
Hati yang mencinta cukuplah hanya merasa tanpa harus memiliki kan? Namun, bagaimana sebuah obsesi telah memenjarakan dan keinginan memiliki lebih besar ketimbang rasa mencintai. Memiliki ke arah yang baik mungkin bisa dipertimbangkan walaupun hati kurang lega. Lalu, bagaimana rasa mencinta melebihi kebencian dan rasa dendam yang mendalam? Apa yang akan terjadi pada hubungan Lisa - Richard - Mytha? Lalu, apa yang hendak dilakukan Della - Kate pada Egnor - Claudia?
...
Keesokan harinya setelah pertemuan penuh haru antara Egnor dan Claudia juga Gabriel dengan adiknya, Mytha, mereka sudah bisa pulang kembali ke apartemen mereka masing masing. Egnor juga akhirnya pulang keesokan harinya karena ayah dan istrinya melarangnya dengan maksud menghabiskan satu kantung vitamin dalam tubuhnya.
Gabriel pun juga sudah bisa pulang dan beristirahat di rumah. Mytha sudah mempersiapkan kepulangan Gabriel dan mereka pun bersiap pulang.
"Di mana Nona Lisa dan Nona Lina, Mytha? Apa mereka tidak kemari hari ini?" Tanya Gabriel dengan maksud ingin mengucapkan terimakasih.
"Untuk apa mereka kemari? Kau sudah membaik kak! Aahhh, apa kau menyukai keduanya? Tetapi kau seperti takjub menatap Kak Lina. Menurutku, dia lebih cantik ketimbang Nona Lisa," tutur Mytha menggoda kakaknya.
"Apa apaan kau ini! Mana mungkin aku menyukai Nona Lisa, dia dekat dengan Tuan Richard, dan kurasa mereka cocok," gumam Gabriel selama menangani kasus Lisa.
Seketika hati Mytha tersentuh dan sedikit cemburu mendengar kedekatan Lisa dan Richard yang memang beberapa kali tertangkap olehnya.
"Hah? Nona Lisa bersama Tuan Richard?" Mytha mengerutkan sedikit keningnya.
"Seperti yang kuperhatikan. Ada apa dengan wajahmu? Mengapa jadi cemberut begitu?" Selidik Gabriel menyadarkan adiknya.
"Aku, aku tidak apa apa! Sudah ayo kita pulang! Aku sudah memesan mobil online," decak Mytha mengalihkan pembicaraan.
"Kau jangan macam macam, Mytha! Jangan jangan kau menyukai Tuan Richard!" Gabriel memperingati.
"Ketika kau tidak ada, dia yang selalu menemani dan menghiburku. Apakah salah jika aku menyukainya?" Mytha mulai memberitahukan isi hatinya .
Seketika Gabriel jadi bingung apa yang harus ia lakukan. Di sisi lain, Lisa merupakan kliennya juga Richard yang seperti memendam perasaan tapi di sisi lain gadis di depannya adalah adiknya. Dia tidak bisa mengatur perasaan adiknya.
"Em ... Bukan begitu Mytha, aku hanya ingin mengingatkanmu, Tuan Richard orang besar, tidak pantas dengan kita, kau jangan lupa, kau sudah tidak perawan lagi," kata Gabriel mencoba mengingatkan adiknya agar tidak berharap terlalu banyak setelah sekelumit masa lalu pahit yang sudah mereka alami.
Mytha tersentak mendengar peringatan kakaknya. Benar dengan apa yang dikatakan kakaknya. Dirinya tidak pantas bersanding dengan seorang motivator hebat seperti Richard. Dia menundukan kepalanya. Dia hanya berpikir, dia ingin menjadi lebih baik dari kehidupan yang sebelumnya. Perasaannya mendalam pada si motivator itu. Dan, Mytha merasa, Richard juga merasakan hal yang sama. Richard begitu memperhatikannya dan tak ayal Richard juga sering memberikan kata kata cinta untuknya. Malah Mytha merasa mereka akan menjadi sepasang kekasih. Mytha akan mengatakan sejujurnya pada Richard sebagai pembuktian apakah Richard tulus mencintainya atau tidak.
"Mytha? You okey? Aku hanya tidak ingin kau patah hati untuk yang kesekian kalinya," ujar Gabriel sudah berdiri di samping Mytha dan memegang bahunya.
