Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 33: Hanya Untukmu!


__ADS_3

Egnor keluar dari restoran tersebut. Dia terdiam disana. Dia sudah sejauh ini dan setinggi ini. Dia sudah sukses namun dia merasa dirinya masih jauh dari mantan suami Claudia. Egnor memikirkan tulisan pada papan iklan itu sehingga dia tidak mencerna nama dari mantan suami Claudia yang disebutkan oleh pamannya. Lagipula Egnor mengenal nya Richard, bukan Ricardo.


Hem, Egnor menghela napas, usahanya percuma dan saat itu juga tulisan di papan iklan digital itu tersiar. Bersamaan dengan itu juga, Claudia yang masih di dalam. Di lantai atas menyaksikan apa yang tersiar di sana. Claudia mengambil kesimpulan kalau ini yang ingin Egnor tunjukan padanya dan kata kata itu memang merupakan panggilan Egnor padanya. Dia lalu menghempaskan tangan pamannya dan tidak memperdulikan panggilannya. Dia harus menyusul Egnor. Ternyata Egnor masih di sana.


"Kak Egnor! Kau memang selalu membuatku terkagum, terimakasih kak! Kau juga, kau juga adalah my only one!" Kata Claudia di belakang Egnor dan Egnor berbalik. Dia masih kecewa dan merasa tak pantas menjadi suami Claudia. Egnor menatap tajam Claudia.


"Apa?!" Kata Egnor tak suka.


"Tulisan di papan iklan itu, kau yang membuatnya kan?" Claudia menunjukan papan digitan di atas sana.


"Untuk apa? Sudah kubilang, kau jangan pernah mengharapkan hal romantis dariku! Sudahlah, kau bicara saja dengan pamanmu, sepertinya aku masih harus kembali ke Oriental." Kata Egnor mengelak dengan apa yang sebenernya ia lakukan.


"Hah? Kak? Kau baru saja kembali, masa kau harus ke Oriental lagi?" Claudia berusaha menenangkan dan sedikit terheran.


"Beginilah pekerjaanku! Masuklah, aku harus segera pergi!" Dan Egnor meninggalkan Claudia yang masih sangat bingung. Egnor tidak habis pikir dengan pemikiran pamannya. Pamannya begitu membangga banggakan mantan suami Claudia. Egnor merasa pasti mantan suaminya itu yang membantu segala keuangan Claudia dan seluruh penderitaannya. Egnor lalu menuju ke apartemen Joe.


Sementara Claudia terdiam. Dia menjadi bingung, mengapa jadi seperti ini. Dia sebenarnya tahu, pasti Egnor merasa terhina dan martabatnya direndahkan oleh pamannya. Claudia sungguh tahu tabiat Egnor yang tidak suka diremehkan, padahal suaminya itu sudah sangat menjadi orang sukses. Claudia menghela napas. Dia juga tidak bisa memaksakan apa yang menjadi pergumulan Egnor. Claudia akhirnya kembali ke apartemen Egnor.


Ketika dia memasuki apartemen itu, dia jadi merasa sangat bersalah dengan Egnor. Kalau saja tadi tidak bertemu pamannya, pasti dia sudah melakukan hal yang seharusnya dia lakukan bersama Egnor selayaknya suami istri. Di apartemen ini. Claudia jadi merasa sedih dan terasing di ruangan minimalis ini. Dia terduduk lemas. Dia sepertinya harus mengatakan ini. Jika Egnor sungguh mencintainya, dia pasti datang.


πŸ’ŒCLAUDIA


Kak, kau dimana? Kenapa jadi seperti ini? Aku pikir kita bisa melakukan hal layaknya suami istri. Tapi kau malah meninggalkanku. Aku seperti tidak ada gunanya lagi. Yasudah, lebih baik aku kembali saja ke Oriental bersama bibiku. Aku tahu, kau tidak kembali ke Oriental melainkan menghindariku saja. Aku mencintaimu kak, meskipun kau bukan seorang pengacara sukses dan kaya sekalipun.


