
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak ya dear, buat amunisi author sebelum ngehalu.^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Ayah," Senja menghampiri ayahnya yang sedang nonton tv seorang diri.
"Ada apa?"
"Nggak apa-apa." Senja kemudian duduk di samping ayahnya yang selonjoran.
"Nggak belajar?"
"Udah selesai Yah..."
"Ada masalah di sekolah?"
Senja menggeleng. "Yah..." Senja tiba-tiba teringat sesuatu.
"Hmm..., Pak Umar tiba-tiba baik lo sama Aya."
Ayah mengernyit. "Lha emang sebelumnya gimana?"
"Ih Ayah, kayaknya Aya pernah cerita deh."
"Cerita apa sih..." ibu datang dan bergabung bersama keduanya.
"Pak Umar Bu, sekarang nggak galak lagi sama Aya."
"Mungkin Aya sekarang makin baik, makin pinter, makanya pak guru juga jadi seneng."
"Ihh...," Senja cemberut karena respon keduanya tak seperti yang ia harapkan. Seharusnya ayah sama ibu nanya gimana, kok bisa, apa gimana gitu.
"Gimana sekolahnya Ay?" tanya ibu.
"Nggak ada masalah." Ditengah kekesalannya, Senja tiba-tiba teringat sesuatu yang selama ini ingin dibicarakan dengan kedua orang tuanya. "Yah, Bu, mas Anton sama mas Atma suka silat juga ya."
Ayah dan ibu serempak mengangguk dengan menatap putri bungsunya.
"Aya boleh ikut juga nggak?"
"Ya ampun Ay, kamu tu cewek lo, masak iya pengen ikut-ikutan masnya yang cowok."
"Ayah juga kurang setuju sepertinya."
"Yahh..., padahal di sekolah ada lo eskulnya."
"Iya kah, kok aku baru tahu." Atma yang muncul bersama Arti langsung nimbrung dalam obrolan adik dan kedua orang tuanya.
"Iya Mas, baru setahun berdiri," jelas Senja dengan penuh semangat.
"Banyak yang ikut?"
"Kurang tahu Mas."
Atma mulai menatap adiknya dengan curiga. "Loh, kok kamu bisa pengen ikut kalau nggak tahu gimana sikon organisasinya? Atau jangan-jangan..."
"Mas," Arti tiba-tiba menyela ucapan suaminya.
"Kemaren Saya sempat nanya-nanya, aku pernah ikut silat nggak, soalnya dia suka tertarik kalau Mas sama Mas Anton lagi sparing."
Senja mampu bernafas lega. Arti lagi-lagi menyelamatkannya dari kecurigaan Atma. Dia mengangguk untuk mengamini keterangan Arti.
__ADS_1
"Makanya itu Mas, kebetulan di sekolah kan ada ekstranya jadi Senja pengen ikut."
"Buat apa sih Ay, kamu kan cewek."
"Emang kalau Mas Atma belajar silat buat apa?" tak ingin langsung mendebat, kini Senja balik bertanya pada kakaknya.
"Ya, yang jelas untuk bela diri, karena Mas laki-laki."
"Kalau kamu kan perempuan, buat apa?"
"Aku ingin berprestasi Mas."
"Apa hubungannya prestasi sama pencak silat." Atma mencibir ungkapan adiknya.
"Udah, udah. Ay, kita nggak setuju. Silat itu bahaya buat anak perempuan, jadi nggak usah ikut ya."
Keceriaan Senja mendadak sirna. Kenapa selalu seperti ini. Aku hanya boleh melakukan tanpa boleh memilih. Senja nampak menghela nafas. Lagi-lagi ia harus kecewa.
"Kenapa nggak bisa. Aya tuh juga pengen punya prestasi sendiri, nggak cuma prestasi yang diturunkan dari mas Anton dan mas Atma."
"Bukan gitu Nak, tapi silat itu latihan fisiknya nggak main-main Lo." Ibu mencoba menasehati Senja.
"Kecuali kamu pengen main-main saat latihan," cibir Atma. Saat Atma hendak kembali berucap, gerakan tangan Ayah langsung membuatnya diam.
"Coba kamu bilang sama Ayah, apa yang bikin kamu tertarik sama pencak silat?" tanya Ayah dengan sabar.
