
"Selamat pagi ketua".Sapa Endro pada Yudistira.
"Pagi".Jawab Yudistira datar,tampak ia duduk santai di sebuah kursi santai sambil menikmati paginya.
Sifat dingin Arjuna diwariskan dari Ayahnya.Jadi tidak heran kalau Arjuna juga bersifat dingin kepada semua orang.Begitu pula sang ayah yang selalu dingin dan menakutkan.
Sorot matanya yang tajam mampu membius lawan bicaranya untuk tidak berani menatap wajahnya saat berbicara.Semua peraturan yang ada saat ini pun diterapkan di rumah utama atas perintah dan persetujuan Yudistira.
Setiap keputusan yang sudah ditetapkan Yudistira tidak ada yang berani menyangkalnya selain Arjuna.Arjuna sama kerasnya dengan Yudistira mereka akan selalu kekeh dengan keputusan masing² yang dianggap benar.
Arjuna adalah cerminan Yudistira.Terkadang mereka tidak saling menyapa satu sama lain.Tapi jauh dari lubuk hati yang paling dalam mereka saling menyayangi.Hubungan darah itu ibarat seseorang yang berusaha membelah air tapi tidak akan perna terpisahkan.
"Bagaimana keadaan Arjuna?"Tanya Yudistira .
"Aah,Arjuna masih tidur ketua,tadi malam dia mabuk berat.Jelas Endro berdiri didepan Yudistira yang sedang menikmati kopi paginya.
"Hmmmm,Bagaimana dengan wanita itu?"Tanya Yudistira tentang Embun.Selama Arjuna dan Embun bertunangan Yudistira tidak perna sekalipun menyapa Embun.Entah apa yang ada difikiran Yudistira tentang Embun,hanya dialah yang tahu.
"Maaf maksud ketua,wanita yang mana ketua?"Tanya Endro tidak mengerti.
"Aaah,tunangan Arjuna".Jawab Yudistira datar sambil terus wajahnya menghadap surat kabar yang sedang dibacanya tanpa melihat Endro yang ada didepanya.
"Ooh,Embun.Sepertinya mereka sedang bertengkar ketua,saya dengar Embun pulang kerumah ayahnya.
Jelas pada Yudistira.
"Hmmmmm!" Yudistira menganggukan kepalanya tanda mengerti dan senyum sarkas tampak menghiasi bibirnya.
Endro merasa senyumannya itu menyeramkan.Dan Endro juga tidak tahu apa arti dari senyumnya itu.
"Waaaah,hebat!!! Ketua tersenyum tapi senyumannya sungguh menakutkan!".Gumam Endro.
"Aaah kenapa kepalaku sakit sekali".Keluh Arjuna yang baru saja bangun dari tidurnya dan tampak ia memijit mijit pelipisnya.
"Waah sayang kamu sudah bangun?"Tanya Wike sambil membawakan segelas air madu dan lemon untuk menghilangkan pengarnya.
__ADS_1
"Mama,apa yang terjadi padaku?"tanya Arjuna pada wike.
"Aaaaah,kenapa wajahku terasa sakit"?kata Endro sambil meringis dan memegang rahangnya yang memar.
"Kamu tidak ingat,tadi malam kamu mabuk berat dan berkelahi dengan Bian".Jelas Wike pada Arjuna sambil menyerahkan segelas air madu dan lemon pada Arjuna.
Arjuna mengerutkan dahinya dan mencoba mengingat semua yang telah terjadi semalam.Ingatannya jatuh pada Embun.Terakhir kali ia melihat Embun menangis sambil berlari dan itu mebuat Arjuna tampak merasa bersalah.
Saat ingatanya jatuh pada saat dia menangis seperti anak kecil.Tampak wajahnya merona dan ia pun memejamkan matanya sambil menghela nafasnya.
"Astagaaaah.Apa yang aku lakukan,memalukan!".Katanya sambil mengacak acak rambutnya.
"Apa kamu sudah ingat semua apa yang terjadi semalam?"Tanya wike sambil tersenyum simpul dan sedikit meledek.
"Aaasssh mama!".Jawab Arjuna malu.Tiba tiba ia teringat Embun lagi.
