
Sore ini Senja sedang melakukan pemeriksaan terakhir sebelum ia pulang. Enna masih setia menemani Senja, ditambah lagi Zia juga turut hadir.
"Semuanya sudah normal, Nja." Ucap Aira, Ia membantu Senja untuk duduk.
Senja tersenyum lega, "Makasih ya, Ra."
"Mulai sekarang hati-hati, ya." kata Aira
Senja mengangguk.
Dibantu Enna dan Zia, Senja berdiri.
"Apa perlu kursi roda?" tanya Aira
Senja menggeleng, "Tidak usah, aku sudah merasa sehat."
Aira mengantar kepergian Senja hingga ke mobil.
"Makasih banyak ya, Ra." Ucap Senja dari dalam mobil.
"Iya, hati-hati."
Mobil yang ditumpangi Senja pun akhirnya beranjak pergi.
Jarak Rumah sakit ke rumah Langit tak terlalu jauh. Jalanan juga tak terlalu padat sehingga Senja sampai dirumah lebih cepat.
Terlihat Sky dan Kartika sedang bermain di teras rumah.
"Mama sudah pulang?" Sky memeluk Senja.
"Iya, sayang. Kok main sendiri, Sora mana?" Tanya Senja.
"Sora main air di kolam renang sama tante Amel." Jawab Sky.
"Ya, sudah. Mama masuk dulu ya, Sky lanjutin main." Kata Senja.
"Iya, Ma."
Senja mengajak Enna dan Zia masuk, "Kalian duduk dulu, aku Mint bikinin minum ke dapur sama lihat Sora dulu."
"Oke" Sahut Enna.
Senja beranjak pergi ke dapur menemui Ella atau siapapun yang bisa dimintai tolong untuk membuatkan minuman.
Langkahnya terhenti ketika melihat ke arah kolam renang. Sora tidak bersama Amel, melainkan Clara.Senja bergegas menghampiri Sora dan Clara.
"SORA!!"
Teriakan Senja menggema ketika melihat Clara mendorong Sora ke bagian terdalam dari kolam renang.
Byur!
Senja langsung masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Sora.
Teriakan Senja membuat penghuni rumah berdatangan ke kolam renang.
"Nona!" Ella terkejut melihat Senja sedang ada didalam air.
Dengan hati-hati Senja membawa Sora ke tepi kolam, Senja merebahkan tubuh Sora di tepi kolam.
"Mama!!" Teriak Sora histeris dan langsung memeluk mamanya. "Soraaa takuttt"
"Cup cup sayang, Mama sudah disini." Senja memeluk erat Sora yang menangis.
"Sora kenapa, Ma?" tanya Sky yang baru datang.
__ADS_1
"Temenin Sora dulu ya Sky." Senja melihat Ella, "Tolong bawa anak-anak ke kamar ya, Bu." pinta Senja.
Ella mencoba membawa Sora namun pelukan Sora tak mau dilepas. "Sora mau sama mama." Rengek Sora.
"Iya sayang, habis ini mama nyusul. Sora pergi sama bu Ella dulu ya." kata Senja.
Sora melepaskan pelukannya dan pergi ke pelukan Ella. Ella menyuruh asisten yang lain untuk kembali bekerja, sedangkan Kartika dan Amel membuntutinya.
"Kamu gak apa, Nja?"
Enna dan Zia khawatir.
"Gak apa kok." Senja berdiri, Ia beranjak menghampiri Clara.
PLAK.
Tamparan keras mendarat di pipi Clara.
"SENJA!"
Senja mendengar suara keras yang memanggil namanya, itu Suaminya. Langit menghampiri Senja dengan wajah yang marah. Senja sudah bisa menduga Langit tak terima Senja memperlakukan adiknya seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan!?" Bentak Langit.
"Apa aku harus mengulanginya agar kamu bisa melihatnya, Mas?"
"Coba lakukan dan akan ku patahkan tanganmu."
Lagi-lagi Senja harus mendengar kata-kata dari Langit yang sangat menyakitinya.
"Sebelum kamu mematahkan tanganku, aku akan membunuhnya terlebih dahulu!"
"Apa kau sudah gila? Kau sadar apa yang sudah kau bicarakan?" Tanya Langit.
