
Ketika seseorang telah mencapai satu titik tertentu di kehidupannya. Akan ada banyak hal-hal baru yang mulai bermunculan dan akan menghampiri nya. Ketika telah mampu untuk memantaskan diri, Ketika telah menemukan jati diri, maka akan ada rangkaian peristiwa baru yang akan mewarnai perjalanan kehidupannya. Dan dikala itu pula akan ada yang namanya kepercayaan dan keyakinan yang tertanam didalam diri nya. Kedua hal tersebut akan mulai ditanamkan kedalam diri kita oleh orang-orang disekitar kita. Maka dari kedua hal tersebut akan menghasilkan yang namanya tanggung jawab dan kewajiban didalam diri kita. Dan tanggung jawab itu harus kita tunaikan sebagai tanda bahwa kepercayaan orang lain terhadap diri kita itu benar-benar tumbuh dengan sempurna. Setiap orang memiliki porsi kepercayaan tersendiri terhadap orang lain disekitar nya.
Kelas 2 SMA, masa-masa seseorang mulai mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya. Mulai menemukan berbagai hal-hal baru di kehidupannya. Dan aku kini telah berada di titik ini. Titik dimana seseorang memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi terhadap dunia dan kehidupan di dalam nya. Dan perlahan mulai belajar untuk mengetahui apa itu kehidupan yang sebenar-benarnya.
Tujuan awal ku ketika ingin melakukan sebuah perubahan dan menemukan jati diri kini telah berbelok yaitu hanya untuk lebih dekat dengan sang pencipta agar semua mimpiku benar-benar terwujud. Sangat logis bagiku karena segala yang ada di muka bumi ini Tuhan lah yang menentukan. Bukan orang lain, bukan orang tua, bukan guru, bukan teman, bahkan bukan diri kita. Dan berkat Tuhan hari ini aku masih bisa terus melakukan usaha untuk mencapai mimpi-mimpiku. Dan karena keajaiban-Nya aku dan Ica masih bisa dipertemukan sampai detik ini.
***
"Ayuk atuh Dan keburu rame!!" Desak Mamat.
"Iya iya sabar atuh Mat, aku teh beres-beres dulu." Saut ku.
Sore itu aku dan Mamat berlari menuju ke papan pengumuman di sekolah. Karena dikabarkan akan ada kegiatan pemilihan ketua OSIS baru. Mengingat kang Ardi (ketua OSIS tahun lalu) sudah duduk dibangku kelas 3 dan akan sibuk untuk persiapan ujian akhir.
"Dan kamu teh harus ikutan!!!" Kata Mamat.
"Hah, kamu teh udah gak waras yah?" Saut ku.
"Heh kalo ngomong teh jangan sembarangan!!! Dengerin nih yaa, kamu teh harus ikut supaya kamu itu lebih dikenal disekolah." Jelas Mamat.
"Gak ah males!" Jawabku singkat.
"Lagian nih ya, aku teh denger kalo ketua OSIS itu yah bakal dapet beasiswa kuliah dari sekolah."
"Ah hoax itu mah!"
"Kalo kamu teh gak percaya, pergi aja sana tanyain langsung sama kang Ardi!!!"
"Males!!"
"Ah kamu teh keras kepala yah, denger nih emangnya kamu teh yakin bakal dapat beasiswa diluar."
"Yahhh.. enggak sih."
"Nah, coba deh kamu pikirin lagi."
"Hmm, iya iya entar aku pikirin."
***
Awalnya aku tidak tertarik untuk ikut. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari mamat aku mulai memikirkannya. Sebenarnya kalau di fikir-fikir lagi tanpa harus jadi ketua osis pun aku bisa mencari beasiswa diluar, mengingat nilai akademik ku yang cukup bagus. Tetapi kalau sekolah memang sudah menyediakan akan lebih bagus lagi dan lebih mudah untuk mendapatkan nya. Jadi, aku mulai mempertimbangkan pendapat Mamat.
Hari terus berlalu. Dan aku masih saja berfikir untuk memutuskan maju atau mundur kali ini. Serasa kepala ku ini hampir pecah memikirkannya siang dan malam. Karena hal ini bukan lah perkara yang mudah untuk dilalui. Tetapi hari ini sepertinya keberuntungan berpihak kepadaku.
