
Mari memulai dari awal. segala perencanaan dan penyerangan dengan akal sehat bukan dengan kekerasan meskipun tetap menyiapkan amunisi tenaga. bagaimana Egnor membentuk seluruh kekuatan yang mendukungnya? stay tune ...
...
Mula mula, Egnor dan Dion menuju ke kantor pengacaranya. Dia memanggil Frank, Moses dan Jaksa Cedric yang masih berharap bisa membantu Egnor dan berpihak padanya. Dia juga menyuruh Dion menghubungi Leon dan Gabriel agar berjaga jaga di motel Prime karena nantinya dia akan datang ke sana menemui hakim Benedict dan Tuan Gerrardo.
"Tuan Egnor, selamat datang kembali! Aku senang sekali mendengar kabar dari Tuan Dion kalau kalian sedang dalam perjalanan kemari," kata Frank menyambut kedatangan tuannya.
"Sudahlah Frank, cepat laporkan apa saja yang sudah terjadi!" Saut Egnor duduk di sofa yang diikuti Dion.
"Markas Mansion Bruce Dalton kini sudah berpisah dari si Gabriane tua tuan, tapi mereka masih berinteraksi. Bruce kembali memiliki markas mansion rahasia yang kini bersama Dawney. Kemarin aku melihatnya di tayang televisi media kalau Bruce menyumbang sumber senjata untuk Honolulu ini, tuan. Selanjutnya tuan, hunian kebangsawanan porak poranda karena pengawasan yang biasa dilakukan sendiri oleh Tuan Alex tertunda karena beliau masih dalam masa pemulihan. Yang masih bertahan adalah Motel Tuan Dion dan kantor apartemen pusat Tuan Dimitri karena ketat pengamanan. Hakim Benedict dan Tuan Gerrardo sudah bisa diajak bicara tuan. Kau harus segera menemuinya untuk pembicaraan surat otentik juga laporan pada United Nations tuan. Mereka hendak membantu kita tuan dengan memberikan ijin peneyerangan secara ilegal," kata Frank melaporkan keadaan terkini.
"Kau benar Frank! Kita tetap harus memperketat penjagaan apalagi keluarga orang orang penting yang tidak bersalah. Kita harus membuat strategi perlahan lahan sampai kita mengetahui markas mansion rahasia mereka. Apa Richie masih sering mengunjungi mansion Richard?" selidik Egnor melirik Frank.
"Masih tuan beberapa kali. Dan ada berita duka tuan. Nyonya Samantha meninggal. Menurut yang dikabarkan karena keracunan makanan. Karena dia sendiri di mansion jadi terlambat di selamatkan," jawab Frank juga memberitahukan meninggalnya Samantha Gabriane, ibu Richard.
seketika hati Egnor berdesir mengingat ibunya yang juga sudah meninggal.
"Heng, sendiri kau bilang?" celetuk Egnor berdecih.
"Memang benar tuan! Si Gabriane Tua memecat semua pembantu dan hanya memberi satu kepala rumah tangga untuk mengawasi Nyonya Samantha. Ini terjadi sejak Tuan Richard menghilang," kata Frank lagi.
"Pasti dia meninggal atas campur tangan suaminya," gumam Egnor.
"Aku juga curiga seperti itu tuan, Jaksa Cedric juga mengatakan itu ketika dokter mengoptosi jasatnya tapi dokter tidak berani mengatakan pada polisi karena mereka semua merupakan kaki tangan Dawney," tambah Frank.
Egnor harus segera bertindak, kalau tidak akan ada lagi korban yang berjatuhan. Egnor turut berduka atas kepergian Samantha karena akhir akhir ini, wanita tua itu sudah menunjukan perubahannya yang penuh kasih sayang.
"Baiklah sekarang antar aku ke motel Prime, Dion, Frank!" kata Egnor beranjak dari duduknya.
"Iya kak, ayo!" saut Dion juga beranjak.
"Tuan tunggu!" sela Frank menahan Egnor juga Dion.
