
^^^Yo, yo, yo.^^^
^^^Author nggak menerima serangan fajar nih, tapi welcome untuk serangan jempol, kritik dan saran.^^^
^^^Tarreekkkk.^^^
Jangan-jangan dia sudah punya pacar, gumam Senja dalam hati.
Tanpa Senja sadari, Arga datang dengan sebuah jaket di tangannya. Melihat Senja yang duduk dengan menekuk lutut, Arga merentangkan jaket itu dan menyelimutkannya di tubuh Senja.
"Ka..."
Ayu tak melanjutkan ucapannya kala Arga menginterupsinya untuk diam. Tampak dari luar, Senja diam saja tanpa reaksi.
Kok tiba-tiba aku ngerasa hangat. Apa mungkin dia yang datang karena khawatir aku kedinginan? Senja kembali bermonolog dalam hati.
Arga sempat beradu pandang dengan ketiga sahabat Senja, sebelum akhirnya dia tersenyum dan pergi begitu saja dari sana.
Ucik, Ifa dan Ayu hanya mampu saling memandang. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
Ifa kemudian mengulurkan tangannya untuk menepuk bahu Senja.
Puk puk puk
Merasa ada yang mengusiknya, Senja menggeliat dan berkata, "apaan sih! Biarin aku kayak gini," protes Senja sambil berusaha menyingkirkan tangan itu dari bahunya.
Gagal pada percobaan pertama, Ifa kembali melakukan percobaan kedua.
Puk puk puk
"Apaan sih!" Senja mendongak seketika. Dia nampak heran ketika disambut wajah bengong dari ketiga sahabatnya.
"Kalian kenapa?" tanya Senja dengan menegakkan tubuhnya kemudian. Saat itu juga dia merasa ada sesuatu melorot dari bahunya.
"Eh...," Refleks Senja menengok dan segera meraih jaket kebesaran itu. "Jaket?" gumamnya.
Senja langsung bangkit dan mengedarkan pandangan berharap kalau benar-benar dia yang datang untuknya. "Ini tadi Kak Arga?!" tanya Senja dengan melayangkan pandangan kepada ketika sahabatnya.
Mereka hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Tck, kenapa nggak ada yang ngasih tahu aku sih?!" geram Senja pada ketiga sahabatnya.
Mereka hanya saling memandang. Senja segera berlari dengan memeluk erat jaket berwarna navy itu. Dia berlari ke sembarang arah, menerobos kerumunan orang untuk dapat menemukannya.
Beberapa kali ia mendesah kala sosok tinggi itu tak juga ditemukannya.
Dari balik pohon cemara, Arga tengah mengamati pergerakan Senja. "Maaf ya, aku nggak bisa jagain kamu sampai acara selesai," gumam Arga seorang diri.
__ADS_1
"Mas Arga, jadi pulang ke rumah Angga?" tanya seseorang dengan celana kombor dan jaket hitam bernama Angga.
Arga mengangguk dan segera bangkit. Sebelum berjalan dia kembali menatap Senja.
"Ayo Mas," ajak Angga karena merasa Arga tak juga berjalan mengikutinya.
Keesokan paginya
Semua melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah itu para peserta dan sebagian panitia berkumpul di lapangan tengah untuk melaksanakan senam pagi. Sebagai penutup, mereka semua digiring untuk lari di sekitar area sekolah.
"Senja kok pucet sih," ucap Rini yang berlari mensejajari Senja.
Senja hanya tersenyum menanggapinya.
"Ni anak baru sakit, makanya kemarin dia nggak ikut jelajah," ucap Ayu sengaja, karena mengingat Rini kemarin sempat mem-bully Senja karena masalah ini.
Rini berhenti sejenak.Ya ampun, aku kira dia diistimewakan makanya nggak perlu susah payah jelajah. Batin Rini menyesali tindakannya.
Rini kemudian berlari menyusul Senja. "Istirahat aja ya, aku izinin," tawar Rini.
Senja kembali menggeleng dan terus berlari.
Bolehkah aku berharap dia akan datang dan kembali membuatku bebas dari kegiatan? Senja berharap dalam hati.
Saat ini Arga sedang melakukan latihan ringan di halaman rumah bersama Angga. Semalam ia tak pulang karena luka lebam di wajahnya. Ia segera menghentikan aktivitasnya saat rombongan peserta persami melakukan lari pagi melewatinya.
"Istirahat bentar ya."
"Boleh deh," jawab Arga.
Lebih dari separuh peserta sudah lewat di sana, namun Senja belum juga nampak. Arga terus menatap mereka hingga tak menyadari kalau Rivan dan Wahyu sudah berdiri di sampingnya.
