Sejernih Cinta Embun

Sejernih Cinta Embun
122. Menemui Paman Yudistira


__ADS_3

🌺Haiiii Readers tersayang Author mau ucapi selamat menunaikan ibadah Ramdhan bagi yang menjalankan yaa...!!! Semoga Ramdhan tahun ini kita diberi keberkahan.Aamiin!!!.


Oh yaa maaf kalau author telat up episode²nya,


berhubung masih fokus dengan Ramdhan jadi Author bakal usahai untuk selalu up walau cuma satu episode.Thanks yaa untuk dukungannya.Jangan lupa tetap like,komen,dan vote ya...🤗


I love you All🌺


"Embun terima kasih karena sudah mau memaafkan saya malam ini".Kata Rico sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Oh,iya pak sama².Saya juga terima kasih untuk traktirannya malam ini".Jawab Embun sambil membalas jabatan tangan Rico.


"Tuan Arjuna terima kasih sudah mau mampir di kafe saya yang tidak seberapa ini".Kata Rico juga mengulurkan tangannya pada Arjuna.


"Okay sama²".Jawab Arjuna singkat dan ia juga membalas jabatan tangan Rico.


"Pak,berarti boleh dong kami sering² mampir kesini".Kata Andin menimpali sambil sedikit malu².


"Boleh,silahkan!".Kata Rico tersenyum.


Mereka pun mengakhiri makan malam mereka.Embun pulang bersama Arjuna.Sementara Andin pulang diantar taksi yang sudah dibayarkan Arjuna.


"Waah beruntung Embun mendapatkan Tuan Arjuna,sudah tampan tajir baik hati lagi.Lumayanlah untuk hari ini,makan malam gratis,taksi juga gratis.Hehehe".Kata Andin berbicara sendiri didalam Taxi.Sementara supir taksi itu menatapnya heran karena sedari tadi penumpangnya seperti orang gila yang berbicara sendiri.


"Kakak bagaimana kabar paman?"Tiba² Embun menanyakan kabar Yudistira.Arjuna yang sedang fokus mengemudi pun tidak langsung menjawab.Tampak tangannya mengenggam stir cukup keras.


"Hmmmm...papa baik".Jawabnya singkat.Embun bisa melihat dari raut wajah Arjuna yang datar bahwa dia masih tampak marah dengan papanya.


"Kakak...!!! ingat semarah apapun kakak dengan paman tetap saja darah lebih kental dari pada air.Sekuat apapun kakak mencoba membelah air hasilnya akan sia² kak karena air akan menyatu kembali begitulah kakak dengan paman".Kata Embun sambil memegang tangan Arjuna.


Arjuna masih diam dan tidak menyangkal apapun yang dikatakan Embun.Mungkin sama halnya dengan Yudistira mereka saling rindu tapi karena gengsi dan ego masing² jadi mereka tidak lagi berbicara akhir² ini.


"Kakak !!!! Embun tidak mau hanya karena Embun kakak dan paman menjadi seperti ini.Kalau kakak terus seperti ini sepertinya paman akan semakin membenci Embun kak."Kata Embun lagi mencoba memancing tanggapan Arjuna.


"Sayang,sebaik apapun kamu!!! papa tetap tidak menyukaimu jadi percuma kakak menjelaskan padanya.Karena yang dia tahu kamu tidak setara dengannya."Kata Arjuna kesal tampak rahangnya yang mengetat.


Embun yang mendengar kata² Arjuna seperti itu tiba² menundukan kepalanya.Ada perasaan nyeri didadanya yang tidak bisa ia ungkapkan dengan jelas.Tampak jemari tangannya meremas tali tas yang ada dipangkuannya.Arjuna menyadari perkataanya dan melihat dari sudut matanya.


"Sayang maaf kakak tidak bermaksud...!!!"Kata Arjuna mulai cemas.Sepertinya dia menyesal dengan perkataannya raut wajahnya tampak pias.


"Kak...!!! maaf karena Embun tidak terlahir dari keluarga yang setara dengan kakak.Tapi Embun tidak perna menyesal dilahirkan dari keluarga sederhana.Embun bersyukur punya ayah dan ibu yang sangat menyayangi Embun.Tanpa harta yang melimpah pun Embun bisa merasakan kehangatan yang mereka berikan."Kata Embun menatap lurus kedapan.Matanya mulai mengembun dan sebentar lagi kristalan bening itu lolos dari pelupuk matanya.Arjuna menyadari itu,dengan cepat dia menepikan mobilnya kepinggir jalan.


"Sayang...justru kehangatan itu yang kakak rasakan sekarang sejak bersama kamu.Jadi kakak mohon jangan perna membuatku menjadi manusia dingin seperti dulu".Kata Arjuna dengan wajah memelas penuh permohonan.Tangan Arjuna mengenggam kedua tangan Embun.


Air mata Embun pun lolos ke pipinya.Embun tidak tahu harus bahagia atau bersedih karena keadaanya sekarang.Saat ini ia bersama dengan Arjuna namun Arjuna yang semakin menjauh dari ayahnya.Ada perasaan bersalah dan ingin sekali ia meluruskan semuanya dan meminta Arjuna untuk bersamanya selamanya kepada paman Yudistira.


