SENJA

SENJA
132


__ADS_3

Zia terdiam mendengar kalimat yang baru saja Marko ucapkan. Ia mengira sedang salah dengar, tapi ia juga yakin dengan apa yang ia dengar. Kalaupun memang benar, kalimat itu sungguh tidak masuk akal.


Zia melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Marko kemudian pergi mengambil obat flu yang tadi diminum Marko.


"Kenapa lo malah kesitu, Zi? Lo gak jawab lamaran gue?" tanya Marko


"Saya kira obat ini sudah kadaluarsa, tuan." Zia mengabaikan pertanyaan Marko.


"Hah! yang bener lo?" Marko menghampiri Zia dan mengambil bungkus obat dari tangan Zia. "Gak ah, Zi! masih tahun depan nih. Lo jangan ngalihin pembicaraan donk."


"Saya hanya takut anda minum obat yang salah, tuan." Kata Zia.


"Lo gak anggep serius lamaran gue?" Marko menatap Zia serius.


Zia mengangguk ragu.


"Gue udah suka lo sejak kita nolongin Senja dari si brengsek Rico itu. Awalnya gue cuma salut dengan kemampuan lo yang bisa ngalahin beberapa pria sekaligus. Tapi lama-lama gue gak bisa nyingkirin lo dari otak gue. Dan semalem gue udah fix dengan perasaan gue ke elo. Gue emang suka elo, butuh elo dan yang pasti gue gak bisa jauh dari lo, Zi."


Zia menampar dirinya sendiri dan ia merasakan sakit dipipinya. "Nyata." gumamnya.


"Ya emang Nyata, Zi. Gue beneran pengen lo jadi istri gue." Ucap Marko.


"Maaf, tuan. Saya akan menganggap anda tidak pernah mengatakannya." Zia beranjak pergi.


"Zi!" Marko mengejar Zia dan berdiri didepan pintu untuk menghalangi Zia. "Lo gak bisa keluar dari sini tanpa jawab lamaran gue."


Zia menghembuskan nafas panjang.


"Gue serius Zi, pengen habisin sisa hidup gue berdua sama lo."


"Saya gak bisa, tuan." jawab Zia tanpa basa basi


"Kenapa?" tanya Marko.


"Karena anda tuan Marko dan saya Zia."


Marko bingung dengan jawaban Zia.


"Saya hanya gadis desa anak seorang petani yang tidak berpendidikan tinggi, saya hanya pengawal anda tuan. Bagaimana mungkin seorang seperti anda menikahi orang seperti saya ini."


"Lo juga punya perasaan ke gue, Zi. Iya kan? " Marko sedang memastikan perasaan Zia.


Marko bisa dengan jelas melihat keraguan di sorot mata Zia yang tegas.


"Oke! Gue anggap lo belum jawab pertanyaan gue. Gue minta lo pikirin ini baik-baik. Satu hal yang pasti, gue serius mau nikahin lo." Marko membuka pintu kamarnya mempersilahkan Zia keluar.


Zia yang tadinya ingin segera meninggalkan kamar Marko, kini langkahnya goyah.


"Udah betah disini? gak mau keluar?" Tanya Marko


Zia menatap Marko serius, "Jika anda memang serius dengan perkataan anda, datanglah ke Bapak saya tuan. Mintalah saya pada beliau. Apapun jawaban dari bapak saya, itu juga yang akan saya jawab untuk anda."


Zia meninggalkan Marko begitu saja, karena waktu yang akan menjawab seberapa serius perasaan Marko padanya.


***********


"Trus, Marko ngedatengin bapak kamu Zi?" Tanya Senja yang penasaran dengan cerita Zia yang tiba-tiba terhenti.


Semua barang seserahan sudah terkemas rapi, Ella dibantu beberapa asisten memindahkannya ke dalam mobil yang akan membawa Zia malam nanti pulang ke Solo.


"Sebenarnya waktu itu saya ikut mengawal pak Langit ke Hongkong, Nona. Tiba-tiba saja waktu sudah sampai Jakarta Bapak saya telpon kalau ketemu cowok yang cocok jadi mantunya. Saya disuruh ijin pulang ke solo, mau ditemuin sama cowoknya. Waktu sudah sampai Solo ternyata cowoknya tuan Marko."


