
Sedikit membahas tentang cinta. Cinta itu memainkan hati atau jiwa. Cinta merupakan gejolak emosi yang timbul dalam bentuk perasaan pada hati atau di jiwa. Tapi sebenarnya, cinta tidak seenaknya saja muncul begitu saja dalam hati. Rasa cinta yang timbul membutuhkan proses. Seperti kita makan tidak akan langsung turun ke dalam lambung. Dia akan dicerna terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam sumber penghilang lapar tersebut.
Begitu juga dengan cinta. Cinta tumbuh dari proses yang terjadi dalam otak, biologi dan fisik. Ketika kita tertarik dengan seseorang apalagi ketika melihat pada pandangan pertama saja, tubuh kita dibanjiri dengan hormon hormon yang berkutat dalam tubuh kita sehingga kita menciptakan gerakan gerakan yang berbeda dari dalam tubuh kita. Kita pasti pernah merasa desiran dalam hati, jantung berdebar, keadaan tubuh yang tidak normal dan rasa penasaran. Inilah yang dinamakan gejolak emosi yang menjadi perasaan perasaan tak menentu. Jadi, cinta dapat di artikan turun dari mata, lalu berputar putar di otak dan dengan cepat membanjiri seluruh sistem tubuh lalu barulah terasa di hati. Seperti sepenggal lirik sebuah lagu dari Jaz, dari mata membuat ku jatuh jatuh terus, jatuh ke hati ..
Sekali saja Frank melihat kedua mata itu menatap nya dalam sendu. Tidak tajam tapi juga tidak lemah membuat Frank merasakan gejolak yang sedikit menggelitik dalam hatinya. Ya, Frank tidak bisa dulu mengambil keputusan. Tapi, rasanya Frank ingin mengetahui lebih dalam tentang Grace. Grace merupakan sekertaris Egnor, brarti Grace bukanlah orang sembarangan. Frank sanga ingin mencari tahu. Hati ini sedikit berdesir dan jantung agak berdetak kencang ketika akhirnya Grace mengerutkan dahinya namun masih dalam senyuman karna Frank tidak melepaskan tangannya.
"Ehem, Tuan Franky? Apa ada yang salah denganku?" Tanya Grace agak menggeleng gelengkan wajahnya hendak menyadarkan Frank. Frank pun tersadar. Dia segera melepaskan jabatan tangan mereka.
"Oh iya maaf nona Graciella, aku aku aku hanya gugup bertemu wanita cantik sepertimu." Frank menggaruk garuk belakang kepalanya.
Terdengar Egnor sedikit terkekeh.
"Grace , Tuan. Dan tidak perlu menggunakan Nona, kita sama sama bekerja bersama Tuan Jovanva. Permisi." Balas Grace membungkukan tubuhnya tersenyum lalu menuju ke mejanya yang masih ada di ruangan itu.
Frank juga tersenyum. Dia lalu kembali menghadap Egnor.
"Maaf Tuan, saya hanya sedikit terkesima kalau sekertarismu cukup cantik." Kata Frank sedikit tersenyum.
Egnor mengangguk angguk tersenyum tipis.
"Baiklah, sebentar lagu aku ada rapat diruang pertemuan lantai 7, kau boleh ikut denganku untuk melihat apa yang terjadi. Setelah itu kau tanyakan semua job description mu pada Grace." Kata Egnor kemudian.
Grace sedikit melirik Frank dan tersenyum. Ketika Frank mengetahui akan kembali bicara pada Grace dia menoleh ke arah Grace. Grace tampak salah tingkah dan kembali melihat komputernya yang sedang menyala.
"Ba baik Tuan."
Dan Frank pun mengikuti rapat bersama Egnor. Di sana Frank memperkenalkan dirinya. Tugasnya yang pertama hanya mendengarkan jalannya rapat dan jika ada sesuatu yang penting, dia mencatatnya pada notepad ponselnya. Egnor sedikit melirik Frank dan dia yakin dia tidak salah menerima Frank bekerja bersamanya.
