
"Embuuuuun.....!!!!"Teriak Arjuna dengan menggelegar sambil air matanya pun lolos dipipinya.Kedua tangannya mencengram rerumputan yang ada ditanah sambil ia berlutut.Arjuna tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Embun disana.Apa Rico benar² melukai Embun atau hanya sebagai gertakan saja.Itu membuat Arjuna tidak bisa berfikir jernih.Rasa takut dan khawatirnya begitu besar.Seakan awan mulai kelabu dan petir menyambar tubuhnya yang lemah.Kakinya lunglai membayangkan hal yang terburuk bisa saja terjadi pada wanita yang sangat ia cintai itu.Seakan kabut hitam menyelimuti dan menghalangi kebahagian rumah tangga mereka.
Endro yang melihat itu pun tidak bisa menahan kesedihan didalam hatinya.Tampak ia berlari mendekati Arjuna yang tertunduk lemah.Endro mengusap pundak Arjuna untuk memberi kekuatan pada sahabatnya itu.
"Endroooo!!! Embun Endro,Embun...!!! Kata Arjuna lirih sambil menatap dalam wajah Endro.Raut wajahnya diselimuti kepedihan dan amarah yang terpendam disana.Hal itu seakan dejavu kejadian 6 tahun lalu.Jantungnya berdegup kencang memompa darah yang mengalir ke pembuluh darahnya.
"Tuaaan.....!!!!"
Pekik Rahmad dan Kimmy mendekati Arjuna.Serentak mereka berdua pun menoleh kearah sumber suara itu.
"Tuan kami menemukan lokasi Rico dan nona Embun."Kata Rahmad dengan wajah penuh keyakinan.Seketika seakan ada titik terang dari awan yang kelabu saat ini mendengar berita yang disampaikan Rahmad.
"Ayo cepat kita kesana...!!!"Kata Arjuna dengan sigap.Perasaanya tidak karuan kala itu.Fikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.Hatinya masih dipenuhi amarah yang mendalam pada Rico sampai ingin rasanya ia menghabisi Rico dengan tangannya sendiri.
Setelah beberapa jam mereka menyusuri hutan akhirnya mereka menemukan sebuah rumah yang cukup tua namun terawat.Tampak dari halaman rumah itu sangat asri dipenuhi tanaman² hijau.Polisi dengan sigap berpencar dan mengelilingi rumah itu.Sementara Endro dan Rahmad mencoba memeriksa pintu rumah itu.
Dengan bahasa isyarat Rahmad dan polisi pun memberi tahu bahwa keadaan aman.Arjuna pun mengangguk mengerti,ia dengan mengendap-endap berlahan membuka pintu rumah itu dengan berhati-hati.Ternyata pintu pun tidak terkunci,sepertinya Rico sengaja membuat permainan pada Arjuna.
Saat Arjuna membuka pintu,Ia tidak melihat Embun didalam ruang tamu rumah itu.Polisi dengan berhati² pun menyisir disetiap sudut rumah itu dan ada satu kamar yang terkunci.Polisi dengan menggunakan bahasa isyarat pun meminta rekannya untuk mendobrak pintu itu.
"Braaaaak....!!!" Dobrakan pertama tidak berhasil.
"Braaaaaaaaaakkkk...!!!"Kali ini dobrakan berasal dari terjangan Rahmad berhasil merobohkan pintu itu.
Pintu pun terbuka dengan paksa.Tampaklah seorang wanita mungil yang sedang duduk terikat di sebuah kursi dengan air mata yang terus mengalir dipipinya.Wajahnya tampak pucat dan lemah.Arjuna yang melihat Embun begitu menyedihkan pun dengan cepat menerobos pintu tersebut untuk memasuki kamar.
"Sayang....!!!!!"Pekik Arjuna ingin mendekati Embun.
__ADS_1
Namun Embun merontah seakan memberi tahu untuk tidak mendekatinya.
”Hmmmmm,Hmmmmmm.....!!!"Pekik Embun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya agar Arjuna tidak mendekatinya.
"Sayang kenapa???"Kata Arjuna khawatir.
"Tuan,tahan...!!!"Lihat sepertinya dia memasang ranjau".Kata polisi itu sambil menahan Arjuna agar tidak mendekati Embun.
Wajah Arjuna begitu pias saat melihat Embun dikelilingi dengan kabel telanjang dilantai.Sengaja Rico membuat kabel² itu dilantai agar membangkitkan tegangan listrik dan menyambar kabel itu sehingga membuat orang yang mendekati Embun celaka tersengat listrik.
