
Egnor lagi lagi sedikit memperhatikan Claudia setelah dia mengenakan pakaiannya. Dia mendekati Claudia yang sepertinya benar benar tertidur. Dia memegang dagunya dan sedikit menggoyangkan wajahnya ke kanan. Egnor mengernyitkan dahinya ketika melihat ada kemerahan pada pipi Claudia. Sangat berbeda dengan pipinya yang sebelah kiri tetap putih.
"Pasti orang tua itu menamparnya! Ini sudah keterlaluan!" Decak nya tak senang. Dia lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan sangat rapat dan menunggunya sampai terbangun.
Egnor keluar dari kamar peristirahatannya dan mendengar seseorang mengetuk pintu ruangannya. Frank mengetuk karna dia pikir kedua majikannya sedang bertengkar.
"Permisi Tuan, bisakah ku masuk?" Kata Frank sedikit membuka pintu.
"Masuklah Frank!" Saut Egnor yang sudah duduk di kursi putar nya.
"Permisi Tuan, Tuan aku ingin bertanya pada Claudia, apakah Grace masih di rumah sakit?" Tanya Frank memasuki ruangan dan menutup pintu kembali.
"Rumah sakit?" Egnor menaikan sebelah alisnya.
"Iya Tuan, tubuh Grace demam dan tadi katanya Claudia membawanya ke rumah sakit." Kata Frank sedikit melemah memikirkan kekasihnya.
"Tunggulah sebentar Frank, Claudia sedang tidur. Sepertinya dia sangat lelah dengan semua pemikiran dan perkara ini." Egnor memijat dahinya.
"Hem, saya ikut sedih dengan kejadian tadi Tuan. Kalau kau ingin menuntutnya aku bisa buatkan laporannya Tuan." Frank menawarkan yang perlu dilakukan. Biar bagaimanapun menyerang seseorang di depan khalayak adalah menjatuhkan martabat dan harga diri. Frank sudah mengetahui yang terjadi tadi di Lobby dari beberapa satpam dan Lena.
"Ya segera laporkan langsung dengan Hakim Benedict, Frank!" Seru Egnor menatap tajam Frank. Dia harus menyelesaikannya dengan cepat. Hakim Benedict merupakan senior Egnor yang cukup kagum pada Egnor. Karna sepak terjang Egnor di dunia hukum ini. Benedict juga merupakan ketua inti pengadilan hukum dan agama di Honolulu. Sangat mudah menjatuhkan hukuman jika dapat dengan mudan langsung menghadap padanya.
"Baik Tuan!"
"Em, ada lagi Frank! Aku harus ke Legacy secepatnya. Carikan tiket pesawat ku untuk empat orang besok ke Legacy. Setelah itu atur pertemuan ku dengan Richard Minggu depan!" Perintah Egnor lagi. Dia harus menyelesaikan masalah hubungan tak jelas ini pada secara laki laki.
"Hari apa Tuan?" Frank memastikan.
"Terserah! Kabari aku hari apa, waktu dan tempatnya! Aku harus bertemu dengan pria itu!"
"Baik Tuan, aku akan segera mengaturnya."
"Baiklah, terimakasih!"
Frank masih berdiri di sana namun tak lama beranjak menuju ke meja kerja istrinya. Dia duduk di sana dan menundukkan kepalanya seperti frustasi.
"Apa yang terjadi?" Selidik Egnor yang mana pasti terjadi sesuatu dengan tangan kanannya ini.
"Aku harus pindah apartemen, Tuan! Bisakah aku pindah di apartemen yang sama denganmu?!" Kata Frank kemudian dan merasa harus selalu bersama atasannya yang sudah ia anggap seperti kakaknya.
"Kenapa?"
"Mom selalu datang ke rumah! Dia selalu mengancam Grace untuk meninggalkanku. Sepanjang hari Grace terus menangis. Dia takut aku akan meninggalkannya Tuan." Frank mulai bercerita walau sangat singkat.
"Nah, Mom mu juga bis dituntut!" Saut Egnor dengan sangat mudah.
