Sejernih Cinta Embun

Sejernih Cinta Embun
64.Dua Tahun Yang Lalu


__ADS_3

"Embun".Panggil Arjuna kepada Embun.


Embun yang sedang menikmati memandang pigura itu pun terkejut.Embun menoleh kearah suara itu seraya berbalik.


Arjuna yang melihat penampilan Embun kali ini sangat takjub."Ya Tuhan sungguh indah ciptaanmu ini".Gumam Arjuna sambil terus memandang wajah Embun dan tersenyum bangga karena memiliki makhluk indah itu.


Embun pun mengerutkan dahinya.


"Kakak,kamu mengejutkanku".Kata Embun sambil memanyunkan bibirnya.


"Kamu sangat cantik hari ini".Kata Arjuna sambil mendekatkan wajahnya kewajah Embun.Mereka pun hampir tak berjarak.Embun yang merasa gugup pun memejamkan kedua matanya Erat.


"Tapi kakak tidak suka rambut mu digulung seperti ini."Kata Arjuna sambil melepaskan gulungan rambut Embun.Arjuna tersenyum melihat Embun memejamkan kedua matanya.


"Kenapa kak?" Tanya Embun penasaran.


"Ah pokoknya enggak suka aja".Kata Arjuna sambil meraih tanggan Embun dan mengajak pergi.


"Dasar manusia salju,sukanya bikin jantungku berdebar debar terus,aku kira kakak mau menciumku sampai aku gugup pakai memejamkan mata segala,iiiss bodohnya kamu Embun ini sungguh memalukan,aiiisss!!!".Gumam Embun kesal dan pipinya merona.


Sambil berjalan keluar rumah banyak pertanyaan berkecamuk difikiran Embun.


"Apa sih salahnya tinggal jujur aja susah,kan buat aku penasaran.Dasar manusia salju bikin sebel aja.Gumam Embun.


Mereka pun menuju butik Larisa bersama.Arjuna masih terus mencuri curi pandang Embun sambil mengemudi.


Tiga puluh menit kemudian.


"Haiiiii.....Wah kamu cantik sekali Embun,luar biasa".Kata Larisa sambil menyambut kedatangan mereka.Dan Larisa pun menyambutnya dengan saling mencium pipi kanan kiri.


"Ah Nona Larisa bisa saja.Tapi terima kasih banyak untuk pujiannya".Kata Embun sedikit gugup karena dia banyak pasang mata yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya.Sebagian besar dari karyawan larisa dan pelanggan Larisa.


"Mama belum sampai Ris?"Tanya Arjuna pada Larisa.


"Belum tuh,Emang tante mau kemari ya?"Tanya Larisa.


"Tadi katanya begitu non".Kata Embun sambil tersenyum.


"Juna,please deh kasih tau tuh sama Embun,jangan terlalu formal bicara dengan ku,hahaha.Aku jadi ngerasa aneh tau".Kata Larisa sambil tertawa.


"Haaa,sebenarnya telingaku juga risih denger Embun manggil kamu nona Larisa,tapi mungkin dia belum terbiasa.Kata Arjuna.

__ADS_1


"Jadi saya harus panggil apa non?".Tanya Embun


"Hahaha,Embun kamu bisa panggil aku itu Larisa,Risa atau apalah yang terpenting jangan panggil aku Nona,titik!".Kata Larisa.


"Baiklah non eh Risa".Kata Embun gugup.


"Juna,Embun ini adalah model terbaru gaun untuk pertunangan,kalian bisa lihat lihat disini dulu".Kata Larisa kepada Arjuna dan Embun.


Embun pun mengambil sebuah katalog yang diberikan Larisa kepada Embun.Embun pun tersenyum dan mereka pun melihat gaun gaun rancangan Larisa sambil bersenda gurau.


Larisa pun teringat masa masa terpuruknya Arjuna.


Dua tahun lalu Arjuna menjalani hidupnya seperti manusia tanpa jiwa.


Arjuna selalu mengurung diri di kamarnya hingga berhari hari dan Arjuna akan menyibukan diri dengan terus bekerja.


*Flash Back*


"Juna,kamu dari mana saja?"Tanya Endro kesal.karena sudah berhari hari Arjuna mematikan ponselnya dan membuat semua orang khawatir.


"Junaaa,tolong jangan menyiksa dirimu seperti ini,kamu boleh sedih tapi jangan menghancurkan dirimu".Kata Endro sambil mengguncang tubuh Arjuna yang hanya diam saja tanpa perlawanan.


"Juna,kamu ingat Arsy jun,jangan sperti ini.Apa kamu tidak kasihan melihat anakmu?,dia butuh dirimu!"Kata Larisa mengingatkan Arjuna.


"Juna tolong jangan seperti ini,aku tidak bisa melihat sahabatku terus terusan seperti ini".Kata Endro sambil mengacak rambutnya.Suaranya parau menahan air matanya yang akan pecah.


Arjuna masih terus membisu dan tubuhnya berdiri tegak tapi tidak tahu jiwanya pergi kemana.