Egnor menatap Frank sebelum ia berjalan.
"Maaf tuan, sebaiknya kau jangan terlalu terlihat karena semua menyangka kau telah jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Semua berita mengatakan kalau kau frustasi karena kehilangan Claudia. Menurutku ini merupakan keuntungan bagi kita," ujar Frank memberanikan diri agar bisa menyusun siasat dengan baik.
"Ah, kau benar Frank! Sejak tadi aku juga sedang berpikir untuk tidak memperlihatkan jati dirimu kak! Sehingga yang mereka tahu, kita sedang dalam keadaan lemah dan ketika semua kekuatan sudah bersatu juga mendapat dukungan dari united Nations kita bisa menyerang mereka ketika mereka sudah lengah dan merasa kita tidak bertindak. Kau mengerti maksudku kak?" sambung Dion setuju dengan ungkapan Frank. Dion ingin memberi saran tapi hendak menunggu keputusan Egnor terlebih dulu.
Egnor berpikir. Sejenak mengetahui langkah selanjutnya untuk mengatur strateginya.
"Oh begitu? Coba tunjukan berita apa saja yang sedang keluar saat ini?" pinta Egnor dan dia kembali ke meja kerjanya. dia duduk singgasana nya.
Frank pun menunjukan pada layar laptopnya. Di dalam berita menyatakan mengenai kekuatan pemerintah yang semakin mendukung gencarnya sumber senjata. Selain itu penggunakan teknologi yang membuat para buruh berhenti bekerja dan tidak bisa menafkahi keluarganya. Hancurnya hunian kebangsawanan. Tapi di sana masih ada satu pejuang bernama Engilbert yang masih mempertahankan beberapa perusahaan industri atas namanya juga atas nama Alexander.
Tampak wajah Egnor telah menegang melihat semua ketidak Adilan ini. Apalagi berita terakhir yang tersiar. Membuat dirinya ingin cepat menemukan markas mansion rahasia Bruce dan Richie itu! Tetapi juga perasaan benci, kesal, kecewa terhadap Richard dan Claudia.
Beginilah isi beritanya:
Bersamaan dengan kepergian Pengacara Egnor Jovanca yang hendak melakukan penyerangan terhadap pemerintah, dikabarkan kalau Ricardo Gabriane menghilang membawa Istri dari Egnor Jovanca, Claudia Stephanie Jovanca. Mereka berdua menghilang juga bersama anak anak dari Egnor dan Claudia Jovanca. Hal ini terdengar wajar karena ternyata Claudia Jovanca merupakan mantan istri dari sang motivator Ricardo Gabriane. Skandal ini terjadi seraya hilangnya karisma dari seorang sang pengacara yang akhir akhir ini tidak terlihat batang hidungnya.
Brak! Brak! Prang!
Tanpa berkata dan aba aba. Egnor meraih laptop itu dan membantingnya di atas meja lalu melemparnya dengan asal. Dion hanya bisa menunduk sambil memegang dahinya. Begitu juga dengan Frank dan Moses.
Tubuh Egnor memanas. Seluruh pikiran dan hatinya meringis tak karuan. Emosinya meluap luap seperti sengatan listrik yang ingin membuatnya meledak saat itu juga.
Dia terduduk di singgasana nya mengusap wajahnya kasar dan menatap ke Frank, Moses dan Dion.
"Apa Richard dan Claudia tidak ada kabar sama sekali?" tanya Egnor berusaha menormalkan dirinya agar tetap tenang.
"Tidak tuan, Nyonya Samantha juga tidak mengetahuinya. Mungkin karena hal ini juga penyebab dia meninggal secara tiba tiba," jawab Frank sedikit terbata karena amukan Egnor sebelumnya.
