masih hidup. Thanks God! Thanks mom! Clau, aku akan pulang." Egnor berkata dengan terbata dan sangat serak. Tenggorokannya perih. Dia masih tengkurap, tetapi dia berusaha membalikan tubuhnya. Sinar matahari kembali menyilaukan tubuhnya. Dia mengangkat tangannya dan menutupi sinar matahari itu. Kemejanya sudah terkoyak dan goresan tangan menghiasi lengan lengannya.
"Di mana aku?" Ujarnya menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Tuan Egnor!!! Uhuk uhuk!!" Terdengar suara seorang pria yang memanggil manggil namanya.
"Ga ... Be ... Aku disini!" saut Egnor tapi sangat pelan. Dia kembali mengangkat tangannya agar Gabriel melihat. Tampak Gabriel berjalan dengan terseok seok sambil memegang dadanya. Dia masih mencari Egnor di tengah tengah orang orang yang ikut terdampar dengannya. Dia tidak mendengar suara tuannya sampai dia melihat tangan itu. Gabriel segera berlari kecil sambil memegang perutnya.
...
...
...
...
...
hem, ternyata kalian di sini, aku Uda hampir mau di bom bardir bang eg 😭😭😅😅
.
next part 101
bagaimana Egnor dan Gabriel di pulau tak berpenghuni itu? apa benar Egnor akan selamat sampai kembali ke Honolulu?
.
rekomen novel baper dari seorang wanita yang sempurna dengan alur menarik dan beda dari lainnya, mampir yaa ::
- KEHIDUPAN SEORANG PUTRI TUNGGAL -
dijamin ketagihan deh, banyak pesan moral kehidupan dan nilai nilai berharga, bukan hanya percintaan 😍😍
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