Senja menghela nafas untuk mengumpulkan keyakinan dan keberaniannya untuk berbicara. Dia merasa perlu untuk memperjuangkan keinginannya. "Aya pernah secara nggak sengaja masuk ke ruang ekskul pencak silat. Di sana ada dua buah piala yang diperoleh dari dua turnamen yang berbeda. Saat aku tanya pertandingannya kayak apa, katanya ada dua jenis yaitu laga dan seni. Katanya lagi persaingan di kelas putri masih longgar karena tak banyak remaja putri yang tertarik menekuni olahraga ini. Makanya Yah, Bu, Mbak, Mas, Cahaya tertarik pengen ikut. Tolong izinkan ya." Senja menghela nafas lega, karena setidaknya ia sudah berani mengungkapkan kemauannya.
Ayah nampak berfikir dengan serius. Jika ayah sudah memasang raut wajah seperti ini, tak akan ada yang berani menyela apa lagi tiba-tiba berbicara.
"Sekolah kamu?"
"Kalau sampai turun nilainya?"
"Cahaya akan berhenti latihan."
"Kamu bisa pegang janji?" tanya Ayah lagi.
Senja mengangguk mantab. "Insyaallah Yah."
Ayah diam dengan dahi berkerut. "Ayah izinkan."
Senyum ceria terbit di wajah Senja. "Beneran Yah..." Senja masih tak percaya dengan apa yang baru ia dengarkan. Bukan hanya Senja, semua yang ada di sana terkejut dengan keputusan ayah yang tak biasa.
"Tapi Yah..." ibu masih belum bisa menerima keputusan suaminya.
"Bu, biar Cahaya coba. Jika dia tak mampu, dia bisa mundur kapan saja."
"Tapi..."
Ayah meletakkan sebelah tangannya di pundak ibu yang membuat ucapannya terhenti sebelum selesai.
"Makasih Ayah." Senja langsung memeluk ayahnya. Setelah puas, ia ganti memeluk ibunya. "Ibu percaya ya sama Aya."
Atma masih ingin protes namun Arti mencegahnya.
"Mas, awasi saja Aya tapi jangan terlalu keras sama dia."
Meskipun berat, Atma coba untuk mengukuti ucapan istrinya.
Akhirnya mereka kembali menikmati acara televisi sambil bercengkrama hingga malam merengkuh raga untuk mengistirahatkan jiwa.
__ADS_1
***
Sabtu pagi yang mendung.
"Ay udah bawa payung?" tanya ibu saat Senja sedang bersiap pergi ke sekolah.
"Udah Bu, nih." Senja menunjukkan payung lipat yang ia simpan di kantong samping tas punggungnya.
"Ay, bareng Mas aja." Atma muncul dari dalam rumah sambil membenahi kemejanya.
"Beneran Mas. Alhamdulillah...." Senja menerima tawaran Atma dengan senang hati.
"Tapi Mas sarapan dulu ya..."
"Oke Mas...".Senja yang sudah siap pun menunggu Atma di teras.
"Kamu yakin Nak mau ikut silat?" tanya ibu yang masih kepikiran dengan keputusan ayah tadi malam.
"Yakin Bu. Ibu tenang aja ya."
"Masmu dulu pernah panas, terus nggak susah jalan, pernah lebam juga..." Ibu mengutarakan kecemasannya pada Senja.
"Terus masih lanjut latihannya?" tanya Senja.
"Iya lah, namanya juga anak laki-laki."
"Ibu ridhoi Aya ya?"
"Kamu yang hati-hati."
"Pasti dong." Senja kemudian menghambur ke pelukan Ibu.
"Yuk berangkat." Atma muncul dengan perlengkapan lengkap termasuk jaket dan helm yang di tentengnya.
Setelah berpamitan, Senja berangkat bersama Atma.
Selama di perjalanan, sesekali mereka berbincang. Tak ada bentakan atau omelan seperti biasanya, karena Senja yang kini sudah berbeda dengan yang sebelumnya. Senja kini adalah Senja yang mandiri dan Senja yang selalu berusaha melakukan banyak hal sendiri.
Setelah menempuh 20 menit perjalanan, akhirnya Atma dan Senja tiba di sekolah.
"Loh loh, kok masuk Mas?"
Atma terus berjalan dan menurunkan Senja di parkiran depan.
"Aku ada perlu sama Pak Bayu." Atma menjawab setelah menurunkan standar dan melepas helmnya.
"Ohh. Ya udah, Aya masuk dulu." Senja meraih tangan Atma dan mencimnya.
"Ati-ati, belajar yang bener."
Senja berjalan meninggalkan Atma untuk menuju kelasnya.
Saat itu Sita yang sedang berjalan bersama Arga, Rivan dan Wahyu, ia tak sengaja melihat Senja yang baru saja berpamitan dengan seorang pria. "Eh itu Senja. Aku panggil ya..."
"Jangan....!!!" Spontan ketiganya panik dan meneriaki Sita.
"Kenapa sih kalian?"
TBC
Say something dear.
__ADS_1