"Entahlah Tuan, dia ibu kandungku. Bagaimana bisa kau menyerang ibu kandung sendiri?" Balas Frank dan dia mengerti pasti Egnor tidak akan melakukannya.
Egnor hanya menatap tajam Frank.
"Jadi bagaimana Tuan? Bisakah aku pindah di apartemen yang sama denganmu?" Frank kembali memastikan.
"Silahkan! Segera urus karna aku tidak mau terjadi apa apa pada Grace!" Egnor menyetujuinya. Dia segera memberi kartu nama pemilik apartemen untuk bisa Frank hubungi.
Frank mengangguk. Sepertinya ini langkah awal untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah itu ia akan menikahi Grace. Ketika tuannya lagi kembali dari Legacy. Dia akan mengurus semua pernikahannya. Grace harus bersamanya.
...
Sementara itu Samantha menemui seorang temannya, yang mana anak dari temannya itu hendak ia jodohkan dengan Richard. Temannya datang bersama anaknya. Dia juga sudah meminta Richard untuk datang. Samantha harus berhasil dengan rencana ini. Dia tidak mau Richard terus merana tak karuan. Memikirkan wanita yang bahkan tidak memikirkannya.
"Samantha!" Panggil sebuah suara wanita seumuran Samantha. Samantha memang tampak mencari cari suara itu. Samantha menoleh dan menghampirinya.
"Samantha, sudah lama sekali kita tidak bertemu.." sambut temannya itu dengan beranjak dan saling berpelukan.
"Yes Monica! I Miss you so!!" Saut Samantha. Dia lalu sedikit menoleh ke bawah dan mihat seorang wanita muda yang ia pastikan adalah anak dari Monica, temannya.
Wanita itu tampak diam saja dengan tatapan lurus ke depan dan datar.
"Apa ini anakmu, Monica?" Samantha memastikan.
"Yes, that's right! Kate, bangunlah, beri salam pada Nyonya Samantha Gabriane. Bukankah sudah kubilang kalau aku juga berteman dekat dengan keluarga Gabriane?" Kata Monica dengan sangat antusias.
Kate langsung mendongakkan kepalanya ketika dia mendengar nama Gabriane. Dia menatap Samantha dengan penuh harap dan sedikit takjub. Samantha memang bergaya sosialita dan bekelas. Sedikit serupa dengan ibunya. Karna Monica juga memiliki darah kebangsawanan Honolulu.
Kate langsung beranjak dari duduknya. Samantha tersenyum sumringah melihat Kate. Kate membungkukkan tubuhnya.
"Salam Nyonya, aku Kate." Kate memperkenalkan diri.
"Salam anakku! Kau cantik sekali! Aku yakin, Kau sangat cocok dengan anakku!" Ujar Samantha memegang wajah Kate.
"Apakah dia Richard Gabriane?" Kate memastikan kalau ternyata sahabatnya yang hendak dijodohkan padanya. Setaunya, Richard adalah anak laki laki satu satunya di keluarganya. Dia memiliki satu kakak perempuan dan satu adik perempuan.
"Wow, kau mengenalnya?" Samantha tidak menyangka kalau ternyata anaknya sudah saling kenal.
"Dia sahabatku, nyonya!" Jawab Kate pasti.
__ADS_1
"Wooww ini sangat kebetulan sekali! Monica, it's suprising!!" Samantha lebih lebih menampilkan wajah berbunga bunga karna menurutnya akan lebih mudah mendekatkannya. Mengingat Richard masih memikirkan Claudia.
Monica hanya mengangguk angguk tersenyum.
"Kenapa kau mengangguk angguk begitu?" Samantha sedikit curiga.
"Karna aku sudah tahu dan aku ingin membuat kejutan padamu!"
"Aku senang sekali!" Samantha kembali memeluk sahabatnya.
Dan mereka pun duduk di sana. Mereka masih menunggu Richard. Mereka berbincang bincang apapun. Kate berbicara hanya sesekali, namun entah mengapa dia mengeluarkan senyum meremehkan. Sampai akhirnya Samantha membicarakan pernikahan awal Richard.
