
Claudia : Sakit hatiku ini sama saja seperti gelas yang pecah dan aku hendak merapikannya kembali namun malah membuat tanganku tergores dan berdarah. Aku menanti dan mengharapkan perlindungan darimu tetapi sekilas mungkin kau anggap remeh. Jadi, bagaimana aku menyikapi semua ini? Sebentar kutuntaskan rasa kecewaku dan juga rasa bersalahku yang tidak jujur sedari awal denganmu maka aku akan kembali padamu.
Egnor : Sejauh apapun kau melangkah menjauh dariku, pada kenyataannya darahmu dan darahku telah tersambung walau tidak ada yang merasakan, namun ketahuilah kau cinta matiku sekarang dan selamanya. Tunggulah sebentar aku pasti akan memelukmu kembali. Aku sangat yakin, kau membutuhkan pelukanku.
...
Kini sore hari yang sendu telah terganti dengan gelapnya malam. Muncul sedikit demi sedikit cahaya bintang yang menghiasi mewahnya tata Surya berwarna hitam kebiruan itu. Lagi lagi wanita yang menganggap dirinya wanita paling bahagian sedunia menghela napasnya. Dia berdiri di sebuah jembatan di tengah kota Oriental yang terdapat di tengah tengah sungai yang sangat lebar ini. Sesekali Claudia menatap ke bawah, banyak dari mereka yang menaiki perahu perahu angsa dan flaminggo. Mereka adalah pasangan muda yang mungkin sedang mendekatkan diri. Claudia tersenyum menyaksikan keromantisan mereka. Dia mengeratkan sedikit sweater panjang yang ia kenakan. Angin semilir sudah membuatnya agak kedinginan. Pasalnya dia pun sedang mengandung. Dua anak sekaligus. Claudia mengelus perutnya dan tersenyum.
"Sebentar saja sayang kita terpisah dari dad kalian. Aku hanya ingin merasakan kembali kota ini. Sudah lama sekali aku meninggalkannya bersamaan kepergiaan granny mu. Setelah kita mengadakan pemakaman untuknya, aku akan memikirkan kembali bagaimana kita pulang ke Honolulu. Untuk saat ini, bekerja sama lah denganku. Kalau kalian selalu menuruti dad kalian, maka kalian juga harus menuruti ku, oke? Sekarang kita harus beristirahat. Kita kembali ke rumah ku yang lama. Aku selalu membawa kunci rumahku ini sebagai gantungan kunci tas ku. Em, sebenarnya kita bisa menginap di hotel atau motel, tetapi dad mu pasti akan mengetahui statusnya. Untuk sementara kita tidak boleh mengandalkannya. Kita harus membuktikan kalau kita kuat dan tidak rapuh seperti yang di cemaskan dad kalian. Tenang saja, mom akan selalu melengkapi asupan nutrisi kalian. Ayo kita pergi dari sini." Begitulah kata kata Claudia berbicara pada anak yang ada dalam kandungannya.
Claudia berjalan pelan menuju ke pinggir jalan untuk mencari taxi. Dia hendak pergi ke rumah yang menjadi kedai rotinya dulu. Ya, hanya tempat itu yang membuatnya mengenang dirinya bersama Bibinya dan hanya tempat itu alasan dirinya kembali. Dia ingin menunjukan pada bibinya kalau dirinya menghormati sang menghargai segala jerih payah yang telah bibinya berikan padanya.
Namun sekitar sudah hampir lima belas menit, Claudia tidak mendapatkan taxi. Dia akhirnya kembali merasa dingin. Sebuah mobil sedan berwarna hitam berjalan pelan hendak melintasinya namun Claudia sudah berbalik terlebih dahulu. Dia hendak membeli segelas coklat hangat di cafe dekat pinggir jalan itu. Claudia berbalik dan menuju ke cafe tersebut sementara pengemudi yang ada di mobil itu sempat menoleh ke arah Claudia berdiri.
Ya, pengemudi di dalam mobil itu Egnor. Egnor terus mencarinya hampir di sudut sudut kota. Namun, Claudia telah berbalik dan berjalan, Egnor tidak menyadari dan masih terus menengok ke kanan dan ke kiri.
"Kau di mana, Clau? Ini sudah malam. Kau akan tinggal dan tidur di mana? Oh God! Mengapa sampai seperti ini?" Gumam Egnor sambil mengemudi dengan sedikit frustasi. Dia menggaruk kepalanya dan tidak menyerah untuk terus mencari.