Hari itu aku masih memikirkan untuk mengambil langkah yang terbaik untukku. Aku memikirkannya di perpustakaan. Karena biasanya perpustakaan sangat sepi dan tenang sehingga mudah untuk berfikir. Dan kebetulan hanya aku yang berada di sana. Namun tiba-tiba seseorang datang. Ternyata Kang Ardi.
"Dorr! jangan ngelamun atuh entar kesambet loh..." Ucapnya
"Astagfirullah, eh kang Ardi kirain siapa.."
__ADS_1
"Hahaha, emangnya kamu teh lagi mikirin apa, keliatannya serius banget."
"Eh, gak ada kok."
"Haha keliatan kok, kalau mau cerita teh sialahkan..."
"Hmm, akang teh dulu gimana ceritanya kok bisa sampe jadi ketua osis?"
"Oohhh, jadi teh kamu mau ikutan nyalon yah?"
"Haha, gak atuh kang!"
"Kalo beneran, akang teh dukung kamu."
"Haha iya kang."
"Hmm cerita dulu ya...."
"Jadi teh dulu itu akang mah gak tertarik sama sekali ikut beginian, banyak alesannya, males lah, capek lah, sibuk lah, banyak pokoknya." Jelasnya.
"Terus kang, sekarang teh kok malah jadi ketua?"
"Haha sabar atuh Dan, kan ceritanya belum kelar...."
"Eh iya kang."
"Jadi teh waktu itu ada satu guru disini yang nyuruh akang ikutan, tapi karna akang teh emang gak ada niatan buat ikutan yahhh akang tolak deh. Tapi nih ya dia itu teh gak nyerah gitu aja. Jadi, setiap dia ketemu akang pasti ngomong "kamu teh harus ikut!" gitu katanya. Tapi setiap dia bilang gitu teh selalu akang tolak mentah-mentah. Terus tiba-tiba suatu hari dia manggil akang katanya suruh menghadap ke dia. Yaa karena dia guru terpaksa akang samperin. Dan setelah itu akang baru sadar kenapa dia nyuruh akang buat ikutan nyalon. Dan akirnya akang ikutan deh dan Alhamdulillah kepilih." Jelas kang Ardi.
"Iyaa, nih ya akang kasi pencerahan buat kamu kalau kamu teh bener-bener mau ikutan juga. Jadi, kamu itu yah harus yakin sama diri kamu, kalau nanti kamu bakal mampu menjalankan tugas. Dan jangan lupa kita ikut beginian nih punya tanggung jawab yang besar buat di jalanin. Jadi, jangan pernah ada yang namanya fikiran begini nih, aku bakal terkenal nih, aku bakal disayang guru nih, ikutan ah. Menurut akang nih ya gak ada tuh yang namanya begituan, malah hidup ini teh tambah ribet karena harus ngurusin orang juga bukan cuma diri sendiri. Terus harus sabar sama yang namanya kritikan dari netizen di sekolah ini. Jadi apapun keputusan kamu nanti akang teh pasti dukung. Dan jangan lupa kalau emang ada yang ngasih pendapat ke kamu buat maju, artinya mereka teh percaya sama kamu." Tutur kang Ardi.
"Hehe iya kang, Makasih atuh kang."
"Iya, sama-sama. Akang ke kelas dulu yah masih ada kerjaan."
"Oke kang, sekali lagi makasih."
"Haha iya, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah mendengar cerita kang Ardi. Aku tersadar untuk mencapai titik puncak itu memang bukan lah hal yang mudah. Akan ada tanggung jawab yang harus di pikul. Dan akan ada banyak rintangan yang harus di lalui. Dan kali ini aku telah mengambil keputusan.
Peperangan dimulai.
***
Aku memutuskan untuk ikut serta. Dengan keyakian besar di hati aku mulai melangkang untuk melakukan peperangan dan menaklukkan semua musuh yang ada. Setiap babak telah aku lewati. Dengan ketenangan dan rasa percaya diri kini aku berhasil sampai pada titik ini. Dimana panglima perang akan melakukan duel sengit untuk memperebutkan takhta di kerajaan. Ya, kini aku akan melakukan sebuah duel untuk merebut kemenangan.