Setelah sekitar satu jam rapat selesai. Egnor dan Frank kembali ke ruangan. Grace mengingatkan Egnor kalau dirinya harus menemui ayahnya untuk urusan tanah dan pekerjaan lain bersama ayahnya itu. Egnor segera bergegas dan meninggalkan Frank dan Grace di ruangan itu. Ruangan Egnor dan Grace memang menjadi satu dengan satu meja lagi untu asisten Egnor. Sebenarnya Egnor tidak menggunakan asisten namun sepertinya kantor pengacaranya semakin lancar dan maju, Grace sudah menyelesaikan laporan dan Surat surat saja sudah bagus. Jadi tetap harus ada seseorang yang mengurus keperluan Egnor.
Dan Frank masih berdiri di depan meja Egnor setelah tuannya itu pergi meninggalkan ruangannya. Tampak Frank sedang memainkan ponselnya. Grace agak sedikit kikuk namun dia mencoba biasa saja. Perawakan Frank yang cukup rapi membuatnya Grace merasa seperti Tuan Egnor yang agak lebih muda.
Tepat sekali jam makan siang, Grace pun bergegas dan Frank masih memainkan ponselnya di sofa seperti sedang berhubungan dengan seseorang melalui chat atau email. Frank memang sedang malakukan chating dengan ibunya. Dia melupakan yang diperintahkan Egnor.
"Ehem, Tuan Frank permisi?" Grace sedikit memiringkan kepala dan melambai lambaikan tangannya.
Frank akhirnya tersadar.
"Ya Tuhan. Maafkan aku Grace. Aku sampai lupa!" Frank menyimpan ponselnya.
"Tidak apa apa Tuan, em aku ingin makan siang. Apa kau mau ikut atau di sini saja?" Ajak Grace yang menghormati Frank sebagai orang ajakan Egnor.
"Oh boleh, aku juga agak lapar, em Grace, bisakah kau hanya memanggilku Frank? Kurasa kita seumuran." Pinta Frank.
"Oh begitu ya? Baiklah Tuan Frank, maksudku Frank." Grace masih belum terbiasa.
"Kau lucu sekali, ayo!" Kata Frank berjalan lebih dulu keluar ruangan dan wajah Grace tampak tersipu malu karna Frank mengatakannya lucu.
Sesampai di kantin, Grace dan Frank duduk di sebuah meja agak ke tengah. Mereka telah memesan makanan dan hanya tinggal menunggunya. Karna Elizabeth yang terus menghubunginya, Frank jadi terus memegang ponselnya. Grace pun tidak ambil pusing karna dia pun sudah terbiasa makan siang sendiri atau membelinya dan makan di ruangan.
Tak berapa lama datang seorang pelayan yang hanya membawakan satu porsi makanan mereka. Pelayan itu juga mengatakan kalau makanan yang mereka pesan hanya tersisa satu porsi. Jadi, mereka hanya membawakannya satu porsi. Frank memang memesan makanan yang sama dengan Grace karna dia bingung ingin memakan apa.
"Baiklah terimakasih." Kata Grace pada sang pelayan yang lalu pergi.
Grace lalu menghela napas. Dia ingin sekali memakan Fettuccine Aglio Olio ini karena pekerjaan yang menumpuk, dia tidak sempat membuatnya. Tetapi dia juga harus menghargai Frank yang merupakan pekerja baru tuannya. Dia harus memberikan kesan baik pada Frank. Dia lalu mendongakan kepalanya melihat Frank yang ternyata sedang menatapnya tersenyum. Frank tersenyum padanya dengan menyunggingkan sisi bibirnya. Dan satu tangannya menopang dagunya. Grace agak terkejut dengan senyuman Frank yang cukup menggemaskan. Belum pernah rasanya dia melihat pria tampan sedekat ini. Egnor? Dia tidak berani menatap Egnor yang selalu serius. Sedangkan Frank? Mengapa jantungnya tiba tiba kembang kempis tak jelas dan muncul hawa panas dalam dirinya yang membuatnya agak merinding menyaksikan senyum indah itu.
Tak lama Grace tersadar dan menggaruk pelipisnya.
"Em Frank, untukmu saja. Aku bisa memesan yang lain." Kata Grace hendak beranjak.
"Tidak!" Kata Frank menahan Grace berdiri.
"Tidak? Kenapa tidak?" Grace agak terheran.
"Kita makan berdua saja." Jawab Frank menaik turunkan alisnya.
