
"Sayang bangun...!!!"Panggil Embun dengan lembut sambil membelai pipi Arjuna.Kini Arjuna sudah terbiasa mendengar suara lembut Embun yang setiap pagi membangunkannya.Selama ini dia hanya mendengar suara alarm pagi di ponselnya.
Arjuna menyipitkan matanya karena silau pancaran mentari pagi menembus manik matanya.
Di Villa itu Arjuna merasakan nyaman yang luar biasa.Membuat dirinya ingin berlama-lama tinggal disini tapi mengingat pekerjaannya yang begitu padat membuat impiannya hancur seketika.Arjuna melihat Embun yang sudah tampak sangat segar dan cantik pun merasa tertantang dan entah kenapa gelombang cinta yang menimbulkan hasrat birahi Arjuna meningkat.Suasana pagi seperti biasa si adik bayi selalu terbangun dari tidurnya.Kini ia mulai merontah ingin cepat dikeluarkan.
Embun yang tidak menyadari itu pun masih bisa tersenyum dengan lembutnya.Sementara Arjuna merasa frustasi dan tidak bisa menahan adik bayinya yang selalu saja merontah untuk keluar.Arjuna dengan cepat beranjak ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya agar bisa menenangkan adik bayinya.Namun itu sia² saja,Si adik bayi semakin menegang dan merontah.Itu membuat Arjuna tidak bisa mengendalikannya.Melihat Embun yang sedang menysusun sarapan dimeja makan pun membuat jantung Arjuna berdebar kencang.
Arjuna semakin frustasi saat melihat kaki jenjang dan paha mulus Embun yang terekspos begitu indah.
"Sayang...!!!"Panggil Arjuna memeluk tubuh mungil itu dari belakang.Hal itu membuat Embun terkejut dan hampir saja menjatuhkan apel yang sedang ia pegang.
"Kakaaaak...!!"Pekik Embun kesal karena sudah mengejutkannya.
"Kakak lapar!"Kata Arjuna berbisik sambil menggigit telinga Embun gemas.Embun pun merasakan sensasi yang luar biasa.Tubuhnya mulai meremang karena tindakan Arjuna yang memancing adrenalinnya meningkat.
"Iiss kakak...!!"Desis Embun saat merasakan sentuhan dari Arjuna.
Arjuna semakin menjadi saat mendengar suara Embun yang membangkitkan gairahnya.Arjuna dengan lembut mengecup ceruk leher Embun yang jenjang hingga membuat jantung Embun semakin tak terkendali.Arjuna mulai menelusuri tubuh mungil itu dengan memasukan tangannya dibalik baju yang dikenakan Embun.
Arjuna memagut bibir ranum itu tanpa henti sambil tangannya terus mencari pengait dari penyangga gundukan sintal milik wanita mungil yang kini sedang ia kuasai.Pagutan demi pagutan pun kian memanas.Arjuna semakin beringas dengan tangannya yang sudah menjalar kearea favoridnya dan ia pun meremas lembut sambil mengecup hingga menyesap gundukan sintal itu hingga terdapat kiss mark disana.Sementara Embun seakan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi tubuhnya mulai memanas dan nafasnya kian menderuh.Lenguhannya pun keluar dari bibir manisnya begitu saja.Itu membuat Arjuna semakin menggila.
Arjuna mengangkat Embun dan mendudukkannya diatas meja makan.Arjuna terus memagut bibir lembut itu yang seakan menjadi candu.Arjuna menarik tali pengikat dipinggang Embun hingga baju itu pun terbuka.Tampak tubuh molek itu terekspos dengan jelas.Arjuna pun tersenyum seakan mengatakan tubuh ini adalah milik ku.Arjuna pun mengangkat tubuh mungil itu dan meletakkan ketubuhnya.Embun pun berada digendongan Arjuna.Dengan bibir yang masih bertautan Arjuna berjalan menuju kamar.Akhirnya pergulatan hebat pun terjadi disana.Membuat Arjuna berpeluh dan mengeran memasuki puncak kenikmatan surga dunia.
Setelah beberapa jam berlalu Arjuna menelfon seseorang cukup serius.Embun yang sedang mengamati itu pun tampak penasaran dengan siapa Arjuna berbicara begitu lama.Embun tampak sedang menyusun biskuit dan kopi hitam kesukaan Arjuna disebuah nampan.Sengaja Embun menyiapkan itu untuk cemilan saat menikmati matahari terbenam.
__ADS_1
"Sayang kamu sedang menelfon siapa kok sepertinya sangat serius?"Tanya Embun memberanikan diri.Embun merasa hal itu wajar ia tanyakan karena mereka sudah menikah.
Arjuna tersenyum lalu mengecup bibir Embun singkat.Arjuna pun memeluk Embun hangat dari belakang.
"Sayang kakak punya hadiah untuk kamu".Kata Arjuna lalu mengecup puncak kepala Embun.
"Hadiah?"Hadiah apa sayang?"Tanya Embun penasaran sambil mendongakkan wajahnya kearah Arjuna.
"Rahasiah dong...!!!.Lihat saja nanti pasti kamu suka".Kata Arjuna menggoda Embun dan membuat istrinya menjadi semakin penasaran.
