SENJA

SENJA
Assalamualaikum Aisyah


__ADS_3

Menaklukan hati seorang wanita bukan lah hal yang mudah. Karena wanita memiliki sesuatu yang bernama perasaan. Jika tergores sedikit saja hatinya, maka juga akan melukai perasaannya. Maka kita sebagai seorang laki-laki harus mengetahui cara untuk menjaga hati dan perasaan seorang wanita. Apalagi jika wanita yang kita sukai ini memiliki keistimewaan tersendiri diantara para wanita lain nya. Dan sangat sulit untuk menaklukkan nya. Seperti Aisyah, yang begitu cantik dan terjaga oleh iman dan taqwanya.


Aku akui sangat sulit untuk mendekati wanita seperti itu. Karena dia akan selalu menjaga pandangannya, ucapannya, dan perilakunya terhadap lawan jenisnya. Seperti itu lah gambaran sosok Aisyah. Dan semua yang aku katakan adalah hal yang benar. Karena sejak pertama aku mengenalnya hingga saat ini, Dia selalu seperti itu dan tidak pernah mengubah sikapnya terhadap laki-laki manapun. Dan sikap ini lah yang membuat ku semakin penasaran seperti apa sosok Aisyah yang sesungguhnya.


Dan kali ini aku benar-benar ingin mengejarnya sampai di penghujung jalan kisah cinta ini.


Assalamualaikum Aisyah...


***


Siang ini aku mengikuti kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh para anggota rohis. Aku sangat bersemangat karena aku bisa melihat Ica. Seperti biasanya, membahas beberapa materi seputar perkembangan agama Islam. Tak terasa sudah hampir 2 bulan aku mengikuti organisasi ini. Aku mulai terbiasa dan mulai memahami makna Islam yang sebenarnya. Dan aku mulai sadar bahwa semua mimpi-mimpi yang aku miliki tidak akan pernah terwujud hanya dengan usaha, tanpa ada yang namanya Do'a.


1 jam kemudian...


"Alhamdulillah, akhirnya teh selesai juga." Kata Mamat.


"Iya, udah ayuk cepetan ke kelas."


"yaudah ayuk."


Setelah berpamitan ke kang Adi dan teman-teman lainnya, Aku dan Mamat bergegas menuju ke kelas. Namun, ketika kami sedang berada di jalan, kami berpapasan dengan rombongan putri yang juga baru saja keluar dari mushola. Dan diantara mereka ada seseorang yang membuat aku tak dapat memalingkan wajah. Aisyah!


"Eh bro ada neng Ica tuh!" bisik Mamat.


"Mana?" tanyaku.


"Noh liat aja sendiri."


Setelah mendengar bisikan Mamat, aku menolehkan kepala ke arah rombongan itu. Benar saja, diantara mereka memang ada sosok Ica. Dan mata ku tak dapat teralihkan dari diri nya.


"Hehe, udah puas belom liatin nya, di tegor kek.." kata Mamat.


"Hus, diem!" sautku.


Beberapa saat kemudian moment memalukan di dalam hidupku pun terjadi.


"Hehe, liat nih ya..." kata Mamat.


"Liat apaan?"


"Assalamualaikum neng Aisyah, Nih si Ardan kirim salam!" teriak Mamat.


Sontak aku pun terkejut mendengar perkataan nya.


"Heh Mat!! Kamu teh kalo ngomong sembarangan aja!!" Bentakku.


Sangking malunya, saat itu rasanya aku ingin membuang wajah ini jauh-jauh dari ku, bahkan kalau bisa aku menghilang saja dari bumi. Haha mustahil!


Tampak oleh ku salah seorang dari mereka menoleh ke arah ku.


"Waalaikumussalam, kata Ica..." teriak Indah, sahabat Aisyah.


Lalu, sontak saja Ica langsung melihat wajah Indah.


"Indah, apaan si malu tau!" bisik Aisyah


"Hahaha...." tawa Indah.


Setelah mereka mulai menjauh, aku tidak lagi mendengar perbincangan mereka. Dan sekarang aku mulai khawatir apa yang sedang Ica fikirkan, pastilah dia akan sangat marah kepadaku.


Keheningan sesaat...


"Heh Mat! kamu teh bikin malu aja!" Kataku.


"Hehe, abisnya kamu teh gak gentle..." saut Mamat.


"Bodo amat!"

__ADS_1


"Hahaha..."


Karena kesal, akhirnya aku pergi meninggalkan Mamat.


"Woy! tungguin kek!" teriak Mamat.


Setelah kejadian hari itu, aku semakin sulit untuk mendekati Aisyah. Setiap kali bertemu dengan ku, seakan dia ingin menghindar dan pergi menjauh. Sepertinya kali ini dia benar-benar marah kepadaku. Dan semua ini disebabkan oleh Mamat sahabatku sendiri.


