
^^^Pencak silat punya ruang sendiri di hati author.^^^
^^^Meskipun tak seperti Wewey Wita dan berjodoh dengan Deni Aprisandi yang sama-sama atlit pencak silat, namun saya dan suami merupakan penggemar olahraga ini.^^^
...*HAPPY READING*...
“Sudah Dik?” tanya Arga saat melihat siswanya telah menyelesaikan serangkaian gerakan pemanasan.
“Sudah Mas…!” Serempak semuanya.
Wajah mereka nampak memerah. Peluh mulai membanjir di pelipis dan dahi. Bukan semata karena gerakan pemasan yang baru saja mereka lakukan, tapi juga karena teriknya mentari yang bersinar siang ini.
Arga berjalan ke depan. Ia berhenti tepat di tengah-tengah.
“Ini baru pemanasan, belum pada tahap latihan yang sebenarnya. Apa diantara kalian ada yang merasa keberatan dan ingin berhenti dari latihan?!” tanya Arga dengan suara lantang.
Arga menyapukan pandangan pada semua siswa di hadapannya. Siswa dengan sabuk berwarna putih kecil di barisan terdepan dan siswa polos atau tanpa sabuk menyusulnya sebanyak dua baris di belakang.
“Tidak Mas!!!” serempak semua yang ada di sana.
Memang semua bersuara, namun bagi Arga hanya suara Senja yang paling jelas menyapa pendengarannya. Suara yang lantang dan penuh keyakinan.
Sejenak pandangannya berhenti pada gadis dengan perawakan kurus dan tinggi yang kali ini mengikat tinggi rambut panjangnya. Senja, apa kamu baik-baik saja?
“Baiklah, untuk selanjutnya, silahkan kalian berlari mengelilingi lapangan. Siswa putih terlebih dahulu dilanjut dengan siswa polos.”
Mereka pun mulai berlari setelah mendapat kode dari Arga. Ingin sekali Arga menghampiri Senja dan bertanya bagaimana keadaannya. Namun itu hanya inginnya, karena apapun alasannya ia tak boleh memberikan perhatian lebih saat seperti ini kepada siapa pun juga.
“Mas Wahyu.”
Yang di panggil pun mendekat.
“Ada apa Mas Arga?”
Saat latihan seperti ini memang panggilan mas dan dik lebih diketatkan.
“Nanti tolong latih yang polos, aku mau pegang yang putih,” pinta Arga.
“Duh Mas, aku canggung jarang terjun. Mendingan jadi satu aja, biar yang putih bisa kasih contoh dan kita bantu benerin gerakan yang polos. Ini mereka banyak lo, dan kita cuma berdua. Ya kalau malam bakal banyak mas-mas yang datang buat bantu ngelatih, kalau siang gini mana ada.”
Arga terdiam. Ia memikirkan baik-baik apa yang Wahyu katakan. Sebenarnya tak ada masalah dengan saran Wahyu, hanya saja ia benar-benar tak sanggup berinteraksi dengan Senja saat ini.
Tak ingin ambil pusing, akhirnya Arga memutuskan untuk ikut berlari dengan siswanya dan pergi begitu saja meninggalkan Wahyu.
“Ck, kebiasaan. Sebegitu susahnya kah ngasih keterangan sebelum minggat.”
Dari pada ikut lari, Wahyu lebih memilih untuk menepi dan berteduh untuk menyambangi gamenya.
“Larinya yang teratur Dik, nggak usah adu cepat dan saling mendahului. Kalian bukan sedang balapan, tapi sedang pemanasan! Mengerti?!”
“Mengerti Mas!!!”
__ADS_1
Arga turut berlari di posisi paling belakang. Ia harus memikirkan baik-baik metode apa yang akan ia gunakan untuk latihan kali ini. Bagaimana agar latihannya tetap kondusif sementara ia tengah kacau seperti ini.
Saking karirnya Arga berfikir, ia hingga lupa sudah berapa putaran siswanya ini berlari.
Tiba-tiba matanya menangkap pergerakan tak biasa dari salah seorang siswa. Ia nampak berhenti sejenak di sela larinya untuk memegang lutut dan mengambil nafas dengan mendongakkan kepala. Tak lama ia kembali berlari.
Sejak tadi berusaha mengalihkan pandangannya dari Senja, namun justru sekarang Arga harus merelakan seluruh perhatiannya terpusat pada gadis dengan rambut dikuncir kuda itu di sana.
“Senja…”
Arga segera berlari menghampiri karena melihat langkah siswa itu mulai limbung dan tak seimbang.
Greb!
Arga menangkap tubuh Senja yang nyaris jatuh.
“Mas Wahyu! Yang putri tolong bawa nepi dulu!” Spontan Arga berteriak pada Wahyu yang berada cukup jauh darinya.
Wahyu segera menyimpan ponselnya dan dengan cepat melaksanakan perintah Arga. Ia membawa 2 orang siswa putri yang juga nampak pucat itu untuk menepi.