"Nyariin siapa sih?" heran Wahyu menatap Arga yang terus menatap rombongan peserta persami.
Tak mendapat jawaban dari Arga, Wahyu segera melayangkan pandangan pada Rivan, dengan menautkan alisnya berharap mendapatkan jawaban darinya.
"Wah, ada Mas Rivan sama Mas Wahyu," ucap Angga sambil menyodorkan es batu pada Arga.
Arga yang baru menyadari keberadaan mereka hanya menoleh sekilas dan kembali menatap rombongan peserta persami.
"Buat apa es batu sepagi ini?" tanya Wahyu.
Angga hanya nyengir, sementara Rivan mengkode Wahyu agar menatap wajah Arga.
Wahyu nampak terkejut melihat ada lebam di wajah Arga. "Muka lu kenapa Ga?!" tanyanya kemudian.
"Tenang, lawannya lebih parah kok," ucap Rivan remeh yang mendapat anggukan oleh Angga.
__ADS_1
Sementara Arga dengan santai mengompres lukanya.
"Kamu kalau ada urusan dibelakang lanjut aja," ucap Arga dengan tenang.
Angga yang paham maksudnya segera undur diri.
"Ga, aku nggak bisa ngelakuin apa yang kamu minta, aku nggak mau dianggap pilih kasih," ucap Rivan serius.
Melihat raut wajah Rivan, Wahyu tak jadi menampakkan sisi gilanya ketika mereka bersama. Dia yang tak paham situasi, hanya diam mengamati.
Arga menghela nafas. "Emang kamu yang udah nyanggupin syarat itu, tapi aku paham bagaimana posisi kamu, makanya aku berkomitmen untuk mewujudkan kesanggupan kamu."
Wahyu makin heran dibuatnya.
Mereka ngomongin apa sih? Batin Wahyu.
"Hey brother, kalau Kak Ketua OSIS ini nggak bisa, siapa tahu Ketua DEGA ini bisa," ucap Wahyu sambil merangkul kedua sahabatnya.
"Ya ampun, baru nyadar aku kalau yang keren bukan cuma Kak Rivan," lirih salah seorang peserta pada beberapa orang rekannya yang masih dapat didengar dengan jelas oleh Rivan, Wahyu dan Arga.
"Nah kan, terbukti kan. Nggak cuma kemampuan, tapi tampang juga," ucap Wahyu dengan membusungkan dadanya.
Arga melayangkan tatapan aneh, sementara Rivan menatapnya tajam.
Wahyu menyerah dengan mengangkat kedua tangannya, "oke deh, nggak ngomong lagi."
Sebenarnya Wahyu tak membual terkait tampang yang disombongkan nya. Meskipun dia sering kali terpapar sinar matahari, namun dia memiliki kulit paling putih diantara ketiganya. Rambut bergelombang yang selalu dicukur cepak ditambah alis tebal dan hidung mancung membuat pesonanya tak terelakkan lagi. Sedangkan Rivan tak ada sesuatu yang istimewa menonjol darinya, namun perpaduan yang tak berlebihan itu membuatnya nampak istimewa, ditambah jabatannya sebagai ketua OSIS membuatnya begitu populer. Dan Arga, dia adalah ketua ekstrakurikuler pencak silat di sekolahnya. Mengenal pencak silat sejak usia sekolah dasar membuatnya begitu tertarik untuk terus menekuninya hingga terjun ke kancah pertandingan. Dia tak sepopuler kedua sahabatnya, karena kegiatan rutinnya biasa dilakukan di hari libur atau malam hari.
Ekstrakurikuler ini resmi berdiri setahun lalu saat Arga baru saja memenangkan medali perak untuk sekolahnya. Dia hanya minta rekomendasi dari sekolah sebelum bertanding. Untuk biaya, latihan, bimbingan, semua dilakukan secara mandiri. Menjadi kejutan ketika akhirnya Arga kembali dengan membawa medali dan mengibarkan nama sekolah dikancah pertandingan. Untuk itu akhirnya diputuskan kalau ekstrakurikuler pencak silat dilegalkan di sekolah dengan Arga sebagai ketuanya.
Sejak menjabat sebagai ketua ekstrakurikuler pencak silat, dia memilih vakum dari organisasi PMR yang sudah terlebih dulu diikutinya.
"Senja!"
Arga segera menoleh kala mendengar ada yang meneriakkan nama Senja.
"Kak, ada yang pingsan!"
Mendengar teriakan itu Arga segera berlari.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.