"Kamu kaget, Zi?" Tanya Senja.


Zia mengangguk, "Ternyata tuan Marko dan Johan sudah di rumah saya lima hari." Zia tertawa kecil.


"Trus, kenapa kamu gak langsung nikah waktu itu Zi?"


"Walau bapak dan ibuk saya sudah setuju, tetap saja perasaan saya masih ragu. Jadi saya meminta tuan Marko untuk saling mengenal dulu sambil saya memastikan perasaan saya, Nona."


"Lima taun kamu nggantungin perasaan tuan Marko, Zi?" Kartika keheranan.


Zia hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tapi aku senang kamu dan Marko bisa bersatu. Kalau di lihat-lihat emang dia butuh sosok yang ngemong kaya kamu gitu Zi." Kata Senja sambil membayangkan sosok Marko yang lebih banyak bercandanya daripada seriusnya.


"Kami hanya sedang berusaha saling melengkapi saja, Nona. Karena hubungan ini tidak akan berjalan lama jika kami terlalu egois dengan keinginan-keinginan pribadi." jawab Zia.


Senja dan Kartika memberikan senyum menggoda.


"Zia makin dewasa aja ya, Tik?" Goda Senja.


"Benar, Nona. Sepertinya memang sudah waktunya dia menikah." Sahut Kartika.


"Tidak begitu, Nona." Zia masih terlalu malu malu. "Sebaiknya kita segera menjemput tuan dan nona muda saja, Nona."


"Ah, iya. Sampai lupa belum masak makan siang buat mereka!" Senja berdiri dan berlari ke dapur.


Ia sudah melihat coolerbag untuk Langit sudah ada di atas meja saji.


"Saya sudah siapkan makan siang untuk tuan, Nona." Ella sudah menjawab pertanyaan Senja yang belum diutarakan.


"Bu Ella, makasih banyak ya bu. Karena keasyikan dengar cerita Zia sampai lupa kewajiban." Senja memgambil coolerbagnya. "Saya langsung berangkat jemput anak-anak ya, Bu." pamit Senja.


"Baik, Nona. Hati-hati di jalan."


Senja beranjak keluar rumah, Zia dan Kartika sudah ada di teras depan.


"Zi, kamu dirumah aja. Nanti malam kamu kan melakukan perjalanan jauh. Biar Kartika aja yang ikut sama aku." kata Senja.


"Terimakasih pengertiannya, Nona." Ucap Zia.


Zia tersenyum, lalu mengajak Kartika masuk ke dalam mobil.


Ia sengaja menjemput Sky dan Sora lebih lambat, karena ia tak mau jika harus bertemu Casandra dan gengnya terlalu lama.


Sesuai dugaan, Casandra dan gengnya sudah asyik tertawa ria di ruang tunggu. Senja memutuskan untuk menunggu Sky dan Sora di dalam mobil saja.


"Biar saya saja yang menunggu di luar, Nona." kata Kartika.


"Gak usah, Tik. Nanti kalau bel pulang udah bunyi aja kita ke depan." Kata Senja.


Tak terlalu lama Senja dan Kartika menunggu, bel pulang berdering. Mereka turun dan menunggu didepan gerbang sekolah.


Senja terkejut melihat Sky sudah ada dibarisan depan sedangkan Sora masih dibarisan tengah.


"Kok gak sama dengan Sora?" Tanya Senja.


"Yang paling rapi dan diam boleh keluar duluan, Sora gak bisa diam, Ma." Jawab Sky.


Senja tersenyum dan mereka menunggu Sora keluar. Namun Sora keluar dengan diantar seorang guru.


"Kenapa ya, Bu?" Tanya Senja khawatir.


"Gak kenapa-kenapa Mama, Cuma saya mau sampaikan kegiatan wali murid." Jawab Bu. Guru.


"Kegiatan apa ya bu?" Tanya Senja.


"Kebetulan Jum'at besok ada kegiatan Parents Day. Semacam pertemuan untuk seluruh wali murid, ada parentingnya dan acara makan-makan juga Mama. Ramah tamah para orang tua dan guru-guru untuk selalu menjaga kekompakan. Tapi mohon jika tidak ada kesibukan Papa dan Mama bisa hadir."