"Berdua?" Grace agak bingung bagaimana menanggapinya.
"Ya, aku tidak mempunyai penyakit menular, kau tenang saja." Jawab Frank mulai meraih garpu dan memutar mutarkannya di atas gundukan Fettuccine tersebut.
"Em, ba, ba, baiklah." Grace mengalah. Dia lalu kembali menaikan tangannya hendak meminta garpu lagi kepada pelayan, namun karna suasana restoran gedung yang cukup ramai, banyak pelayan yang tidak mendengarnya.
"Grace!" Panggil Frank kemudian.
"Ya?" Grace langsung menoleh ke arah Frank.
"Buka mulutmu!" Frank yang sudah bersiap dengan lilitan Fettuccine di garpunya mengarahkan ke mulut Frank yang tanpa sadar langsung ia buka dan menerima suapan Frank.
"Ehem, uhuk, uhuk!" Grace terbatuk karna sedikit terkejut namun dia tetap menerima suapan itu. Grace terbatuk juga karna salah tingkah karna garpu itu juga digunakan Frank.
"Grace? Kau baik baik saja?" Tanya Frank sedikit cemas dan memegang satu tangan Grace yang ada di meja.
"Tidak apa apa ." Grace mengelus dadanya dan meraih minumannya.
"Grace? Ada yang salah dengan Fettuccine nya?" Frank memastikan.
Grace menggeleng menarik napasnya.
"Lalu?"
"Mengapa kau menggunakan garpumu?" Tanya Grace masih menutup mulutnya.
"Oohhh, hahaha, kau benar benar lucu sekali, lalu kenapa kalau menggunakan garpuku? Daripada kau menunggu garpu yang tak kunjung datang, lebih baik kusiapi kan? Bagaimana? Enak kan?"
"Tapi, aku tidak mau menggunakan garpumu!" Dengus Grace membuat Frank semakin menikmati wajahnya yang sangat juj
"Haha, tenang saja Grace, itu tidak dikatakan dengan ciuman kok!" Frank terkekeh sedikit menggoda Grace.
Grace kembali terkejut dan menutup mulutnya. Mengapa Frank mengetahui apa yang ia pikirkan? Ini memang kali pertama Grace dekat dengan pria. Pernah dulu ada pria yang ia suka, tapi pria itu tidak mengetahuinya sampai Grace pun merasa sudah tidak penting lagi. Grace hanya menonton film drama sesekali.
__ADS_1
"Grace Grace!! Santai saja, ini makan lagi!" Frank masih terus mencairkan dan mengakrabkan suasana.
Grace menggeleng dan kembali meminum minumannya. Frank mengalah dan dia yang memakannya namun tetap sesekali menyuapi Grace. Grace sepertinya sudah terbiasa karna Frank terus bergurau tak jelas dengannya. Menurut Grace tidak lucu tapi Grace mencoba tersenyum kecil.
"Grace, kau jangan diam saja karna itu sangat berbahaya." kata Frank tiba tiba. Grace terheran.
"Maksudmu?" Grace mengerutkan keningnya.
"Ya, karna kau diam diam sudah masuk dalam hatiku! Hahahaha!!!" saut Frank dan dia malah ikut tertawa.
Grace tersenyum kecil. Sebuah lelucon yang sangat tidak berkelas namun entah mengapa Grace menyukainya. Grace tahu ini hanya sebuah gurauan tapi kenyataannya dia senang. Sepertinya mereka bisa berteman dengan baik. Begitulah pemikiran polos Grace.
Setelah mereka menghabiskan Fettuccine sampai tak tersisa, mereka pun kembali ke ruang kerja mereka. Sesampainya di ruangan, Frank langsung duduk dan menyandarkan dirinya ke sofa panjang itu.
"Em Frank, aku harus memberitahu job description mu, jangan sampai Tuan Egnor memarahimu!" kata Grace memberitahu.
"Apa kau pernah dimarahi olehnya?" selidik Frank.
"Lumayan, tapi aku pun baru saja bekerja dengannya selama satu tahun ini."
"Baiklah, jadi apa saja pekerjaanku?" Tanya Frank kembali beranjak menuju meja kerja Grace. Dia duduk di hadapan Grace.
