
Bukan saatnya berpangku tangan. Saatnya memulihkan yang buruk menjadi baik dan yang menghilang menjadi kembali. Tegaskan dada dan mantapkan hati. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan hari esok. Tidak ada yang tahu matahari akan kembali menerangi gelap matanya atau kembali bersinar bak bintang yang bercahaya di langit malam. Pikirannya mulai terarah menjadi bagian yang berguna dalam menegakan kebenaran dan keadilan. Entah apa yang dirasakan dengan cinta. Jiwanya kembali dingin tetapi menghangat karena semua pengakuan yang mengarah padanya. Akankah Egnor berjuang sampai akhir dan dengan lapang dada menerima kembalinya Claudia?
Rililand,
Claudia terus melamun ketika berhasil menidurkan Willy dan Wilson yang pagi tadi kembali gelisah dan sesekali menangis. Dia memandang pemandangan laut dari jendela kamarnya. Sudah hampir seminggu dia menetap di sini. Tidak ada kata kata manis suaminya, tidak ada belaian suaminya, rayuan gombal, pujian serta pelukan dan ciuman mesra dari seorang Egnor untuk dirinya. Rasanya begitu menyakitkan. Hatinya berlubang perih karena kerinduan ini dan hanya suaminya yang mampu menutupi semua penyiksaan ini.
"Kak, apa kau baik baik saja dan merindukanku? Sampai kapan aku harus bersabar sepertinya? Sekalipun aku melintasi air laut ini kita pun tidak akan bertemu, aku pasti sudah ada di dunia lain. Semoga ketika waktunya tiba kau sungguh mengerti kak. Bukan maksudku meninggalkanmu, di sini doaku, ucapanku memberi kekuatan padamu. Sejauh apapun jarak kita, kau ada di pikiranku dan jiwaku dengan sangat dekat. Aku mencintaimu kak, aku merindukanmu! Argh!" Pekik Claudia dan dia tidak mau menganggu anaknya.
Claudia keluar dari kamar melewati Emma yang hendak masuk ke kamar. Claudia menuruni tangga juga melewati Richard dan Lisa yang sedang membaca koran yang Kevin bawa kemarin. Claudia keluar dari mansion dan berlari menuju ke pinggir pantai.
"KAKKKK EGGGNOOORRR!!! KAU MENDENGARKU KAN? AKU DI SINI KAK MERINDUKANMU! AKU MEMBUTUHKAN PELUKANMU! AKU JUGA TERSIKSA KAK! KAK, SELAMATKAN AKU! AKU TIDAK MAU BEGINI TERUS, TERUS BERPISAH SEPERTI TUHAN MENENTANG KITA! SEHARUSNYA KAU MENGAJAKKU PERGI KEMANAPUN KAK! SEHARUSNYA AKU MENURUTIMU UNTUK PERGI HANYA KITA BEREMPAT! KAK EGNOOORRRRR !!!!!" Teriak Claudia meluapkan semua rasa rindunya. Mengapa takdir begitu kejam baginya? Sampai berapa kali lagi mereka harus berpisah seperti ini?
Delapan tahun tanpa ungkapan cinta saja rasanya ingin bunuh diri karena khawatir Tuhan tidak lagi mengijinkan mereka bertemu. Bertahan dan berharap hanya itu yang mereka lakukan. Sekali lagi diuji ketika harus menerima kebohongan kebohongan dari kedua belah pihak. Claudia dan Egnor sama sama berbohong tapi mereka lagi lagi bertahan dan mencari tahu. Saling meminta maaf dan menyadari kelemahan masing. Masih saja cinta mereka diuji dengan mendatangkan bencana yang tidak dipikir akal sehat. Berjuang karena hendak melahirkan anak anak mereka, tidak menyerah sampai kembali dipertemukan dan bebas dari maut.
Dan, sekarang? Claudia tidak tahu lagi jika hal ini sampai rencana Tuhan. Menyakitkan dan mengharu biru. Apa yang harus ia lakukan agar terus bersama? Belum lagi jika suaminya tidak percaya padanya! Apa lagi di tengah keadaan genting seperti ini, Claudia sangat paham kalau suaminya pasti membutuhkannya.
Claudia terduduk di atas pasir sambil menekuk kakinya. Dia menangis di sana dengan jengkar dan menyayat hati. Lebih sakit dari sebuah tembakan dan lebih perih dari sebuah sayatan belati. Melebihi rasa sesak dan tercekik.