"Lalu tidak ada yang tahu juga di mana markas rahasia Bruce?" tanya Egnor lagi dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Begini kak, ini menurutku saja, kau jangan gegabah. Kita harus pelan pelan menyerang mereka. Selagi kita mengirim surat laporan ke United Nations dan menunggu balasannya. Sekalipun kita menemukan markas mansion rahasia itu, pasti Bruce sangat memperketat penjagaan dengan kecanggihan teknologi yang ia bangga banggakan itu. Jadi, benar katamu untuk kita menyusun strategi dari awal dan taktik sehingga bisa mengelabui mereka dan menghantam habis mereka. Bagaimana?" tutur Dion juga memberanikan diri kembali memberi argumen.
Egnor mengangguk mencoba melupakan apa yang sebelumnya membuat dirinya marah dan kesal. Sejujurnya dia sangat merindukan wanita yang pergi bersama motivator dan anak anaknya. Dia membutuhkan wanita itu untuk bisa berpikir jernih. Tapi dia mengingat perkataan adik kandungnya, adik iparnya, sampai ayahnya bahwa dia tidak boleh mementingkan dirinya sendiri. Dia harus mengesampingkan egonya. Dia harus bertahan dan juga menyerang. Tat kala, sebenarnya tadi malam Claudia seperti hadir di dalam mimpinya mengatakan agar menyelamatkan Honolulu juga menyelamatkannya.
Egnor menunduk setelah itu sesaat merenung dan berbicara pada ibunya:
"Mom, dampingi aku, buat aku merendah dan berlaku dengan pintar. Jangan ada lagi orang yang menjadi korban! Bantu aku mom!"
Egnor kembali mendongakan kepalanya.
"Tunggu aku sebentar, aku akan menuruti perkataanmu Frank!" Kata Egnor kemudian berdiri dan menuju ruang peristirahatan nya.
Di sana dia mengambil Coat panjang yang menutupi sampai kepalanya lalu kaca mata hitam. Dia mengenakannya dan dia menatap syal buatan Claudia yang selalu bergantung di tiang jubahnya. Egnor meraih namun mencengkram sebelumnya.
"Kali ini kau kembali jahat, Clau! Kau jahat sekali! Kau bahkan telah menghunus pedang pada jantungku sampai menembus punggung belakang ku. Apa kau pikir hatiku seluas jagat raya ini? Apa kau pikir jiwaku setinggi gunung yang menjulang? Kalau kau berpikir seperti itu, baiklah! Akan kubuktikan dan jangan salahkan aku jika kau harus terus bertelut di hadapanku!" Decak Egnor dengan aura mencekam akhirnya menarik syal tersebut dan dililitkan pada lengannya.
Egnor keluar dari ruangan dan menuju ke Motel Prime. Frank, Moses dan Dion berusaha menutupi keberadaan Egnor untuk saat ini untuk mengecoh lawan.
Sesampainya di motel Prime, Leon dan Gabriel dengan cepat menggiring Dion dan lainnya juga Egnor di sana masuk ke dalam.
Egnor membuka penyamarannya dan melihat di sana Benedict terduduk di samping jendela sedang merenung. Sementara Gerrardo sedang menjalani terapi di lantai atas bersama istrinya.
"Benedict!" Panggil Egnor. Benedict lantas menoleh. Air matanya tak bisa tertahan. Dia sungguh merindukan Egnor juga rasa sesal karena tidak ada di tengah tengah persidangan di mana Egnor sangat membutuhkannya.
Benedict berjalan ke arah Egnor dan memeluknya seperti ayah dan anak.
"Egnor, maafkan aku! Sebagai gantinya, anak perempuanmu telah menjadi korban! Mereka membawa Bernadeth untuk dijadikan pemuas nafsu Bruce! Mereka keterlaluan Egnor!" Kata Benedict penuh derai air mata. Egnor membuka matanya lebar lebar dan menarik diri.
"Apa kau bilang?!" pekik Egnor kembali amarahnya meningkat pesat.
"Maafkan aku Tuan Egnor, aku tidak bisa menahan anak hakim Bene ketika kami menyelamatkan keluarganya. Mereka menahan Nyonya Bene dan Nona Bernaderth yang berkorban. Mereka sangat banyak tuan, maafkan aku!" Kata Gabriel merasa sangat menyesal. Dia berbagi tugas dengan Leon. Leon menyelamatkan keluarga Gerrardo sedangkan Gabriel menyelamatkan keluarga Hakim Bene.
