
Hallo hallo pembaca setia SENJA, ini Author kasih visualnya Sky dan Sora ya. Karena dua bocah inilah author jadi kepikiran bikin anak Langit dan Senja kembar.
Kalo untuk Langit dan Senja entah kenapa sudah ku cari cari gak nemu yang sesuai ekspektasi.
Author janji di akhir episode bakal ku kasih.
.
.
.
.
.
**********
Siang ini semua Keluarga sudah berkumpul di rumah Senja, Imah, Yudho dan Lala tunangan Bimo juga sudah hadir. Mereka semua berkumpul untuk mengantar kepergian Sky dan Sora ke Jakarta.
Wibowo sudah berada dibalik kemudi, siap mengantar Langit dan keluarganya ke Bandara.
Sky dan Sora menangis tersedu-sedu harus berpisah dengan neneknya, begitu juga dengan yang lainnya.
"Kalian harus sering-sering telpon nenek, ya?" Pinta Ibu ke cucu-cucunya.
Imah mengusap air mata kedua cucunya. "Kunjungi nenek kalau kalian libur sekolah ya." pesannya.
Sky dan Sora mengangguk diantara sesenggukan tangisannya.
"Sudah, kalian cepat berangkat. Nanti ketinggalan pesawat." Ucap Ibu.
Langit dan Senja bergantian menyalami keluarga mereka untuk berpamitan dan Segera masuk ke dalam mobil.
"Sudah pak?" Tanya Wibowo.
"Iya, Pak."
Setelah mendapatkan jawaban Langit, Wibowo menginjak pedal gas mobil dan mobil mulai berjalan meninggalkan rumah Senja.
Diperjalanan menuju Bandara Sky dan Sora masih terisak-isak. Ia begitu senang akan ikut papanya, namun ternyata berat juga meninggalkan neneknya sendirian.
Langit dan Senja bergantian membujuk Sky dan Sora agar berhenti menangis.
"Nenek gak akan sendirian, sayang. Kan ada Om Bimo. Apalagi setelah ini nek Imah sama Kek Udho tinggal dirumah nenek Laila." Langit yang duduk didepan sampai menoleh ke belakang menenangkan anak-anaknya.
Sky mengusap air matanya, "Benarkah?" Tanya Sky.
Langit mengangguk, "Iya sayang, karena papa mau bangunin rumah nenek Imah rumah yang besar. Biar muat banyak mesin cuci, jadi nek Imah nanti gak perlu capek-capek cuci pake tangan."
"Papa sudah gak marah lagi dengan nek Imah?" Tanya Sora.
Langit tersenyum, "Papa sudah minta maaf ke nek Imah, Papa juga janji gak akan marah-marah lagi ke nek Imah."
"Jadi keluarga kita semakin banyak, pa?" tanya Sky
"Iya sayang, Sky dan Sora jadi punya tanggung jawab lebih besar untuk menyayangi semua keluarga."
__ADS_1
Sky dan Sora sudah mulai menghentikan tangisannya dan mulai tersenyum. Senja memberikan sebotol air mineral untuk anak-anaknya agar tenang dan bisa menikmati perjalanan.
Sampai di Bandara, Wibowo memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk. Ia turun terlebih dulu dan mengambil trolley.
Langit, Senja, Sky dan Sora juga langsung turun. Langit Membuk bagasi dan menurunkan tiga koper besar milik Senja, Sky dan Sora. Juga koper kecil miliknya.
Langit menata koper-koper mereka diatas trolley yang sudah dibawa Wibowo untuknya.
"Pak wibowo, terimakasih Bantuannya ya." Langit mengulurkan tangan.
Wibowo buru-buru membalas uluran tangan Langit. "Sama-sama pak. Saya tunggu kedatangan bapak dan keluarga di Malang lagi."
"Terimakasih ya, pak. Kami pamit dulu." Ucap Senja. "Sky, Sora. Pamit dengan pak Wibowo dulu."
"Terimakasih pak Wibowo." Ucap Sky dan Sora, mereka bergantian mencium tangan Wibowo.
"sama-sama, hati-hati ya."
Langit mendorong trolley dan Senja menggandeng kedua anaknya masuk ke dalam bandara.
"Sky, Lihat!! Ada pesawat!!" Teriak Sora ketika mereka sudah masuk diruang tunggu.
Terlihat banyak pesawat yang sudah terparkir di balik dinding kaca ruang tunggu.
"Sora, jangan berteriak. Seperti baru pertama kali saja kamu lihat pesawat." Ucap Sky.
"Memang aku baru lihat kan? bukannya kamu juga?" Tanya Sora.
Sky diam tak menjawab.