Setelah berkeliling pada setengah kota Orientel ini, Egnor lagi lagi berhenti ke jembatan yang tadi sudah di singgahi Claudia dan sempat ia lintasi. Egnor merasa tempat ini cukup indah dengan perahu perahu angsa atau flaminggo yang memiliki lampu sehingga membuat suasana sungai berwarna dan cantik. Egnor merasa harus menenangkan diri dulu.
Ya, Egnor berdiri di tempat istrinya pihak tadi. Dia melihat langit dan betapa indah bintang bertaburan di atas sana. Dia berandai andai sekarang ada Claudia di sampingnya. Sejak dulu mereka selalu menyukai jembatan. Mereka berdua selalu berjalan jalan di jembatan.
"Aku memang senang berjalan jalan di jembatan kak." Kata Claudia memberi tahu kala sore itu.
"Memang kenapa? Hampir setiap kita berjalan jalan, kau ingin terus pergi ke jembatan." Tanya Egnor cukup penasaran.
"Jembatan itu sangat bermanfaat ka, juga dapat mempersatukan dua negara atau dua kota. Sama seperti Hati. Hati yang berjauhan dapat dekat karna adanya sebuah jembatan. Jembatan yang terbuat dari cinta itu akan mempersatukan setiap hati yang mencari pasangannya." Jawab Claudia dengan semua filosofi nya.
"Apa kita bisa menciptakan sebuah jembatan cinta, Clau?" Gumam Egnor tersenyum hangat.
"Mungkin bisa mungkin juga tidak, aku masih takut kalau banyak wanita yang sudah mengakui dirimu untuk mereka kak." Jawab Claudia tersipu malu dan sedikit salah tingkah.
"Cih!" Egnor hanya berdecih dan tidak membahas lagi hubungan mereka waktu itu.
Egnor tersenyum dan hendak meneteskan air matanya mengingat kata kata Claudia belasan tahun yang lalu. Ketika mereka belum pernah menyatakan kata cinta. Betapa membekas semua kenangan dan kata kata Claudia di hati dan ingatan Egnor saat ini.
'kalian ada di mana? Claudia, aku merindukanmu. Maafkan aku sayang. Aku tidak akan seperti ini lagi. Mengapa kau menghukumku sesakit ini? Apa kau balas dendam denganku? Tetapi jika ini membuatmu puas, aku akan menerimanya. Namun jangan salahkan aku jika aku akan terus mencintaimu karna aku tak bisa tanpamu. Dan my twins. Aku mohon jaga ibu Kalian. Bekerja sama lah dengannya. Aku merindukan kalian dan mencemaskan kalian. Kalian ada di mana dan sedang apa? apalah aku tanpa kalian, Claudia, apa jadinya aku tanpamu. sekali ini saja beri aku kesempatan maka aku akan berubah. aku tak sanggup tanpa kalian. kalian di mana? semoga kalian dapat menjaga diri. Tunggulah, aku pasti akan menemukan kalian.' pekik Egnor dalam hatinya. Dia membantin terus menerus berharap Claudia merasakan kesesakannya.
__ADS_1
Malam semakin larut, waktu kini menunjukan pukul sepuluh malam dan Egnor malah terakur di jembatan itu. Mengingat kenangan nya dengan Claudia dan terakhir kali dia melihat istrinya masih berbaring tidur setelah senang dirinya menyetujui baby moon di kota ini Minggu depan.
Tak lama Frank menghubunginya menggunakan ponsel Grace karna Egnor meminjam ponsel Frank untuk ia pegang kalau kalau membutuhkan sesuatu. Nyatanya setelah Egnor pergi sendiri dengan mobilnya, Frank , Grace, Lisa dan Richard mengikuti Egnor dengan Kevin yang mengemudi mobil. Namun mereka kehilangan jejak karna Egnor mengemudi dengan sangat cepat. Mereka akhirnya sudah menetap di sebuah hotel dan memberitahukannya pada Egnor.
"Tuan, kau ada di mana? Apakah sudah menemukan Nyonya?" Tanya Frank di seberang sana.
"Belum!" Jawab Egnor ketus.
"Kau di mana? Sebaiknya kau kembali dulu ke hotel Tuan. Kami ada di Hotel Atkinson Oriental. Beristirahatlah dulu Tuan, besok dilanjutkan lagi." Kata Frank dengan segala kecemasannya. Grace juga sangat panik di sana.
"Apa kau tahu sekarang Claudia tidur nyenyak dan nyaman atau tidak?!" Egnor malah memberi pertanyaan yang mana dia harus menemukannya sesegera mungkin.
"Aku mengerti Tuan, tapi.."