Grace pun menjelaskan secara rinci semua pekerjaan yang harus dilakukan Frank. Grace juga memberitahu sifat dan sikap Egnor agar Frank meminimalisir kesalahan dan dapat selalu baik di mata Egnor. Grace memberitahu jadwal yang sudah ia buat untuk Egnor sebelum Frank datang. Dan semua kebiasaan Egnor yang Grace ketahui, ia beritahukan pada Frank karna tugas asisten menyesuaikan semuanya dengan atasan. Namun, sepertinya semua penjelasan Frank hanya sebagian dicerna oleh Frank karna ternyata, Frank malah memperhatikan wajah Grace. Grace yang menjelaskan dengan sangat apik dan rinci sehingga terpancar kepintaran Grace yang sangat berbinar binar. Rahang rahang pipinya yang terukir indah menurut pengamatan Frank. Bibir Grace yang tertutup dan terbuka membuat Frank malah ingin menerkamnya. Dan sampai akhirnya Grace selesai dan memperhatikan wajah Frank yang cukup aneh baginya.
"Frank? Kau tidak mendengarku ya?" Tanya Grace dengan nada cukup meninggi. Karna Frank terkejut dan salah tingkah, dia malah mengatakan hal yang membuat Grace benar benar terkejut.
"Apa kau pernah berciuman, Grace?" tanya Frank karna terakhir dia memperhatikan bibir Grace.
"Hah?" Grace sedikit menganga dan saat itulah Frank tersadar.
"Bukan bukan, maksudku apa kau mencium hawa hawa Tuan Egnor sedang jatuh cinta sehingga dia terkadang sensitif?" Jawab Frank mengalihkan pembicaraan dan dia sempat mendengar kalau Egnor terkadang agak sensitif. Ya, untung saja ada sebagian kata kata Grace yang masuk dalam otaknya.
"Oh, em kurasa tidak. Ya memang emosinya kadang naik turun. Kata Nyonya Anne yang pernah bertemu denganku, Tuan Egnor seperti ini Karna sudah ditinggalkan kekasihnya." Grace mengoreksi hal yang ia ketahui.
"Nah itu sangat berkaitan Grace. Kalau kau, apa kau sudah mempunyai kekasih?" Frank merasa selalu memiliki segudang hal untuk menggoda Grace.
"Frank? Kau ini apa apaan sih? Bisa tidak kita serius?" Grace mengingatkan.
"Hem, aku hanya takut kekasihmu beranggapan macam macam jika kita dekat seperti ini Grace!" Frank berkelit.
"Aku tidak punya kekasih. Sudah sekarang dengarkan lagi, kau ini!" decak Grace sebal.
"Kalau begitu, aku saja yang menjadi kekasihmu, bagaimana?"
"Frank! Cukup! Sepertinya memang sudah cukup. Kita sudah lama bercengkrama. Sekarang aku ingin melanjutkan tugasku dan sebaiknya kau pelajari saja semua tentang gedung ini!" dengus Grace dan sudah tidak selera memberitahu Frank.
"Hahaha, aku bercanda Grace. Baiklah, aku akan menempati meja kerjaku, Ting!" Frank menyerah karna sudah cukup puas menggoda Grace. Dia pun meninggalkan kedipan mata untuk Grace yang membuat Grace semakin merinding dan belum pernah semua gejolak emosi ini bermunculan.
Begitulah setiap hari, seiring berjalannya waktu mereka telah bekerja bersama, Frank selalu menggoda Grace ketika Egnor tidak ada. Jika Egnor bergabung bersama mereka, mereka lebih sering berdiam sampai Egnor yang mengajak mereka bicara. Frank akhirnya menyadari sesuatu kalau sepertinya dia menyukai Grace. Ketertarikannya ketika melihat untuk pertama kali menimbulkan perasaan yang berlebih. Dengan sosok Grace yang tidak neka neko membuat Frank merasakan hal yang berbeda. Selain itu mer ka sering bertemu membuat benih benih cinta muncul di relung hati Frank. Frank hanya mendekati dan mencari cara membuat Grace nyaman dengannya walau Frank belum tahu apakah Grace juga merasakan hal yang sama.