"Kak, ini urusanku, aku juga mempunyai hak untuk bahagia kan? Seandainya Tuan Richard memang seseorang yang ditakdirka Tuhan untukku, seharusnya dia menerimaku apa adanya," saut Mytha menatap sendu kakaknya.
"Mytha ..."
"Kak, tenang saja, aku mengerti apa yang harus kulakukan, ayo kita pulang!" Kata Mytha keluar dari kamar perawatan terlebih dulu. Gabriel menghela napas dan mengalah terlebih dulu pada adiknya. Dia akan mencari waktu untuk kembali memperingati Mytha.
...
Frank selesai mengurusi seluruh administrasi rumah sakit untuk semua yang menimpa orang orang kantornya. Jenasah Joe sudah dikebumikan pagi ini karena semua keluarga sudah menerimanya termasuk tunangannya. Frank dan Grace ikut bersedih. Viena dan Dion pun sudah mulai kembali ke Legacy diantar Johanes, Anne dan Bertho. Egnor yang memerintahkannya.
Baru saja Frank hendak meninggalkan rumah sakit, Moses menghubunginya. Moses mengatakan kalau obat yang dikonsumsi oleh Reinder Cornwell, paman dari Lisa yang menyatakan diri membunuh Rudolf ternyata dari sebuah toko apotik legal di Japanis yang masih memiliki tangan tangan dari perusahaan obat obatan ayah tiri Frank, Ron Keanu. Moses juga melaporkan kalau detektif Kyle sudah mencari tahu, ada seseorang yang mengunjungi toko obat gelap. Selidik punya selidik, seseorang tersebut merupakan karyawan dari Gabriane Group. Frank begitu terkejut dengan penemuan ini.
"Dan Frank, dengarkan baik baik, karyawan pembeli obat obatan tersebut ternyata perawatan yang membunuh Tuan Rudolf Cornwell," kata Moses lagi di seberang sana.
"Sulit dipercaya! Kecurigaan Tuan Egnor selama ini memang benar," balas Frank mengingat setiap perkataan Egnor.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Moses di seberang sana.
"Tentu saja aku akan memberitahukan penemuan penemuan ini pada Nona Lisa. Dia benar benar masih mempermasalahkan semuanya," jawab Frank.
"Baiklah, tetap hati hati dan perhatikan hubungannya dengan Tuan Richard, Frank!" Moses mengingatkan.
"Ya, kau tenang saja. Lalu berita buruk apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Frank.
"Ayah tirimu berhasil melarikan diri, Frank !!" kata Moses frustasi.
"Kau serius, Moses? Apa yang harus kukatakan pada Tuan Egnor!!" Frank mengelus dahinya.
"Kau pikir sendiri, aku sudah bekerja sampai sejauh ini, untuk sementara aku sudah memerintahkan para bawahan Bertho di Indian dan pihak polisi untuk mencarinya!" kata Moses.
"Baiklah baiklah, kita sudah bisa tenang sekarang, bos besar sudah datang, semua masalah akan selesai dan menjadi mudah," ujar Frank walau dia masih cemas dengan kemarahan Egnor nanti.
"Good luck! Bye!"
Panggilan dimatikan. Frank masih berpikir. Haruskah ia mengatakannya pada Lisa. Namun, jika ia tutupi, akan membawa pengaruh buruk serta reputasi tidak baik yang menutupi fakta terhadap klien. Egnor pun pasti akan mengatakannya cepat atau lambat. Frank harus meringankan pekerjaan tuannya. Akhirnya dia menuju ke ruangan Lisa. Kebetulan Lisa baru saja datang. Lisa cukup terkejut ternyata Frank masih bisa mengusut kasus ayahnya.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan Frank?" tanya Lisa menautkan tangannya di atas meja kerjanya.
"Tentang pembunuh ayahmu, Nona Lisa," jawab Frank agak ragu ragu.
"Kau sudah menemukan dalang dari semuanya?"
"Sudah, tetapi kita masih sulit untuk membongkarnya. Aku masih harus meminta saran Tuan Egnor. Untuk sementara aku masih menunggu dirinya yang bertanya terlebih dulu mengingat kondisinya saat ini," Tutur Frank.
