Sejernih Cinta Embun

Sejernih Cinta Embun
89.Mencintai Hingga Akhir


__ADS_3

"Getaran itu terus semakin menjadi.


Aku kira pergantian musim akan mengubah segalanya ternyata salah.


Aku masih mencintaimu hingga akhir."


( Embun ).


"Tring tring tring....!!!".


Dering ponsel Embun berbunyi.Embun memgambil benda pipih itu dari dalam saku jaketnya.Ternyata ayahnya yang memanggilnya.


"Hallo,Ayah!.Ada apa yah?"


Tanya Embun kepada hasan.


"Nak,kamu pulang jam berapa?


Tanya Hasan dari seberang sana.


"Mungkin Embun sampai sore yah !! Ada apa yah?"


Tanya Embun penasaran


"Ada yang ingin ayah bahas serius dengan kamu".


Kata Ayah dengan nada serius.


"Okay yah,mungkin jam 5 sore ,Embun sudah dirumah".


Kata Embun sambil bersiap² untuk naik ke sepeda motornya.


"Baiklah nak,kamu hati² ya nak."


Kata Hasan mengingatkan Embun


"Baik yah!!".


Embun pun mengakhiri pembicaraanya dengan ayahnya.Embun menghidupkan Sepeda motornya dan melaju membelah jalanan untuk mengantarkan paket pada pemiliknya.


Matahari pun semakin meninggi.Semburan cahayanya membuat semesta terasa amat sangat panas.Hari itu sangat terik,Embun yang sedari tadi dijalanan pun merasa sangat letih.Embun berjalan memasuki sebuah apartemen mewah.Embun membawa kotak paket atas nama Larisa.


"Larisa??? ah,mungkin bukan Larisa yang aku kenal".Kata Embun lirih.


Embun pun sampai ke Apartemen nomor 202.Embun memencet bel apartemen itu.Pencetan pertama


"Ting nung"!!!


belum ada respond.

__ADS_1


Pencetan kedua juga begitu.Embun mencoba untuk yang ketiga kalinya.


"Ting nung !!!


Ternyata yang membuka pintu apartemen itu benar² Larisa yang ia kenal.


Betapa terkejutnya Embun.Sudah satu tahun Ia tidak bertemu dengan Larisa.Tapi saat ini Larisa banyak berubah.Sepertinya Larisa sedang mengandung.Tampak dari penampilannya yang sedikit berisi dan perutnya juga membuncit.Larisa memakai longdress berwarna peach.Wajahnya sangat segar dan cantik.Pipinya sedikit cubby.


"Larisa???" Tanpa sadar Embun menyebut namanya didepannya.


Larisa mengerutkan dahinya dan menatap wajah Embun lama.Larisa pun tersadar ternyata dihadapannya adalah Embun.


"Kamu Embun?"Tanya Larisa dengan mata berbinar.


Embun pun mengangguk dan membuka maskernya.Tiba² dengan begitu cepat Larisa memeluk tubuh Embun yang semakin kuris.Benar saja dia harus menjadi tulang punggung untuk keluarganya.


"Embun,dari mana saja kamu?,Kenapa kamu pergi tanpa memberi penjelasan?"Kata Larisa dengan air matanya yang sudah berjatuhan dipipinya.


"Maafkan aku ris,aku tidak sempat meberi kabar!".Kata Embun sambil menepuk lembut punggung Larisa.


"Nomor ponselmu juga sudah tidak aktif.Aku dan Endro menacarimu."Kata Larisa sambil menatap wajah Embun dalam.


"Ayo masuk dulu,banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu".Kata Larisa kepada Embun.


Sebenarnya Embun tidak enak jika harus menolak ajakan Larisa untuk masuk,karena mereka juga sudah sangat lama tidak bertemu.


Embun pun masuk kedalam Apartemen Larisa dan ia melihat ternyata benar Larisa dan Endro sudah menikah.


"Aku tidak tahu harus bahagia atau marah pada mu Embun".Kata Larisa dengan tatapan tidak bisa ditebak.


Deg !!! Jantung Embun seakan berhenti berdetak.


Sorot mata Larisa penuh dengan pertanyaan yang ingin sekali ia utarakan.


"**Sekarang aku dulu yang akan bertanya padamu,setelah itu baru kau jelaskan semuanya!!


Embun aku tidak tahu apa yang terjadi padamu saat kejadian itu,tapi setelah kamu sadar.Aku dan Endro sudah mencarimu kemana mana tapi tidak perna menemukanmu".Kami ke villa dan ternyata kalian juga sudah pergi dari villa.


"Ada apa mbun,kenapa kau pergi begitu saja?,Apa kau tahu setelah Arjuna sadar? Keadaan semakin kacau karena Cellia telah menguasai Arjuna."