"Bajingan Ricooo....!!!"Arjuna tidak bisa berkata apa2 lagi.Melihat ada manusia segila itu yang mengganggu ketenangan keluarganya.
"Sayang kamu tahan disana ya,kamu harus kuat dan sabar kami akan segera menyelamatkan kamu".Kata Arjuna dengan sorot mata kesedihan yang tidak bisa ia pungkiri.Rasa takut kehilangan Embun membuat dirinya tidak bisa berfikir jernih.
"Kenapa kalian lamaban sekali haaa....!!!"Teriak Arjuna dengan penuh amarah.Hingga ia ingin segera mematikan aliran listrik itu dengan tangannya sendiri.
"Biarkan polisi yang membereskan ini bersama Rahmad".Kata Endro lagi sambil menatap wajah Arjuna lembut.
"Tapi Endro,lihat Embun lihaat....!!!"Pekik Arjuna lagi dengan amarah berapi api".
Tampak sesekali percikan api dari kabel itu memantik keudara.Itu membuat Embun pun ketakutan sambil terus menangis menahan rasa takut yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata2.Embun hanya bisa pasrah dengan kekuatan Tuhan beserta usaha suaminya dan Timnya untuk menyelamatkan dirinya.
"Sayang kamu bersabar yaa...!!!"Kakak pasti menolongmu".Kata Arjuna dengan tatapan penuh kehangatan.Hatinya terasa tercabik² saat melihat Embun yang terus menangis tanpa suara.Tapi entah kenapa dengan ketenangan Embun yang seperti itu mala membuat Arjuna semakin merasa tersayat.
"Kakak....!!!"Aku mohon.Aku takut...!!!"Gumam Embun sambil terus menatap wajah Arjuna dengan air matanya yang membasahi pipi.
"Cepat,ayo hati².Waktunya tinggal 3 menit lagi".Kata salah satu petugas Polisi itu memberi peringatan pada timnya.Sementara polisi yang lain sedang mencari keberadaan Rico yang sudah melarikan diri.
__ADS_1
Setelah melalui ketegangan yang luar biasa.Akhirnya tim penjinak Bom itu pun berhasil menjinakkan Bom yang menempel di dinding kamar itu.Satu lagi,mereka harus mematikan aliran listrik yang sudah dirangkai dengan Rico.Jika salah menekan tombol nyawa Embun jadi taruhannya.
Saat polisi mencoba mematikan tombol yang begitu banyak dihadapannya itu.Seketika Arjuna memejamkan matanya dan terus berdoa agar mereka bisa menyelamatkan istrinya.
"Ya Tuhan selamatkan Istriku".
"Selamatkan Embun ku".Lirih Arjuna berdoa pada sang pencipta.
Selang beberapa menit akhirnya polisi berhasil mematikan aliran listrik itu dan dengan cepat polisi itu berdiri.
"Berhasil"!.Kata polisi itu dan itu membuat jantung Arjuna merasa legah dan tanpa aba² Arjuna berlari memeluk Embun.
"Sayaang...!!! maafkan kakak terlambat".Kata Arjuna menangis dan memeluk istrinya itu.
Sorot mata Embun saat melihat Arjuna memeluknya pun begitu dalam.Embun begitu sangat menyedihkan dengan pergelangan tangan yang dipenuhi luka pun membuat Arjuna menangis sambil terus memeluk tubuh mungil itu.
"Sayang maafkan kakak.Maaf...!!!"Arjuna terus mengecup puncak kepala Embun.Arjuna berlahan melepas lakban yang ada dimulutnya.Tak lupa Kimmy dan yang lain ikut serta membantu membuka ikatan tangan dan kaki Embun.
Embun hanya menatap wajah Arjuna lalu pandanganya kabur saat membelai wajah Arjuna dengan tangan mungilnya itu.
"Kakak,terima kasih.kakak tidak terlambat.Aku sangat berterima kasih karena kakak datang diwaktu yang tepat".Gumam Embun lalau matanya pun terpejam tidak sadarkan diri.
"Sayaaang....!!!"
"Banguuunnn....!!!"
"Sayaaang....!!!"Arjuna panik dan ia pun meminta pertolongan pada Endro.
__ADS_1
"Endrooo....Ayo cepat telefon halikopter untuk membawa kami ke rumah sakit.Embun pingsan cepaaaat...!!!"Pekik Arjuna pada Endro.Arjuna tampak sangat ketakutan dan panik.