"Ya sudah seharusnya seperti itu, kalau kau memaksa, aku dan Claudia akan membunuhmu, Frank!" ancam Lisa.
"Haha, kau bisa saja Nona Lisa!"
"Kurasa, Egnor sudah seperti kakakku! Aku tidak boleh lagi melakukan kesalahan padanya dan Claudia. Mereka berdua orang yang sangat baik bagiku," ucap Lisa mengakui pasangan serasi itu.
"Aku mengerti Nona, maka dari itu aku hanya memberitahukan sebuah spekulasi ini," Frank kembali ke inti masalah.
"Baiklah, apa itu?"
"Menurut data detektif yang kami utus, benar adanya perawat yang mengakui dirinya tersebut adalah pembunuh ayahmu. Dan, dia juga yang membeli obat terlarang yang diberikan pada pamanmu di toko obat gelap berlokasi Japanis. Dan apa kau tahu siapa oknum perawatan ini yang sebenarnya?" Frank terhenti sesaat.
"Siapa, Frank! Kau jangan setengah setengah! Aku jadi merinding!" Lisa semakin penasaran.
"Kau harus siap mengetahuinya, Nona Lisa. Dia adalah seorang karyawan dari perusahaan properti Gabrianes Group!" Kata Frank pelan.
"Selamat pagi, Lisa!"
__ADS_1
Tiba tiba seseorang langsung membuka pintu ruangan Lisa. Richard berdiri di sana hendak menemui Lisa. Frank sontak menoleh ke belakang dan Lisa sudah menyandarkan dirinya di kursi putar singgah sananya. Hatinya hancur. Sepertinya, dia harus mengubur pagi perasaan cintanya terhadap seseorang. Tidak mungkin dirinya menghianati keluarganya. Walaupun bukan Richard dari dalang semua ini tapi semua masih dalam sebuah bagian. Lisa memasang wajah datar dan semu.
"Frank? Kau di sini? Ada perkembangan terbaru ya?" Kata Richard sekaligus menyapa.
Frank meneguk salivanya. Dia menerka nerka, apakah Richard mendengar pembicaraannya dengan Lisa. Bagaimana jika Richard mengamuk dan langsung menyalahkan ayahnya karena ini baru saja spekulasi karna karyawan tersebut sudah meninggal setelah mengakui perbuatannya dan mencari kambing hitam.
"I i iya Tuan Richard," ucap Frank terbata.
"Kau kenapa jadi gugup seperti ini?" Tanya Richard mendekati Frank dan Lisa yang masih terpaku.
"Ti ti tidak apa apa Tuan." Frank mengusap pelipisnya. Dia setengah menoleh ke arah Lisa.
"Nona, kau baik baik saja?" selidik Frank pelan. dia berharap, Lisa tidak mengatakannya pada Richard terlebih dahulu.
"Pergilah Frank, aku yang akan mengatasinya," pinta Lisa memegang dahinya.
"Em Nona, ini hanya spekulasi saja, biarkan Tuan Egnor nanti yang akan menjelaskannya," tambah Frank.
"Ya, aku mengerti, pergilah!"
Frank akhirnya bangkit dari kursinya. Dia menatap gugup Richard. Richard masih bingung tapi bukan sekarang bertanya pada Frank. Dia harus memastikan hubungannya dulu dengan Lisa. Beberap akhir ini mereka tak lagi saling bicara dan tidak pernah ada waktu yang tepat.
"Lisa? Apa kabar?" Tanya Richard setelah Frank meninggalkan ruangan.
"Ada perlu apa kau kemari? Apa kau ingin mengunjungi Mytha dan kakaknya? Rencananya mereka sudah bisa pulang hari ini," tanya Lisa masih berpikir netral.
"Lisa, aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin bicara padamu," kata Richard pelan.
"Pekerjaanku banyak sekali, nanti saja kita cari waktu lagi," sela Lisa berdiri dari kursinya dan merapikan berkas berkas.
"Kau selalu seperti ini. Ada apa sebenarnya, Lisa?" tanya Richard benar benar cemas.
"Aku yang harusnya bertanya, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? Khususnya pada Mytha? Kau menyukainya kan?" Lisa kini menatap tajam Richard.
"Sedikit, tapi ..."
