
"SAH!"
Ucapan menggelegar kompak dari saksi dan beberapa keluarga lainnya membuat Zia menyandang gelar sebagai Nyonya Marko.
Marko menyelipkan cincin di jari manis Zia, begitupun sebaliknya, Zia meyelipkan cincin di jari manis Marko dan di tutup dengan ciuman lembut dari bibir Zia di punggung tangan Marko.
Pemuka agama mulai membacakan doa untuk pasangan pengantin baru di depannya itu. Marko dan Zia khusyuk mengaminkan doa, berharap keluarga baru mereka selalu berada didalam lindungam Tuhan.
"Aamiin ya Rabbal Alaamiin."
Doa sudah di tutup, Karwo segera mengajak tamu undangan khususnya untuk segera menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Pernikahan dadakan Marko akhirnya terlaksana dengan lancar. Langit dan Hengky tak henti-hentinya mengutuk pria yang tengah bahagia itu.
Mereka sedang asyik mengerjai Marko di halaman depan rumah Zia sambil mencari udara segar.
"Om Om!" Beberapa anak perempuan seusia Sora menghampiri Langit dan Hengky yang sedang merundung Marko.
"Ya?" Tiga pria itu menghentikan Aktifitasnya.
"Om ganteng kaya Oppa Oppa korea, aku mau dinikahi Om." Kata gadis kecil itu ke Langit
Langit terkejut dan menahan tawanya, Ia menunjukkan cincin pernikannya. "Tapi Om udah nikah, nih." Langit mencari-cari putranya, "Sky! Sini deh."
Merasa namanya dipanggil, Sky langsung menghampiri papanya. "Kenapa, Pa?" Tanya Sky
"Ini anak, Om. Mau sama dia?" Langit bertanya pada gadis kecil itu.
"Mau!"
"Hah! Mau apa kamu?" Tanya Sky kebingungan.
"Aku mau nikah sama kamu, kaya Om Marko sama Tante Zia." Jawab Gadis ini.
"Nikah aja sama pohon!" Sky berlari meninggalkan gadis itu.
"Dia jahat banget! Aku gak mau nikah sama dia!" Gadis itu meninggalkan Langit dan disusul teman-temannya.
Tiga pria itu langsung melepaskan tawanya setelah sedari tadi mereka sembunyikan kuat-kuat.
"Gila! Sifat buruk lo emang nurun banget ke Sky." Kata Marko.
"Jadi cowok harus gitu, keren. Nih, udah setua ini anak bayi aja masih suka ama gue." Langit menyombongkan diri.
"Terus aja mas ajarin Sky yang enggak enggak." Senja datang bersama Enna dan Zia. "Aku gak enak tuh sama ibunya, anaknya nangis gara-gara anak kita."
Langit hanya tertawa kecil.
"Sky kecil-kecil udah bisa bikin nangis anak orang ya? Gimana gedenya nanti." Gumam Enna.
"Bapaknya juga suka bikin nangis cewek kok." Sahut Hengky.
"Gue kan manusia paling jujur, kalau gue gak suka ya gue bilang gak suka." Langit membela diri.
"Anda semua nginap disini, ya? Biar saya siapkan kamar." Tanya Zia.
"Zi, Lo udah bagian keluarga gue. Ngapain lo masih nyebut kita anda-anda?" Protes Langit
"Iya, sayang. Panggil aja dia dengan nama, dia kan adek aku jadi adek kamu juga."
"Hah! Mana berani saya." Ucap Zia mendapat sahutan tawa dari lainnya.
"Lo bisa panggil mas aja ke gue sama Hengky." Kata Langit
"Jadi saya juga bisa panggil anda mas juga?" Tanya Enna antusias.
__ADS_1
"Gak! itu gak berlaku buat lo." Jawab Langit.
"Jahat banget sih." Protes Enna.
"Hahaha, dia masih belum terima Hengky lebih sayang ke elo daripada dia, En." Sahut Marko
"Berisik berisik!" Langit tak mau mengakui pendapat Marko.
"Sayang, kita siap-siap pulang yuk." Nensi datang menghampiri anak-anaknya.
"Kenapa tidak nginap disini saja, Bu? Saya akan siapkan tempat yang nyaman untuk anda." Zia tak rela melihat Nensi pulang.
Nensi menyentuh pipi Zia, "Maaf ya sayang, Om Irawan masih ada pekerjaan di Jepang besok. Jadi kami harus berangkat ke bandara nanti malam."
