
^^^Jangan lupa jempolnya kawan.^^^
^^^Happy reading.^^^
^^^Kalau bersedia rate, vote, komen author Alhamdulillah banget,^^^
"Adik-adik, waktu makan tinggal 1 menit lagi. Nanti yang selesai paling akhir harus membereskan bekas makanan teman seregunya. Dan yang tidak habis nanti dapat hukuman. Mengerti?!" teriak Wahyu yang berdiri tepat di tengah lapangan.
"Mengerti Kak!" jawab sebagian peserta yang sudah habis makanannya. Selain itu, mereka tak menjawab karena tengah berjuang menghabiskan makanan sebelum waktunya berakhir.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh,..."
Senja panik. Dia berusaha memasukkan semua makanan yang tersisa.
"Tiga, dua, satu, semua tangannya di atas?!"
Seluruh peserta mengangkat tangannya di atas kepala.
Senja dengan mulut penuhnya berusaha menoleh ke kanan dan kiri melihat bagaimana nasib rekan-rekannya. Namun dia membeku seketika saat melihat kotak bekal berwarna biru yang teronggok di hadapannya.
Ya ampun. Gimana nasib kotak bekal Kak Arga ini? Batin Senja yang baru sadar kalau makanannya tak beralaskan kertas minyak seperti peserta lainnya. Masa iya ini dibuang. Tapi kalau enggak dibuang aku bawanya gimana. Gumam Senja dalam hati.
Senja gelisah, panik. Pandangannya beredar ke sembarang arah, berharap dapat menemukan solusi di sana. Dan benar saja, dia melihat sosok tinggi menjulang di tepi lapangan. Sosok tinggi itu tengah menatapnya dengan melambaikan tangan. Karena jarak yang cukup jauh, sama sekali Senja tak tahu apa yang dikatakan Arga dari gerak bibirnya. Seakan paham dengan kebingungan Senja, Arga segera berjalan menuju ke arah belakang barisan Senja.
Maksud Kak Arga apaan sih? Nunjuk apaan sih? Gerutu Senja dalam hati sambil terus mengamati pergerakan Arga.
"Senja, kamu cepetan berdiri," ucap Rini tiba-tiba karena melihat Senja sejak tadi seperti orang bingung, pandangannya tak fokus dan melihat kesana-kemari seperti tengah mencari sesuatu.
"Ha? Kenapa berdiri?!" tanya Senja bingung.
"Kamu yang makannya selesai paling akhir, jadi kamu yang ngumpulin bekas makan kita," jawab Rini.
"Masa iya?" ucap Senja dengan wajah bingungnya. Namun tak urung jua ia tetap berdiri dan segera mengumpulkan satu-persatu kertas minyak bekas makan teman-temannya. Diambilnya sebuah kantong plastik yang telah disiapkan panitia untuk menampung sampah yang ada. Ia tak lupa membawa serta kotak bekal pada tangan kirinya.
Saat memungut sampah terakhir yaitu bekas makan Eli wapinru di regunya, tiba-tiba seseorang mengambil kotak bekal yang dipegang Senja tanpa permisi lalu membawanya pergi begitu saja.
"Eh itu...." Senja tak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat yang mengambil miliknya tanpa permisi adalah sosok bertubuh tinggi yang diyakininya adalah Arga.
Kak Arga bukan ya? Tapi dari semua panitia dan peserta yang ada di sini enggak ada deh yang lebih tinggi dari dia. Ucap Senja dalam hati dengan terus menatap punggung yang berjalan kian menjauh darinya itu.
"Senja!" bentak Ayu dengan suara tertahan.
"Ha?!" Senja menunduk menatap Ayu yang duduk bersila tak jauh darinya.
"Kamu ih! Cepet bawa tuh sampah ke sana!" geram Ayu dengan menunjuk anggota regu lain yang bahkan sudah kembali ke barisannya setelah membuang sampah itu pada tempatnya.
__ADS_1
"Eh iya." Senja kemudian bergerak menuju tempat dimana sampah dikumpulkan.
Saat hendak kembali ke barisan, tanpa sengaja dia menoleh ke arah lapangan tengah. Itu di sana pada ngapain sih? Senja membatin kala melihat sekelompok orang yang tengah melakukan kegiatan dalam gelap.
