
"Dokter...!!! tolong...!!!!"Kata Arjuna panik sambil membopong tubuh mungil Embun.
"Tuan ayo letakkan kesini".Kata seorang perawat yang melihat Arjuna tampak panik.
"Kakak Embun bisa jalan sendiri".Kata Embun mencoba menenangkan Arjuna.
"Syuuuttt...!!! Sayang kamu jangan bandel ya..!!!"Sangkal Arjuna karena melihat tancapan serpihan kaca yang mengenai kaki Embun cukup banyak.
Dokter pun memeriksa luka robek di kaki mulus Embun.Syukur saja dokter itu wanita jadi Arjuna tidak terlalu panik saat dokter itu menyentuh betis mulus Embun.
"Waah luka robeknya cukup dalam,jadi harus segera dijahit kalau tidak lukanya akan infeksi".Kata Dokter menjelaskan.
"Dokter mohon lakukan yang terbaik untuk tunangan saya dok".Kata Arjuna memohon dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
Saat dokter membersihkan luka dikaki Embun tampak Embun memejamkan matanya dan meringis menahan rasa sakit.
Arjuna pun tidak tega melihat Embun yang kesakitan seperti itu.Embun menggigit bibir bawahnya karena merasakan perih yang luar biasa saat dokter menyiram luka robek itu dengan cairan yang ia pun tidak tahu cairan apa itu.Setelah itu dokter mulai mencabut satu persatu serpihan kaca yang menancam dibetisnya.Itu membuat Arjuna ikut merasakan nyeri.Sesekali Arjuna memalingkan pandangannya karena tidak tega melihat Embun yang menahan rasa sakit.
Tampak kakinya bergetar menahan nyerih yang amat sangat saat dokter mulai menyuntikan obat bius dibagian lukanya.Tangannya meremas sprey dengan sangat kuat.Setiap tusukan meninggalkan nyeri hingga ke ubun².Sesekali ia meraup udara yang ada disekitar untuk menghilangkan sesak yang ada didadanya.Air matanya mulai mengalir begitu saja saat dokter melakukan suntikan pada lukanya.
Bibirnya bergetar seakan ingin menjerit sekuat tenaganya namun itu tidak bisa ia lakukan.Tenggorokannya terasa tercekat dan tertahan.Arjuna yang tidak tega melihat Embun pun menunggu diluar karena dadanya ikut terasa nyeri melihat orang yang ia cintai kesakitan seperti itu.Kalau dia terus didalam bisa jadi dokter tidak bisa melakukan pekerjaanya otomatis Arjuna akan kesal dan panik terbawa suasana melihat Embun yang kesakitan seperti itu.
"Maafkan kakak sayang,bukan kakak tidak mau menemani kamu tapi kakak tidak tega melihat kamu seperti itu".Kata Arjuna lirih sambil terus mondar mandir kesana kemari menunggu Embun yang sedang diobati dokter.
"Kakak....!!!"Panggil Embun saat dokter sudah selesai melakukan tindakan.
"Iya sayang,bagaimana?pasti sangat sakit ya?"Tanya Arjuna sambil menggenggam tangan Embun dan terus mengecup punggung tangannya.
"Sudah tidak kak!"Jawab Embun sambil tersenyum dan memejamkan matanya singkat.
Tampak betisnya yang masih dibalut perban itu membuat Arjuna membuang nafasnya pelan.
"Sayang....maafkan kakak...!!!"Kata Arjuna lagi sambil menundukan kepalanya.Tiba² matanya mengembun dan bibirnya bergetar menahan suara tangisan yang akan pecah.
"Kakak kenapa kakak menangis?"Tanya Embun yang ikut terharu melihat Arjuna sampai menangis seperti itu.
"Sayang tadi kakak takut sekali,kakak kira kamu....!!!"Kata Arjuna tidak sanggup melanjutkan kata²nya lagi.Arjuna begitu khawatir dan takut kehilangan Embun.Arjuna pun meraih tangan Embun dan membuat tubuh mungil itu masuk kedalam dekapannya.Rasa cintanya pada Embun membuat dirinya menjadi sangat lemah.
(Di YP Group)
"Cari tahu apa yang membuat lampu itu bisa tiba² terjatuh!".Perintah Endro pada semua petugas yang menangani project itu.Semua para crew tertunduk tidak bisa berkata kata.Wajah Endro tampak sangat kesal dan marah.
"Kenapa kalian bisa seceroboh itu?Kejadian sebesar ini bisa membahayakan nyawa ketua tapi kalian masih bisa santai.Masih syukur ketua tidak apa².Tapi kalian lihat bukan wanita yang tadi,itu adalah tunangan Tuan Arjuna jika terjadi apa² padanya kita semua bisa gawat".Kata Endro lagi dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
Endro pun pergi meninggalkan ruangan CCTV dengan wajah kesal.
"Triiing...!!!!"
"Triiiing..!!!!".Suara dering ponsel milik Arjuna berdering.
"Hallo....!!! Oh iya Rahmad ada apa?.Oh iya ponsel Arjuna ada padaku.Apaaa?!!"
"Oh baiklah aku segera memberi tahu Arjuna.
"Rahmad kamu terus awasi dia okay".
Endro pun mematikan ponsel milik Arjuna.Endro berjalan menuju ruangannya untuk melihat Larisa yang sedang istirahat disana.
"Sayang kamu sudah baikan kan?"
