
Senja terbangun sebelum matahari terbit, suasana diluar cendela masih gelap. Ia terkejut ketika melihat Langit sudah tidak ada disampingnya.
Ia mencari ke kamar Sky dan Sora, namun tidak ia dapati suaminya disana.
"Ibuk, Lihat mas Langit?" tanya Senja ketika menghampiri Ibunya di dapur.
"Dia pamit mau jalan-jalan sebentar." jawab Ibu.
Senja mengambil air minum lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
"Buk, maaf ya. Senja keluar sebentar." Ucap Senj setelah keluar dari kamar mandi.
"Kemana, Nak?" tanya Ibu.
"Senja mau memastikan sesuatu." Ucap Senja, kemudian pergi keluar rumah.
Senja melihat mobil Langit masih terparkir rapi di depan rumah, benar jika Langit pergi jalan-jalan.
Senja menyusuri taman depan rumahnya tak ada Langit disana. Ia memutuskan untuk berjalan lebih jauh ke blok belakang.
Benar saja apa yang sedang Senja pikirkan.
Awal memasuki blok E, dari jauh Senja bisa melihat Langit sedang berdiri dari balik pohon yang berjarak beberapa rumah dari rumah Imah.
Lampu jalanan mulai meredup ketika cahaya mentari mulai mengintip dibalik cakrawala. Jalanan di blok E masih sangat sepi, bahkan tukang sayur masih belum lewat.
Senja melangkah mendekati Langit. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat Imah yang mengangkat sebuah ember besar dengan tumpukan baju-baju yang siap untuk di jemur.
Sedangkan di teras rumah terlihat seorang pria bertubuh kurus duduk lemas diatas kursi roda. Jaket tebalnya menjadi penghalang udara dingin menyentuh tubuhnya.
Kehadiran Senja yang mengenakan kaos putih mencuri perhatian Imah, Ia memicing memastikan siapa yang sedang jalan dikejauhan sana. Namun matanya terhenti dibalik pohon, Ia bisa melihat dengan jelas jika itu adalah putranya.
Langit beranjak pergi ketika mengetahui Imah sudah menyadari kehadirannya. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Senja sudah berada beberapa langkah didepannya.
"Langit!! Tunggu Langi!!" Imah berlarian mengejar Langit.
Senja menatap Langit, berharap Langit tetap disana menunggu Ibunya.
"Langit!!" Imah menarik tangan Langit, "Ibu senang kamu mau melihat Ibu, Nak."
Langit hanya diam, pandangan matanya lurus ke depan. Tak ada niatnya untuk menatap wajah Imah.
Senja mendekati Langit dan Imah.
"Mas, kita mampir ke rumah budhe ya. Masih pagi, gak enak kalau tetangga keganggu." ajak Senja.
Imah mengangguk penuh harapan.
Senja tidak menunggu jawaban Langit, ia menggandeng Langit mengikuti langkahnya menuju ke rumah Imah.
Yudho terkejut melihat kehadiran Langit, namun Ia tak bisa bicara maupun bergerak. Hanya air mata keluar membasahi pipinya untuk meluapkan perasaannya sekarang.
lmah mendorong masuk kursi roda Yudho ke dalam ruang tamu dan mempersilahkan Langit dan Senja masuk.
"Masuk, Nak. Masuk." Imah terlihat gembira Langit mau masuk ke dalam rumahnya.
Langit melihat ruang tamu yang kecil dengan lima kursi kayu yang warnanya sudah pudar.
__ADS_1
"Maaf rumah ibuk hanya seperti ini. Kamu mau minum apa nak? Ibu bikinkan?"
Langit diam tak menjawab, Ia duduk di salah satu kursi.
"Tidak perlu repot-repot budhe, eh maaf. Ibuk." Senja meralat panggilannya pada Imah.
Imah tersenyum melihat Senja, kemudian ia duduk di samping Langit. Kali ini ia tak berani menyentuh Langit walau sebenarnya dia sangat ingin melakukannya.
"Mas, aku ke depan dulu ya jemur baju-baju laundryan Ibuk." pamit Senja. Ia tak mau membuat Imah merasa canggung membicarakan masalalunya di depan menantunya.
Langit hanya mengangguk.
"Ibu selalu mengira Sky sangat mirip denganmu ketika masih kecil, dan ternyata dia memang putramu." Imah membuka pembicaraan.
Langit diam tak bergeming, matanya menatap Senja yang sedang menjemur baju di halaman depan Imah.
"Ibu ingin sekali meminta maaf padamu. Tapi Ibu merasa tak pantas mendapatkan maaf darimu. Luka yang telah kami berikan padamu terlalu besar."
"Baguslah jika anda menyadari hal itu."
Imah sedih mendengar ucapan yang keluar dari mulut putranya tersebut. Air matanya mulai menetes.
"Tolong, maafkan Ibu Nak. Ibu tahu jika Ibu sudah sangat kejam padamu. Tolong, Maafkan kami. Jika Ibu sudah tak berumur lagi dan tak bisa bertemu denganmu, Ibu bisa pergi dengan tenang." pinta Imah diantara isak tangisnya.
Langit mendengus kesal, "Setelah keadaan anda seperti ini barulah anda sadar seberapa kejam anda padaku? Apakah harta dan kekayaan sangat membutakan mata anda!?"
"Ya, Nak. Harta dan kekayaan memang sudah membutakan mata dan pikiran Ibu. Tapi Tuhan sudah mengambil semuanya, dan Tuhan sudah menyadarkan Ibu betapa lebih berartinya keluarga dibandingkan harta."
