SENJA

SENJA
Karbitan


__ADS_3

HAPPY READING


Norma tertunduk di tepi lapangan. Sebenarnya ia ingin pergi dari tempat itu segera setelah Rivan mengambil alih kendali di lapangan, tapi dengan berbagai alasan Arga seperti sengaja menghalanginya.


“Baiklah adik-adik, cukup sekian latihan kita hari ini. Segera pulang dan bersihkan diri. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ujar Rivan mengakhiri pertandingan.


“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab barisan siswa.


“Salam Persaudaraan,” ujar Rivan sambil menyatukan tangan di depan dada.


“Salam persaudaraan,” serempak semua yang ada di sana.


Setelah itu, semua berjajar untuk menyalami para warga yang mendatangi latihan hari ini. Semuanya, tak terkecuali Norma yang kini berat rasanya untuk sekedar menegakkan kepala.


Berdiri di samping Norma yang sudah kehilangan harga diri, Arga sama sekali tak menunjukkan reaksi. Ia bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa. Ia juga tak bicara apa-apa untuk membesarkan hati Norma yang kembali harus menanggung malu di depan siswanya. Sengaja ingin membenahi, tapi malah memberi contoh yang salah yang di rasa Rivan sudah salah kaprah.


“Kamu sudah dijemput?” tanya Arga pada Senja sesaat setelah ia dan Senja melepas jabatannya.


“Mungkin sudah Mas,” jawab Senja yang juga belum melihat keberadaan Atma yang biasa menjemputnya.


Arga manggut-manggut setelah mendengarnya.


“Mbak Norma sudah mau pulang?” tanya Arga yang sekilas melihat Norma hendak melipir.


Norma benar-benar ingin menghilang sekarang. Ia yang sudah tak tahan ingin segera pulang harus sejenak menghentikan langkah kecilnya. Tadi ia datang dengan angkuhnya, sekarang ia bahkan kehilangan wibawanya.


“Iya Mas,” jawab Norma singkat.


“Perlu diantar?” tawar Arga.


Kalimat ini dapat dengan jelas Senja dengar karena ia masih belum beranjak dari tempatnya. Merasa keberadaannya disana tiada arti, selanjutnya Senja pilih melangkah pergi.


Senja mengayun langkah dengan menahan nyeri. Kenapa kesal sekali melihat Arga bisa sebaik itu pada Norma, sementara dengannya Arga kini menjadi dingin dan hanya bicara seperlunya.


Di depan gerbang Senja berusaha mengangkat wajahnya. Segera menemukan keberadaan Atma dan pulang menjadi tujuannya sekarang.


“Kok belum ada sih…” gumam Senja yang kecewa karera belum ada kakaknya setelah celingak-celinguk mencarinya..


“Hhhuufffttt....”


Senja menarik nafas panjang kala ditengah kesalnya ia harus menjumpai pandangan tak menyenangkan. Dadanya kian bergemuruh saat melihat Arga dan Norma yang berjalan

__ADS_1


beriringan sambil berbincang.


Bisa ya akrab gitu.


Arga POV


Kesabaranku benar-benar diuji, saat melihat Norma bertindak semena-mena pada Aya. Apa sih salah Aya sampai Norma bisa sebegitunya. Karena aku tak mungkin membungkam mulutnya, aku hanya bisa mengambil alih kendali dengan segera, daripada ia terus memojokkan Aya. Tapi sungguh, tanganku begitu gatal ingin mencolok matanya saat dengan sinis is terus menatap Aya yang tanpa daya sama sekali tak melawannya.


Memang susah untuk Norma untuk tetap baik-baik saja saat ia yang datang dengan status warga dipecundangi Aya yang masih berstatus siswa tingkat pertama. Ia memulai sparing dengan serangan menggebu, namun naasnya serangan itu tak ada yang masuk karena tekniknya burung, tidak memperhatikan kondisi lawan, dan bahkan power pun kurang. Lebih mirisnya lagi, begitu Senja balas menyerang tiga kali masuk dan diakhiri dengan bantingan. Luar biasa memalukan bukan?


Sayangnya Rivan yang memimpin pertandingan. Melihat kemampuan yang tak seimbang, sparing langsung ia hentikan. Coba tadi kalau aku, pasti setidaknya ada tiga kali putaran agar Norma tahu kesombongannya tak akan bisa menembus gelanggang.


Aya memang dari awal sudah dipersiapkan untuk menjadi atlit. Powernya memang belum seberapa, karena fisiknya masih dalam proses pembentukan, tapi untuk teknik dasar, dia sudah menguasai dengan baik sejauh yang pelatih berikan.