Claudia mengirim pesan, namun tidak terkirim. Claudia menghela napas nya lagi. Sebaiknya dia membersihkan dirinya. Claudia akhirnya mendengarkan lagu yang sangat Egnor sukai dan ketika di restoran dia sempat mendengar alunan instrumentalnya. One and Only dari Adele. Claudia menyandarkan kepalanya karna agak pening dan tak lama dia bersin. Claudia merasa kurang sehat jadi dia meminum parasetamol. Dia tidak boleh sakit terus terusan seperti ini. Mungkin kalau Egnor benar tidak kembali pagi ini, dia benar benar kembali saja ke Oriental. Dengan perasaan sangat terpaksa, dia akhirnya memesan tiket pesawat melalui aplikasi. Dan dia menunggu email balasan disetujui. Claudia pun terus terjaga disana.


"Tuan! Kau yakin tidak kembali ke apartemenmu? Sebaiknya kau pikirkan lagi. Nyonya Claudia hanya korban dari pamannya. Kau juga tahu kan kebusukan pamannya. Mengapa kau jadi sangat sensitif hah?" Kata Joe sesampainya di apartemennya.


"Dia menghina mom and dad ku Joe!" Kata Egnor memijat mijat tulang hidungnya.


"Baiklah Tuan, aku sudah memberitahu. Jangan sampai kau menyesal, kau sudah sejauh ini bisa mendapatkan Nyonya kan?" Joe memperingatkan.


Egnor lalu berpikir dengan kata menyesal. Belum lagi akhir akhir ini Claudia terus mengatakan ingin kembali ke Oriental. Dia menjadi takut kalau Claudia mungkin benar akan melakukannya jika dia memperlakukannya seperti ini.


"Mana cincin pink diamond nya Joe?" Tanya Egnor kemudian.


"Ah iya, ini tuan!" Joe merogoh saku jas nya untuk mengambil kotak cincin tuannya dan memberikannya.


"Turunlah Joe, aku saja yang akan mengendarai mobil ini ke apartemenku. Kau sudah mengantarku seharian." Perintah Egnor akhirnya kembali ke apartemennya.


"Baik Tuan!" Joe pun segera turun dan Egnor segera menuju ke apartemennya.


Egnor sampai tapi sebelumnya dia menyalakan ponselnya. Dia pun membaca pesan Claudia. Dia menjadi semakin cepat menaiki apartemennya. Dia lalu menekan bel apartemennya karna dia meninggalkan kuncinya di tasnya yang berada di mobilnya.


Claudia membukanya. Claudia sungguh terkejut namun terdiam. Dia menunduk. Dan, ketika Egnor hendak menghampirinya, ponsel Claudia berbunyi tanda email persetujuan tiket pesawat ke Oriental. Egnor merasa curiga. Dia akhirnya menghampiri ponsel Claudia yang terdapat di meja makan. Dia membacanya. Egnor kembali kesal. Ternyata Claudia ingin meninggalkannya lagi.


"Jadi, kau benar ingin meninggalkanku lagi? Iya?!" Tanya Egnor dengan nada marah.


Claudia masih menunduk


"Jawab Clau!!" Bentak Egnor.

__ADS_1


"Ha, ha, hanya ke Oriental, kau kau pasti bisa mencariku." Kata Claudia terbata.


"Tidak mungkin! Kau pasti akan terus berpindah berpindah berpindah sesuka hatimu lalu menikah dengan pria tak dikenal seperti yang sudah kau lakukan kan?! Iya kan? Jawab Claudia cepat!!!" Cela Egnor dengan sedikit ketus dan menyindir.


Seketika hati Claudia merasa sangat sakit karna Egnor merasa dirinya seperti wanita simpanan dan murahan. Padahal? Sudahlah, percuma juga berdebat dengan Egnor. Egnor tidak akan pernah mengerti. Pikirnya.


"Kenapa kau tidak menjawabnya hah?" Egnor merengkuh wajah Claudia dengan sedikit kasar. Dia sudah terbakar emosi dan sekarang ia hendak ditinggalkan lagi. Claudia terus terdiam. Dia merasa takut.


"Jadi kau tidak menjawabnya? Berarti kau memang mau meninggalkanku? Iya?!" Egnor membentak lagi dan ia mencium Claudia dengan sangat kasar. Claudia terbelalak. Egnor juga hendak melepas piyama Claudia dengan cepat namun Claudia menahannya.