Langit diam tak bergeming.
"Maafkan ibu sudah pernah berniat membunuh dan membuangmu. Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidup Ibu. Maafkan Ibu, Nak."
"Ibu rela bersimpuh dikakimu untuk mendapatkan maaf dari mu, nak."
"Jangan membuatku menjadi anak durhaka." sentak Langit.
"Ibulah yang sudah durhaka padamu, nak."
Imah berdiri dan hendak berlutut, namun Langit menahannya lalu memeluk Imah.
Tangis Imah pecah seketika, Ia memeluk tubuh putranya yang sejak ia melahirkannya belum pernah ia gendong ataupun dipeluknya.
Langit memeluk tubuh Ibunya, sangat perih hatinya merasakan hanya sedikit daging yang membungkus tulang ibunya. Apa seberat ini beban yang ia tanggung selama ini?
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu." Pinta Imah
Langit mengangguk, "Langit sudah maafkan Ibu." Jawab Langit dengan terisak.
Ia melepaskan pelukannya dan menatap Ibunya. Tak ada make up tebal disana, wajahnya kusam dengan banyak kerutan. Ia menyentuh pipi Imah dan mengusap air matanya.
"Maafkan Langit, Langit gak tahu Ibu menjalani hari begitu berat seperti ini."
Imah mengusap air mata Langit. "Ini harga yang ibu terima akibat ketamakan Ibu. Terimakasih kamu sudah bisa memaafkan Ibu."
Imah menatap suaminya yang juga terisak diatas kursi roda. Tangan kirinya mencoba menggapai Langit, karena tangan kanannya tak bisa ia gerakkan.
Langit menghampiri Yudho, duduk berjongkok didepan Yudho dan meraih tangan Yudho.
__ADS_1
Mulut Yudho bergerak mencoba bicara, Langit bisa mengartikan jika Yudho juga meminta maaf padanya.
Langit mengangguk, "Aku juga sudah memaafkan, Om." Ucap Langit.
Tangis Yudho semakin pecah, tangannya kirinya yang gemetar memegang pipi Langit.
Langit berdiri, melihat Senja di halaman depan sedang melihat keadaan di dalam rumah dengan penuh haru. Ia tersenyum dan memanggil Senja dengan anggukan kepalanya.
Langit langsung merangkul bahu Senja, menyandarkannya di bahunya. "Terimakasih ya, sayang." ia mengecup kening Senja.
"Ibu sangat bersyukur Senja menjadi istrimu, Nak. Dia wanita yang sangat baik." Imah mengusap pipi Senja.
"Terimakasih buk." ucap Senja.
"Duduklah, Nak. Ibu akan siapkan sarapan untuk kalian." pinta Imah.
"Bu, tidak perlu. Sebaiknya ibu dan Om Yudho berkemas saja. Ikut Langit ke Jakarta. Langit akan merawat kalian." Ucap Langit.
Ibu terdiam, Ia memegang kedua tangan Langit. "Ibu tahu kamu akan mengatakannya. Dulu Ayahmu juga berkata persis seperti ini."
Langit terkejut, benar apa yang diceritakan Senja semalam.
"Biarkan Ibu seperti ini, nak. Ibu lebih senang dengan kehidupan Ibu yang seperti ini."
"Bagaimana bisa Langit makan enak, hidup enak sedangkan Ibu menjalani hidup seperti ini? Biarkan Langit merawat Ibu dan Om Yudho." Langit masih memaksa.
"Benar, buk. Sudah septutnya kami sebagai anak merawat orang tuanya." tambah Senja.
Imah menggeleng, "Selama ibu masih kuat, tolong biarkan Ibu tetap bekerja seperti ini. Dengan begini Ibu merasa lebih hidup dan lebih berarti."
Langit melihat Ibunya benar-benar tak mau meninggalkan rumah itu. "Langit akan biarkan Ibu dan Om Yudho tetap tinggal dan bekerja disini. Tapi Langit ingin Ibu mengikuti kemauan Langit."
"Apa itu, nak?"
"Biarkan Langit yang membiayai semua kebutuha. Ibu dan Om Yudho. Langit akan mengirim beberapa orang untuk membantu Ibu dan Om Yudho disini."
"Nak..."
"Ibu bisa tetap bekerja, hanya saja akan dibantu beberapa orang." Sela Langit.
"Ibu cuma punya satu kamar nak, mau tidur dimana orang yang bantu-bantu ibuk? Sudahlah, biarkan Ibu seperti ini."
"Langit akan renovasi rumah ini." Kata Langit.
"Iya, Buk. Benar apa kata mas Langit. Selama ini Ibu sudah bekerja terlalu keras. Ibu juga harus memikirkan kesehatan Ibu." Ucap Senja.
Imah menatap Yudho dan Yudho menganggukkan kepala menyuruh Imah untuk menyetujui keinginan Senja.
"Ya sudah, Ibu Setuju."
Langit dan Senja tersenyum lega mendengar jawaban Imah.
-Bersambung-
***Author tunggu like dan komentar readers ya. Baca komentar kalian itu nyenengin banget, bikin senyum-senyum sendiri.
Terimakasih untuk yang sudah vote author. Dan bagi yang belum vote, Author seneng banget kalau mau kasih author vote.
__ADS_1
Jika kalian suka novel ini, bantu Author untuk promosiin Novel ini ya.
Love love dari Author***