(Diapartemen Arjuna)

__ADS_1


"Paman sepertinya saya menemukan kontrakan baru untuk paman dan Embun".Kata Arjuna kepada Hasan.


"Wah syukurlah,jadi paman dan Embun bisa pindah lebih cepat".Kata Hasan tersenyum bahagia sambil memandang Embun.


"Iya ayah,lusa kita sudah bisa pindah".Kata Embun memegang tangan ayahnya bahagia.


"Terima kasih nak,kami selalu merepotkan kamu".Kata Hasan menatap tulus Arjuna.


"Paman jangan seperti orang lain,Juna akan selalu ada untuk paman dan Embun".Kata Arjuna menatap dalam Hasan.Tampak ketulusan dari raut wajah Arjuna.Hasan bisa merasakan itu,namun saat ini Hasan masih menata hatinya yang mulai membaik.


(Di Mansion)


"Arsy kamu hari ini tante yang antar pulang ke Mansion ya...!!."Kata Embun sambil menyisir rambut Arsy.


"Beneran tante?"Tanya Arsy tidak percaya.


"Iya sayang...!!!"Kata Embun tersenyum sambil mengusap puncak kepala Arsy.


"Yeeeeyyyy.Makasih tante mama !!!"Kata Arsy girang.Sudah lama Embun tidak mendengar sebutan itu.Jantungnya berdebar saat disebut mama.Perasaannya tidak menentu,ia mengulum senyumnya dan tampak pipinya merona.


"Syuuutt tapi janji jangan bilang² papa ya.Ini rahasia kita berdua."Kata Embun berbisik ketelinga Arsy sambil mengedipkan satu matanya.Embun pun mengulurkan kelingkingnya untuk membuat janji kelingking pada Arsy.Tampak wajah Arsy berseri² karena sudah melakukan ritual yang selalu mereka lakukan dulu.


Pagi itu dengan sejuta kali berfikir Embun mengumpulkan keberaniannya untuk datang ke Mansion.Hari ini untuk yang pertama kalinya sejak bepisah dari Arjuna ia datang ke rumah itu.Jantungnya mulai berdegup kencang saat mobil mereka memasuki gerbang yang menjulang menuju Mansion.Sesekali Embun membuang nafasnya berlahan untuk mengusir kegugupan yang ada dihatinya.


Hari ini Embun izin tidak masuk kerja karena ia akan datang ke mansion.Arjuna juga tidak tahu kalau Embun tidak masuk kerja.Embun sengaja tidak memberi tahu siapapun selain Zoya.Karena dia harus izin pada zoya terlebih dahulu.


Embun dan Arsy sudah berada dihalaman Mansion.Embun membuang nafasnya kasar setelah itu ia mencoba menariknya kembali berlahan.


"Embun sayang....!!!!" Sapa Wike terkejut melihat Embun didepannya.Wike dengan cepat memeluk tubuh mungil itu.Embun hanya mematung tanpa kata.


"Sayang tante kira kamu tidak mau lagi datang kemari?".Kata Wike sambil menyentuh kedua pipi Embun dengan telapak tangannya.


Embun tersenyum canggung,ia seperti kehilangan kata²nya yang sudah sedemikian rancang didalam mobil sebelum masuk kedalam mansion.Fikirannya kosong tampak wajahnya yang gugup.


"Iiya tante..,maaf kalau kedatangan saya membuat tante tida nyaman."Kata Embun gugup.


"Ooh No....sayang.Jangan bilang seperti itu, justru tante bahagia kamu masih mau kemari".Kata Wike dengan menautkan kedua alisnya.


"Ayo masuk sayang".Ajak Wike pada Embun sambil menggandeng tangan Embun membawanya keruang tamu.Tampak suasana rumah itu masih sama seperti satu tahun yang lalu.Embun menatap setiap sudut rumah itu,ia masih menyimpan kenangan indah dirumah itu.


"Mbak susi ajak Arsy masuk ya...!!"Kata Wike pada susi.


"Tante Arsy masuk kekamar dulu ya tante,i love you tante."Kata Arsy mengecup pipi Embun.Embun pun membalasnya dan mengusap puncak kepalanya


"I love you too sayang".Kata Embun tersenyum.


Wike melihat pemandangan itu membuat hatinya seperti tercubit.

__ADS_1


"Kenapa harus serumit ini,kenapa papa tidak bisa membuka hatinya sedikit saja demi untuk kebahagiaan Arjuna dan Arsy".Gumam Wike melihat kedekatan mereka berdua.


"Sayang,ada apa kamu tiba² datang tanpa memberi kabar?"Tanya Wike penasaran.


"Tante maaf kalau membuat tante terkejut.Embun ingin bertemu paman tan".Kata Embun menatap dalam ke manik mata Wike.Ada pancaran kesedihan dimata Embun saat menatap Wike.