"Diam! Sebaiknya kalian juga mencarinya jangan malah tenang tenang di hotel! Cepat keluar dari hotel itu dan mencari Claudia, CEPAT!" Perintah Egnor hendak mematikan panggilan namun Frank lebih dul
"Apakah kau sudah mencarinya di dekat kantor pengacara lama kita Tuan? Di kedai roti Nyonya Siren. Kau tahu tempatnya kan? Jika belum dan tidak tahu tempatnya biar aku dan Tuan Richard yang kesana." begitulah informasi yang membuat Egnor ingin segera mencarinya.
"Aku saja! Berikan lokasinya pada ponselmu ini! Sekarang!" ujar Egnor.
Egnor mematikan panggilan dan Frank segera memberikan alamat serta gambar peta kantor pengacara lamanya itu. Sudah dua bulan ini kantor pengacaranya tidak beroperasi lagi di sana karna sudah di pindahkan dan di gabungkan dengan pemerintah pusat Oriental. Jadi, Frank tidak pernah kesana lagi dan tidak mengetahui kondisinya.
Egnor segera menyusuri jalan jalan itu menuju ke daerah yang terbilang terpencil. Egnor pernah hanya satu kali kesini ketika pengesahan lahan kantor pengacara nya dan tidak menyadari kedai roti itu. Dia memang tertarik dengan nama kedai itu tapi dia tidak mendatangi nya karna harus cepat menemui pemerintahan pusat Oriental.
Akhirnya Egnor tiba di lahan yang sudah menjadi sebuah ruko yang cukup luas dengan tinggi 3 lantai. Di samping ruko yang dulunya kantor pengacaranya sudah terdapat mini market dan rumah makan kecil. Lalu Egnor melihat lihat di sekita ruko ruko yang sejajar dan mencari kedai roti milik Claudia itua. Dia menemukan nya. Sebuah kedai yang sudah agak usang dan di kerubungi beberapa sarang laba laba. Plang nama kedai tersebut sudah hanya tersisa nama Clou, selanjutnya mungkin sudah terhapus. Egnor mengernyitkan dahinya dari mobil. Apakah Claudia ke sini karna kedai itu pun tak berlampu. Tidak seperti beberapa rumah yang ada di antara kedai itu. Namun, Egnor tetap memastikan. Mungkin saja lampu depan kedai itu sudah rusak namun Claudia tetap nekat masuk ke dalam.
Egnor menuruni mobilnya dan mendekati kedai roti itu. Dia mencoba melihat lihat sebelum mendekati pintu samping kedai itu. Karna sepertinya tidak mungkin jika melalui pintu depan kedai yang merupakan kayu kayu yang digabungkan. Egnor mengetuknya. Dia mengintip di jendela samping pintu itu namun hanya kegelapan yang ia lihat.
"Claudia tidak di sini, aku yakin! Di mana kau Clau!! Oh mom! Di mana istriku? Beri aku petunjuk mom!" Egnor cukup berkata keras dan malah memanggil ibunya yang di surga. Dia akhirnya terduduk lemah di bangku kayu di samping kedai itu.
Egnor mengusap wajahnya kasar. Dia benar benar frustasi dengan kehilangan Claudia seperti ini. Dia berpikir hanya dengan menjemputnya dan menemuinya di rumah sakit masalah selesai namun malah menjadi rumit seperti ini.
"Mom, menantu mu menghilang. Aku tidak tahu di mana. Tolong bisikan sedikit di mana dia !!! Argh, semua ini membuat ku gila! CLAUDIA KAU DI MANA!!!" Egnor menyandarkan dirinya di dinding kedai tersebut. Sudah sangat larut dan hatinya pun ikut kalut. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke mobil. Di bermalam di sana. Dia hanya berharap besok pagi dia melihat Claudia ada di sekitar tempat ini dan menyadari dirinya di mobil ini. Egnor sudah sangat lelah dengan pikiran dan perbuatannya hari ini. Dia bahkan tidak selera makan. Hanya makanan buatan Claudia tadi saja di pesawat sudah ia makan. Dia ingin Claudia hanya Claudia.
...
...
__ADS_1
...
...
...
hemm bang hatiku perihh .. makan dulu bang 😭😭
.
next part 5
kapan kau menampakan dirimu Clau?
hanya ingin menjaga dirimu dan kandunganmu Mimi, ayo hampiri suamimu
di mana sebenarnya Mimi Clau?
kemana lagi Egnor akan mencari istrinya?
.
rekomendasi novel teen teen bau bau remaja yang menyegarkan mengingatkan masa masa sekolah antara Yoora dan Michael mampir gaes dengan judul:
-- TETAPLAH BERSAMAKU --
by Bernadeth Sacitha
dijamin nostalgia abiiss 😍😍
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