Berbeda dengan latihan Norma. Latihan yang ia lalui hanya fokus terhadap materi dan kejar target agar bisa segera disahkan. Jika normalnya butuh setahun setidaknya untuk latihan, tapi Norma hanya butuh beberapa bulan. Dan ini lah hasilnya. Dia jadi warga yang angkuh karena tak banyak mengalami kesulitan saat latihan.


“Tadi kamu sengaja ya ngalah sama Aya?” tanyaku sengaja.


“Aya?” ulang Norma.


“E, maksudku Senja,” ralatku segera. Aku lupa kalau panggilan ini mungkin hanya aku di tempat ini yang memakainya.


“Oh… Iya.”


Segera kunormalkan mataku yang tiba-tiba membola. Padahal semua juga tahu kalau tadi dia tak berdaya.


“Kasihan kan kalau sampai dia nangis kalau sampai kena pukulanku.”


Aku tak dapat menahan komuk yang jelas tak enak kalau sampai Norma melihatnya. Segera aku bungang muka untuk menghindarinya. Berkali pula aku menelan ludah agar tak ada tawa yang kusemburkan sekarang. Memang luar biasa benar gadis ini sombongnya. Tidak hanya tinggi badannya yang kurang, tapi kepribadiannya juga ada yang kurang.


“Dia memang masih kecil, pengesahan tercepat pun masih harus menunggu setidaknya dua tahu mendatang,” ujarku mengalihkan pembicaraan. Aku sudah tak tahan jika ia terus membual tentang dirinya.


“Jadi memang sengaja latihannya lebih santai?” tanya Norma.


Aku mengiyakan tanpa kata, tapi aku yakin Norma paham artinya.


“Pantes tadi baru sampai lima jurusnya. Aku dulu 3 bulan latihan sudah lebih dari tiga puluh jurus dan materi olah badan hampir 50,” terangnya dengan bangga.


Jika ini adalah kalimat pertama, aku jamin aakan memberi tepuk tangan padanya. Tingkat kepercayaan dirinya diatas rata-rata. Tidakkan ia sadar yang baru saja ia sombongkan adalah sebuah kelemahan. Bagaimana pola pikir orang ini? Aku benar-benar dibuat heran.


Ya aku tahu sih kalau dia join perguruan dengan tujuan berbeda. Saat kebanyakan orang ingin bisa menguasai ilmu bela diri, dia join agar bisa mendapatkan cowok idaman yang merupakan anggota perguruan. Jadi tak heran kalau hasilnya seperti ini.

__ADS_1


Di depan aku melihat Aya masih berdiri sambil menanti. Sengaja aku berjalan menghampiri yang otomatis Norma juga melakukan hal yang sama.


“Belum di jemput?” tanyaku pada Aya.


Aya tak menjawab. Ia seperti terkejut saat menyadari keberadaanku di dekatnya.


Menggemaskan sekali gadis ini. Kulit sawo matangnya nampak merah padam karena baru kepanasan. Rambutnya yang dikuncir tinggi juga membuat tanganku begitu gatal untuk memainkannya.


“Belum Mas,” jawab Aya singkat.


“Rumah kamu jauh?” tanya Norma.


Aya nampak heran. Mungkin karena Norma mendadak ramah dibanding saat tadi latihan.


“Sekitas 15 menit perjalanan,” jawabku karena Aya hanya diam.


“Iya,” lanjut Aya dengan senyum manisnya. Tapi kok seperti dipaksa. Apa ada masalah?


Tapi tetap saja menggemaskan. Boleh nggak sih kalau aku ingin mencubit pipinya?


“Eh, itu Mas Atma,” ujar ku.


Norma dan Aya seketika melihat objek yang sama. Dan aku tak tahan untuk tak melihat reaksi Norma.


“Kamu kenal?” tanya Norma.


Sengaja aku tak menjawab segera. Aku ingin menjelaskan saat Mas Atma berhenti beberapa saat lagi.


“Assalamu alaikum,” sapa Mas Atma.


“Waalaikum salam,” jawab kami.


“Kok sudah sepi?” tanya Mas Atma sembari melihan sekeliling tempat ini.


“Masih ada beberapa di dalam Mas, lepas asyar masih mau rapat untuk pertandingan bulan depan,” jelasku.


Mas Atma menatap Senja. Aku tahu apa yang kamu pikirkan.


Arga POV End


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2