
"Senjaaa..., Senjaaaa...," beberapa kali Arga memanggil Senja, namun Senja masih saja diam membisu.
Akhirnya Ibu Rubiah mendekat dan duduk di samping Senja. "Nak Senja mau istirahat dulu," Senja terjingkat saat menyadari Ibu Arga sedang duduk di sampingnya.
"Emm, enggak Bu, Senja pamit dulu ya," ucap Senja sambil berdiri dan mencium punggung tangan Bu Rubiah.
Arga yang sebelumnya sudah berpamitan malah bengong di depan pintu. Senja yang hendak keluar melewati pintu tiba-tiba terhuyung. Arga reflek menahan tubuh Senja dan membimbingnya untuk duduk kembali di kursi.
"Nak, kamu nggak apa-apa?" tanya Ibu Rubiah khawatir.
Senja menggeleng, sebenarnya dia ingin menjawab tapi dia seperti tak ada tenaga.
Arga terdiam sejenak. "Ibu bisa nggak kalau ikut nganter Senja," tanya Arga kemudian.
"Maksudnya gimana? Ibu kan nggak lancar bawa motornya."
"Bukan Ibu yang nganter, tapi Ibu ikut nganter."
"Bonceng 3 dong, kan..."
"Maksudnya bawa mobil Bu, Ibu ikut juga," potong Arga cepat.
"Oh, Ibu siap-siap dulu," ucap ibu Rubiah sambil berlalu.
"Tapi yang nyetir siapa!" sekejap kemudian, Ibu Rubiah berbalik dan memekik panik saat ingat kalau Ayah sedang tidak di rumah.
"Ya Arga lah Bu."
"Kamu jangan macem-macem ya, emang kamu bisa nyetir?!"
"Bisa kok Bu..."
"Bisa-bisa! Emang kapan latihannya!" bentak ibu Rubiah sebelum Arga menyelesaikan ucapannya.
"Sering Bu, pas keluar sama Ayah," terang Arga.
"Yakin bisa?!"
"Insya Allah Bu."
Ibu Rubiah nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya nya mengangguk.
"Senja tunggu sebentar ya Nak, Ibu siap-siap dulu."
Akhirnya ibu Rubiah segera bersiap-siap, sementara Arga bergerak ke garasi untuk memanasi mesin mobil.
"Senja kenapa kamu sebenarnya?" tanya Arga yang baru saja menghampiri Senja.
Senja hanya menggeleng.
"Masa cuma gara-gara kena bola bisa kayak gini? Atau mungkin kamu...," ucapan Arga menggantung. Mana mungkin Senja pura-pura sakit, kalau dilihat-lihat memang dia pucat sekali.
"Aku takut dimarahi Kak?" lirih Senja.
"Dimarahi? Emang kamu bikin salah apa?" tanya Arga.
Senja nampak gelisah. Dia seakan ragu untuk mengutarakan apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
"Kak."
"Ya," jawab Arga cepat.
"Kakak ingat waktu Kakak jatuh gara-gara nyerempet aku."
Arga mengangguk.
"Kakak ingat gimana sikap Mas Atma pas jemput aku?"
Aku mengangguk.
"Aku nggak boleh deket-deket sama, anak laki-laki. Bahkan untuk sekedar berteman pun aku takut. Makanya aku sebenarnya takut pas tadi kak Arga nawarin untuk ngantar aku pulang. Aku makin nggak bisa mikir pas temen-temen aku malah ninggalin aku sama Kakak. Aku takut dimarahin," ucap Senja dengan lemah.
Arga POV
Aku heran kenapa ada orang tua yang melarang anaknya untuk berteman. Apa yang mereka pikirkan jika seorang anak laki-laki bermain dengan anak perempuan. Apalagi Senja. Tak mungkin anak seusianya akan macam-macam jika sedang bersama teman laki-laki. Eh tunggu, aku baru ingat bahkan anak SD pun sekarang sudah ada yang pacaran. Oh Tuhan, lucu sekali.
Tapi Senja, sepertinya bukan gadis kecil yang tertarik untuk pacaran. Dia nampak keteteran dengan urusannya sendiri. Datang sering nyaris telat, selalu sibuk belajar, bahkan aku jarang melihatnya sekedar bermain-main.
degh!
Aku menggeleng cepat, sejak kapan aku mulai memperhatikan gadis kecil ini. Oh Tuhan, konyol sekali aku.
"Ibu sudah siap, bisa berangkat sekarang?" tanya ibu yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.
Aku dan Senja mengangguk. Aku beranjak menuju garasi untuk mengeluarkan mobil, sedangkan Ibu memapah Senja menuju depan rumah.
"Kamu yakin Ga bisa bawa mobil?" tanya ibu lagi.
"Insya Allah Bu."
"Yahh Bu masa aku kayak sopir sih," protes ku.