Perasaan cinta Frank semakin bertambah ketika Egnor mengharuskan Frank untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat Magister atau S2 untuk menunjang karirnya. Karna, Egnor sudah menyadari keahlian Frank selama dia mengikuti kasus kasus bersamanya. Egnor melihat kualitas besar dalam diri Frank. Namun, Egnor sudah mengatakan kalau ingin menjadi pengacara yang dipercaya, Frank harus memiliki gelar lebih tinggi lagi. Egnor tidak memperkenankan Frank terus mengandalkannya. Frank setuju. Akhirnya dia kuliah sambil bekerja. Di saat itulah peran Grace terkadang membantu Frank mengerjakan tugas kuliahnya. Frank sangat takjub kalau ternyata ilmu pengetahuan Grace sangat luas.
Grace sebenarnya tahu apa yang terjadi pada Frank sedikit banyak dari Egnor namun Grace tidak mau ikut campur. Grace tidak mau Frank merasa dirinya mengurusi kehidupannya. Namun, rasanya Grace memang harus turut campur dalam kehidupannya karna saat itu Grace harus jatuh cinta pada Frank. Dengan hari yang terlalu sering membuat mereka bertemu dan terkadang Frank menginap di apartemen Grace tanpa sepengetahuan Egnor. Frank merasa Grace adalah rumahnya karna Grace selalu membuatnya tidak memikirkan masa masa sulitnya. Awalnya Grace menolak namun dia juga kasihan dengan Frank dan memang senang karna ada yang menemaninya.
Suatu ketika, Grace merasakan kesigapan Frank membuat dirinya semakin ingin bersama Frank. Sebuah kejadian yang sederhana yang mampu meluluh lantahkan hati seorang Grace untuk Frank. Ketika Grace hendak berusaha meraih file dokumen di lemari bagian atas di belakang meja kerjanya. Grace harus meraihnya sendiri karna saat itu Frank dan Egnor sedang rapat pertemuan pengacara. Grace akhirnya memanfaatkan kursi tapi naas, tetap tidak sampai dan dia harus berjinjit sedikit. Ketika ia berjinjit memang sudah tidak seimbang dan sedikit terkejut Karna Egnor dan Frank kembali. Dia pun terjatuh. Kakinya terkilir. Mata kakinya bengkak saat itu juga. Frank juga Egnor terkejut melihat kejadian ini. Frank dengan sigap mengalahkan Egnor yang juga hendak menghampiri langsung menggendong Grace dan memindahkannya ke sofa.
"Kenapa bisa begini Grace?" Tanya Frank yang langsung berjongkok di depan Grace dan memegang kaki Grace yang terkilir.
"Sakit Frank!" Grace merintih.
"Apa yang kau lakukan Grace?" Tanya Egnor juga dan segera ke meja kerja nya. Egnor menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa Grace.
"Aku hendak mengambil dokumen file di atas lemari sana Tuan. " Jawab Grace pada Egnor.
"Memang tidak bisa menungguku hah?" Decak Frank sangat cemas. Dia mencoba memijat kaki Grace namun Grace makin merintih.
"Sabarlah, sebentar lagi dokter akan memeriksamu." Kata Frank menatap panik Grace.
"Frank, aku tidak apa apa." Grace malah memegang wajah Frank agar tenang.
"Kau harus berhati hati Grace!" decak Frank sangat cemas. Grace tersenyum kecil. dia merasakan bentuk perhatian Frank yang besar padanya.
"Tenang saja Frank, itu hanya kaki," sela Egnor.
"Bukan seperti itu Tuan, wanita ini memang agak ceroboh, kemarin saja tangannya terjepit pintu yang hendak ia tutup sendiri." Tutur Frank.
"Frank, sudahlah!" Grace meyakinkan Frank.
"Ehem, mungkin dia membutuhkan pengingat hidup Frank." Egnor menggoda.
"Hem, dia tidak mau denganku Tuan!" dengus Frank yang sudah satu kali menyatakan perasaannya namun Grace menolaknya. Grace takut kalau dirinya belum begitu pantas untuk Frank.
"Usahamu kurang!" Egnor melambaikan jari telunjuknya.
"Frank, Tuan, mengapa kalian membicarakan ku di depan ku? Tidak waras! Sudah diam semua dan Tuan, kau jangan menggoda Frank dan aku, nanti kau bisa mengingat kisah cintamu!" Grace malah berbalik menggoda tuannya karna dia sebal dengan Frank dan tuannya itu.