Senja menggeleng saat Arga hendak membopongnya. “Aku masih bisa jalan Kak…”
Tak ada koreksi dari Arga saat Senja tak memanggilnya Mas.
“Mau neduh apa gabung sama mereka?” tanya Arga sambil memegang kedua bahu Senja.
“Gabung aja,” lirih Senja dengan menunduk.
Rasanya aneh bagi Arga, saat Senja lebih memilih untuk menunduk dan tak membalas tatapannya seperti biasa.
“Masih Mas…”
Srrkk
Senja nyaris jatuh hanya karena menginjak beberapa butir kerikil. Ia begitu lemas hingga tak mampu menjaga keseimbangan. Beruntung Arga masih bisa menahan tubuhnya.
Tanpa permisi Arga menariktangan kanan Senja dan menyampirkan begitu saja di pundaknya karena Senja sepertinya enggan untuk melakukannya meskipun tadi sudah sempat diminta.
Dengan cepat Arga memegang tangan itu saat Senja hendak menurunkannya.
“Tangannya jangan ditarik. Terlalu berat buat aku nopang beban ini sendirian?”
Arga tersenyum menatap Senja. Kali ini Senja membalas tatapannya. Hanya saja, tak ada senyum manis yang biasa menghiasi wajah polosnya.
Arga segera memutus kontaknya dan kembali fokus membawa Senja ke tepian. Mungkin aku belum bisa kembali melihat senyum kamu, tapi setidaknya aku sudah bisa kembali melihat mata indahmu.
Jangan dikira mata Senja bulat, besar, berbul lentik atau apa pun kriteria standar mata indah pada umumnya. Mata Senja sipit, bulu matanya pendek tidak punya garis mata ganda, meskipun demikian, itu teramat indah bagi Arga.
Setibanya di tepi lapangan, Senja langsung bergabung dengan dua siswa putri yang terlebih dahulu menepi.
“Mas Wahyu, aku ke sana.”
__ADS_1
Arga meninggalkan Senja begitu saja dan bergabung bersama siswa laki-laki yang masih berlari.
“Yang polos nambah dua putaran lagi kemudian bergabung bersama siswa putri!”
Arga kembali berlari setelah memberikan interupsi.
Koordinat Senja masih berpusat pada Arga. Terlebih ketika tengah diam seperti ini. Hanya mendengar helaan nafasnya saja Senja sudah bisa membedakan itu Arga atau bukan.
“Kakinya diluruskan Dik…”
Suara itu mampir di indra pendengaran Senja. Biarin lah, toh bukan Arga yang punya suara. Batin Senja.
“Dik…”
Suara itu terdengar begitu dekat di telinganya.
“Eh, iya Mas…”
Ternyata yang sejak tadi mengajaknya berbicara adalah Wahyu. Dia sekarang jongkok di dekat senja dengan membawa sebotol air putih di tangannya.
“Kalau sedang istirahat, kakinya diluruskan jangan ditekuk,” ucap Wahyu sekali lagi sambil menyerahkan botol yang ia pegang pada siswa putri yang duduk di sisi paling kiri.
“Iya Mas,” jawab Senja sambil mulai meluruskan kakinya.
Tak lama kemudian seorang siswa putra datang dan duduk di sebelah kanan Senja, dan begitu seterusnya hingga genap 20 orang. Setelah itu Wahyu meminta siswa yang baru datang untuk mebuat barisan baru di belakang hingga genap 20 orang.
“Yang polos tinggal ini?” tanya Wahyu.
“Iya Mas…”
“Oke, kalian istrirahat dulu, sambil nunggu saudara-saudaranya yang masih lari.”
“Dan ingat, kakinya diluruskan, jangan sampai ditekuk.”
“Baik Mas…”
Dapat mereka lihat di tengah lapangan para siswa dengan sabuk kecil berwarna putih sedang push up bersama seorang yang melilitkan kain putih di pinggangnya. Orang itu adalah Arga. Sama dengan Wahyu yang juga melilitkan selembar kain putih yang panjang sebagai tanda bahwa mereka adalah warga pencak silat dengan jargon persaudaraan yang sudah menyelesaikan serangkaian tes dan berhasil disahkan.
Arga bersama siswa putih nampak melakukan serangkaian gerakan push up dilanjut sit up, back up, dan scot jump secara beruntun tanpa jeda.
Setelah kurang lebih 15 menit, Arga nampak berdiri bersama seluruh siswa putih.
“Adik-adik yang polos bisa gabung ke tengah!” teriak Arga dari tengah lapangan.
Siswa polos yang semula diistirahatkan segera bangkit dan berjalan menuju tempat Arga berada.
“Silahkan membentuk dua barisan memanjang di belakang siswa putih," lanjut Arga kemudian.
Tak berselang lama barisan pun terbentuk.
“Atur nafas kalian. Yang sakit segera bilang."
__ADS_1
Arga mengelilingi adik-adik siswanya. Dibelakang barisan panjang itu Arga berhenti dan menatap punggung gadis yang pernah dipeluknya itu. Senja kuat ya.
TBC