
Semua menjadi sudah terbiasa untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kewajiban seorang istri menjadi sebuah kebiasaan dalam mengurus maupun melayani suami. Bahkan hanya menyebut dan memanggil sebuah nama, ini sudah merupakan kebiasaan yang tidak bisa dipungkiri. Namun, bagaimana jika seharusnya yang dikerjakan tidak menampakan dirinya? Bagaimana seorang istri melayani suaminya tetapi sang suaminya menghilang dan tidak tahu bagaimana kabarnya? Mampukah Claudia menghadapi semua ini?
...
Di sebuah ruangan pemilik salah satu perusahaan properti di Honolulu. Kaki tangan sang pemilik melaporkan sesuatu .
"Selamat pagi Tuan!" Bawahannya memberi salam.
"Bagaimana kabar hari ini?" Tanya sang tuan sambil menghisap cerutu nya.
"Tim SAR pusat Honolulu sedang menuju ke laut Atlantis juga bersama tim SAR Legacy utusan Dion Prime, Tuan." Jawab bawahannya.
"Heng, mereka benar benar bertindak cepat ya?"
"Iya Tuan, karna semua keluarga para advokat sudah menuntut kabar dari pihak pelabuhan dan pihak kapal pesiar khususnya pihak pemerintah yang mengadakan perjalanan ini. Para wartawan juga sedang meminta penjelasan dari badan klimatologi Honolulu.
"Hahaha! Kabar yang sangat istimewa. Kira kira, apa mereka akan selamat, khususnya Egnor?" tanya sang Tuan langsung kepada inti kabar yang ingin ia ketahui .
"Kalau masalah ini belum ada yang memastikan Tuan. Tetapi sepertinya semuanya tidak akan selamat. Badai menghantam kapal dengan sangat kencang dan keras, lalu setengah bagian dari kapal hancur karena tertabrak batu karang yang besar, Tuan." jawab bawahannya seturut berita akhir yang ia dapat.
"Hahaha! Akhirnya aku bisa menghabisimu, Egnor Jovanca! Sekarang, jalankan rencana selanjutnya. Kecoh emosi Claudia, aku juga ingin dia depresi sehingga dia dan anaknya menyusul suami dan ayah mereka. Dan selagi lengah, kau harus mencari Ron beserta temanmu dan adiknya Ron. Juga temukan hak otentik antara kantor pengacara Egnor dengan pemerintah pusat. Kau mengerti kan?" perintah tuannya.
"Mengerti Tuan!"
"Berhati hatilah!"
"Pasti!"
...
Lagi lagi Claudia mencabut jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Grace maupun Anne nyatanya tidak bisa menghentikan Claudia. Claudia lalu ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah semua siap dia menuju ke nakas tv di kamarnya untuk meraih notebooknya.
"Kak! Aku akan ke badan klimatologi. Aku akan mengungkap semuanya dan kupastikan kau selamat!" Claudia menulis di lembar notebook untuk yang kesekian kalinya.
Claudia keluar kamar dan meminta ijin pada ayah mertuanya. Namun dia meminum susu yang sudah disiapkan Anne terlebih dulu. Dia tidak lupa apa yang harus ia lakukan. Semua demi anak anak nya dan terutama untuk Egnor. Meski tidak ada pria itu, Claudia sudah tahu yang menjadi kebiasannya. Kalau bukan Anne, Egnor yang membuatkannya susu.
Claudia tidak meminta penjagaan, dia langsung keluar apartemen. Grace sudah mengikutinya begitu juga dengan Frank. Grace dan Frank tidak akan membiarkan Claudia pergi sendiri. Frank juga sudah meminta satu anak buah Bertho untuk menemaninya sementara Bertho tetap memantau kantor juga apartemen.
"Clau, ini mungkin suatu kesalahan, tidak seharusnya kita kesana. Lebih baik kita ke kantor pelabuhan untuk mengetahui perkembangan pencarian korban." kata Grace mencoba memberi pengertian pada Claudia.