"Monica, kau tidak keberatan kan kalau Richard pernah menikah?" Samantha memastikan dan sebelumnya Samantha juga sudah menyinggung ini dengan temannya itu.
Kate menatap serius Samantha. Dia merasa dia bisa mendapatkan misteri atas pernikahan Richard dan Claudia sehingga bisa memberitahunya pada Egnor. Ini akan tampak menegangkan menurutnya antara Claudia dan Egnor. Pria yang sanga ia incar.
"Tidak sama sekali Samantha selama Richard tidak melakukan apapun pada mantan istrinya." Jawab Monica karna anaknya akan semakin tinggi jika bersanding dengan keluarga Gabriane.
"Kurasa tidak! Bahkan wanita itu mengamuk ketika Richard satu kamar dengannya. Berlebihan!" Decak Samantha kesal.
"Kau serius nyonya?" Kate mulai memanas manasi.
"Benar Kate! Aku yang mendengarnya! Wanita itu memang tidak waras! Em Kate, bisakah kau memanggilku Aunty atau mom?" Pinta Samantha kemudian.
"Aunty saja sayang, kita harus tetap sopan!" Sela Monica pelan namun tetap terdengar oleh Samantha.
"Baik Aunty!"
"Begitu lebih baik! Haha .. aku serius! Wanita itu tidak selayaknya menjadi seorang istri, bahkan sekarang dia sudah menikah lagi." Samantha masih menceritakan dengan bersemangat.
Kate tersenyum sinis.
"Mengapa ada wanita yang mencampakan pria setampan dan sebaik anakmu, Samantha?" Selidik Monica ikut prihatin dengan keadaan Richard.
"Karna uang Monicaaa!!! Mungkin anakku tegas membatasi pemberian uang jadi dia kesal dan meminta cerai." Jawab Samantha dengan menggebu gebu.
"Begitukah kejadiannya Aunty?" Kate benar benar ingin tahu semuanya.
"Begitu! Kau ini tidak yakin sekali Kate?! Aku ibunya Richard. Dia bicarakan semuanya padaku!" Jawab Samantha yakin, kenyataannya Richard tak begitu dekat dengan ibunya. Dia lebih dekat dengan kakak dan ayahnya.
"Lalu pria mana lagi yang menjadi mangsanya, Samantha?" Tanya Monica ingin tahu.
"Pengacara handal, teman dekat Richard juga, Egnor Victor Jovanca." Samantha benar benar bersemangat akan hal ini. Karna Claudia akan menjadi tambah rendah dan tak bermartabat.
"Oh Lord! Pengacara tampan itu?" Wajah Monica seketika berbinar binar.
"Sorry Kate! Dia begitu tampan dan sangat pintar Kate! Aku sangat mengangguminya Samantha. Ya, dia tidak jauh berbeda dengan anakmu. Hem, pantas saja wanita itu mau menjadi istrinya!" Monica akhirnya ikut mencibir Claudia.
"Monica! Pernikahan mereka diam diam, belum go public! Benar bukan begitu Kate?"
Kate mengangguk cukup besar kepala karna sepertinya Samantha juga bisa membantunya memisahkan Egnor dengan Claudia.
"Hah? Belum go public, iya juga sih, aku saja tidak tahu kalau pengacara tampan itu sudah menikah. Hem, aku jadi paham, jadi mantan istri anakmu hanya jadi wanita simpanan demi uang?" Monica berasumsi yakin.
"Benar! Kemarin aku sudah memberinya pelajaran. Aku kesal sekali!" Dengus Samantha menjurus pada kejadian kemarin.
"Memberi pelajaran bagaimana aunty? Apa maksudmu?" Kate semakin bersemangat mengetahuinya. Ternyata dia sudah memiliki sekutu.
"Ya, aku melihatnya memasuki gedung pengacara Egnor. Aku menyerangnya dan memaki makinya di depan semua khalayak. Supaya mereka tahu siapa atasan mereka. Sangat rendahan dan tidak berpendidikan. Dan sepertinya Richie juga mengatakan sesuatu pada Egnor." Samantha menceritakan secara runut dan lugas. Mereka semua tampak serius sampai tida menyadari kalau Richard sudah tiba dan menghampiri mereka.