Richard dan Lisa yang menyusul Claudia merasakan kesedihan dan kerinduannya. Mereka berdua berdiri di belakang Claudia dengan jarak cukup jauh.
"Richard, baru satu Minggu dia sudah seperti kehilangan jiwanya. Mereka harus bertemu Richard," kata Lisa merasa iba pada Claudia.
"Aku mengerti Lisa, tapi ini belum saatnya. Claudia pasti kuat, ada Wilson dan Willy. Mereka yang akan menguatkan. Kita hanya perlu membantunya, kau tenanglah," balas Richard tidak bisa memenuhi keinginan Lisa dan kesedihan Claudia.
"Aku sungguh tidak tega, mengapa semua masalah selalu ada di antara mereka? Aku pikir, ketika aku memutuskan melepas Egnor, mereka akan bahagia, aku pikir aku yang menjadi pengahalang mereka tapi ternyata sungguh banyak. Sampai kau juga sempat menjadi penghalangnya kan?" saut Lisa menoleh ke arah pria yang kini ia cintai itu.
"Oleh sebab itu, kita harus membantu mereka memusnahkan penghalangnya dengan cara menyelamatkan Claudia dan anak anaknya. Kau yakinlah, Egnor tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti mempunyai kekuatannya sendiri. Itulah mengapa Claudia begitu mencintainya!" tutur Richard.
"Mereka berdua memiliki keteguhan hati dan kekuatan yang besar. Aku ikut bangga karena menjadi bagian dari mereka," balas Lisa menautkan tangannya di depan dada.
"Jadi, kau tenanglah, ini tidak akan lama. Egnor pasti menyelamatkannya juga kita semua kembali ke Honolulu," kata Richard yang sudah merangkul Lisa mengajaknya menghibur dan menenangkan Claudia.
Honolulu,
__ADS_1
Sinar matahari menelusup masuk ke ruang tamu apartemen pengacara itu sampai menembus ke dapur. Adik kandungnya masih dengan setia menungguinya bersama adik iparnya. Mereka tidur seadanya untuk menemani dan menyemangati kakaknya agar bangkit dan mulai bergerak mematahkan usaha usaha kotor para oknum pemerintahan itu.
Viena sudah siap dengan roti lapis yang merupakan kesukaan kakak kandung dan suaminya. Sudah dua hari sejak kakaknya demam, kakaknya masih mendekam di dalam kamar beristirahat. Ya, untuk saat ini Egnor memang membutuhkan pemulihan depresi dan ketraumaan nya agar dia bisa menerima hari hari ini.
Viena tetap tinggal dan terus berdoa agar mukjizat turun atas kakaknya atau jiwa ibunya menyadarkannya. Dokter mengatakan memang harus sabar. Paling cepat memang satu Minggu tapi Viena tidak berhenti berharap kalau secepatnya kakaknya akan bangkit.
Dion sudah bangun dan hendak membersihkan dirinya di kamar mandi belakang, tapi ketika dia melintasi kamar utama, dia mendengar suara desiran air. Dion terdiam dan mengingat kalau semalam saja kakak iparnya masih mengigau memanggil nama anak dan istrinya. Mana mungkin pagi ini bisa membersihkan diri dengan air pancuran. Dion merasa mungkin karena dia terlalu merindukan ketegasan dan sosok Egnor yang selalu confident. Dion menggeleng dan menuju ke kamar mandi belakang.
Dion keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit dengan menggunakan jubah handuk dan meminta pakaian pada istrinya. Betapa ia terkejut dengan apa yang ia lihat sebelum melewati kamar utama.
Di sana Egnor keluar dari kamar dengan setelan jas formal lengkap dengan rambutnya yang tegas ke atas dan dia sedang mengenakan jam tangan.
"Kak Egnor?" Panggil Dion sedikit tercengang. Penampilan Egnor lebih menakjubkan dari biasanya dia berdandan rapi walau Dion merasa ada aura yang berbeda. Lebih dingin dari dataran kutub Utara dan lebih tajam dari sebuah tikaman pisau.
Egnor menoleh menatap datar Dion.
"Kau harus lebih pagi kalau mangsa sudah ada di depan mata!" Decak Egnor dengan nada suara acuh dan dingin menuju ke meja makan.
