
(Apartement Bian)
Pagi itu hari tampak cerah.Mentari pagi memancarkan kilau emasnya dan masuk kedalam ruang kamar miliknya.Tampak Cellia yang sedang terbaring ditempat tidur dan mengeryitkan matanya yang terkena pantulan sinar mentari pagi.Tubuhnya yang ramping tampak menggeliat seolah sedang meregangkan otot²nya yang terasa kaku.
"Aaaaaaahhhhh....!!! Ada dimana aku ini dan siapa yang mengganti pakaianku?.Asatagah Cellia...!!! Gerutu Cellia sambil mengamati disekelilingnya.
"Selamat pagi..!"Sapa seseorang dengan suara bassnya sontak mengejutkan dirinya.
Seketika matanya membulat sempurna saat mendengar sapaan selamat pagi dari seorang pria yang suaranya tidak asing di telinganya.
"Bian....!!! Kamu....!!!.Kata Cellia shock melihat Bian yang saat itu tubuhnya masih dibalut dengan handuk berwarna putih, itu mengespos tubuhnya yang kekar tampak perutnya seperti batu bata yang tertata rapi disana.Sontak Cellia menelan slavinanya kasar karena melihat tubuh Bian bak pahatan patung yunani kuno.
"Waaaaawww....!!! Cellia terperangah melihat Bian yang begitu **** dan mulutnya membulat seperti hurup "O".
"Astagah...!!"Cellia pun tersadar dan memalingkan wajahnya untuk menghindari pemandangan yang membuat sekujur tubuhnya memanas.
"Hehehe...!!! Bian terkekeh melihat Cellia yang merona.
"Kenapa kamu berpaling?Kamu boleh melihat semua yang ada padaku".Kata Bian menggoda Cellia sambil mengulum senyumnya.
"Kamu yaaa dasar!!! kamu itu terlalu percaya diri".Kata Cellia mencoba menutupi kegugupannya sambil mendengus kesal.
"Kenapa wajahmu seperti itu,?"Apa kamu tidak merasa bersalah kepadaku,satu lagi seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah membantumu mengganti pakaianmu?"Kata Bian berbisik ke telinga Cellia.
"Apaaaaa,kauuu?".Pekik Cellia kesal.Itu membuat Bian mengulum senyumnya dengan memalingkan wajahnya agar tidak terlihat Cellia.
"Kenapa dengan ku,ayo katakan padaku Biaaaan?".Tanya Cellia penasaran dan panik terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Aaah sudahlah kalau kau tidak mengingatnya".Kata Bian pura² kesal dan meninggalkan Cellia untuk berganti pakaian.Bian pun mengambil kemejanya yang didalam lemari.Cellia pun tampak sangat kesal karena sudah digoda Bian.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu.Kamu jangan lupa sarapan.Pagi ini aku ada meeting dan ingat jangan mabuk sendirian karena itu sangat berbahaya."Kata Bian menatap dalam Cellia.
Sementara Cellia hanya mematung mendengar kata² Bian yang seolah kekasih yang sedang mengkhawatirkan dirinya.Jantungnya mulai berdebar dan Ia pun menelan slavinanya kasar.Ingin sekali Cellia mengatakan sesuatu pada Bian tapi entah kenapa mulutnya tidak bisa terbuka seakan tenggorokannya tercekat.
"Bye..hati² dirumah.Aku pergi dulu.! kamu bisa naik mobilku kalau mau pulang nanti."Kata Bian sambil mengusap puncak kepala Cellia dan tersenyum.Lagi² itu membuat jantungnya semakin berdegup kencang seolah akan terlepas dari tempatnya.Ada perasaan tidak rela saat Bian mengucapkan selamat tinggal.Cellia hanya menatap wajah Bian dalam.
#Flash Back#
"Celliaaa....!!! Ayo cepat katakan apa password apartement mu!"Kata Bian sambil memapah Cellia yang sedang mabuk berat.Saat itu mereka sudah berada didepan apartement milik Cellia.
"Haaaaaa....!!! Kenapa kamu tanya password apartement ku?Kamu mau mencuri yaa.Aku akan menelfon polisi karena kau mau mencuri dirumahku".Kata Cellia merancau sambil sempoyongan dihadapan Bian.Cellia pun mengambil ponselnya dan ternyata ponsel itu habis baterai.
__ADS_1
"Haaa kenapa ponselku mati.Hiks hiks hiks."Kata Cellia menangis karena ponselnya mati.Cellia menangis sambil duduk bersandar di dinding dengan memanjangkan kedua kakinya.
"Astagah kamu benar² merepotkan kalau sudah mabuk seperti ini".Kata Bian membuang nafasnya kasar.
"Ayolah katakan apa sandinya?"Kata Bian mencoba merayu Cellia.
"Siniiiii aku beri tahu,tapi janji jangan beri tahu siapapun...!!!"Kata Cellia sambil menyipitkan kedua matanya dan memanggil Bian dengan jari telunjuknya agar mendekat padanya.
"Okay baiklah." Bian pun menuruti Cellia dan mendekatinya.