"Korban kau bilang? Suamiku tidak menjadi korban! Dia pasti selamat atau lebih dulu menyelamatkan diri! Sebaiknya kau jangan menjadi peramal Grace! Badan klimatologi saja tidak bekerja dengan benar! Sudah, kau diam saja!" Decak Claudia tidak terima dengan kata kata Grace. Grace terkejut mendengar perkataan Claudia. Dia jadi mengingat seseorang. Ya orang tersebut tuannya. Dia seperti melihat Egnor ada di dalam diri Claudia seperti Claudia melihat suaminya di diri Viena.
"Sayang, kau diam saja! Dia sudah seperti Tuan Egnor!" bisik Frank setengah menoleh ke belakang.
"Ya, kau benar Frank! Aku jadi ikut mencemaskan Tuan Egnor. Apa dia benar tidak selamat?" Grace kembali berbisik pada suaminya.
"Kita akan tahu secepatnya." Kata Frank lagi dengan pelan dan melihat ke depan jalan.
"Seenaknya sekali orang orang ini bicara. Twins, kalian jangan mendengarkan Aunty Grace. Dia sedang mengigau!" Gumam Claudia pelan kepada anaknya sambil mengelus elus perutnya. Grace mendengar bukannya kesal tetapi menjadi sangat prihatin.
Sesampainya di parkiran gedung badan klimatologi itu, Claudia langsung keluar dari mobil tanpa bimbingan dan papahan Grace. Kekesalannya sudah sampai ke ubun ubun. Di sana ternyata sudah ada pihak kepolisian dan pemerintahan yang meminta penjelasan pada kepala badan klimatologi. Claudia dengan lantangnya menyeruak para wartawan yang hendak meliput laporan dari badan klimatologi ini. Grace dan Frank tentu saja sudah menyusul dan hendak mengingatkan Claudia untuk berbicara baik baik tapi sepertinya gagal. Claudia seperti bukan dirinya sendiri.
"Dimana orang yang bertanggung jawab atas semua kecelakaan ini?!" tanya Claudia membentak.
"Ma, maaf Nyonya, anda belum diperkenankan masuk. jadwal konferensi pers masih satu jam lagi." jawab si petugas keamanan.
"Aku tidak memerlukan jadwal yang kalian buat, kalian lelet sekali! Aku membutuhkan penjelasan ini benar kekeliruan apa kalian benar benar lalai! Cepat katakan dimana pemimpinmu!" pandangan Claudia sangat tajam dan memburu.
__ADS_1
"Claudia tenang Clau, kau sedang mengandung, kasihan anakmu." Grace berusaha menenangkan Claudia yang tampak sia sia.
"Diam kau Grace! Kau tidak tahu kan kalau sekarang anakku juga mendukungku! Dia tidak terima Dad nya mengalami semua ini! Sangat tidak berpendidikan! Bagaimana bisa bekerja di badan klimatologi yang sangat sensitif ini!" Decak Claudia pada Grace.
"Nyonya, tim kami masih memeriksa semua kerancuan dan kesalahan yang terjadi." kata si satpam berusaha menahan Claudia.
"Argh, pantas saja kalian salah memberi ramalan, kau saja tidak becus begini! Minggir!" Claudia mendorong sang keamanan itu. Bukan si satpam tidak berani melainkan melihat perut buncit Claudia jadi akhirnya dia mengalah. Claudia segera memasuki gedung dan mencari ruangan yang menangani semua ini. Ketemu. Di ruangan tersebut sampai ada orang yang keluar. Sepertinya mereka memang sedang meneliti lebih lanjut tetapi Claudia tidak mengerti semua ini. Dia hanya butuh kejelasan yang memuaskan.
"Sedang apa kalian semua?!!! Meneliti cuaca?! Percuma! Penelitian dan ramalan yang kalian berikan nyatanya telah membuat orang orang kehilangan nyawanya! Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?!" gertak Claudia membuka kasar pintu kaca itu.
