
Hari ini Senja pergi ke pertemuan wali murid di sekolah Sky dan Sora untuk membahas acara rekreasi sebelum memasuki libur semester dua.
Semenjak kejadian di parents day dulu, Senja lebih disegani oleh wali murid lainnya. Banyak yang baik dengannya, tentu mereka punya banyak tujuan. Tetap saja Senja lebih nyaman bersama Lenny dan Tari yang memang terlihat tulus menjadi temannya.
Casandra tak pernah menegur Senja sekalipun mereka berpapasan. Casandra tetap angkuh, walau teman-teman gengnya selalu menyapa Senja. Namun Senja tak ambil pusing, ia lebih menyukai Casandra yang seperti itu daripada Casandra dulu yang selalu mengusiknya.
"Sesuai dengan hasil voting yang telah kita laksanakan, kita putuskan untuk rekreasi penutupan semester dua di tempat wisata 'X' ya, mama." Ujar Kepala sekolah sebagai pemimpin rapat.
-Sengaja gak author kasih nama tempatnya, kalo nyebut nama harus ngiklan dulu ke author. haqhaqhaqhaq-
"Untuk pembayaran dan pendaftaran anggota keluarga yang ikut bisa langsung ke kantor tata usaha ya, Mama." Lanjut kepala sekolah.
Seluruh wali murid kompak menjawab Ya, namun ada juga yang hanya mengangguk saja.
"Masih ada yang ingin ditanyakan?" Tanya moderator.
Hanya beberapa yang menjawab tidak, sedangkan yang lainnya sudah sibuk membahas dresscode yang akan dikenakan saat wisata.
Akhirnya moderator menutup acara pertemuan wali murid tersebut tepat di jam pulang.
senja bergegas menuju ke gerbang sekolah untuk menghampiri anak-anaknya.
"Kita jadi rekreasi ke mana, Ma?" Tanya Sky
"Ke tempat wisata yang banyak permainannya, yang Sky dan Sora inginkan itu." Jawab Senja.
"Yey! Bisa ajak Papa dan tante Clara ya Ma." Sora terlihat antusias.
"Iyaa sayang."
"Horeee, kita pergi rame-rame!"
"Ayo masuk, Mama mau nganter makan siang untuk papa."
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil, Senja meminta Agung untuk mengantarnya lebih dulu ke Actmedia untuk mengantarkan makan siang.
Sampai di gedung Actmedia, Senja langsung menuju ke ruang kerja Langit. Namun ia tak mendapati siapapun disana, termasuk sekretarisnya. Ia mencoba menelpon Hengky, mencari tahu dimana suaminya.
"Aku lagi di lantai dua belas ini, Mas." Kata Senja.
Hengky terlihat keluar dari ruangannya dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.
"Nona!" Sapa Hengky, Ia menghampiri Senja dengan Enna menyusul di belakangnya.
"Mas Langit kemana ya, Mas?"
Hengky dan Enna bertatapan, ragu ingin menjawab.
"Pergi dengan Clara?"
Tebakan Senja membuat Hengky dan Enna terkejut.
"Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui dengan mereka?" tanya Senja.
"Tidak ada, Nona." Jawab Hengky.
Kali ini Senja menyadari satu hal, bahwa bukan dia saja saat ini yang menyadari kejanggalan antara suaminya dan Clara. Ia memilih diam, tak mau memaksa Hengky menceritakan apa yang ia ketahui. Bukan ia sedang melakukan hal bodoh, hanya saja ia belum siap terluka dan membuat dampak buruk untuk kandungannya.
Senja masuk ke dalam ruangan Langit, ia meletakkan coolerbagnya diatas meja kerja Langit. Ia kembali keluar dan menghampiri Hengky.
__ADS_1
"Bilang aja kalau aku kesini dan tolong pastikan dia menghabiskan makanannya."
"Baik, Nona."
"Aku balik dulu ya, En." pamit Senja.
"Nja." Enna menahan Senja, ia menatap Senja penuh kekhawatiran.
"Jangan sekarang ya, En." Ucap Senja, Ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Hengky dan Enna.
"Lho, Nja. Mau kemana?" Marko yang baru keluar dari pintu ruangannya melihat Senja.
"Habis nganter makan siang mas Langit." Kata Senja.
"Ada?" Tanya Marko.
Senja menggeleng dan memberikan senyuman datar. Marko yang mengetahui hal itu sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi.
"Aku pulang dulu ya, Mas."
Tak menunggu jawaban Marko, Senja langsung beranjak meninggalkan Marko.
Hengky dan Enna menghampiri Marko.
"Keluar sama adeknya?" Marko memastikan.
Hengky mengangguk.