Ini memang pertama kalinya Sky dan Sora naik pesawat. Senja sudah meminta Langit untuk memesan economy class, karena ia ingin mengajarkan anaknya tentang kesederhanaan.
Setelah menunggu hampir satu jam, nomer pesawat mereka akhirnya terpanggil. Segera mereka antri bersama penumpang lainnya untuk menyerahkan boarding pass mereka.
"Apa menakutkan ketika pesawat ini terbang, Pa?" tanya Sora
Langit menggeleng, "Sama seperti ketika kita naik mobil sayang. Hanya sesekali akan bergoyang ketika pesawatnya melewati awan." Ucap Langit, meyakinkan kedua anaknya.
"Sky tidak takut." Ucap Sky, ia tak terima papanya mengira dia anak yang penakut.
"Bagus kalau Sky tidak takut. Cowok harus pemberani ya." kata Langit mengacungkan ibu jarinya.
Tanda pesawat akan berangkat sudah terdengar. Para pramugari bersiap ditempatnya mempraktekkan bagaimana memakai pelampung dan lain-lain.
Sky dan Sora diam, menatap keluar cendela. Mereka merasakan pesawat yang mulai bergerak meninggalkan pelataran pesawat menuju landasan pacu.
Mesin pesawat mulai berisik ketika pesawat mulai take off dan meninggalkan landasaran pacu.
"Asyik ya, Sky." Ucap Sora terlihat senang merasakan goyangan saat pesawat mulai terbang.
Berbanding terbalik dengan Sky yang terlihat tegang.
"Hahahaha, lihat!! Sky takuuuut." Ejek Sora.
"Maaaa..." Sky merengek takut, memegang lengan Senja.
"Gak apa sayang. Cuma sebentar, setelah ini tenang." Senja menenangkan Sky.
Benar saja yang dikatakan Senja, pesawat mulai tenang dan Sky juga mulai melepaskan tangan Senja.
Setelah hampir satu jam mereka berada di dalam pesawat, akhirnya sampai juga di bandar udara Soekarno-Hatta.
__ADS_1
Tepat di pintu keluar penumpang, terlihat Marko melambai-lambaikan tangan. Tidak hanya menyita perhatian Langit dan Senja, namun penumpang lain juga.
"Heeeei!! Kalian pasti Sky dan Sora?" Tebak Marko ketika Langit, Senja, Sky dan Sora sudah menghampirinya.
Sky dan Sora hanya mengangguk, menatap aneh pria didepannya yang terlihat sok kenal sok deket dengan mereka.
"Salim sayang, namanya Om Marko. Saudaranya Papa." Senja mengenalkan Marko pada anak-anaknya.
Sky dan Sora menurut, bergantian mencium tangan Marko.
"Kok lo yang jemput?" Tanya Langit.
Marko mengambil trolley yang dibawa Langit, "sama pak Bambang lah. Kurang baik apa coba, gue jemput lo kesini."
Mereka semua beranjak mengikuti Marko menuju tempat mobil mereka terparkir. Kali ini Marko membawa mobil SUV miliknya, karena ia tahu akan banyak penumpang dalam mobilnya.
Dibantu Bambang, marko memasukkan koper koper ke dalam bagasi mobil. Sedangkan Langit, Senja dan Anak-anaknya sudah masuk ke dalam mobil.
"Hengky dimana?" Tanya Langit ketika Marko sudah masuk ke dalam mobil.
"Nungguin dirumah lo sama Enna." Jawab Marko.
Bambang mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkir Bandara. Sky dan Sora duduk di bangku belakang sendiri. Mereka sedang mengagumi gedung-gedung yang menjulang tinggi di Jakarta.
"Bagus ya Sky!!" Ucap sora terkagum-kagum.
"Iya, seperti yang di tv." Balas Sky.
Senja dan Langit hanya tersenyum melihat anak-anaknya.
Langit sengaja meminta Bambang untuk lewat di sekolah Sky dan Sora yang baru.
"Besok Sky dan Sora sekolah disini." Ucap Langit dari dalam mobil, ia menunjukkan sebuah gedung dengan cat warna warni dan banyak mainan di halamannya.
"Woooah, lebih keren dari sekolah kita di Malang Sora." Sky terlihat kegirangan.
"Iya, gak sabar deh buat sekolah besok." Sahut Sora.
"Sudah ya, kita lanjut pulang." Tanya Langit.
"Gak boleh main-main dulu disini, Pa?" Tanya Sky.
"Kan sekarang hari libur sayang, sekolahnya kan tutup. Nanti kita main-main dirumah ya." Jawab Langit.
Walau mayun, Langit mengangguk setuju dengan tawaran Langit.
Bambang mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman TK.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.