
🌺Haiiii haiii readers Terima kasih yang sudah baca novel perdana saya.mohon untuk tinggalakn jejak ya guys,di like atau di komen.
yang ad poin lebih sisai buat aku ya readers
salam hangat.🌺
Pada zaman dahulu hiduplah seekor kelinci yang kesepian.Ia selalu berdiri didepan jendela kamarnya disebuah kastil yang megah.Tatapannya penuh dengan harapan suatu hari nanti akan ada seseorang yang bisa menjadi teman hidupnya.Dan seseorang itu bisa menghilangkan rasa sepi di hatinya.
Dongeng sebelum tidur yang selalu dibacakan Ibu Arjuna untuk dirinya.Tapi kini sepertinya kelinci itu menggambarkan tentang dirinya sendiri.
"Driiiiing.......driiiiiing.....driiiing......"
suara alarm yang memekakan telinga dan mengagetkan embun,membuatnya tersentak dari tidurnya.
"Hmmmmm,bukannya ini hari minggu,kok alarmku berbunyi?"
Grutu embun,dengan malas ia menjangkau jam waker itu dan mematikannya.Embun masih bermalas malasan ditempat tidurnya.Embun duduk bersandar didinding sambil menggeliat untuk meregangkan otot otonya dan menghilangkan rasa kantuknya,tampak sesekali menguap dan mengucek matanya.
Tak lama setelah puas dengan ritual paginya,embun pun bergegas mandi dan menunaikan ibadah subuh.Setelah siap shalat subuh,embun pun pergi kedapur dan menyiapkan sarapan untuk ayah ibunya.
Embun memang sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah,dari mulai memasak,bersih bersih rumah,berkebun,semua bisa ia lakukan.Sedari kecil ia sudah terbiasa melakukan itu semua karena embun bukan terlahir dari keluarga kaya raya,yang segala sesuatunya di siapkan pelayan.
__ADS_1
Embun wanita yang sangat tegar,ceria,baik,dan suka menolong.Sedari kecil ia tidak perna melakukan hal hal yang buruk,karena ia memang anak yang sangat patuh pada kedua orang tuanya.
Embun tidak mau menyusahkan orang tuanya dengan mengikuti gaya hidup berfoya foya teman teman SMA nya dulu.Embun gadis yang sederhana dan polos.Embun ingin sekali melanjutkan kuliahnya tetapi karena faktor ekonomi dan ibunya yang sakit perlu biaya pengobatan.Embun melepas mimpinya untuk kuliah.
Embun pun lebih memilih untuk membantu orang tuanya dalam mencari nafkah.Dengan berjualan bunga hasil dari kebun bunga ayahnya.Karena embun merasa hanya dirinya lah anak orang tuanya yang berkewajiban membantu.Jadi dia takut menyusahkan kedua orang tuanya dengan memaksakan diri untuk berkuliah di universitas yang ada di kota.
"ibuuuu ayaah mau kemana kok sudah rapi sepagi ini?".Tanya embun pada kedua orang tuanya.
"Aaah iya ayah lupa memberi tahu kamu,kalau si maya sudah melahirkan,jadi tantemu mau membuat acara aqiqahan buat anak nya maya".kata ayah sambil menyeruput kopinya.
"ooowwww" kata embun sambil membulatkan mulutnya dan mengangguk angguk tanda mengerti.
"kamu mau ikut tidak nak?"tanya ibunya.
"ya sudah kalau begitu".kata ibu embun sambil membereskan piring bekas sarapannya.
"oh iya buk,nanti titipkan salam embun sama tante risma dan maya ya bu".Kata embun pada ibunya.Ibunya menganguk sambil tersenyum.
Pagi itu tampak cuaca tidak terlalu cerah,sinar mentari masih diselimuti awan yang sedikit kelabu.Tapi demi menepati janji dengan Ayu teman baiknya itu.Embun pun bergegas pergi ke danau dengan mengayuh sepedanya ke tempat favorid mereka untuk bersantai dihari libur.Sesampainya didanau embun duduk dibangku dekat danau sambil memasang headphone dikepalanya dan membaca novel yang baru iia beli satu minggu lalu.
Tidak jauh dari tempat ia duduk ada tampak seorang pria yang berdiri ditepi danau sambil memandang jauh ke arah danau dengan tatapan kosong.Tidak tahu apa yang sedang difikirkan pria itu.Tampak jelas raut wajahnya kalau ia sangat kesepian, dan banyak menyimpan luka yang sangat dalam jauh didasar hatinya.Sesekali tampak pria itu menunduk dan mengusap wajahnya,seperti menahan sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan.Seperti ada penyesalan yang teramat sangat didalam hatinya sehingga dia selalu menyalahkan dirinya dan mengutuk dirinya.
__ADS_1
Embun menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya.
"siapa pria itu,apa dia mau bunuh diri dengan menceburkan tubuhnya didanau?,dasar bodoh".Gumam embun dan ia pun masih terus fokus membaca.Tapi entah kenapa hatinya tidak tenang.
Embun pun terus menatap pria itu,dia sangat khawatir kalau pria itu akan menceburkan diri di danau.Pria itu berjalan semakin mendekati bibir danau,dan embun melihat itu seketika embun berteriak.
"Heei Tuaaaan kalau mau mati jangan disini,nanti kalau Danau ini jadi angker karena tuan bagaimana?"
Kata embun sambil berlari dan menarik tangan pria itu dengan kuat.Pria itu hampir terjatuh,tapi pria itu masih kuat menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh.
Embun tampak terengah engah karena sudah berlarian demi menyelamatkan pria itu.
"Hei tuan kamu jangan bunuh diri disini,apa kamu tidak memikirkan keluarga yang menyayangimu,bagaimana kalau mereka tau kamu mati sia sia disini,apa itu tidak menambah kesedihan mereka.dasar pecundang".
Kata embun sambil memberi tatapan marah pada pria itu.Pria itu adalah Arjuna.Dengan mengusap wajahnya kasar arjuna menggeleng gelengkan kepalanya.Arjuna heran melihat embun merancau tanpa jeda dan tidak memberi kesempatan untuk bicara dan menjelaskan.
Pada saat Embun merancau tanpa jedah.Arjuna menatap takjub Embun.Arjuna memandang senduh gerak bibir Embun yang sedang bicara.Arjuna juga melihat gerak tubuh Embun yang memainkan tangannya saat berbicara.Rambutnya yang panjang dan bergelombang bak sutra yang kemilau bergoyang diterpa angin yang lembut.
Rambutnya yang terkena hembusan angin pun menutup wajahnya yang indah.Sesekali Embun mengaitkan rambutnya yang menutupi wajahnya.Ada rasa penasaran didalam hati Arjuna.Melihat gadis mungil yang ada dihadapannya.
Arjuna terus menatap wajahnya yang indah.Matanya yang indah memancarkan keteduhan bagi setiap yang memandang.Arjuna terpaku akan kecantikan Embun.
__ADS_1
Bibirnya yang indah membuat Arjuna menelan slavinanya kasar.