
Kegembiraan Langit terpancar jelas di wajahnya, senyumnya yang tak berhenti merekah mulai dari keluar ruangan Aira hingga sampai di rumah.
Pria angkuh yang tak terlalu banyak bicara dengan sembarang orang itu kini menjadi sosok yang berbeda. Setiap kali ia bertemu asisten rumah tangga, ia memberi tahu jika saat ini istrinya sedang hamil muda dan jangan sampai istrinya terlihat mengerjakan pekerjaan berat.
Senja yang menyaksikannya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Mas, gak perlu seperti itu lah. Mas kan bisa kasih tahu bu Ella saja, toh bu Ella akan menginformasikan ke yang lainnya." Ucap Senja ketika sampai di kamar.
"Aku kurang puas kalau tidak ngomong ke mereka sendiri, sayang." Langit tak henti mengusap perut Senja.
Senja menghela nafas panjang.
"Aku mau siap-siap dulu ya, Mas. Mas minta tolong temani anak-anak ya, sambil nunggu Mas Marko jemput kesini."
"Iya, sayang." Langit beranjak keluar kamarnya.
Senja Pergi ke ruang ganti untuk melanjutkan mengemas baju suami dan bajunya sendiri. Sedangkan keperluan Sky dan Sora sudah ia siapkan siang tadi.
Setelah makan malam, Marko datang dengan di antar Johan sopirnya.
"Enna dan Mas Hengky langsung ke Bandara, Mas?" tanya Senja.
"Iya, mereka langsung kesana, Nja." Jawab Marko
"Om Irawan sama Tante Nensi gimana?" Langit baru tiba di teras dengan menggendong Sora yang sudah tertidur.
"Udah di Solo sekarang, Baru sampai jam lima tadi." Jawab Marko.
Dua koper sudah Johan masukkan ke dalam mobil. Langit sudah berpamitan dengan Ella yang sudah mengantarnya hingga ke teras rumah. Tak lupa Senja meminta Sky untuk berpamitan dengan Bu Ella sebelum masuk mobil.
"Saya berangkat dulu ya, Bu Ella." Pamit Senja.
"Hati-hati ya, Non. Semoga dedek bayinya gak rewel dan nurut sama mama papanya." Ella mengusap perut Senja.
"Aamiin." Senja tersenyum dan masuk ke dalam mobil.
"Udah, ya?" Marko memastikan penumpang dibelakangnya sudah duduk dengan baik.
"Iyaa, udah." jawab Langit.
Johan langsung melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Langit.
Perjalalanan tiga puluh menit akhirnya mereka tiba di bandara, Johan menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk VIP. Sudah terlihat Hengky dan Enna berdiri disana dengan satu koper berukuran sedang.
Tak menunggu lebih lama, Marko mengambil trolley bandara untuk menjadikan satu koper mereka dan segera melakukan check in.
Sekitar tengah malam mereka semua sudah tiba di Solo, dengan diantar dua mobil mereka menuju ke hotel dimana Irawan dan Nensi menginap.
***********
Pagi-pagi sekali Senja sudah mulai mual-mual hebat, membuat Langit terbangun dan menghampiri istrinya di kamar mandi. Sky dan Sora yang mendengar mamanya sedang muntah-muntah juga ikut menghampiri.
"Aku pesananin teh hangat dulu ya." Langit keluar dari kamar mandi.
"Mama kenapa?" Sky terlihat ketakutan melihat mamanya.
Senja menenangkan diri sejenak untuk mengatur nafas, "Mama gak apa sayang, memang begini bawaannya kalau di dalam perut ada dedeknya." Senja mencoba menjelaskan. "Hoek!"
"Sky, jangan ajak mama bicara. Kasian." Ucap Sora.
Senja merasa badannya sangat lemah setelah muntah-muntah. Langit tsrlihat baru saja masuk ke dalam kamar hotel ketika Senja baru merebahkan badannya diatas tempat tidur. Senja tak bertanya, bukannya tak ingin hanya saja ia sedang berusaha tidak membuka mulutnya agar tidak kembali mual.
__ADS_1
Sky dan Sora memijit kaki kanan dan kiri Senja, Langit menghampiri Senja sangat khawatir melihat istrinya terlihat pucat.
Terdengar ketukan dipintu kamar, Langit segera membuka. Ada Irawan dan Nensi disana.
"Masuk Om, Tante."
Irawan dan Nensi segera menghampiri senja di tempat tidur.
"Sampai pucat kaya gini?" Nensi melihat Senja yang sedang terbaring.
Senja berusaha duduk untuk menyapa Irawan dan Nensi.
"Apa kabar Bu Nensi, Pak Irawan. Maaf pagi-pagi anda sudah harus kami repotkan." Senja merasa tK enak hati.