"Cukup! Itu sudah merupakan jawaban! Sebaiknya kau cepat jadikan ia kekasih karena dia begitu mencintaimu! Dia terus bercerita padaku, pada Lina! Kau jangan mengecewakannya!" Lisa kembali pada berkas berkas nya. dia tidak mau mendengarkan berjuta alasan Richard padanya. Rasanya sudah semakin sulit untuk mereka bersama.
"Lisa, apa kau menyukaiku? Kau sangat dingin ketika melihatku bersama Mytha, kau cemburu kan?" selidik Richard meraih tangan Lisa.
"Cih! Cemburu! Kita teman! Sudah jelas kan?!" Lisa berdecih sedikit melirik Richard.
"Tapi Lisa, aku menyukaimu, mengapa kau seperti ini?" Richard berusaha mengungkapkan perasaannya.
"Aku tidak menyukaimu! Dan kita tidak akan bisa pernah bersama! Sebaiknya kita jalani kehidupan kita masing masing! Keluar dari sini! Aku tidak mau bertemu atau melihat wajahmu lagi! Keluar Richard, aku mohon!" Lisa menatap Richard begitu dalam dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Lisa, sebentar saja, biarkan aku mengetahui isi hatimu yang sebenarnya. Selama ini kau juga menghubungiku, kau membutuhkanku, kau selalu datang ke setiap acaraku. Lisa, bukalah hatimu untukku!" Richard memohon dengan memposisikan Lisa berhadapan dengannya. Dia memegang kedua lengan Lisa.
"Cukup! Mytha lebih pantas untukmu! Dia sangat menggilai mu, jangan membuatnya kecewa. Aku mohon. Aku, aku, aku tidak menyukaimu lagi Richard, maafkan aku!" Lisa menghempaskan tangan Richard lalu menopang kedua tangannya di atas meja. Dia meneteskan air matanya. Entah berapa kali lagi dia harus kecewa akan cinta melalui kekaguman semata. Dia masih berharap ada seorang pria yang tulus hanya mencintainya dan datang sendiri padanya . Bukan seperti Egnor dan Richard, yang telah memiliki hati yang lain.
Deg! Jantung Lisa bergemuruh. Sanggupkah dia menatap mata teduh dan berbinar Richard. Mata yang selalu membuatnya tentram dan tidak merasa takut lagi. Namun, mata itu yang juga akan membuat dirinya jatuh makin dalam merasakan sakitnya mencintai.
"Lisa ..." panggil Richard lagi memegang lengan Lisa. Lisa menarik napas panjang dan akhirnya mendongakan kepalanya.
"Pergi! Aku tidak menyukaimu, bahkan aku tidak mencintaimu! Pergi!" Kata Lisa lagi dengan deraian air mata. Richard masih menatap sendu Lisa. Dia tahu apa isi hati Lisa yang sebenarnya. Namun, bukan sekarang ia kembali memastikannya. Lisa hanya membutuhkan waktu. Richard tidak boleh memaksa dan dirinya juga perlu pengoreksian hati dan pikirannya.
"Baiklah Lisa, aku tidak akan menganggumu lagi, tapi maafkan aku jika aku masih terus ada rasa mencinta untukmu. Cinta memang tak harus memiliki, mungkin itu kalimat yang tepat untukku yang tidak pernah bisa memiliki cinta yang kuinginkan sejak dulu, permisi," ucap Richard dengan penekanan yang berat dan melepaskan tangannya dari lengan Lisa. Dia pun pergi meninggalkan Lisa. Lisa tersungkur di kursinya dan kembali menangis. Dia memanggil manggil ayahnya.
...
Sore itu, hujan lagi lagi menghiasi kota Honolulu. Claudia keluar dari kamar dan merenggangkan otot ototnya. Benar sudah dugaannya, suaminya tidak mengijinkan dirinya beranjak dari kamar setelah pulang dari rumah sakit. Egnor dan Claudia bermalas malasan setelah memastikan Viena dan Dion kembali ke Legacy. Mereka bahkan melakukannya sampai dua kali dan cukup lama karena kehamilan Claudia yang sudah membesar. Namun, karena hasrat mereka yang saling merindu, Claudia mengikuti kemauan nafsu suaminya juga dirinya.