Zia tak bisa memaksa karena ia tahu betapa sibuknya Irawan yang menghandle pekerjaan Langit di luar negeri.
"Aku tetap nginap disini kok sayang, kamu gak usah khawatir." Marko menghibur Istrinya.
"Gue kasih dia cuti seminggu." kata Langit.
"Tuh kan. Kita Bis bulan madu sayang." Marko kegirangan.
"Ayo, Buruan pamit ke keluarga Zia." Pinta Nensi.
Senja memanggil Sky dan Sora yang masih asyik bermain untuk segera berpamitan.
*********
Langit dan Senja tiba di hotel ketika hari sudah larut karena mereka pergi makan malam dulu dan sekaligus mengantar Irawan dan Nensi ke Bandara. Sky dan Sora langsung terlelap ketika merebahkan diri diatas tempat tidur. Sedangkan Langit dan Senja bergantian membersihkan badan.
Usai mandi Senja merebahkan badan disamping anak-anaknya. Punggungnya terasa lebih lelah.
Langit membawakan gelas air putih untuk Senja, dan membuka vitamin Senja. "Ini sayang."
Senja menerima vitamin yang diberikan Langit dan meminumnya. "Makasih ya mas." Ia letakkan gelasnya di atas meja kecil yang ada disampingnya.
"Gak usah, Mas. Kamu juga capek kan pasti."
Langgit menggeleng, "Aku mau melakukan yang sahrusnya ku lakukan."
Senja tersenyum.
"Kalau kamu mau apa-apa, kamu harus bilang ya. Aku bakal cari sampai dapat."
"Aku belum ngidam apa-apa mas." kata Senja, "Dulu waktu Sky dan Sora pun juga gak ngidam aneh-aneh. Anak-anak udah tahu gak mau merepotkan mamanya."
Langit menatap bangga kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.
"Kamu siapin nama untuk anak ini ya, mas." Ucap Senja, tangannya menyentuh perutnya.
Langit mengangguk. "Lama ya masih sembilan bulan lagi."
"Ih. gak sabaran banget."
Langit tertawa kecil.
"Udah, Mas." Senja menarik kakinya dan bersila, "Kamu mau aku pijitin?" tanya Senja.
Langit menggeleng dan mendekati Senja. "Enggak, masa aku nyuruh ibu hamil mijetin aku."
trrrt trrt
Pembicaraan mereka terputus karena ponsel Langit berdering, ada panggilan masuk disana dari nomer yang tidak dikenal.
"Hallo?" Sapa Langit
__ADS_1
"Hai, Kak. Ini gue Clara."
"Clara?" Langit mengernyit dan melihat ulang nomer di ponselnya. "Lo di Indonesia?" tanya Langit.
"Iya, ini gue udah di rumah."
"Kenapa gak bilang kalau mau datang? Gue lagi di Solo nih."
"Iya, Bu Ella udah bilang tadi. Gue mau ngasih lo surprise, tapi gagal deh."
"Gue baru balik besok, lo istirahat aja sana." Ucap Langit.
"Oke, Bye."
"Bye, Ra." Langit menutup sambungan telponnya dengan senyuman.
"Siapa mas?" Tanya Senja yang sudah sangat penasaran.
"Clara, sayang. Dia baru aja pulang." Jawab Langit
"Clara?" Senja mengulang nama yang disebut suaminya.
Langit teringat sesuatu, "Aku belum pernah cerita tentang Clara ke kamu ya?" Ucap Langit
Senja mengangguk, "Iya."
"Clara itu anak angkat papa, sayang. Dia tinggal di London selama ini. Kamu pasti suka dengannya."
"Oya? Seperti apa dia?"
"Dia anak yang sangat pintar, penurut dan juga baik sama semua orang, Dia masih seusia dengan Zia."
"Oya? Semoga dia suka padaku dan anak-anak ya, mas." Ucap Zia.
Langit mengangguk, "Dia suka denganmu, dia juga berharap bisa bertemu denganmu." Ucap Langit.
Senja tersenyum senang dan tidak sabar ingin bertemu Clara.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Hai, readers ku tersayang. Maaf ya kemarin belum bisa kasih tambahan Up. Ada beberapa kendala yang harus author hadapi.
Author usahakan hari ini kasih tambahan episodenya.
Jangan lupa kasih semangat aku dengan Like, Coment and Vote Novel ini. Plis banget dan maksa nih authornya. hahahaha
__ADS_1
Bagi yang udah like, coment dan vote author terimakasih sekali, aku sayang kaliaaan*.