Dan apa kau tahu bagaimana dengan Arsy?


Arsy yang masih begitu kecil harus menanggung semua kesedihan yang belum tentu aku orang dewasa bisa kuat.Kenapa kau pergi Embun kenapa**?


Tanya Larisa dengan sorot mata yang sangat sedih dan beningan kristal dimatanya pun tidak bisa terbendung lagi.


Embun bergetar mendengar kata² Larisa.Hatinya cukup tersayat.Sepertinya luka lama yang mulai memudar kini tergores kembali.Begitu sesak yang ia rasakan saat mendengar betapa sedihnya Arsy.


Matanya terasa panas.Kristalan kristalan bening pun mulai lolos dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Maafkan aku,maaf,maaf!" Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan.Embun tidak tahu lagi harus berkata apa.Rasa sakit yang ia rasakan begitu sangat menyiksa.Betapa pilu yang ia rasakan setelah berpisah dari Arjuna dan Arsy.Embun harus berusaha keras untuk menjalani hidup bersama Ayahnya.


Setelah kepergiannya dari rumah YP Group,begitu banyak kejadian yang menimpa dirinya dan Hasan.


# FLASH BACK #


Pada saat Ayah Embun hendak pergi ke toko bunga miliknya tiba-tiba Hasan ditabrak lari sebuah mobil yang ugal-ugalan dijalan.


Pada saat kejadian tabrak lari itu ayah Embun dilarikan ke Rumah Sakit dan ternyata harus dirawat di ICU untuk beberapa hari.


"Siapa wali dari Bapak Hasan Pradana?" Tanya seorang suster muda.


"Saya sus,saya anaknya".Kata Embun mendekati suster.


"Nona sepertinya ayah nona harus dirawat di ICU dan untuk administrasinya nona bisa menuju kasir."Kata suster menjelaskan.


Embun harus membayar deposit untuk perawatan Ayahnya dengan jumlah yang tidak sedikit.Saat itu ditabungan Embun hanya ada uang sejumlah 3 Juta Rupiah.


Embun pun meminta pihak rumah sakit untuk memberi tenggang waktu sampai sore dan Embun meminta untuk deposit setengah dari yang seharusnya.Syukurnya pihak Rumah sakit pun mau memberi waktu.


Embun berusaha kesana kemari untuk mencari pinjaman ternyata tidak ada yang memberi pinjaman.Hanya tante Risma satu²nya saudara dari pihak ayahnya.Tapi mereka juga tidak punya uang untuk dipinjamkan ke Embun.


Tante Risma memberi saran untuk menjual toko dan kebun yang mereka punya kepada seorang tuan tanah kenalannya.Akhirnya Embun pun menyetujui saran tante Risma.


Setelah menjual semua aset yang mereka miliki Embun pun pergi dari kampung halamannya dan mencari kerja di kota X untuk bertahan hidup.


# **FALSH BACK OFF #


"Embun kenapa kau tidak menjelaskan**?"Tanya Larisa sambil menyentuh kedua tangan Embun.


Embun hanya terdiam tanpa kata,tapi sorot matanya yang menjawab semua pertanyaan Larisa.


Larisa pun mengangguk tanda mengerti,kalau saat ini embun tidak bisa menceritakan apa yang telah terjadi padanya.


"Embun,aku dan Endro akan selalu mendukungmu sampai akhir.Jadi aku mohon jika kau butuh bantuan,kami siap untuk membantu."Kata Larisa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih Ris,aku bersyukur punya sahabat sepertimu dan Endro."Kata Embun tersenyum.


Hati kecil Embun tidak bisa dibohongi.Raganya ada dihadapan Larisa tapi jiwanya pergi ingin menemui Arjuna.Ait matanya tidak bisa ia bendung lagi.


Tubuhnya bergetar seiring bersama keluarnya air mata kesedihan di hatinya.Embun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hiks hiks hiks hiks" Tangis Embun pecah seketika.


"Embun ada apa?,ayo bicara kamu kenapa?"


Tanya Larisa panik melihat embun menangis seperti itu.


"Ris,Arjuna masuk Rumah sakit,tadi aku bertemu dengannya di Restauran, tiba² dia pingsan,aku khawatir!".Kata Embun sambil sesenggukan saat menceritakan pada Larisa.

__ADS_1


"Astagah,jadi kamu sekarang tidak tahu keadaanya bagaimana?"Tanya Larisa.


Embun menggelengkan kepalanya lemah.Larisa pun memeluk Embun yang sedang sedih.Larisa tahu perasaan Embun saat ini sedang tidak baik-baik saja.


__ADS_2