"Kau siapa? Berani beraninya wartawan masuk kesini tanpa ijin!" seorang pria yang masih memantau grafik cuaca berbalik dan terkejut melihat Claudia.
"Wartawan apa?! Aku istri salah satu advokat yang kalian buat kapalnya terkena badai. Bagaimana kalian menyikapi ini?!" saut Claudia dengan nada mendominasi.
"Kami tidak bersalah nyonya. Kami mengirim ramalan cuaca dengan benar. Hujan turun deras dan sepertinya sampai ke laut Atlantis." balas si pria membela.
"Apa bukti kalian?! Laporan yang diterima menyatakan kalian mengatakan ramalan cuaca baik baik saja. Bagaimana kalian menjelaskannya?!" selidik Claudia melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Kami bisa buktikan, data kami menyatakan hujan deras dan kemungkinan akan terjadi badai." pria itu berkata kata dengan sangat yakin. Frank sudah ada di samping Claudia.
"Maaf Tuan! Sebaiknya anda secepatnya mengkonfirmasi atas kekeliruan ini! Atau bisakah aku melihat data yang ada pada kalian?" tanya Frank.
"Tentu, aku bisa buktikan." Sang kepala badan klimatologi, Russo Fully berjalan ke arah komputer administrasi pegawainya. Dia meminta pegawainya membuka database laporan ramalan cuaca empat hari ke depan yang diserahkan pada kantor pelabuhan, kantor kapal pesiar serta kantor advokat pemerintahan. Claudia, Frank dan Grace tentu saja mengikutinya. Sang pegawai segera memeriksa data satu Minggu yang lalu dan terpampang lah disana.
*Laporan perkiraan cuaca selama empat hari kedepan terhitung sejak tanggal 19 sampai 23 April menyatakan langit berawan cerah. Kekuatan angin dikatakan normal dan sangat baik untuk berlayar.*
Mata Russo membelalak. Dia sangat terkejut juga dengan pegawainya. Bagaimana bisa laporan ini menyatakan seperti ini.
'Tidak mungkin! Bukan ini perkiraan cuaca yang kita buat dan dikirimkan!' kata Russo dalam hati.
"Nyonya! Ini kesalahan! Ini bukan isi laporan kami. Coba cari lagi laporan lainnya. Sepertinya aku membuat salinannya!" Russo membela diri karna dia benar heran dengan semua ini. Dia pun menyuruh pegawai ya untuk kembali mencari.
Sang pegawai kembali mencari dan laporan yang sama yang tadi ia tunjukan.
"Kalian sungguh keterlaluan! Kelalaian dan kecorobohan kalian sungguh tidak dapat dibenarkan! Apa kalian tidak tahu bagaimana keluarga yang ditinggalkan?! Khususnya diriku! Suamiku ada disana! Bukan hanya suamiku tetapi juga suami, istri atau ayah dan ibu mereka! Bahkan adik adik mereka. Ini sangat menyakitkan. rasanya kau ini memang sengaja melemparkan paku pada kami ya?!" kata Claudia tidak sabar dengan pencarian nya lagi. Semua yang ia lihat sudah merupakan jawaban yang sah kalau badan klimatologi ini benar benar melakukan kelalaian.
"Berilah kami waktu untuk membuktikan bukan kesalahan kami Nyonya. Kami benar sudah memberitahukan kondisi yang sekarang benar terjadi." Russo memohon.
"Kalau sudah begini kalian pasti mengatakan yang sedang terjadi! Aku bisa menuntut kalian!" Claudia mulai menunjuk Russo.
"Jangan seperti ini Nyonya! Kau menuntut orang yang tidak bersalah! Lagipula kami sudah sangat berguna pada kalian! Mengapa tidak ada terimakasih nya?" decak Russo sedikit kecewa dengan semua ini.
Pak!
Claudia dengan amarah yang meluap menampar Russo.