"Kak Egnor jangan kak, jangan seperti ini!" Clauda mencoba menyadarkan Egnor.


"Diam! Ini lah yang dinamakan hubungan suami istri yang kau inginkan kan?!" Kata Egnor masih mencium Claudia dan berusaha membuka kasar piyama Claudia. Dia menggiring Claudia ke sofa. Claudia berusaha meronta karna dia tidak mau melakukannya seperti ini. Sampai akhirnya tangan Claudia mengenai gelas bekas tadi dirinya meminum obat. Gelas itu terjatuh ke lantai sehingga membuat Egnor terkejut. Dia lalu melihat obat yang ada di meja. Sementara Claudia sudah menyingkir dari cengkraman Egnor. Egnor meraih obat tersebut dan membacanya. Dia lalu melihat Claudia yang sudah seperti terintimidasi, dia mendekati dan berusaha memegang dahi Claudia, namun Claudia terus menyingkir karna ketakutan.


"Aku tidak akan melakukannya jika kau dalam keadaan begini!" Kata Egnor dan dia meninggalkan apartemennya lagi.


Lagi lagi Claudia merasakan kesepian. Dia juga ketakutan. Tapi dia tidak enak dengan Egnor yang pada akhirnya kembali malam ini. Hanya karna email persetujuan tiket itu semua jadi berantakan lagi. Tidak. Claudia tidak boleh seperti ini. Kalau begini terus, dirinya tidak bisa selamanya dengan Egnor dan dia tidak sebahagia ini lagi. Dia harus bersama Egnor. Claudia lalu menetralkan dirinya. Dia mengejar Egnor tanpa membenahi kancing atas piyamanya karna sudah lepas entah kemana akibat pemaksaan suaminya.


Hampir saja Claudia terlambat karna pintu Lift sudah terbuka dan Egnor hendak masuk.


"Kak Egnor jangan pergi!" Panggil Claudia menahan kepergian Egnor. Egnor pun terdiam dan membiarkan


Claudia segera mendekati Egnor yang belum berbalik. Dia memeluk Egnor dari belakang. Dia memeluk sangat erat.


"Kak, jangan tinggalkan aku!" Kata Claudia seketika.


Egnor pun luluh, dia menyentuh punggung tangan Claudia yang dilingkarkan di pinggangnya. Tangan Claudia terasa dingin sekali. Egnor menjadi sangat tidak tega. Pasti Claudia benar benar kurang sehat. Dia lalu berbalik dan melihat lagi piyama Claudia yang atasnya masih terbuka karna perbuatannya. Egnor dengan segera melepas jas nya dan memakaikannya pada Claudia.


Egnor terus mencium Claudia, dia melumat bibir Claudia dengan lembut, berbeda dengan yang tadi. Claudia menjadi sangat menikmatinya. Pelan pelan Egnor membuka piyama Claudia setelah tadi dia sudah melepas jasnya. Claudia pun membuka perlahan kemeja Egnor masih sambil mereka berciuman. Satu persatu satu pakaian mereka ditanggalkan. Mereka melakukan dengan diam dan sesekali Claudia mengeluarkan desahan ketika Egnor menjelajahi lehernya dan berpindah ke bawah. Egnor manatap bulatan kenyal Claudia yang sungguh ranum dan indah baginya. Dia mengelusnya dan mencengkramnya dengan lembut sekali. Tak lupa sesekali Egnor memilin ujung bulatan itu dengan jari tangannya sehingga membuat Claudia mencengkram rambut Egnor.


Egnor terus menelusuri tubuh indah Claudia. Sejatinya, Egnor sudah mengagumi sebagaimana bentuk tubuh Claudia sedari dulu. Baru kali ini Egnor merasa sudah sangat berhak menjajakinya. Claudia pun menerima dengan senang hati. Dan sampailah sudah semuanya harus dilakukan. Egnor perlahan memasukan inti kenimatannya di dalam kepunyaan Claudia.


"Argh, kak! Sa.."


"Egnor! Panggil aku egnor, Clau!"


"Egnor, argh aku mencintaimu!" Pekik Claudia mencengkram bahu Egnor.