"Diam kau Grace! Sudah diam, tidak usah ada pembahasan cinta! Apa itu cinta?! Aku tidak tahu, dia datang dan pergi sesukanya, memang hatiku terbuat dari batu?" mulailah emosi Egnor naik dengan cepat jika membahas masalah cinta waktu itu.
"memang!" celetuk Grace dan Frank terkekeh.
"Grace, kau mau kuturunkan jabatan menjadi sekertaris Frank?!" ancam Egnor.
"Oohh, dengan senang hati, dengan begitu aku bisa terus melihat Frank seperti dulu." balas Grace tanpa sadar namun ini merupakan ungkapan hati kecilnya.
Frank langsung mendongakan kepalanya mendengar penuturan spontan Grace. Frank memang sudah ditunjuk Egnor menjadi wakil direktur kantor pengacara nya. Dia sudah memiliki ruangannya sendiri dan menjadi asisten Egnor jika diperlukan saja.
Sejak saat itu, Frank yang merawat Grace dan Frank semakin mengetahui kalau Grace sudah mulai menyukainya. Mereka pun memutuskan memiliki hubungan. Grace sudah tidak bisa lagi menutupi perasaannya. Frank sangat baik padanya juga perhatian. Frank selalu menemaninya dan tidak mudah terpengaruh dengan wanita lain mengingat karirnya yang semakin meningkat dan tak ayal menemukan klien klien wanita yang cantik. Frank tidak pernah menanggapinya sedikitpun.
"Kau saja sudah cukup bagiku Grace! Kau bisa mengujiku kapanpun!" Kata Frank menatap lekat lekat Grace di sofa apartemen Grace. Grace mengangguk percaya. Frank pun mencium bibir Grace dengan sangat lembut.
__ADS_1
Dan, atas persetujuan Egnor karna mereka sudah merupakan sepasang kekasih, Frank pindah rumah tidak lagi menempati rumah peninggalan ayahnya. Dia pun menetap bersama Grace.
"Aku tidak masalah kalian tinggal bersama dan melakukan apapun, tapi kau harus terus bertanggung jawab atas Grace, Frank!" kata Egnor mengijinkan.
"Aku tahu Tuan!"
Dan memang, Frank harus mempertanggung jawabkan Grace sepenuhnya bahkan mungkin selamanya ketika hal ini terjadi. Frank frustasi ketika mendengar ibunya yang akan pindah ke Japanis bersama ayah tirinya dan anak mereka. Ibunya sudah lagi melahirkan seorang anak perempuan. Frank sempat menahannya namun ibunya lebih memilih keluarga barunya. Padahal Frank masih berharap hubungannya dengan ibunya dapat kembali seperti dulu. Namun, Frank merelakan dengan lapang dada. Dia sudah tahu kalau ibunya tidak lagi mencintainya. Frank pun meluapkan kekesalannya di sebuah bar setelah dia bertemu denga kliennya. Dia minum di sana karna menyadari suatu hal kalau ibunya sungguh mengedepankan harta. Frank memang belum mengatakan kalau dirinya sudah diangkat menjadi wakil direktur oleh Egnor. Dia ingin ibunya yang seperti semula. Frank jadi merindukan ayahnya.
Frank minum di sana bersama Joe yang kebetulan menjadi supirnya saat itu. Namun Joe merasa kalau Frank sudah keterlaluan. Dia pun mengantar Frank ke apartemen Grace. Grace memang sedang menunggu Frank karna sampai pukul sepuluh malam belum pulang. Grace tidak berani bertanya pada Egnor takut Egnor berpikir yang macam macam.
"Untung saja dia bersamamu Joe!" kata Grace melihat Joe sudah merangkul Frank.
"Ya, sepertinya dia sedang ada masalah lagi dengan ibunya, Grace." kata Joe memasuki apartemen mereka dan meletakan Frank di sofa.
"Ya, aku mengerti. Terimakasih Joe." ucap Grace.
"Sama sama Grace, berikan dia air hangat." pesan Joe menuju ke pintu keluar.
"Aku tahu Joe.
Joe pun meninggalkan apartemen Grace dan Frank. Grace menghampiri Frank dan membuka jas serta kemeja Frank.