Egnor menatap Gabriel dengan sangat tajam.
"Jangan salahkan Gabriel, Egnor, ini semua salah Bruce, dia harus dihancurkan dengan siksaan yang kejam! Kau harus mendapatkan surat otentik itu Egnor, hanya itu yang bisa menyelamatkan kita semua dan mendapatkan hak Gerrardo sebagai kepala pemerintah. Sebenarnya dia yang seharusnya menjadi kepala pemerintah. Semua yang terjadi adalah rekayasa dan hasutan! Kau harus menegakan keadilan yang benar di Honolulu ini Egnor! Harus!" kata Benedict memberi semangat kekuatan besar pada Egnor.
"Dia di kamar sebelah, keadaanya masih kritis karena memikirkan Bernadeth,"
"Frank, Moses, semua perawatan telah tersedia?" tanya Egnor lagi pada anak buahnya.
"Sudah tuan, Lina sudah mengerahkan semua kenalan Lisa tinggal di sini untuk merawat Tuan Gerrardo yang sedang berlatih berjalan dan pemulihan Nyonya Bertha," jawab Moses menjelaskan.
"Ada apa lagi dengan Gerrardo?" kedua mata Egnor kembali mendelik. Mengapa mereka sangat tega melakukan ini pikirnya.
"Kemarin waktu di Indian, Gerrardo sempat mengajakku melarikan diri tetapi mata kaki nya tertembak. Mana bisa aku meninggalkannya Egnor. Jadi kami kembali disekap. Untung saja Tuan Janson dan Gabriel datang tepat waktu," jawab Benedict memberi tahu keadaan Gerrardo.
"Bajing*n! Bruce, Gabriane! Aku tidak akan membuatmu langsung mati, tidak! Karena kalian yang menyebabkan ini semua! Kalian bukan manusia jadi tidak pantas langsung menemui ajal," desis Egnor mengepalkan tangannya. dia berbalik dan menolak satu pinggangnya dan satu tangannya memegang syal buatan Claudia. meski kesal seperti ada kekuatan yang muncul pada pikiran dan akalnya.
"Baiklah, dengarkan aku baik baik. Frank, Moses, buat laporan penyelamatan Hakim Benedict dan Tuan Gerrardo lalu segera suruh Grace mengirimnya ke United Nations. Tuan Morris yang sudah memberikanku email jadi kita sudah memiliki akses resmi. Gunakan laptop ku di apartemen. Selagi menunggu surat penyerangan ilegal, Dion minta bantuan pada Eleazar dan August untuk terus melacak keberadaan Markas Mansion Bruce. Setelah itu aku akan memberitahukannya lagi. Untuk sementara seperti ini sampai mendapat balasan dari Tuan Morris. Ini tidak akan lama tenang saja. Benedict, kau beristirahatlah!" perintah Egnor dengan lugas dan berhati hati. dia tidak boleh melakukan kesalahan dalam rencana ini. harus berhasil mengenai sasaran. layaknya elang mengincar mangsanya di bawah. dengan satu tatapan dan cengkraman akan mematikan lawan seketika.
Benedict mengangguk dan menuju ke kamar istrinya.
"Oke kak, aku akan segera menjalankannya, ini sudah jam makan siang, sebaiknya kita makan di resto bersama lainnya. Viena sudah terus memberiku pesan untuk mengingatkan mu untuk makan," kata Dion kemudian.
Egnor mengangguk dan mereka semua menuju ke resto motel.
"Apa yang kau inginkan kak?" tanya Dion.
"Sup jagung dengan ekstra lada," jawab Egnor tampak tenang walau rahang rahang wajahnya tetap terlihat menegang keras.
"Sup jagung? Bukankah ..."
"Pesankan saja atau aku tidak akan makan!" sela Egnor melirik tajam Dion.