"Aaaasssshhh,Embun!!".Arjuna segera bergegas dan berlari menuju kamar Embun.
"Junaaa,kamu mau kemana?sarapan dulu dong kalau mau pergi!".Tanya Wike heran melihat Arjuna yang tiba tiba pergi.
Wike mengikuti Arjuna dari belakang.Arjuna tampak sangat gelisah karena teringat kejadian semalam.
"Nak,Embun pergi dari rumah tadi malam!"Kata Wike dengan sedikit berhati hati.
Arjuna pun terhenti mengetuk pintu kamar Embun.Seketika tubuhnya mematung dan tidak ada keluar sepatah kata pun dari mulut Arjuna.Rasa khawatir didalam hatinya menguasai fikirannya.
Arjuna berlari menuju kamarnya dengan sangat cepat.Wike yang melihat Arjuna bertingkah seperti itu pun memaklumi anaknya.Ia faham perasaan putra semata wayangnya itu.Arjuna masuk kekamarnya ia membersihkan dirinya dan tidak lama ia pun keluar dari kamar.
"Sayang kamu tidak sarapan dulu".Tanya Wike khawatir.
"Tidak ma,Juna harus segera minta maaf pada Embun.
"Baiklah sayang,hati hati.Tolong bawa Embun kembali,ingat pernikahan kalian tinggal satu minggu lagi".Kata Wike memohon pada Arjuna.
Arjuna pun mengangguk sambil mengusap pundak mamanya.
__ADS_1
"Juna janji ma,juna akan membawa Embun kembali".Jawab Arjuna sambil menatap dalam mamanya.
Tampak dari jauh Yudistira memperhatikan Arjuna yang begitu panik saat tahu Embun pergi dari rumah.
Yudistira pun pergi meninggalkan tempat dimana ia menyaksikan obrolan antara ibu dan anak.
Yudistira mengeluarkan sebuah ponsel yang ada disakunya.
"Halo,sudah waktunya kamu menepati janjimu,ini waktu yang tepat untuk itu.Jangan perna kamu mengingkari janjimu.Atau kau akan menyesal".Kata Yudistira pada lawan bicaranya diseberang sana.
Setelah itu Yudistira pun mengakhiri pembicaraanya diponselnya dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
Yudistira menatap arah foto keluarga yang begitu besar yang tergantung didinding ruang kerjanya.Foto itu terlihat sangat indah,disana ada Arjuna,dirinya dan Wike.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang akan menghancurkan YP group,karena kau satu satunya pewaris YP Group,aku tidak akan membiarkan mu melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya".Kata Yudistira dengan tatapan yang begitu tajam.
Yudistira tampak sangan tenang.Tapi karena ketenangannya itu banyak musuh terkecoh padanya.Yudistira terkenal dengan julukan pembunuh berdarah dingin bagi para pesaing bisnisnya.Itu semua
karena ketenangnya dalam memutuskan tindakan.
Sikapnya penuh kejutan karena sikapnya yang tidak bisa ditebak.
Arjuna dengan kepala yang masih pusing dan wajah penuh lebam pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.Berkali kali ia mencoba menghubungi ponsel Embun tapi tidak ada jawaban.
Rasa bersalah dalam hatinya kian membuncah.Ingin rasanya Arjuna cepat cepat menemui Embun.
"Sayang please angkat telefonnya!"Arjuna memohon.
"Aaaaarrrggghhh"!!Arjuna kesal dan ia pun memukul kemudinya dengan keras.
Rasa takut,khawatir,bersalah pun menghantuinya.Arjuna sungguh khawatir jika Embun benar benar tidak mau memaafkannya.
"Embuuun maafkan kakak!!"
"Kakak mohon jangan seperti ini".
__ADS_1
Perasaan bersalah pada Embun membuat batinya perih.Arjuna merasa sangat menyesal dengan semua kata kata yang ia lontarkan pada Embun.Rasa cemburunya yang berlebihan telah menjadikan dirnya seperti orang kehilangan akal sehatnya.
Arjuna terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatan jiwanya lagi.kali ini ia benar benar hilang akal.