"Ah kau serius Aunty?" Kate sangat antusias dan ingin tahu lagi dan lagi.
"Aku serius Kate! Bahkan aku menampar dan mendorongny! Aku sudah kesal sekali! Wanita itu berjalan dengan gayanya yang berkelas. Aku muak sekali! Dia hanya anak yatim piatu dan pamannya suka sekali berjudi. Bibinya pembuat roti rendahan! Wanita itu tidak pantas untuk siapapun!!" Samantha begitu merendahkan.
"Mom! Aku tidak menyangka kau melakukan itu pada Claudia. Wanita yang kau maksud Claudia kan?!" Tiba tiba sebuah suara pria dari belakang Samantha terdengar di telinga ketiga wanita itu.
Semua sontak melihat ke arah suara itu dan itu Richard. Samantha terkejut bukan main. Dia segera berdiri.
"Aku bisa jelaskan nak! Kami berpapasan dan dia mengatakan sesuatu padaku yang tidak mengenakan hatiku!" Samantha berusah membela diri dengan kebohongan yang Richard pun menyadarinya.
"Tidak mungkin! Claudia tidak pernah berkata kata pada kita selain maaf, terimakasih dan permisi! Aku ingat sekali! Kau benar benar keterlaluan mom! Aku kemari ingin menurutimu tapi kau malah berbuat hal sekeji ini padanya. Sudahlah, aku tidak mau jodoh menjodohkan ini!" Balas Richard tidak mau mendengarkan ibunya. Dia lalu pergi meninggalkan mereka. Samantha hendak mengejar namun Kate menahannya.
"Biar aku saja Aunty!" Kate menawarkan diri dan segera beranjak mengejar Richard.
"Ya ya Kate, kejarlah dia! Aku hanya ingin yang terbaik baginya!" Kata Samantha dan dia terduduk lemas. Dia tidak menyangka kalau Richard mengetahuinya sendiri dari nya.
Kate mengejar Richard dan menahan tangannya.
"Ada apa?! Kau sekarang puas kan menyakiti Claudia? Dan ibuku yang membalas nya, kau senang kan?!" Decak Richard menghempaskan tangan Kate.
"Kau jangan begini Richard, kita sedang dijodohkan! Bukankah bagus? Dengan begini kita bisa dengan mudah memisahkan mereka berdua." Saut Kate dengan tatapan menantang.
"Tidak akan! Aku tidak mau mengikuti rencana jahatmu Kate! Claudia dan Egnor saling mencintai, biar bagaimanapun usahamu, kau tidak akan bisa merenggut hati Egnor padamu! Kau harus sadar itu!! Sekarang aku harus menemui Egnor dan menjelaskan semuanya!" Richard berbalik dan hendak menuju mobilnya.
"Oke oke! Kau menang! Begini saja, perlihatkan padaku surat cerai yang belum kau ajukan maka aku akan mengurusnya, bagaimana?" Kate menahan Richard dengan kata katanya yang pasti membuat Pria itu tertarik melakukannya.
__ADS_1
Richard yang hendak berlalu menoleh ke belakang. Sejatinya dia memang ingin meresmikan perceraian dirinya dengan Claudia. Dia sangat sadar kalau sampai kapanpun Claudia tidak bisa menjadi miliknya. Tadi nya perjodohan ini bisa membuatnya melupakannya. Namun, nyatanya ibunya malah membuat ulah seperti ini.
"Kau mau membantuku?" Richard memastikan dengan pasrah. Biarlah, dia harus memberikan kebahagiaan bagi Claudia.
Kate menaikan sebelah alisnya.
"Baiklah, ikut aku! Surat itu selalu kubawa karna tadinya aku bisa menemukan Claudia dan mencuri hatinya perlahan. Namun ketika aku bertemu dengannya, dia sudah dimiliki pria lain." Gumam Richard menundukkan kepalanya.
"Ya ya sudahlah! Cepat tunjukan padaku!"
Richard kembali berbalik dan menuju ke mobil yang diikuti Kate. Kate tersenyum licik di belakang Richard.