Claudia dibangunkan oleh suara ponselnya di luar kamar. Dia mencarinya dan mengangkatnya. Panggilan dari Viena yang mengatakan telah mendarat dengan selamat. Claudia begitu mengucapkan banyak terimakasih karena Viena rela meninggalkan semuanya demi dirinya dan Egnor.
Claudia lalu mencari cari sesuatu di dalam kulkas yang bisa ia olah. Ternyata ada dua bonggol jagung dan sepertinya dia bisa membuatkan sebuah bubur jagung untuk suaminya. Lagi pula mereka juga belum makan siang. Mereka hanya sarapan di rumah sakit dan benar benar mendekam diri di kamar.
"Hem, mungkin karena terdampar di pulau, pikirannya menjadi sedikit liar sehingga dia terus ingin menguasai ku!" Claudia berdecih tersenyum mengingat permainannya tadi sambil sibuk memasak.
Kata kata Egnor sungguh memabukan nya sehingga ia menyerahkan dirinya dengan sangat rela.
"Claudia ku! Aku seperti pertama kali merasakanmu! Ini sangat sempit sayang! Apa kah aku bisa melihat anakku?" Begitulah salah satu kalimat yang sangat Claudia ingat. Betapa bangga dirinya memberikan hal yang diidam idamkan suaminya selama satu bulan setengah ini dan tak henti hentinya mulut manis itu memberikan pujian padanya.
Claudia terus tersenyum bahagia sampai tidak menyadari jika sebuah tangan kekar itu telah kembali melingkar di pinggang serta ke perut buncitnya.
"Kau terus tersenyum, ada apa, honey? Kau membayangkan permainan panas kita bukan?" selidik Egnor menenggerkan kepalanya pada bahu Claudia.
"Kak Egnor? Kau sudah bangun?" Claudia setengah menoleh memandang suaminya.
"Tidak bisakah sekarang kau memanggilku Egnor saja?" pinta Egnor mengecupi leher Claudia.
Claudia menggeleng.
"Ayolah, panggil aku Egnor, honey," Egnor memohon.
"Egnor Victor Jovanca, bagaimana?" Claudia menggodanya.
"Cloudy?"
"Baiklah, Egnor!"
"I love you!! Kau masak apa? Aromanya sampai ke kamar dan aku sangat lapar. Sepertinya aku harus mencicipi orang yang membuatnya terlebih dahulu?" Egnor lagi lagi memancing istrinya.
"Kak ... Em, maksudku Egnor ... Mengapa sejak kembali kau terus menggodaku? Tidak ada pembelajaran aneh aneh di pulau itu kan?" tanya Claudia sedikit curiga.
"Pembelajaran apa? Yang kupikirkan di sana hanya cara bagaimana bisa kembali dan bertemu denganmu, honey!" Kata Egnor melepaskan pelukannya dan duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Begitu ya? Lalu siapa wanita yang bersamamu ketika kau datang ke rumah duka?" selidik Claudia berbalik menatap suaminya.
"Della?"
"Della namanya? Sepertinya kau paham sekali Tuan, kau jangan bermain api ya? Lihat, apinya ada di dekatku!" ancam Claudia menunjuk sendok sup yang ia pegang.
"Hem, dia asisten Hakim Benedict. Dia hanya disuruh Hakim Benedict untuk mengantarku lebih cepat karena aku terjebak traffic jam!" kata Egnor sudah menegak satu botol air mineral di atas meja makan.
"Yang benar?"
"Benar Clau! Aku tidak bisa menjelaskan apapun karena tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku dan Della tidak ada hubungan apa apa. Kau orang pintar Clau, kau tidak mungkin terjebak begitu saja hanya karena dia mengatakan dia selalu bersamaku di pulau, bukan begitu?" Egnor sudah beranjak dan berjalan menuju kamarnya.
Deg! Mengapa suaminya bisa mengetahuinya?
"Mengapa kau tahu?" Tanya Claudia menahan kepergian suaminya.
"Lisa sudah menjelaskan padamu kan kalau aku tertidur, bukan tak sadarkan diri. Seorang Egnor tidak pernah pingsan!" Egnor setengah menoleh lalu menggoyang goyangkan jari telunjuknya dan mengedipkan matanya. Claudia semakin bergidik. Kekuatan suaminya tidak diragukan lagi.