"Ya! Aku sudah gila! Bagaimana aku tidak gila setiap hari melihat kelakukan mu seperti ini! Bagaimana aku tidak gila melihat dia mencoba membunuh anakku!!!" Teriak Senja penuh dengan amarah.
"Kenapa kak Senja berkata seperti itu padaku? Aku hanya ingin menolong Sora tadi." Ucap Sora.
"Berhenti bicara atau ku robek mulutmu!"
"Nja!!" Teriak Langit tak menyukai kalimat Senja.
Senja menatap Langit dalam, "Ternyata aku salah sudah mengambil keputusan. Seharusnya aku tidak pernah kembali padamu, Mas."
Senja beranjak pergi sebelum Langit melihat air matanya menetes.
"Nja!!" Langit berusaha mengejar Senja hingga ke dalam kamar.
Ia melihat Senja sudah mengeluarkan koper miliknya dan mengemasi baju-bajunya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Langit
Senja tak menjawab dan hanya terus memasukkan asal baju-bajunya ke dalam koper.
"Nja!" Dengan kesal Langit melempar koper Senja
"Apa kau akan meninggalkanku lagi?" Tanya Langit.
"Ya! Hanya dengan begitu kami bisa hidup dengan tenang."
"Kami? Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Langit, "Kau tidak memikirkan perasaanku?"
"Sampai kapan aku harus selalu mengerti kamu mas? dan sampai kapan aku harus kamu sakiti di setiap langkah, setiap detik yang kau habiskan dengan Clara? Tidak sadarkah kamu selama ini sudah menyakitiku, mas?"
Air mata Senja sudah membanjiri pipinya, ia tak malu lagi jika terlihat lemah. Karena memang saat ini hatinya sudah hancur.
__ADS_1
Langit pun merasa sakit melihat Senja menangis karenanya. Ia memeluk tubuh Senja untuk menenangkan istrinya itu.
"Maafkan aku, sayang."
Senja mendorong tubuh Langit, "Aku sudah bosan mendengar kata maaf dari mu, Mas!"
"Nja, Aku benar-benar minta maaf."
"Biarkan aku dan anak-anak pergi, mas." Pinta Senja.
Langit terkejut dengan permintaan Senja, "Enggak! Aku gak akan melakukannya!" Tolak Langit.
"Kamu sudah gagal memenuhi janjimu mas, untuk apa aku dan anak-anak tetap disini? Demi apapun itu, aku rela orang lain menyakitiku. Tapi tidak dengan anak-anakku. Sampai matipun aku akan melindungi mereka."
"Aku sudah menyelidikinya, Nja. Tidak ada disini yang akan menyakiti kalian."
Senja mendengus kesal, "Apa kau percaya padaku jika Clara yang mencoba menyakiti anak dalam perutku dan Clara juga yang sudah mendorong Sora ke kolam renang?"
Langit terkejut mendengar kalimat Senja, "Itu tidak masuk akal, Aku mengenal Clara dengan baik. Dia bukan orang seperti itu." Kata Langit.
"Mungkin aku lah yang tidak mengenalmu dengan baik, Mas." Kata Senja, Ia mengambil baju-bajunya yang berserakan dan memasukkannya lagi ke dalam koper.
"Nja!" Langit menarik tangan Senja, namun Senja lekas menampiknya.
"Apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu tetap disini?" tanya Langit.
"Aku tidak mau Clara ada di rumah ini." Jawab Senja.
"Tidak mungkin aku melakukan itu pada adikku sendiri, Nja."
"Kalau begitu biarkan aku yang pergi." Tegas Senja.
"Nja! Kamu memberi pilihan yang berat untukku."
Senja menatap Langit, "Kalau kamu merasa sulit memilih, biarkan aku yang memilih."
Senja berdiri dan beranjak pergi.
"Nja!" Langit berdiri menghalangi pintu ruang ganti. "Jangan pisahkan aku dengan anak-anakku lagi, Nja."
"Aku sedang menunggu keputusanmu, Mas."
Langit menghela nafas panjang, "Ya, Aku turuti kemauanmu. Aku akan menitipkan Clara dirumah Marko."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, COMENT, VOTE DAN BINTANG LIMANYA.