Merasa penasaran, Senja pun memelankan langkah agar dapat melihat lebih jelas apa yang terjadi di sana.
"Hey kamu yang bengong! Cepat kembali ke barisan!" teriak seorang panitia pada Senja yang tak bergegas kembali ke barisannya.
"Dik!"
Suara nyaring itu hinggap di telinga Senja hingga membuatnya berjingkat.
"I, iya Kak," jawab Senja terbata.
"Kamu nggak lihat semua udah siap di barisan masing-masing!"
"Ma, maaf Kak."
"Cepat kembali ke barisan!"
Senja berlari setelahnya dan segera bergabung dengan teman seregunya.
"Kamu tadi ngelihatin apa sih?" bisik Rena yang berada tepat di belakang Senja.
"Lhah terus? Jangan-jangan kamu kesambet lagi?" lanjut Rena dengan bergidik ngeri.
Senja sedikit menoleh agar dapat menatap Rena. Namun bukannya menjawab, dia malah nyengir kemudian kembali menghadap ke depan. Rena makin heran dibuatnya.
Jika ada yang bertanya apa sih yang menarik di sana? Jika karena ada orang berkerumun, di lapangan Utara bahkan lebih ramai. Jawabannya adalah karena di sana ada sosok yang yang nampak tinggi menjulang dibanding dengan orang lain di sekitarnya.
Kenapa aku begitu sensitif dengan orang yang badannya tinggi ya? Gumam Senja dalam hati.
"Bagi petugas pembaca Dasa Darma, segera keluar barisan dan ikuti Kakak Wiwik menuju lapangan tengah. Sekarang!"
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Senja menyambut instruksi itu dengan suka cita. Dia segera berbalik dan keluar barisan.
"Dik, kamu yang gantiin Nana kan?" tanya panitia dengan name tag Wiwik saat berjalan bersama menuju lapangan tengah.
"Iya Kak," jawab Senja.
Wiwik memperhatikan Senja dari atas sampai bawah sambil berjalan.
"Kak Yoga!" tiba-tiba Wiwik memanggil salah satu panitia untuk menghampirinya.
Yang dipanggil pun mendekat.
__ADS_1
"Ini yang gantiin Nana," kata Wiwik dengan menunjuk Senja. "Dengan tinggi segini aneh nggak sih kalau dia ada di urutan ketiga?" lanjut Wiwik kemudian.
Yoga pun memperhatikan Senja. Namun yang diperhatikan justru melayangkan pandangannya ke berbagai penjuru sisi lapangan tengah.
Orang tadi pada kemana sih? Kok cuma ada setumpuk kayu bakal api unggun? Gumam Senja dalam hati.
Senja POV
Menghafalkan satu kalimat, mengucapkan lantang setelah berlari mengitari api unggun yang baru disulut. Rasanya itu tak akan menyulitkanku.
Eh, orang-orang tadi pada ke mana ya, perasaan tadi mereka berdiri tak jauh dari tempat api unggun ini deh.
Aku terus menyapu ke semua sisi lapangan tengah. Hingga akhirnya aku menangkap siluet sosok dengan tubuh tinggi menjulang berlari di bagian Selatan.
"Ga, kamu pegang dulu ya aku mau ke belakang."
Sayup-sayup kudengar suara seseorang berbicara pada seseorang yang dipanggilnya Ga. Mungkinkah dia Kak Arga? Ngapain dia di sana?
Ah, jangan lebay ah. Mungkin saja yang dimaksud Yoga, Raga, Galih atau Ga yang lain.
"Dik?"
"Iya Kak," jawabku.
"Kamu bisa nggak kalau diganti ke dasa darma pertama. Pendek kok kalimatnya. Soalnya gini, kamu tuh paling tinggi dari ke-10 anak yang bertugas, sedangkan kemarin kita bagi tugas berdasarkan tinggi badan. Kan nggak lucu kalau yang lain udah urut tapi kamu malah menjulang di tengah," terang Kak Wiwik dengan sabar.
"Nggak apa-apa kok Kak. Aku cuma perlu ngucapin 'Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa' kan?" ucapku dengan yakin.
Kak Yoga dan Kak Wiwik manggut-manggut menanggapinya.
"Ga, stop Ga!"
Refleks aku menoleh. Ga siapa sih yang ada di sana?
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.
__ADS_1