"Iiisss kakak....!!"Jawab Embun mulai mencebikan bibir mungilnya.Arjuna melihat Embun seperti itu pun tertawa gemas.Rasanya ingin sekali ia menggigit pipi istrinya itu.
(Satu jam kemudian)
"Permisi....!!!"Ada seorang gadis datang dengan sangat seksi sambil membawa sebuah tas cukup besar.Gadis itu tersenyum pada Arjuna.Gadis itu cukup cantik dan modis untuk kalangan wanita biasa seperti Embun.
"Haaa...Tasya...kenapa kamu yang kemari bukannya Bian?"Tanya Arjuna heran.
"Iya maaf tuan tidak memberi kabar lebih dulu.Tuan Bian sedang ada meeting yang tidak bisa ditunda jadi saya diminta untuk menggantikan datang kemari."Kata Tasya tersenyum menggoda.
Embun masih bisa memaklumi percakapan mereka yang ia anggap dibatas kewajaran.
"Sayang kakak sudah membeli villa ini atas nama kamu dan kakak ingin merenovasi villa ini.Kamu mau dibuat seperti apa itu terserah kamu karena ini milik kamu".Kata Arjuna tersenyum manis sambil menatap wajah Embun dalam.
"Benarkah?"Thank you sayang!"Kata Embun mengecup pipi Arjuna singkat.Tasya yang melihat kemesraan mereka pun cukup kesal dan menaikan bibirnya sinis.
__ADS_1
"Tuan untuk luas villa ini sepertinya cocok kalau dibangun seperti ini,dan ini kita runtuhkan dibagian sini saja.Dan untuk atapnya kita buat sebagian dari kaca dan saat malam tuan bisa menatap bintang dari sini".Kata Tasya yang dengan sengaja menpel pada Arjuna.Sesekali ia menyentuh tangan Arjuna seolah menggoda Arjuna yang sedang bebicara.Embun terus mengamati Tasya dengan pura² tidak melihat.Tasya dengan sengaja memakai baju yang sangat minim dan kemeja yang begitu pas badan hingga terlihat jelas dadanya yang menonjol.Belahan dada itu pun begitu terpampang jelas dihadapan setiap orang melihatnya.
Tasya dengan sengaja menggesekkan tangannya ke tangan Arjuna dan membuat Arjuna sesekali menghindari kontak fisik pada tasya.Tapi wanita itu tidak tinggal diam.Wanita itu terus berusaha menyentuh tangan Arjuna seolah dibuatnya itu sentuhan yang tidak disengaja.Senyum menggoda Tasya pun tampak sangat jelas kalau ia sedang menggoda Arjuna.
"Permisi...!!"Kata Arjuna yang sedang mengangkat telefon dari seseorang.
Embun pun berjalan mendekati Tasya dan tersenyum sinis.
"Bagaimana,sudah selesai usaha mu untuk menggoda suami ku?"Kata Embun dengan wajah sinisnya.
"Maksud kamu?"Tanya Tasya pura² tidak tahu dan memasang wajah marah.
"Ccckkkk...!!!Jangan perna sentuh suamiku dengan tangan jalangmu itu.Jika kau terus melakukan itu aku tidak akan mau bekerja sama dengan mu dan aku akan mengatakan pada Bian apa yang sudah kau lakukan pada suamiku".Kata Embun sedikit mengancam dengan suaranya yang tegas dan elegant.
"Oh satu lagi,jangan menjadi wanita penggoda kalau kau tidak ingin disebut wanita ******.Atau aku akan mebatalkan kerja sama kita".Kata Embun tersenyum puas karena sudah membuat Tasya tidak bisa berkata².Wajah wanita itu pun tampak pucat dan panik.Karena Tasya takut kalau benar² Embun akan mengaduhkan pada Bian,bisa² dia akan kehilangan pekerjaannya.
"Waah kalian bicara apa,sepertinya serius sekali?".Tanya Arjuna setelah selesai menelfon.
"Aaah kakak.Enggak sayang!! Embun cuma bilang kalau sepertinya idenya untuk menghancurkan ini kurang baik.Jadi Embun tidak setuju.Bukan begitu Nona Tasya".Kata Embun memandang Tasya dengan tatapan intimidasi.
"Iiya Tuan,sepertinya nona Embun benar".Kata Tasya tampak gugup.Mata Embun menatap sinis Tasya sementara wanita itu tidak berani menatap wajah Embun yang cukup menakutkan.
Arjuna tersenyum melihat raut wajah Embun yang seakan ingin menelan hidup² wanita penggoda itu.Arjuna tahu bahwa Embun kesal dengan Tasya dan Arjuna bisa melihat dari cara bicara Embun yang ketus.
"Sayang...Kakak tahu kamu cemburu.Kakak bahagia dengan sikapmu yang seperti ini".Gumam Arjuna sambil menatap istrinya yang sedari tadi nampak kesal.
__ADS_1
"Okay,tuan Arjuna sepertinya sudah selesai.Saya pamit ya.Nona Embun terima kasih untuk waktunya".Kata Tasya dengan wajah yang mulai cemas karena tatapan Embun yang mematikan.