"Hmmm....tante tahu maksud kamu.Paman ada didalam ruang kerjanya.Kamu bisa langsung naik keatas".Kata Wike meberi tahu sambil menyentuh pundak Embun lalu Wike memeluk tubuh mungil itu erat.Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan.Sepertinya Wike mencoba memberi kekuatan untuk Embun tanpa mengatakan apapun.Hanya dengan pelukan kehangat sebagai seorang ibu Embun bisa merasakan kehangatan itu.


"Tok tok tok...!!! Embun dengan sejuta keberaniannya mencoba mengetuk pintu dengan jantung yang berdegup kencang.


"Masuk !!!"Kata orang didalam sana dengan suara berat ciri khasnya.


"Cklek...!!!"Embun membuka pintu itu berlahan dan pelan agar tidak menimbulkan kebisingan.


Yudistira tampak sedang membaca sebuah surat kabar dikursi kebesarannya.


"Maaf sebelumnya paman kalau kedatangan saya mengganggu paman".Kata Embun mencoba memecah keheningan.


Yudistira mengangkat wajahnya dan menatap kearah Embun.Itu membuat Embun menelan slavinanya kasar.Tangannya mulai berpeluh dan tubuhnya seakan mematung.Tatapannya dingin dan tidak bisa ia Artikan maksud dari tatapan Yudiatira kepadanya.


"Hmmmm....mau apa kau menemuiku?"Tanya Yudistira dengan suara bass nya.


"Hmmm atau kau mau meminta ganti rugi masalah kebakaran itu?"Tanya Yudistira lagi dengan manikan sudut bibir kirinya.


"Maaf paman kadatangan saya kesini bukan untuk itu tapi....!!!


Maaf jika saya sudah lancang menemui paman seperti ini untuk masalah kebakaran itu saya dan ayah sudah mencoba untuk memaafkan paman".Kata Embun dengan suara bergetar,karena ia masih merasakan kesedihan didalam hatinya terkait kebakaran itu.


Semetara Yudistira hanya mengerutkan kedua alisnya dan memiringkan sedikit kepalanya sambil menyipitkan kedua matanya.Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu dari cara ia menatap Embun.


"Paman !!! maafkan saya jika saya sudah mencintai Kak Arjuna.Maaf jika cinta saya salah.Yaaa mungkin memang saya salah telah berani mencintai kak Arjuna.Jika mencintai adalah dosa maka saya adalah pendosa.Tapi saya tidak bisa melepas kak Arjuna begitu saja karena saya benar² mencintai kak Arjuna tanpa syarat."Kata Embun sambil menundukan kepalanya menghadap Yudistira.


Yudistira tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Embun kepadanya.


"Tenyata gadis ini cukup berani dan tidak pantang menyerah".Gumam Yudistira sambil menatap tajam kearah Embun.


"Paman saya sangat mencintai Kak Arjuna dan Arsy jadi mohon jangan pisahkan saya dengan Arsy.Saya mohon paman!"Kata Embun lagi dengan suaranya yang bergetar menahan air mata yang siap lolos dari pelupuk matanya.Bibirnya bergetar menahan suara tangisnya agar tidak pecah saat itu juga.


"Kau cukup berani untuk menyampaikan itu padaku".Kata Yudistira tenang sambil melipat surat kabar yang ada ditangannya.


"Apa kau yakin aku akan merestui mu?"Tanya Yudistira kepada Embun.


Seketika tubuh Embun seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi saat mendengar pertanyaan dari Yudistira.Bibirnya seakan terkunci,tenggorokannya seakan tercekat.Embun hanya menelan slavinanya kasar.


"Paman,saya fikir paman adalah orang baik dan sangat mengerti kak Arjuna.Saya tidak bisa membanggakan tentang siapa saya,dari mana saya berasal dan perusahaan apa yang saya miliki karena saya tidak punya itu.Tapi saya punya cinta dan ketulusan untuk kak Arjuna dan Arsy.Mungkin cinta bukan segalanya tapi dengan cinta dan ketulusan kita bisa memiliki kehangatan dalam sebuah keluarga.Karena orang tua saya mengajarkan bahwa membangun cinta berawal dari dalam keluarga maka terciptalah kebahagiaan didalamnya."Kata Embun masih menunduk tidak berani menatap wajah Yudistira.


Yudistira menatap dalam Embun.Hatinya seakan terketuk saat Embun mengatakan kata² yang seakan menghujam dirinya.Selama ini yang ada didalam kehidupan Yudistira adalah Ambisi untuk terus meniti karirnya dan mengepakkan sayapnya untuk perusahaannya.Yudistira sukses dalam karirnya tapi tidak dengan kehidupan keluarganya.Didalam rumahnya terasa dingin dan tidak ada kehangatan yang ia rasakan hingga saat ini.

__ADS_1


"Cleek...."Tiba² seseorang membuka pintu dan mengagetkan Embun dan Yudistira.


"Kakak....!!"Kata Embun membukatkan matanya karena terkejut melihat Arjuna sudah berada diambang pintu.


__ADS_2