Viena tersenyum menyambut kakaknya. Dia tahu kakaknya bukan pria lemah yang hanya mengharapkan cinta. Dia memiliki pemikiran jauh ke depan dari orang orang biasa. Meski di awali dengan sakit dan siksaan, tapi Egnor tidak akan terus meringkup dalam kenistaan itu terus menerus.
"Berikan pakaian pada suamimu dan suruh dia mengantar ku ke kantor pengacara!" Jawab Egnor meminum kopi hitam buatan Viena dan meraih ponsel dari saku jasnya.
Viena lupa memberikan pakaian pada Dion dan segera ia melakukannya. Dion pun segera berpakaian dan ikut bergabung sarapan di depan Egnor.
"Di mana Leon?" Tanya Egnor kemudian.
"Di motel ku kak bersama Hakim Benedict dan Tuan Gerrardo serta keluarga mereka. Ternyata kak, mereka berdua disekap di sebuah gudang penyimpanan tembakau dan hampir saja hendak dibunuh. Untung saja Leon dan Gabriel juga polisi kenalan Leon meringkus mereka dengan cepat. Oiya kak, Tuan Dawney yang mengepalainya," kata Dion memberi tahu kabar terkini.
Egnor menatap tajam Dion meresponi cerita Dion.
"Bukan hanya itu kak, ternyata keluarga Hakim Benedict dan Tuan Gerrardo juga di sekap di rumah mereka agar tidak ada yang tahu keberadaan mereka semua. Tapi tenang kak, Leon, Frank, Gabriel, Kepala Polisi Devon dan anak buah Bertho semua menyerang ke sana karena hendak menyelamatkan keluarga Hakim Bene dan Tuan Gerr! Meski begitu kak, mereka tetap sangat kuat, oleh sebab itu kami menyembunyikan mereka di motel ku. Untuk saat ini belum ada yang tahu kak karena mereka tidak terlalu mencurigai motel kecilku yang hanya berada di sudut pinggiran Honolulu. Tapi kita tetap harus berjaga jaga kak," tambah Dion lagi.
"Bagaimana keadaan Bertho, Eleazar dan Alex?" selidik Egnor kemudian.
"Bertho masih dalam pemulihan kak. Tapi Frank sudah meminta bantuan pada August untuk menggantikannya," jawab Dion.
"Jangan memaksakan dia sayang, dia juga harus melindungi Kate," sela Viena yang juga sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Kate?" tanya Egnor lagi.
"Kate mendapat surat kaleng kak, aku curiga itu ulah Bruce juga!" saut Viena.
Brak!
Tubuh Egnor seketika memanas mendengar nama itu. Tangannya sangat gatal hendak menghabisi orang itu. Yang merupakan biang kerusuhan dari semua ini. Egnor lalu beranjak membuat Dion dan juga Viena tegang sekaligus terkejut.
"Cepat gerakan langkahmu Dion, kita harus membuat stretegi. Sudah cukup berpangku tangan dan memberi mereka kesempatan. Saat nya membuat mereka beristirahat dengan tenang!" Kata Egnor mengeratkan jasnya dan hendak keluar.
"Kak, kau tidak sarapan dulu? Apa malam nanti mau kubuatkan sup jagung atau bubur jagung kesukaanmu?" pekik Viena mengingat kesehatan Egnor yang sebelumnya menurun.
Deg!
Egnor teringat sesuatu dengan apa yang dikatakan adiknya. Dia pun berhenti dan setengah menoleh.
"Kurasa aku tidak menyukai makanan itu lagi. Bahkan aku lupa bagaimana rasanya!" Desis Egnor. Merasa ada yang hilang dari kenangan indah bersama istrinya.
Viena kembali merasa sedih. Dia tidak tahu bagaimana memberikan pengertian yang benar.
"Sabar Viena, ini hanya masalah waktu, kak Egnor pasti akan mengerti kalau sudah melihat kak Claudia nanti. Yang terpenting sekarang dia sudah bangkit dan mau menyelamatkan Honolulu ini, oke? Aku pergi dulu, jaga dirimu! Kunci pintu rapat rapat dan tetap di sini. Sebentar lagi Dad in law dan Aunty in law coming! I love you, cup!" Kata Dion menenangkan istrinya dan tak lupa mengecup pelipis Viena.
Dion pun mengikuti Egnor yang mulai merancang strategi dan hendak melakukan penyerangan.
bonus foto Dion - Viena yang kangen 😁
...
Show time!
next part 146 yuks
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕
__ADS_1