"Mengapa kau pergi minum di bar?" tanya Grace.
"Grace, apa kau mempunyai ibu?" Frank malah bertanya lagi dengan tubuhnya yang sempoyongan.
"Tidak ada!"
"Ayah?"
"Sudah meninggal semua." jawab Grace datar.
"Tapi kau mempunyaiku, kau tidak usah takut, tenang saja .." Frank masih bisa berkata manis pada Grace dan mengelus wajahnya.
"Kau mabuk Frank!"
"Ya aku mabuk dan aku ingin dirimu Grace!" Frank mendekatkan dirinya dan menatap Grace.
"Diam kau!"
Karna panas dalam tubuh Frank, Frank menjadi semakin menjadi jadi apalagi dengan pakaian Grace yang mengenakan sepasang piyama tanpa lengan dan celana pendek. Frank langsung menyerang Grace. Dia mencium Grace dengan cukup kasar namun Grace mengimbanginya. Grace mencoba menahan tubuh Frank namun Frank lebih kuat. Frank pun sudah mencengkram dua bulatan kenyal Grace dan memainkannya. Sampai Grace pun terbuai dan mengikuti semua kemauan Frank. Nyatanya ketika Frank akhirnya meraih kesuciannya, Frank melakukannya dengan lembut dan menatap Grace dengan seksama. Grace merasakan kasih sayang Frank tapi juga perasaan Frank yang membutuhkan perhatian. Hanya Grace yang dapat memberikan setiap kekurangan yang ia rasakan.
Pagi menjelang, Frank terus menatap Grace yang masih dalam tidur. Frank tahu apa yang ia lakukan semalam. Frank menunggui kekasihnya dan sengaja meliburkan diri. Dia tidak tahu alasan apa yang akan ia berikan pada Tuannya. Yang terpenting sekarang dia hendak meminta maaf pada Grace.
Frank terus mengelusi dahi Grace dan akhirnya wanitanya itu terbangun. Matanya agak sembab karna Grace sempat menangis ketika benda keras itu menghujam dirinya berulang ulang.
"Grace, aku mencintaimu!" kata Frank.
"Aku tahu, aku tidak apa apa dan tidak usah meminta maaf karna aku juga menikmatinya." saut Grace tersenyum kecil.
"Terimakasih sayang. Kau akan selalu bersamaku, dan kau juga selalu bersamaku. Tunggulah dulu, aku akan menikahimu, apalagi jika kau mengandung anakku." ujar Frank mengelus perut Grace.
Grace mengangguk tersenyum dan mengelus pipi Frank. Frank pun mencium kening Grace.
Tidak ada yang tahu jika hal itu malah membuat mereka semakin dekat, sangat dekat, terus melakukannya dan terus menikmatinya lagi. Mereka berdua tidak bisa menghindarinya, namun semua sebab pasti ada akibat. Karna pendirian Frank yang kurang tegas terhadap ibunya membawanya ke dalam malapetaka. Ketika rencana memilih gaun pengantin dan cincin sudah ia ciptakan dia harus kehilangan buah cinta nya dengan Grace.
...
...
...
...
...
Jika sudah bahagia, bukan berarti tidak akan kesedihan, Frank, Grace. Begitulah kehidupan ini seperti roda, semangat!!
.
Next Frank & Grace Part 3
Sepertinya sampai part 3 selesai sudah vii menceritakan mereka ya karna kelanjutannya akan menyambung di Egnor dan Claudia After marriage 😁😁
Vii akan melanjutkan kisah Frank dan Grace sewaktu Grace keguguran dan koma ya ..
Apa yang diperbuat Frank pada ibunya?
Apakah terbongkar kasus pembunuhan ayahnya yang sudah menginjak 5 tahun?
Siapa sebenarnya yang membunuh Holland Leonard, ayah Frank?
Kapan Frank dan Grace akan menikah?
Bakalan ada Mimi Clau nii .. kok diriku kangen? Haha
Stay tune gaes 😁😁
.
Beb, jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya yaa 😊😊
Boleh kasih RATE bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟 di depan profil novel dan VOTE nya 😍😍
.
Thanks for ready
Happy reading
__ADS_1
And i love you 💕