"Hmmm sudah sayang".Jawab Larisa sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Ayo kita kerumah sakit melihat Embun sekalian ada yang ingin aku sampaikan pada Arjuna penting".Kata Endro sambil menggandeng tangan istrinya.
"Okay.Baiklah!"Jawab Larisa setuju.
(Rumah Sakit)
"Sudah baikkan kok Ris,kamu dan baby E sehat² saja kan?"Tanya Embun sambil mengelus perut Larisa gemas.
"Hehehe....kami baik² saja tante".Kata Larisa bersuara seperti anak kecil itu membuat Embun pun tertawa.
Arjuna dan Endro berada di luar untuk membahas hal yang disampaikan Rahmad tadi.
"Jun...polisi sudah menemukan siapa penjual lampu tidur itu.Tapi sepertinya lampu itu sudah ditukar oleh seseorang yang ada didalam kantor tempat Embun kerja.Karena polisi sudah memeriksa penjual ditoko itu dan tidak terbukti dia bersalah.Orang yang selalu menguntit Embun dan mengambil foto² Embun juga sudah tertangkap,tapi sampai saat ini dia tidak mau memberi tahu siapa tuannya."Kata Endro menjelaskan.
"Brengsek....!!!! Akan aku habisi dia nanti.Kata Arjuna mengepal tangannya kesal.
"Sepertinya orang yang menjadi kaki tangan peneror itu juga bekerja di tampat yang sama dengan Embun".Kata Endro menebak.
"Aku juga berfikir begitu".Kata Arjuna menimpali.
"Sepertinya kita tunda dulu memberi tahukan ini pada Embun,nanti saja kalau dia sudah membaik".Kata Endro.
"Baiklah,thanks Brooo sudah membantu".Kata Arjuna merangkul Endro singkat.
Mereka pun menemui Embun dan Larisa.Embun sudah boleh pulang oleh dokter.Melihat dari keadaan Embun seperti itu Arjuna tidak tega membiarkan Embun pindah rumah bersama ayahnya.
__ADS_1
"Risa thanks ya sudah nemeni aku?"Kata Embun sambil mengecup pipi larisa.
"Embun....kamu jaga kesehatan ya..kalau kamu sudah sembuh temeni aku beli perlengkapan bayi okay..."!Kata Larisa tersenyum bahagia saat mengatakan tentang bayinya.
"Tentu dong...jadi enggak sabar liat baby E lahir".Kata Embun mengelus perut larisa gemas.
Arjuna dan Endro pun ikut tersenyum melihat mereka bercengkrama.Akhirnya mereka pun berpisah didepan rumah sakit.
"Sayang kamu tinggal di apartemen saja ya".Kata Arjuna khawatir.
"Sayang...kasihan dong ayah dirumah sendirian.Apalagi itu rumah baru".Kata Embun mencoba menolak secara halus agar tidak menyakiti hati Arjuna.
"Paman juga tinggal diapartemen kakak donk".Kata Arjuna tidak mau kalah mencari alasan.
"Kakak...!!! Kata Embun lembut.Panggilan seperti itu yang membuat hati Arjuna mealting seperti es krim.Sudah lama Arjuna tidak mendengar Embun memanggilnya dengan nada seperti itu.Arjuna tersenyum girang dan hatinya luluh pun menyetujui Embun untuk tinggal bersama ayahnya.
(Di Mansion)
"Papa tidak apa² kan sayang?"Tanya Wike pada suaminya.
"Hmmmm".Tampak Yudistira membuang nafasnya panjang.
"Tidak,aku baik² saja".Katanya lagi sambil mencoba memperbaiki posisi duduknya di tempat tidurnya.
"Sayang bagaimana bisa Embun yang menolong kamu?"Tanya Wike penasaran.
"Entahlah...!!!.Aku juga tidak tahu.Dia menjerit keras dan mengagetkanku saat itu.Aku pun berdiri dan dengan cepat dia mendorongku.Akhirnya kami jatuh bersama tapi kakinya terluka terkena pecahan kaca."Kata Yudistira mengingat kejadian singkat yang mengerikan itu.
"Astagaaaah....Embun!!! Pasti dia sangat kesakitan sekarang.Ya Ampuuun Embun..!!! malang sekali nasib kamu nak.Kamu selalu saja menyelamatkan keluarga ini.Dulu Arsy sekarang suamiku.Mungkin memang dia ditakdirkan untuk masuk kekeluarga ini".Kata Wike mendramatisir keadaan dan menangis sambil melirik kearah suaminya, itu membuat suaminya menjadi merasa bersalah.
"Embun yang malang.Hiks hiks hiks".Kata Wike lagi sambil mengelap air mata buayanya untuk mengelabuhi suaminya.
Sementara Yudistira pun terdiam seperti tersentuh hatinya.Yudistira melirik Wike dengan tatapan yang penuh penyesalan.
"Semoga hatimu terbuka suamiku setelah melihat ketulusan Embun".Gumam Wike sambil terus berpura² menangis.
"Aah sudah..!!!! kamu kenapa terus menangis!"Kata Yudistira kepada Wike.
"Iyaa aku sedih melihat anak malang itu.Dia selalu saja mengabaikan dirinya demi orang lain".Kata Wike lagi memancing perasaan bersalah didalam hati suaminya semakin menggunung.
"Aaah sudah² ambilkan ponsel ku.Aku mau menelfon Ridwan".Kata Yudistira pada wike mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm,baiklah".Kata Wike sambil mengulum senyum.
__ADS_1
"Hmmm semoga berhasil sandiwaraku".Gumam Wike tersenyum.