Babak terakhir dari peperangan kali ini menyisakan 3 orang panglima untuk memperebutkan singgahsana. Setiap peserta dipersilahkan untuk menyampaikan sebuah argumen ataupun motivasi untuk OSIS kedepannya nanti. Dan kini saatnya tiba untuk ku berbicara.
"Assalamualaikum wr, wb. Perkenalkan nama saya Reza Ardana, perwakilan kelas 2A. Baiklah saya akan menyampaikan sedikit motivasi untuk diri saya dan untuk teman-teman semua yang hadir pada hari ini. Saya sangat berterimakasih atas dukungan dari teman-teman semua sampai pada saat ini sehingga saya bisa mencapai titik ini. Saya yakin bahwa teman-teman semua menaruh sebuah harapan dan kepercayaan yang besar kepada saya. Maka dari itu saya akan sangat bertanggung jawab atas semua tugas dan kepercayaan yang diberikan kepada saya. Dan mengajak teman-teman semua untuk ikut membangun organisasi ini menjadi lebih baik lagi kedepannya. Sekian yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum wr, wb."
__ADS_1
Prok prok prok prok.....
Pidato yang aku sampaikan mengakhiri pertempuran hari ini. Suara tepukan dan sorak sorai para penonton memenuhi aula. Lega rasanya telah melewati rintangan yang ada. Dan kini hanya menunggu sebuah hasil dari jerih payah yang telah aku lakukan hingga detik ini.
Hari penentuan itu telah tiba. Hari yang telah aku tunggu-tunggu hanya untuk mendengar sebuah nama disebutkan. Hari yang membuat diriku tak dapat tidur siang ataupun malam. Jantungku tak henti-hentinya berdetak kencang. Seolah kini aku tengah berlari mencari sebuah harta karun di sebuah lorong yang penuh akan rintangan dan ujian. Dan kini aku hampir sampai pada tujuanku yang sesungguhnya.
Kang Ardi mulai membuka acara, memberikan sambutan sebagai tanda perpisahan dan tanda terimakasih atas jabatan yang telah ia laksanakan. Dan kini saatnya tiba...
"Oke, temen-temen semua pasti udah pada gak sabar kan siapa sih ketua osis kita yang baru, dan inilah saatnya yang paling kita tunggu-tunggu, Ketua osis terpilih pada tahun ini jatuh kepada........"
"Reza Ardana...."
"Oke, beri tepukan yang meriah...."
Prok prok prok prok....
"Selamat kepada ketua terpilih, semoga bisa menjalankan amanah yang diberikan, saya tutup wassalamualaikum wr, wb."
Rasanya masih tidak percaya, aku berhasil kali ini. Sungguh perasaan ku telah campur aduk. Semuanya terasa seperti sebuah mimpi. Namun aku percaya kalau ini adalah salah satu takdir yang memang telah tergaris di kehidupan ku.
Semua teman-teman ku mengucapkan selamat atas keberhasilan ku. Terutama Mamat dan kang Ardi yang telah membuat ku berfikir untuk berani melangkah maju walau awalnya dengan sedikit rasa keterpaksaan. Dan kini aku telah sadar, rencana yang telah Tuhan siapkan memang sangat Indah dan mengagumkan. Kali ini aku telah banyak belajar tentang kepercayaan dan tanggung jawab di dalam kehidupan. Memang sangat rumit, namun itu semua akan terbalas dengan sebuah senyuman dan kebahagian kelak dimasa mendatang ketika semua kewajiban itu telah usai dilaksanakan.
Kehidupan memang rumit, namun dengan sebuah senyuman maka semua itu akan menjadi lebih mudah untuk dilakukan.
***
Rumit
Hidup itu rumit
Terkadang mudah dan terkang sulit
Duri-duri seakan menjadi rintangan
Yang harus dilalui
Sedikit saja salah melangkah
Maka Ia akan melukaimu
Namun percayalah
Di akhir perjalanan itu
Akan ada sebuah harta karun
Yang sangat berharga
Untuk di masa mendatang
Dalam kehidupan mu
__ADS_1