"Kayanya udah gak semestinya deh Langit terlalu memanjakan Clara. Clara bukan anak kecil lagi." Kata Marko.
"Gue bisa apa? dari kecil Langit udah sayang banget sama Clara. Kalau gue ikut campur masalah Clara bisa kelar masa depan gue, mana Enna lagi hamil." Sanggah Hengky.
"Lo aja coba kasih tahu Langit, Lo kan punya posisi aman disini." Pinta Hengky.
"Nyari waktu yang pas aja ya, kita bicara bertiga." Kata Marko.
Walau ragu, Hengky mengiyakan saran Marko.
***********
Malam ini sudah ketiga kalinya Senja terbangun dari tidurnya untuk buang air kecil. Usai keluar dari kamar mandi, Ia melihat jam di dinding sudah menunjuk ke angka empat. Kali ini Senja sudah naik pitam, ia memutuskan untuk pergi ke kamar Clara menjemput suaminya.
Sampai di depan kamar Clara tak membuatnya langsung mengetuk pintu ataupun membukanya. Ada rasa ragu di dalam hatinya, Senja berharap ketika ia membuka pintu didepannya itu akan sama seperti yang ia harapkan.
Dengan segenap keyakinan dan kesiapan hatinya, akhirnya ia membuka pintu kamar Clara yang tidak terkunci.
Gelap, hanya ada satu lampu tidur kecil disana yang bisa membuatnya dengan jelas mengetahui dimana suaminya berada.
Langit sedang tidur memeluk Clara dibawah selimut yang sama. Seketika itu juga hatinya hancur, namun ia mencoba menenangkan diri sebaik mungkin.
Senja menyalakan lampu kamar Clara lewat saklar lampu yang ada di samping pintu, dan dengan lembut membangunkan suaminya tanpa bicara.
Langit menggeliat dan menguap, "Sudah pagi ya, sayang?"
Langit bertanya tanpa ada rasa bersalah, itu semakin membuat Senja terluka. Ia pergi begitu saja meninggalkan Langit, membuat Langit kebingungan.
Langit bergegas mengejar Senja yang masuk ke kamarnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Langit, Ia semakin terkejut ketika pipi Senja sudah basah karena air mata.
__ADS_1
Langit langsung memeluk istrinya, namun Senja mendorongnya dengan kuat. Ia seakan jijik disentuh oleh Langit.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Langit lagi.
"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih tanya aku kenapa, Mas?" Tanya Senja marah, ia menurunkan intonasi suaranya agar tidak sampai mrmbangunkan anak-anaknya.
"Loh, aku ngelakuin apa?" Langit berfikir Sejenak, matanya melihat jam. "Astaga, Maafin aku sayang. Aku gak tahu bisa ketiduran dikamar Clara sampai jam segini."
"Lalu?"
Langit mengernyit, "Lalu apa? Bukannya aku sudah minta maaf?"
Senja tersenyum sinis mendengar perkataan Langit. "Kamu tidur mendekap wanita lain, apa menurutmu itu wajar, Mas?"
Langit tersenyum, ia mendekati Senja dan memegang kedua pundak Senja. "Hei, kamu sedang cemburu lagi? Wanita mana yang ku dekap selain kamu. Clara hanya gadis kecilku, sayang."
Dengan kasar Senja menyingkirkan tangan Langit dari bahunya, itu membuat Langit terkejut.
"Bagimu dia gadis kecil? Tidak dengan ku mas, dia perempuan dewasa! Usianya sudah dua puluh dua tahun!"
"Nja! Sudahlah, cemburu mu ini sudah berlebihan!" Langit mulai tidak sabar menghadapi Senja. "Bagaimana bisa kamu cemburu pada adikku sendiri?"
"Dia orang lain yang besar bersamamu, bukan adik kandungmu, Mas."
"Jaga mulut kamu, Nja! Dia adikku!" Sentak Langit, membuat Senja terkejut.
"Seharusnya kamu berterimakasih padanya. Dia sudah banyak membantu tugas-tugasmu, merawat anak-anak, bahkan aku. Dia lebih mengerti aku daripada kamu, Nja! Kamu itu banyak berhutang budi padanya! Seharusnya kamu bersikap baik padanya, bukan malah cemburu tidak jelas seperti ini."
Senja sama sekali tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut suaminya sendiri. Hatinya terlalu sakit sampai air mata pun enggan keluar dari singgasananya.
"Aku tidak menyangka kamu bisa menyakitiku seperti ini, mas." Ucap Senja.
Ia pergi Bersam lukanya, Seribu kali Langit memanggil namanya tak akan membuatnya menoleh ke belakang.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Aaah!
Ini part yang bikin Author sakit hati banget sama Langit, pengen ku tampol muka gantengnya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan comenntnya*.