Dion menarik napas dan menuruti kakak iparnya. Dia tidak akan lupa kalau tadi pagi kakak iparnya itu bahkan sudah tidak tahu rasa makanan itu. Dion beranjak hendak ke toilet.
__ADS_1
"Hem, budak cinta tetap budak cinta! Viena terlalu mencintainya! Menyebalkan!" dengus Dion setelah memastikan menjauh dari kakak iparnya.
"Begitulah tuan Egnor, tuan Dion, aku sudah mengikutinya bertahun tahun, jadi aku tahu semua tabiatnya, bahkan melebihi Claudia. lebit tepatnya, aku dan Grace," bisik Frank lalu terkekeh mendengar keluhan Dion.
"Kau pantas mendapat bonus setiap tahun Frank," saut Dion mendukung, karena itulah yang juga ia lakukan pada Leon.
"Harusnya,"
Dion menuju ke toilet sedangkan Frank hendak menghubungi Grace soal laporan yang harus dikirim.
...
Tiga hari kemudian,
Markas Mansion Rahasia Bruce Dalton
"Richie! Masih belum ada kabar tentang anakmu dan Claudia? Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Bruce melihat Richie datang menemuinya.
"Tidak ada Bruce! Entah mereka kemana, mungkin sudah ditelan bumi, mati!" decak Richie frustasi karena Bruce terus menagih seorang Claudia yang dia sama sekali tidak tahu ada di mana.
Dor!
Bruce malah menembakan peluru ke dinding dari pistol yang kebetulan sedang ia bersihkan.
"Apa apaan kau Bruce?!" teriak Richie sedikit bergidik.
"Kau yang mencari kematianmu! Kalau sampai Claudia mati dan tidak bisa menjadi milikku, kau juga harus mati menjemput anak dan istrimu!" ancam Bruce menatap tajam Richie.
"Jadi bagaimana? Aku tidak tahu! Sudah semua pinggiran, sudut sampai negara yang pernah Richard datangi sudah ku cari, tidak ada jejaknya sedikitpun! Lisa juga menghilang, keluarganya entah kemana sepertinya diasingkan oleh anak buah Egnor yang berkeliaran!" kata Richie memberitahu perjuangannya mencari anak dan mantan istri anaknya itu.
"Nah itu juga, cepat kau ringkus semua anak buah Egnor itu!!" sambung Bruce seenaknya.
"Mereka mendapatkan bantuan dari Legacy sehingga persenjataan mereka juga lumayan Bruce!"
"Kalian semua tidak ada guna! Kingsler!" panggil Bruce seketika.
Kingsler datang di samping Bruce.
"Apa Egnor sudah terlihat?" tanya Bruce.
"Belum tuan!"
"Mengatai ku pecundang tapi dia sendiri berlindung di bawah rumahnya seperti kura kura! Siapkan besok semua aparat serang apartemen Dimitri! Kau mengerti?!" perintah Bruce kemudian.
"Siap tuan!"
Tak lama Dawney datang membawa sebuah gulungan yang di letakan di sebuah botol wine dan bertuliskan dengan tinta merah : HELLO, BRUCE!!
"Tuan Bruce, sepertinya ini surat tantangan dan dituliskan menggunakan darah. seseorang melempar ini ke ruanganku sehingga kaca jendelaku hancur berantakan! kurang ajar!" decak Dawney memberika botol tersebut.
"Benar!" Bruce pun membuka tutup botol gabus itu dan meraih gulungan kertas yang ada di dalamnya lalu melihat apa isi gulungan tersebut.
HELLO SAHABAT LAMA, AKHIRNYA KITA DIPERTEMUKAN LAGI. APAKAH KAU SUDAH SIAP BERMAIN? AKU SANGAT MERINDUKANMU !!
TERTANDA : E.V.J
...
To be continued...
Singing : hit sound hit hit hit sound hit hi hit sound hit hit hit sound hit hit!! (Intro hit seventeen hihii)
...
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