...
Claudia cukup bersemangat mengemas keperluannya ke Legacy. Dengan begini dia akan terhindar dari semua masalah untuk sementara. Kalau bisa dia ingin tinggal kembali di Legacy. Di sana semua kenangan indahnya terjadi dengan Egnor. Ketika ayah ibunya masih hidup. Ketika Egnor selalu menemaninya tanpa gangguan dan ancaman sedikit pun. Ketika dia bercanda dengan Viena dan Egnor dan mengadakan barberque party juga bersama Dion. Merek berempat merasa dunia ini hanya milik mereka saja. Namun, ketika kedua orang tuanya meninggal semuanya berubah sampai saat ini.
Semuanya sudah terkemas. Cukup satu koer saja dirinya bersama suaminya. Claudia tersenyum tipis. Dia juga sudah lega meninggalkan Grace untuk beberapa hari ini. Grace masih di rawat dan Frank sudah menemaninya.
"Ya Frank, untuk sementara memang baik Grace di rumah sakit! Sebaiknya kau minta tolong Joe untuk menjaga kamarnya, berjaga jaga agar mom dan ayah tirimu tidak datang!" Kata Egnor di telepon memasuki kamarnya.
"Baiklah, sampai jumpa tiga hari lagi!" Kata Egnor lagi dan menutup panggilan.
"Grace sudah membaik?" Claudia memastikan pada suaminya.
"Belum! Dia masih tampak diam! Jadi bagaimana? Kau sudah siap?" Jawab Egnor.
"Sudah kak!"
"Apa bengkak pipimu masih sakit?" Tanya Egnor memegang pipi kanan Claudia.
"Emm, sedikit!" Claudia menyipitkan matanya memasang wajah manjanya.
"Cup!" Dengan tiba tiba Egnor malah mengecup pipi yang masih memerah itu.
"Bagaimana?"
"Sudah! Tidak ada lagi sakit bahkan perih sedikitpun sudah hilang entah kemana." Jawab Claudia mengembangkan senyumnya yang membuat Egnor semakin gemas pada istrinya itu.
Egnor tersenyum dan mencubit kecil pipi istrinya. Mereka pun beranjak keluar dari apartemen dan menuju ke bandara.
Mereka terlebih dulu menjemput Johanes dan Anne. Anne sangat senang bertemu dengan Claudia dan menyinggung semua keperluan pernikahan. Sudah lama sekali Anne mendambakan pernikahan keponakan satu satunya itu. Claudia pun senang mendengar respon Anne. Dia menjadi sudah yakin akan bisa bersama Egnor.
Sesampainya di bandara, mereka datang tepat waktunya keberangkatan pesawat karna sempat terkena traffic jam. Mereka langsung melakukan check in, imigrasi dan menaiki pesawat. Karna Kelas pesawat yang Frank pesan adalah eksklusif, jadi mereka tidak melalui antre.
Egnor dan Claudia duduk di kursi mereka masing masing juga ayah dan aunty Egnor. Egnor siap mematikan ponsel nya. Ponsel Claudia sudah tidak berbentuk dan dia tidak memikirkannya lagi.
Bersamaan dengan Egnor mematikan ponselnya, masuklah sebuah pesan bergambar dari Kate.
...
...
...
...
...
Haiz, kenapa sih dirimu Kate 😡😡
Uda cubit cubitan pipi juga dirimu ganggu Bae!!
.
Next part 55
Gambar apa yang dikirim Kate?
Bagaimana tanggapan Egnor nanti ketika membukanya?
Dan, apakah kesenangan yang Claudia harapkan di Legacy akan terlaksana?
Stay tune gaes ..
.
Gaes, aku endingin dulu bagian 1 si Egnor ini dan Jeng Clau gimana? 😅😅
.
minta LIKE dan KOMEN nya yaa haha .. jangan lupa juga kasih VOTE dan RATE bintang 5 biji di depan profil novel yaa 😊😊
.
oke dahh thanks for read and don't forget i loph you pull like Egnor with Claudia ahahahaayy 💕💕
__ADS_1
.
xoxo, @viiyovii (one and only 😘)