Sejernih Cinta Embun

Sejernih Cinta Embun
166. Menyusun Rencana


__ADS_3

Pagi itu Krisna sedang meringkuk di lantai jeruji besi yang dingin.Krisna tampak lesu dan kurus.Tampak tulang lehernya menonjol jelas.


"Tahanan no 2224 keluar ada yang ingin bertemu".Ucap salah satu sipir sambil menghadap Krisna.


Krisna dengan lemah pun berdiri dan berjalan menuju pintu jeruji itu.Sipir itu pun membuka gembok tahanan dan tak lupa ia memborgol tangan Krisna.


Krisna mengikuti sipir itu dari belakang dan menuju ruangan dimana ruangan itu terdapat sekat kaca kedap suara dimana jika kita duduk didepannya kita bisa melihat orang dibalik kaca itu tapi tak mendengar suaranya.Tampak ada sambungan telefon disana untuk berkomunikasi narapidana dengan tamunya.


Wajah krisna berubah pias melihat sosok pemuda tampan didepan matanya.Pemuda itu bernama Wisnu anak Pertamanya yang menatap nanar wajah papanya yang begitu memperihatinkan.


"Paaa....!!!"Ucap Wisnu disambungan telefon sambil matanya terus menatap wajah Krisna.


"Kenapa kamu kemari?"Tanya Krisna dengan suara lemah.


"Paa...!! Wisnu akan membuat perhitungan pada Arjuna".Ucapa Wisnu dengan tatapan yang penuh dendam.


"Tapi dia sangat berbahaya nak".Ucap Krisna khawatir.


"Saat ini wisnu punya rencana pa...!!!.Papa sabar dulu pa nanti Wisnu bakal urus papa dengan pengacara Wisnu".Ucap Wisnu meyakinkan Krisna.


Krisan pun mengangguk mengerti.


"Kamu harus hati-hati dengan Arjuna.Arjuna sangat licik".Ucap Krisna


"Papa ada darah yang sama mengalir ditubuh kami siapa yang lebih licik diantara kami berdua".Ucap Wisnu dengan keyakinan.


"Papa jangan khawatir wisnu akan segera membebaskan papa dari sini.Wisnu janji.Papa tetap jaga kesehatan karena papa akhir² ini juga sedang sakit pa".Ucap Wisnu memberi tahu Krisna.


Krisna mendengar itu pun tampak sedih,walau Krisna tidak mencintai istrinya tapi mau bagaimanapun dia adalah ibu dari anaknya.


"Paa.Wisnu pamit ya pa..!! Papa baik² disini".Ucap wisnu pada krisna.


Krisna pun meninggalakan ruangan besuk dangan dikawal para polisi tahanan.

__ADS_1


Dirumah Krisna.


"Maa....!!! Sudah dong jangan sedih seperti ini.Ayo mama minum obat ya."Ucap Krisna papa ibunya.


Nadin terus saja menangis sambil menatap kosong kearah jendela.


Melihat ibunya seperti itu Wisnu tidak bisa menahan kebenciannya pada Arjuna.Wisnu pun pergi keruangan kerja Krisna dan mengambil ponsel yang ada disaku celananya.


"Hallo,selidiki semua tentang Arjuna jangan ada sedikitipun yang terlewatkan".Ucap Wisnu pada seseorang diseberang sana.


Tampak sorot mata Wisnu penuh dengan dendam yang membara.


"Arjuna.Kau lihat saja apa yang akan terjadi padamu".Ucap Krisna dengan sinis dan penuh kebencian


Di Kantor.


"Sedang apa Wisnu disini?"Ucap Endro lirih melihat Wisnu yang sedang berjalan menuju lift bersama pengawalnya.


Wisnu tak kalah tampan dengan Arjuna.Wisnu dengan gagahnya berdiri didalam lift sambil melihat arah luar.Sementara Endro juga sedang berdiri di lift mereka saling pandang satu sama lain.Wisnu dengan tatapan dingin nan arogan pun meminta pengawalnya menutup lift.Endro yang melihat itu tersenyum smirk dengan penuh kesal.


"Triiing...triiing...!!!" ponsel Endro berdering didalam saku celananya dengan cepat ia pun mengangkat panggilan itu.Sambil berjalan memasuki lift Endro menyambungkan ponselnya dengan earphone yg ada didelinganya.


"Jun...sepertinya kau belum tahu kalau Wisnu berada disini?"Ucap Endro pada Arjuna.


Arjuna yang sedang sarapan pun menghentikan suapannya saat mendengar berita dari Endro.


"Hallo jun...kau mendengarku kan?"tanya Endro disambungan telefonnya.


"Iya aku dengar.Biarkan saja dia ke kantor, kita lihat saja apa yang ingin dia lakukan".Ucap Arjuna tenang pada Endro.


"Okay kapan kau mulai ke kantor?"Tanya Endro.


"Besok aku mulai ke kantor".Jawab Arjuna.

__ADS_1


Mereka pun mengakhiri sambungan telefonnya.


Di Kantor.


"Selamat pagi tuan?"Ucap Lusi pada Wisnu.


"Pagi! Dimana Arjuna apa dia sudah datang?"Tanya Wisnu.


"Maaf tuan.Tuan Arjuna masih cuti sakit".Ucap Lusi pada Wisnu.


Tampak wisnu mengerutkan dahinya dan tiba² Endro muncul dihadapan Wisnu.


"Endro apa kabar?"Ucap Wisnu saat melihat Endro berdiri dihadapan Wisnu.


"Baik."Ucap Endro tenang.


"Endro dari dulu kau tidak perna berubah ya?masih saja kau menjadi anjingnya Arjuna.Kapan kau akan berdiri sendiri.Ucap Wisnu dengan tersenyum merendahkan.


Endro yang mendengar dirinya di rendahkan seperti itu pun wajahnya memerah dan tangannya mulai mengepal dengan kuatnya.Ingin sekali Endro menghajar wajah Wisnu dengan tangannya.Lusi yang mendengar itu pun membulatkan matanya sempurna dan seketika menatap wajah Endro ibah.


Endro hanya menghelah nafasnya panjang dan berusaha tersenyum membalas perkataan Wisnu dengan tenang.


"Hmmm....Wisnu.Lebih baik aku menjadi Anjingnya Arjuna dan menikmati semua yang ada disini dari pada menjadi pangeran yang tidak perna dianggap.Endro tersenyum puas membalas ucapan Wisnu.


Seketika wajah Wisnu berubah memucat mendengar balasan dari Endro.Ada guratan malu dan kesal menjadi satu.Senyum kesombongannya pun seketika memudar.


Lagi² Lusi hanya bisa membulatkan matanya sempurna dan mulai mengulum bibirnya menahan senyum yang tidak ingin terlihat oleh Wisnu.


Rahang Wisnu mulai mengetat dan tangannya mulia mengepal kesal.Tanpa bicara apapun Wisnu pun meninggalkan Endro dengan kekesalan.


Wisnu duduk dimeja kerja Krisna dan dengan sangat kesal ia menggebrak meja kerjanya.


"Bajingan...!!!!

__ADS_1


brengsek kau Endro.Sombong sekali kau.Akan ku beri kau pelajaran lihat saja nanti".Ucap Wisnu kesal.Matanya memerah dan rahangnya tampak mengetat.


__ADS_2