"Gak, sayang. Kami ini kan juga orang tua kamu juga, gak perlu bilang seperti itu lagi ya." Nensi mengusap kening Senja yang berkeringat.
"Udah pesan teh hangat Lang?" tanya Irawan.
"Sudah, Om." Jawab Langit.
Tak berapa lama bel kamar Langit berbunyi, Langit segera membukanya. Ada pelayan hotel yang membawakan teh hangat dan sarapan. Hengky dan Enna juga terlihat baru tiba dan segera masuk.
"Nja, Kenapa?" Tanya Enna khawatir.
"Morning sickness, En." Jawab Senja
"Lo hamil, Nja!?" Enna duduk di samping Senja.
Senja mengangguk.
"Gila lo, Lang. Ngebet banget sih Lo! Gue aja belom dikasih!" Hengky memukul lengan atas Langit.
Segera Senja meminumnya, sekalian meminum vitaminnya. Ia merasa lebih nyaman setelah minum air hangat.
"Sudah enakan, sayang?" Tanya Nensi.
"Iya Bu Nensi, sudah lebih baik." Jawab Senja.
"Sumpah, gue iri banget." Kata Hengky, melirik sinis ke arah Langit.
"Mungkin itu karena pak Langit memperkerjakan kamu terlalu keras mas, jadi stamina kamu berkurang." Enna menyindir Langit.
"Kerja keras dari hongkong? sejak dia berhubungan dengan lo kinerjanya menjadi sangat buruk." Pangkas Langit.
"Hei hei hei, sedang apa kalian disini tanpa aku?" Marko tiba-tiba saja nyelonong masuk. "Ayo, kita harus siap-siap nih."
"Ngebet banget yang mau lamaran?" Goda Enna.
"Iya lah, Gue juga pengen cepet-cepet nikah." Jawab Marko, ia menatap Senja. "Lo kenapa, Nja?" Tanya Marko.
"Mama lagi hoek hoek, Om. Soalnya ada adek bayinya di dalam perut."
"Hah!" Marko terkejut dengan jawaban Sora. "Gue nikah aja belom dan kalian udah bikin anak ke tiga? Seharusnya gue nikah aja hari ini!"
Keluhan Marko disambut tawa yang lainnya.
"Nja, kalau lo gak kuat. Lo tinggal disini aja gak apa, gue gak enak kalau lo maksain." kata Marko.
"Enggak, Mas. Kaya gini cuma bentar kok, Mas Langit aja yang terlalu panik sampai nyuruh semuanya kesini."
"Lebay banget sih, Lo. Baru jadi bapak Lo!" Maki Marko.
__ADS_1
"Emang, Iya kan." sahut Hengky.
"Hei Hei Hei, udah deh gak usah diterusin. Panjang ini nanti jadinya." Enna memotong pembicaraan pria-pria itu.
"Sudah, ayo kita beres-beres." Ajak Irawan.
"Tante tinggal dulu ya, sayang. Sarapannya dihabisini."
"Makasih ya, Bu Nensi." Kata Senja.
"Iya sayang." Nensi berdiri. "Ayo, Nak." Ia meraih tangan Enna mengajaknya menyusul Irawan yang sudah keluar lebih dulu.
"Daah." Enna melambaikan tangan.
"Pergi kalian! Bikin berisik aja!" Langit mendorong Hengky dan Marko keluar kamarnya.
Kamar Langit kembali sepi ketika semuanya sudah keluar. Sky dan Sora masih terlihat menghawatirkan Senja.
"Sky gak suka kalau adek bayi ini bikin mama sakit!" Ucap Sky
"Sayang, memang kalau mama sedang hamil selu seperti ini. Bukan mama saja, tapi hampir semua mama-mama yang hamil. Dulu waktu hamil Sky dan Sora juga gini. Jadi Sky gak boleh marah sama adek ya?" Senja memberi pengertian.
"Ini gak akan berlangsung lama kok, Sky." Kata Langit yang sok tahu.
"Benarkah?" Sky tidak yakin dengan Jawaban Papanya, "Emang papa pernah hamil?"
"Ya enggak sayang, memang cuma bentar kok. Sepertinya sih." Langit terkekeh.
Sky hanya memutar bola matanya.
"Udah, Ya. Papa bantu kalian mandi ya, habis ini kita mau jalan jalan ke rumahnya tante Zia."
"Horeee!" Teriak Sora senang.
"Makasih ya, Mas. Udah bantu aku." Ucap Senja
"Sama-sama sayang."
Langit mengajak kedua anaknya ke kamar mandi. Sedangkan Senja memilih untuk segera menyantap sarapannya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1