"Kata sandinya adalah Rahasia.....hahahaha !!!" Kata Cellia berbisik ditelinga Bian sambil tertawa.
"Uuuuweeeekkkk....uuuuweeeekkk...!!!!".Tiba² Cellia muntah dihadapan Bian dan kemeja Bian terkenah muntahan Cellia.Begitu juga baju Cellia tak luput dari muntahannya.
"Astagah Celliaa....!!!!"
"Aiiisssshhhh".
Itu membuat Bian semakin frustasi dan kesal karena ia mencium aroma muntahan Cellia yang membuat perutnya terasa mual juga.
#Flash Back Off#
"Aaaaaiiissshhh....!!!"
Bian mencoba menunggu pengakuan jujur Cellia saat dirinya tidak dipengaruhi alkohol.Selama ini dia hanya menerka² dan seperti sedang memecahkan teka teki hati Cellia yang masih menjadi misteri cinta.
(Di Kantor Polisi)
"Selamat pagi Tuan Arjuna".Sapa polisi yang ada dikantor itu.
"Pagi".Jawab Arjuna sambil tersenyum ramah.Arjuna mengunjungi kantor polisi bersama dengan Endro dan Rahmad.
"Boleh saya berkunjung melihat tersangkah itu?"Kata Arjuna pada ketua Tim polisi itu.
"Tentu tuan,saat ini dia sedang diintrogasi dengan Tim saya".Kata Polisi itu menjelaskan.
"Baik,saya akan menunggu".Kata Arjuna cukup tenang.
Tak lama kemudian Arjuna pun memasuki ruang kunjungan tahanan untuk menemui tersangkah itu.
"Selamat pagi Denis".Sapa Arjuna dengan senyum sarkas.
__ADS_1
"Pap pagi...!!"Kata Pria itu.Denis tampak terkejut dan gugup saat melihat siapa yang mengunjunginya.
"Kenapa dengan wajahmu?.Tenang aku tidak akan menyakitu.Tapi jika kamu bisa diajak bekerjasama".Kata Arjuna cukup tenang tapi tatapan Arjuna sangat mengintimidasi.
Tampak wajah Denis pucat dan keningnya berpeluh saat mendengar kata² Arjuna yang mengintimidasi.
"Aku bisa menjamin dirimu keluar dari sel ini asal kau katakan siapa peneror itu?"Kata Arjuna menatap Denis tajam.
"Pak polisi.....Aku tidak mau berbicara pada orang itu lagi.Pembicaraan kami sudab selesai".Kata Denis dengan wajah ketakutan.
"Denis tunggu dulu dengarkan aku,aku bisa memberimu berapa pun yang kau mau asal kamu beritahu siapa peneror itu".Kata Arjuna lagi mencoba bernegosiasi.
"Tidak pasti kau berbohong,aku tidak akan percaya padamu.Kalau aku memberi tahumu pasti kau akan membunuhku juga".Kata Denis dengan raut wajah ketakutan.Denis pun pergi meninggalkan Arjuna begitu saja.Itu Membuat Arjuna sangat kesal dan mengusap wajahnya kasar.
"Sepertinya dia diancam oleh peneror itu tuan".Kata Rahmad kepada Arjuna.
"Iya sepertinya begitu.Aku juga mencoba menatap matanya.Tampak sorot matanya penuh dengan teka teki yang belum terpecahkan".Kata Arjuna mengingat saat ia menatap dalam mata Denis.
Akhirnya mereka pun memilih untuk meninggalkan kantor polisi dan kemabali ke kantor YP Group.Arjuna masih terus memikirkan raut wajah Denis dan sorot matanya saat sedang duduk di kursi kebesarannya.Arjuna menyipitkan matanya dan tiba² ia mempunyai sebuah ide.
"Rahmad coba kamu cari tahu keluarag Denis".Kata Arjuna melalui sambungan telefonnya.
"Baik tuan".Kata Rahmad disebarang sana.
(Dirumah Embun)
"Sayang kamu sudah makan?"Tanya Arjuna pada Embun melalui sambungan telefonnya.
"Sudah sayang tadi teman² kerja Embun datang menjenguk".Kata Embun diseberang sana.
"Yaaa padahal kakak belum makan malam".Kata Arjuna dengan suara lemah.
"Astagah kakak...ya sudah buruan makan gih sana nanti sakit loh."Kata Embun lagi terdengar suaranya sangat khawatir pada Arjuna.
"Sayang kakak kerumah kamu ya".Kata Arjuna lagi.
"Hmmmm iya ya sudah kak,hati² sayang!".Kata Embun dengan suara khasnya yang lembut.
"Okah sayang.I love you!"Kata Arjuna yang selalu nge bucin pada Embun.
"I love you too."Jawab Embun diseberang sana.
__ADS_1
Arjuna mendengar suara Embun yang lembu membuat hatinya semakin merindukan sosok wanita mungil yang selalu memenuhi hatinya saat ini.Wanita yang berhasil membuatnya seperti orang gila karena terlalu mencintainya.