"Iya, Jeng. Acaranya asyik kok. Ikutan ya, ajak Papanya Sky juga." Casandra tiba-tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan.


"Kalau hari jum'at kebetulan papanya anak-anak kerja bu, jadi kemungkinan nanti yang datang saya sendiri." Senja menjelaskan.


"Tidak apa-apa, Mama. Yang penting sudah ada yang mewakilkan." Ucap Bu Guru. "Kalau gitu saya tinggal ya, Mama. Sky dan Sora hati-hati di jalan."


"Iya, Bu guru." Jawab Sky dan Sora.


Bu guru beranjak pergi, Senja juga hendak beranjak pergi. Namun Casandra dan beberapa temannya menahan Senja.


"Jeng, Kamu belum masuk grub wali murid ya?" Tanya Melly


"Iya belum, kalau mau masuk grub gimana? Gak enak kalau ketinggalan informasi." Jawab Senja.


"Jeng Lenny, Sini Jeng." Casandra memanggil seorang wanita yang tak asing buat Senja. Itu wali murid yang sempat beberapa kali berbincang dengannya.


"Jeng Lenny, ini ada wali murid baru. Mbak kan ketua paguyupan, masukin grub wali murid ya." Kata Casandra.

__ADS_1


"Oh, Iya. Aku tuh tiap mau minta nomer kamu lupa-lupa terus, mbak." Lenny menepuk lembut lengan Senja.


Senja tersenyum dan memberikan nomernya pada Lenny. Lenny mengeluarkan ponselnya dan memasukkan nomer Senja didalam ponselnya.


"Sudah, kemarin juga ada pembentukan panitia yang akan bantu-bantu guru mempersiapkan kegiatan parents Day. Jangan lupa datang ya, biar makin kenal sama yang lainnya." Jelas Lenny


"Iya, Mbak. Makasih lo ya." Kata Senja


"Eh Jeng Lenny, Jeng Senja masukin aja ke dalam panitia. Biar banyak yang kenal dia." Tambah Casandra.


"Tapi panitianya sudah cukup, Jeng. Lagian Mbak Senja ini masih baru juga. Belum terlalu paham seperti kita-kita yang udah dua tahun lebih disini Jeng." Tolak Lenny.


"Udah, Masukin aja Jeng Lenny."


Cansandra menatap penuh ancaman, membuat Lenny mau tidak mau menganggukkan kepalanya.


"Udah, yuk. Pulang." Casandra dan teman-temannya meninggalkan Senja dan Lenny.


"Tik, minta tolong ajak Sky dan Sora ke dalam mobil dulu, ya." Pinta Senja.


"Baik Nona." Kartika mengajak Sky dan Sora pergi


"Mbak Senja, Maaf ya kamu harus masuk ke dalam panitia acara." Ucap Lenny.


"Memangnya kenapa mbak? Saya senang kok kalau bisa bantu-bantu." Kata Senja.


"Lho, kamu masukin mbak Senja ini di dalam panita mbak Len?" Seorang wanita bernama Tari datang.


"Hai, Mbak?" Sapa Senja.


Tari tersenyum, "Hai mbak."


"Jeng Sandra itu yang maksa." Lenny menjawab pertanyaan Tari


"Jadi panitia itu kaga Kita jadi pelayan loh, mbak. Bantu guru-guru sana sini. Sengaja deh Casandra gitu ke kamu." Tari menjelaskan.


Senja hanya menghela nafas, "Biarin lah mbak. Suka suka dia saja. Toh kita bantu-bantu guru juga, kasian."


"Beneran kamu gak apa, Mbak?" Lenny memastikan.


"Iya, emangnya kenapa sih?" Senja masih Terheran-heran.


" Ya enggak apa-apa sih, cuma takutnya nanti kamu merasa terendahkan mbak." Tari khawatir.


Senja tersenyum, "Gak kok. Saya sudah biasa diginikan. Gak kaget."


Lenny dan Tari lega.


"Nanti kita lanjut ngobrol lewar chat ya. Anakku udah di panggil."


Tari dan Lenny berlari ke gerbang.


"Iya, aku pulang dulu ya mbak." Senja melambaikan tangan beranjak masuk ke dalam mobil.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2