Selama ini Arjuna hanya bisa menahan air matanya dan kehancuran hatinya.Ia tidak perna menangis setelah Adinda di makamkan.Tapi dia menjadi dingin tanpa kata.


"Kau dan Adinda adalah sahabatku.Dan aku tidak rela melihatmu seperti ini.Adinda juga tidak akan rela melihatmu seperti ini.Pasti dia akan merasakan sakit yang lebih darimu jika kau terus menyiksa dirimu sendiri."Kata Endro menimpali.


Tapi itu tidak membuat Arjuna bicara dan ia malah pergi meninggalkan Endro dan Larisa tanpa kata.


Larisa dan Endro yang melihat Arjuna seperti itu pun merasa sangat sedih.Sahabatnya masih terus larut dalam kesedihan.


"Sayang,aku tidak tega melihat Juna terus terusan seperti ini".huhuhuhuhu".Kata Larisa sambil menangis dipelukan Endro.Endropun menepuk nepuk punggung Larisa menenangkannya.


Arjuna diam diam mengunjungi dokter psikiater untuk menenangkan jiwanya yang terguncang.


"Tuan Arjuna bagaimana perasaanmu?"Tanya dokter Elis

__ADS_1


"Dokter,aku masih merasakan sesak yang sangat menyiksa jika aku teringat Adinda.Dan aku tidak berani melihat anak ku sendiri karena aku takut,aku tidak kuat.Setiap aku melihat anakku aku akan melihat wajah adinda.Rasanya sakit dokter,aku tidak bisa menahan itu".Jelas Arjuna.


"Tuan Arjuna,jika kau ingin menangis menangislah,biarkan rasa sakitmu hilang bersama air mata.Karena semakin kau menahan air matamu maka semakin sakit yang kau rasakan.Kau tidak akan terlihat lemah hanya karena menangis,justru itu akan mencairkan hatimu yang selama ini membeku".Kata Dokter Elis kepada Arjuna.


Arjuna yang mendengar kata kata dokter Elis pun hanya diam saja tanpa kata.Tapi hatinya pun merasa semakin sesak yang tidak bisa ia tahan lagi.Tiba tiba tanpa sadar air matanya mengalir tapi Arjuna masih dengan wajah datarnya.Ia menangis tanpa suara dan masih dengan ekspresi wajah yang sama yaitu wajah datarnya.


Arjuna pulang ke rumah Utama dan ternyata disana ada Larisa dan Endro yang ternyata mencari Arjuna karena ponselnya tidak aktif.Endro khawatir kalau Arjuna melakukan hal yang membahayakan.


Diruang tamu selain Endro dan Larisa,Yudistira,wike dan paman Ridwan juga ada disana menunggu Arjuna.


Arjuna berdiri tegak dan menatap wajah mereka satu persatu.Itu membuat semua orang berdiri dan memandang Arjuna yang begitu menyedihkan.


"Aku lelah"Kata Arjuna datar.Ia menatap dengan tatapan kosong.


"Aku memberi tahu kalian,aku sangat lelah".Kata Arjuna sekali lagi.


"Aku butuh pundak kalian".Kata Arjuna datar.


Wike dan Yudistira menangis dan berjalan mendekati Arjuna sambil terus memeluk anak mereka satu satunya.Wike menangis sejadi jadinya karena selama ini Arjuna menyembunyikan kesedihannya.


Endro,larisa dan paman Ridwan ikut serta memeluk Arjuna.


"Terima kasih nak,kamu sudah memberi tahu mama,kalau kamu tidak baik baik saja".Kata Wike sambil terus menangis dan memeluk Arjuna cukup Erat.


"Terima kasih nak,terima kasih kau sudah mau berbagi kesedihan kepada papa".Kata Yudistira.


"Terima kasih sahabatku kau sudah memeberi tahu kami.Kami sudah lama menunggumu untuk memberi tahu kami".Kata Endro.


Mereka pun saling berpelukan dan itu membuat hati Arjuna sedikit legah dan sedikit mencair.Aur matanya tidak ia bisa bendung lagi.Kali ini tangisannya sangat pilu,ia begitu tersiksa selama ini tapi ia berusaha menahan itu semua.


Arjuna menangis,benar benar menangis.Air matanya tumpah dan sesekali ia menyetuh dadanya yang begitu sangat menyakitkan.


"Mama,kenapa sesakit ini ma?"huhuhuhu


"Mama,jangan perna tinggalin Juna lagi ma,adinda sudah pergi juna enggak mau sendiri lagi ma".Kata Arjuna pilu dan memohon pada mamanya.


"Iya nak,maafkan mama kalau selama ini mama terlalu sibuk hingga tidaj tahu dengan kesedihanmu,maafkan mama nak,maaf".Kata Wike sambil terus mengelus kepala Arjuna sambil menangis sejadi jadinya.


*Flash Back Off*


Air mata Larisa pun mengalir tanpa sadar mengingat kejadian dua tahun yang lalu.Tapi kali ini Arjuna sudah bisa tersenyum lebar dan itu karena Embun.

__ADS_1


"Terima kasih Embun kau sudah menciptakan kebahagiaan di hidup Arjuna".Gumam Larisa


__ADS_2