"Aku mandi dulu, siapkan buburnya aku lapar sekali Clau!" Egnor kembali berjalan menuju kamar mandi kamarnya. Claudia menarik napas lega. Ya, memang mana mungkin suaminya mengkhianatinya. 8 tahun Egnor menunggunya kembali adalah sebuah bukti yang hanya diketahui oleh kedua insan saling mencintai itu.
Sekalipun keesokan harinya, Della datang langsung menemui Claudia.
Egnor telah berangkat ke kantor. Dia tidak bisa berdiam diri setelah tadi malam Frank datang menjenguknya dan menceritakan semua masalah yang terjadi. Seperti biasa, Anne datang bersama Johanes menemani Claudia sampai siang nanti Claudia juga ingin ke kantor suaminya. Grace tidak bisa menemani karena harus menjelaskan semua laporan pada Egnor dan Gabriel agar sudah kembali Gabriel yang mengerjakannya untuk Egnor.
"Dad, this your cofee and what time will you meet Lisa's mom?" Claudia memberikan secangkir kopi untuk mertuanya dan bertanya jadwalnya hari ini.
"Setelah jam makan siang. Setelah aku menemui suamimu di kantor. Kita bisa bersama sama ke sana. Anne, mau juga akan ke gereja?" kata Johanes juga memastikan adiknya.
"Yes sir!" Jawab Anne menyiapkan roti lapis untuk kakaknya dan Claudia. Tadi pagi mereka tidak sempat sarapan di rumah karena Bertho telah menjemput.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel apartemen. Claudia yang membukanya dan terkejut mendapatkan Della menangis di luar apartemennya.
"Em, apa kau Della?" Selidik Claudia mencari cari wajah Della yang menunduk dan menangis.
"I i i iya nyonya. Apa Tuan Egnor sudah menceritakanku?" jawab Della terbata karena menangis.
"Kau kenapa?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Nyonya," tutur Della .
Claudia akhirnya mempersilahkan Della untuk masuk ke dalam karena tidak enak jika di dengar tetangga atau pekerja yang melintas. Della duduk di sofa single bersebrangan dengan Johanes. Anne sudah membuatkan secangkir teh untuk nya.
"Jadi, apa yang membuat anda kemari, Nona Della? Kalau kau ingin menemui anakku, dia sudah berangkat ke kantor," tanya Johanes juga cukup aneh dengan gelagat Della.
Della menggeleng masih dalam sesenggukan nya.
"Aku ingin memberitahukan sesuatu pada Nyonya Claudia," ujar Della menundukan kepalanya.
"Kau ini kenapa sebenarnya? Cepat katakan!" Claudia sudah tidak sabar.
Semua ini di luar dugaan Della dirinya juga bisa berkata di depan keluarga Egnor.
"Em, sebenarnya, sebenarnya Nyonya," kata Della terbata masih dalam tangisnya. Dia mengusap air matanya berkali kali.
"Ada apa?"
"Aku dan Tuan Egnor ..."
"Ada apa kau dengannya? Kau jangan mengada Ngada ya?!"
"Aku, aku, aku mengakui menyukai suamimu, Nyonya, dia sungguh baik dan perhatian ketika di pulau. Kami selalu bersama dan maafkan aku, aku tidak bisa menahan diriku," lagi lagi Della menghentikan perkataannya.
"Apa maksudnya sebenarnya? Kau jangan berkata asal untuk menghancurkan rumah tanggaku Della!" Decak Claudia sudah berdiri dari duduknya.
"Aku juga tidak ingin Nyonya, tetapi wanita mana yang tahan dengan godaan dan rayuan yang Tuan Egnor tunjukan padaku dalam kondisi seperti di pulau. Di malam yang dingin, di dalam goa, kau bisa membayangkan apa yang terjadi dengan kami kan? Namun, Tuan Egnor tidak mau mengakuinya kalau kami, kalau kami melakukan hubungan badan itu, Nyonya ..." Kata Della dan tangisnya semakin pecah.
...
...
...
...
...
Uda gila gua rasa ni orang 😑😑
.
Next part 106
Tebak tebak buah manggis bakalan diapain si Della hayo dengan otak cerdik n intelek nya seorang Claudia?
Dan apa tanggapan Egnor dengan semua bualan rendahan ini?
Bagaimana hubungan Lisa, Richard dan Mytha?
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