"Aku juga Clau, sangat begitu mencintaimu!" Dan Egnor akhirnya membenamkannya cukup dalam. Mendesah parau lah Claudia. Ini kali pertamanya bersama orang yang ia cintai. Dia sangat senang sampai tersenyum dan menatap Egnor. Egnor terkejut kalau ternyata ada sebuah cairan yang ia rasakan di sisi inti gairahnya. Dia melihat cairan berwarna pekat itu.


"Claudia? Kau?" Egnor menatap Claudia dengan penuh pertanyaan yang ia tahu jawabannya akan membuatnya semakin mencintai Claudia. Claudia mengangguk haru. Dia sudah melingkarkan tangannya di leher Egnor yang berada di atasnya.


"Hanya untukmu. Aku menjaganya untukmu, Egnor." Ucap Claudia dan Egnor tersenyum sangat bahagia. Dia sungguh terharu. Ternyata selama ini Claudia merasakan juga apa yang ia rasakan.


"Maafkan aku Clau! maafkan aku!!!" kata Egnor karna dirinya sudah mencurigai Claudia. Claudia menggeleng dan tersenyum lalu mereka berciuman lagi.


Mereka pun bergulat. Saling memeluk. Saling berciuman. Merasakan kenikmatan cinta yang selama ini mereka jaga dengan sangat baik. Egnor melakukannya dengan penekanan ketika sudah mengetahui Claudia juga merasa nikmat. Pengacara handal itu terus menerobos dinding dinding gairah istrinya yang terus mengerang merdu di telinganya. Egnor juga membalikan dirinya di bawah sehingga dia bisa memeluk Claudia dengan leluasa. Egnor menggiring Claudia yang di atas untuk terus memajumundurkann tubuhnya agar tak kehilangan momen intim ini.


"Kak," panggil Claudia sesaat.


"Egnor sayang. Panggil aku Egnor saja.argh!" Saut Egnor masih merasakan hentakan Claudia di atas.

__ADS_1


"Egnor, sepertinya aku akan mengeluarkan sesuatu. Argh, aku lepas saja milikmu ya?" Claudia tampak bingung tapi juga masih menikmati.


"Jangan clau! Ini sungguh membuatku ingin terus melakukannya! Kau keluarkan saja!" Saran Egnor memejamkan matanya.


"Nanti punyamu? Arghh.." mereka berbicara sambil mendesah karna selain Claudia terus menghentakan dirinya, Egnor juga membantunya agar ritme pergerakan mereka terus terjaga.


"Keluarkan Clau, karna aku juga ingin, argh!!"


Claudia sudah tidak tahan untuk menanggapi perintah Egnor. Dia segera melepaskan puncaknya dan melenguh mesra. Dia sudah lunglai dan jatuh di dada Egnor, namun sang pengacara masih terus memajumundurkann tubuh Claudia. Akhirnya dia membalikan lagi tubuh Claudia. Dia menjalankan aksinya lebih cepat dan cepat. Claudia hanya dapat bersuara yang membuat Egnor semakin mabuk kepayang. Dan akhirnya berhembuslah seluruh cairan surga duniawi Egnor di dalam lingkaran indah Claudia dan mungkin sampai berlarian menuju rahim.


Egnor mengatur napasnya. Dia masih menopang tangannya dan menatap Claudia.


"Clau, kita harus melakukannya lagi, aku sungguh mencintaimu, sekarang dan selamanya!" Kata Egnor di atas wajah Claudia yang telah sayu.


"Aku juga Egnor. Sangat dan menghayati." Balas Claudia.


Egnor pun membaringkan tubuhnya di samping Claudia yang ternyata sudah terpejam. Dia sungguh lelah. Apalagi dengan obat yang sebelumnya sudah ia minum. Egnor lalu mengambil cincin yang ada di sakunya terlebih dahulu dan memasangkannya di jari manis Claudia. Dia lalu tertidur dengan memeluk istrinya itu.


...


...


...


...


...


Akhirnyaaaaa.....


Jd ada yang ngilu ya .. 😊😊


.


Next part 34


Siap siap masih bertubi tubi, Clau, hohohoho 😈😈


.


Jangan lupa LIKE, KOMEN yaa


Kasih rate di depan profile novel


Kasih tip juga boleh 😁😁


Di share novelku juga boleehh aku seneng benerr 😍😍


.


Makasihh ya I LOVE YOU ..πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2