Di lorong menuju perpustakaan.


"Dan udah atuh marahnya.." bujuk Mamat.


"Berisik!" Sautku.


"Hm, entar cepet tua lo.."


"Kamu teh bisa diem gak sih?"


"Hehe.."


Memang sulit mempunyai seorang sahabat yang jailnya tingkat akut.


"Eh Dan, Ica tuh!" bisik Mamat.


Terlihat Ica sedang berjalan menuju ke arahku.


"Assalamualaikum..." ucapku pada Ica.


Seperti biasa, cuek dan tidak perduli. Seakan tidak mendengar perkataanku. Sedikitpun dia tidak menggubrisnya.


"Hahaha, kasian dicuekin." ejek Mamat.


"Ini semua teh gara-gara kamu!"


"Lah, aku teh salah apa?"


"Bodo amat!"


"Kamu teh sebenernya temen aku atau bukan sih?"


"Ya temen kamu lah!"


"Sangat-sangat diragukan!!"


"Hahaha..."


"Terserah atuh Mat!"


"Kan salah lagi..."


Setelah beberapa kali aku bertemu dengan nya, sikapnya tetap saja sama, dan semakin membuat ku tertekan. Dan aku ingin mengakhiri kesalahpahaman ini sesegera mungkin.


***


Kringgg......


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Waktu berlalu begitu cepat, hingga aku tak menyadari perjalanan kehidupan ku hari ini telah usai aku lewati. Namun, hingga saat ini aku belum berhasil untuk bisa berbicara kepada Aisyah.


"Dan, pulang bareng gak?" tanya Mamat.


"Gak, aku teh ada urusan sama anak-anak osis, kamu teh duluan aja." jawabku.


"Oke deh." kata Mamat.


Hari ini adalah jadwal kegiatan rapat rutin para pengurus osis. Jadi, biasanya aku akan meminta Mamat untuk pulang terlebih dahulu. Rapat akan dilaksanakan jam 3 sore, sehingga masih ada waktu setengah jam untuk beristirahat. Karena panti asuhan tempat aku tinggal agak jauh dari sekolah ku, dan aku memutuskan untuk menunggu di sekolah.


Hari yang begitu panjang dan melelahkan. Namun, energi yang dipancarkan oleh Ica kepadaku seakan memberikan semangat yang besar untuk melewati perjalanan itu. Tetapi, aku masih saja belum bisa untuk meluruskan persoalan diantara aku dan dia. Dan aku masih terua memikirkan sebuah cara untuk melakukan nya.

__ADS_1


Suasana hening


Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan ku. Ketika aku tengah memikirkan sebuah cara untuk berbicara kepada nya, tiba-tiba dia melintas di hadapanku. Kesempatan yang datang hanya satu kali ini tidak boleh tersia-siakan. Dan aku memutuskan untuk mengejarnya.


"Aisyah!" teriakku.


Aku berlari sekencang mungkin. Hingga aku bisa berada tepat di hadapannya dan menghadangnya untuk tidak pergi kali ini.


"Astagfirullah!" Kata Aisyah terkejut.


Hosh hosh hosh.... nafasku tersengal-sengal.


"Assalamualaikum Ica, eh Aisyah maksudnya." Ucapku.


"Waalaikumussalam."


"Alhamdulillah akhirnya teh gak kabur lagi." gumamku.


"Kabur?"


"Eh, enggak.."


"Ada apa?" tanya Aisyah.


"Aku teh mau ngomong sesuatu sama kamu." jawabku.


"apa?"


"Bukan sekarang, tapi besok."


"Maaf tapi aku gak bisa!"


"Pliss, sekali ini aja!"


"......." keheningan


"Halte bus sekolah, jam 5 sore, Assalamualaikum." ucapku.


"Waalaikumussalam."sautnya



Lalu, aku pergi meninggalkannya. Aku tidak tahu akankah dia datang atau tidak. Tetapi kali ini aku tidak perduli, karena cinta butuh pengorbanan. Namun, aku masih berharap bahwa dia akan ada dihari itu.


Cinta memang membutakan. Namun keberadaannya sangatlah diperlukan. Karena mutlak seluruh manusia memilikinya, maka perlu sebuah pengendalian terhadapnya. Agar kelak cinta itu dapat membuahkan hasil yang manis bukan hasil yang pahit.


***


Wanita Idaman


Sungguh indah senyum mu


Penuh dengan seri mentari


Yang terus menmancarkan cahayanya


Dan selalu menyinari hatinya


Begitu elok tingkah laku mu


Hanya tutur kata lembut


Yang terucap di bibirmu


Luluh jiwa ku


Oleh dirimu

__ADS_1


Wahai sang bidadari


Yang selalu aku rindu


__ADS_2