"Ya kan Ibu mau nemenin Senja."
"Nggak apa-apa Bu. Ibu di depan saja," kata Senja.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya ibu pada Senja.
"Nggak apa-apa Bu, maaf sudah merepotkan."
"Enggak kok, Ibu juga ada rencana untuk ke rumah kamu, jadi nggak ada yang direpotkan ini," terang ibu.
Senja nampak tersenyum canggung.
"Gimana nih, udah bisa jalan?" tanyaku.
"Udah yuk," kata ibu.
"Bismillahirohmanirohim, semoga selamat ya Allah," ucap ibu saat aku mulai menjalankan mobil.
"Ibu ini apaan sih."
"Udah kamu diam aja fokus sama jalan biar kita selamat sampai tujuan," omel ibu.
Akhirnya aku menjalankan mobil dengan kecepatan standar. Selain karena jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, Ibu pasti akan histeris kalau aku menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
__ADS_1
Aku melirik Senja dari kaca, pandangan yang nampak kosong, kelihatan sekali kalau dia tengah berpikir. Sedangkan Ibu, dia terlihat begitu serius memperhatikan jalan. Ada ketakutan di sorot mata Ibu. Ah, ibu ini terlalu meremehkan. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku menyetir mobil, hanya saja ini kali pertama Ibu mengetahuinya. Saat aku sedang keluar bersama ayah dengan membawa mobil, ayah seringkali menyuruhku untuk menyetir, namun ayah selalu berpesan kalau nggak ada ayah aku enggak boleh bawa mobil sendiri sementara.
Jadi itulah sebabnya ibu tak pernah tahu kalau aku sebenarnya sudah bisa menyetir bahkan sejak aku kelas 1 SMP.
Tak perlu menunggu lama, mobil kami pun tiba di depan rumah Senja. Seorang wanita tampak sibuk dengan jemurannya. Tepat saat mobilku berhenti, dia memandang ke arah kami. Dia segera menghentikan aktivitasnya saat tahu anaknya datang bersama kami.
"Lhoh, Aya kok bisa bareng sama Bu Rub sih," ucap ibu Senja saat menghampiri kami yang datang bersama anaknya.
Aya? Ternyata bener Aya itu kamu Senja.
"Diantar masuk aja dulu Bu, tadi kayaknya Nak Senja kurang enak badan," kata ibuku.
"Loh iya toh, kayaknya tadi pagi kamu baik-baik aja," tanya ibu Ami sambil membimbing Senja untuk masuk ke dalam rumah.
Senja hanya diam.
"Bu Rub sama Nak Arga silakan masuk, saya bawa Aya ke dalam dulu."
Kamipun masuk rumah dan duduk di ruang tamu, sementara Senja bersama ibunya masuk bagian rumah yang lebih dalam.
"Ga, tadi gimana ceritanya Senja bisa sama kamu," tanya ibu.
"Tadi pas Arga lagi main bola, enggak sengaja bolanya kena Senja, dan dia langsung mimisan."
"Ya ampun ceroboh banget sih," kata ibu sambil menjewer ku.
"Aduduh, Ibu apaan sih, malu lagi di rumah orang ini," gerutuku karena ibu tiba-tiba saja menjewer ku.
"Ya kamu sembrono."
"Enggak sengaja Ibu," ucapku sambil memegangi telingaku yang baru saja dijewer ibu.
"Ya Alloh Arti, kok repot-repot segala sih," kata ibuku begitu mendapati mbak Arti yang datang dengan membawa nampan berisi 2 gelas minuman.
"Kita Bu yang makasih sama Bu Rubiah dan Dik Arga yang udah repot-repot nganterin Aya pulang," kata Mbak Arti sambil meletakkan gelas di depan kami.
"Nak Senja kalau di rumah dipanggil Aya ya?"
"Iya Bu, nama lengkapnya Cahaya Senja."
"Oalah, aku tadi agak bingung pas Bu Ami manggil Senja dengan sebutan Aya."
"Oh iya, tadi di Bu Rub cuma nganter Senja atau mau ke mana gitu?" tanya Mbak Arti.
Ibu pun akhirnya menjelaskan apa yang terjadi pada Senja di rumah kami. Akupun menjelaskan kan apa yang terjadi pada Senja saat di sekolah. Dan aku mohon maaf untuk ini. Tapi ada satu hal yang tak ku ceritakan. Itu adalah tentang ketakutan yang dirasakan Senja. Rasa takut yang baru saja diungkapkannya kepada aku.
Senja, apa kamu baik-baik saja? Anak kecil yang baik, semoga kamu enggak sampai jatuh sakit gara-gara hari ini aku antar pulang.
TBC
Alhamdulillah, done dear.
Makasih yang udah mampir.
Kalau boleh mohon bantuan like, comment, rate, vote, share juga boleh.
Terima kasih.
__ADS_1