"Tidak bersalah bagaimana hah?! Aku akan menuntutmu! Sebaiknya kau cam kan baik baik! Aku Claudia Jovanca, istri dari Egnor Victor Jovanca! Kau telah membahayakan nyawanya! Anaknya belum lahir dan aku sedang hamil! Tapi kau malah meminta rasa terimakasih! Kupastikan Badan Klimatologi ini diubah seluruh ketenaga kerjaannya! Tidak becus! Kau telah merenggut kebahagiaan banyak orang! Dan kau telah membuat diriku sendiri! Kau jahat!" Amarah Claudia benar benar meninggi. Air matanya sudah terjatuh banyak sekali. Dia mengumpat sambil memegang perutnya.
Frank tidak bisa menahannya. Dia sangat mengerti amarah Claudia yang tidak tahu yang sebenarnya. Grace sudah menangis. Betapa Claudia sangat kehilangan. Sementara pihak badan klimatologi pun juga tidak mengerti dengan semua kekeliruan yang tidak mereka perbuat.
Claudia masih menatap Russo dengan nanar.
"Kuperingatkan padamu! Aku serius, kalau sampai suamiku benar benar meninggalkanku, mungkin aku juga .."
"Kak!"
Tiba tiba terdengar suara seorang wanita memanggil Claudia. Claudia tidak melanjutkan kata katanya pada Russo. Dia terdiam dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Kak! Ada apa denganmu? Mengapa kau seperti ini?! Semuanya masih dalam penyelidikan, tidak ada gunanya kau seperti ini!" Kata wanita itu lagi yang tidak lain adalah Viena. Viena sudah tiba dan langsung menyusul Claudia setelah Johanes mengatakannya. Johanes mengawatirkan menantunya itu.
"Viena .." panggil Claudia melemah.
"Ayo kita pulang!" ajak Viena dengan wajah dinginnya menghampiri Claudia.
Claudia terdiam dan malah makin menangis berbalik menghampiri adik iparnya itu.
"Viena, dimana kakakmu Viena? Aku mau kakakmu, aku mohon kembalikan dia padaku!" Tutur Claudia memeluk Viena. Viena ikut mendekap kakak iparnya itu dengan kuat. Sejatinya dia juga sedih ketika mendengar kabar yang menimpa kakaknya. Hal yang begitu mendadak. Viena juga yakin kalau kakaknya masih hidup meski Dion sudah menenangkannya kemungkinannya tidak sampai 25%.
"Tenang kak, semua ada prosesnya! Kau harus bersabar! Ayo kita pulang!" Viena mengelus lembut punggung Claudia. Viena lalu memberi kode pada Frank agak menyelesaikan kesalahpahaman ini. Viena dan Grace memapah Claudia keluar kantor tersebut. Mereka kembali ke apartemen.
Di dalam mobil, Claudia terdiam sambil menatap jalan. Di pikirannya sekarang hanya ada nama suaminya. Sesampainya di apartemen tidak ada siapa siapa. Johanes dan Dion pergi ke kantor pelabuhan hendak menanyakan perkembangan pencarian. Sedangkan Anne kembali ke rumah terlebih dahulu.
"Kak Egnor, aku mengantuk, aku mau tidur, bangunkan aku jika sudah waktunya minum jus." Begitulah kata Claudia memasuki apartemen dan dia menuju ke kamarnya. Sementara Viena dan Grace saling berpandangan.
"Nyonya Viena, dia terus seperti itu, sebentar mengamuk dan sebentar seakan akan tidak terjadi apa apa. Dia satu satunya orang yang tidak bisa menerima kecelakaan ini kak." kata Grace memberitahu kondisi Claudia.
"Ya aku sangat mengerti. Untuk saat ini biarkan seperti ini. Selama dia mau makan dan minum dengan benar dan tidak membahayakan janinnya biarlah lakukan seperti yang ia katakan." Viena mengarahkan.
"Baik Nyonya."
...
...
...
...
...
iya Nyonya Viena, vii juga bakal ikutin Mimi kok 😭😭
.
next part 96
tak bisa berkata kata hanya bisa mengatakan tetap stay tune ges
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1