
"Kamu yakin?"
Yang ditanya pun hanya mengangguk mantap.
"Kamu ngangguk tapi kok muka kamu ragu gitu?"
Dan lagi-lagi yang ditanya pun hanya diam.
"Ga, please deh ngomong, jangan bikin kita takut napa?" keluh Rivan.
"Enggak kok, ayo." Arga pun bersiap dengan mulai menyalakan mesin motornya.
"Kak," panggil Ayu tiba-tiba. "Kita kan bertiga nih, sedangkan Kakak cuma berdua, jadi kita gimana?" lanjutnya kemudian.
"Gimana apanya?" tanya Rivan.
"Ya nggak mungkin kan satu motor bawa 3 orang?" kata Ifa menjelaskan.
"Kalian putuskan siapa 2 diantara kalian yang ikut dengan kami."
Rivan tercengang sambil bertepuk tangan menatap ketegasan Arga.
"Lu kayaknya lebih pantas jadi ketua OSIS deh daripada gua, kenapa dulu lu enggak nyalonin?" kata Rivan kemudian.
"Tck!" Arga hanya berdecak dan segera memalingkan mukanya.
"Pst, sst, ada hubungan apa sih Arga sama Senja?" lirih Rivan kepada ketiga kawan Senja. Namun mereka bertiga kompak menggelengkan kepala.
"Jadi nggak?!"
Rivan melonjak kaget karena mendengar bentakan Arga. "Sumpah deh, hancur udah image gue sebagai ketua OSIS yang tegas, berwibawa dan bijaksana," ucap Rivan dengan wajah memelas.
1 detik
2 detik
3 detik
...
10 detik
"Kayaknya mending Ifa sama Ucik aja deh, soalnya aku rada lemot di situasi genting," kata Ayu.
"Kayak mau perang aja deh," kata Rivan menanggapi ucapan Ayu.
"Ehm, sebelum saya menjelaskan barangkali Kak Arga mau menyampaikan sesuatu," ucap Ucik tenang.
Dengan anggukan kepala Arga mempersilahkan Ucik untuk menjelaskan kondisi Senja.
Ucik nampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya dia berkata, "gini ya Kak, Senja itu nggak boleh deket sama cowok, baik itu sebagai teman apalagi lebih. Kurang tahu deh alasannya apa, setahuku hanya sebatas itu. Senja juga enggak boleh kemana-mana selain ada keperluan sekolah. Jadi karena kami berdua ini nanti membawa dua spesies manusia berjenis kelamin laki-laki, ini nanti alasan kita ke sana apa?" kata Ucik panjang lebar.
__ADS_1
"Ha?!" Rivan tercengang dibuatnya.
"Bukan nggak boleh keluar, dia boleh kok asalkan sama anggota keluarganya," imbuh Arga.
"Ha?!"
Kini bukan hanya Rivan yang kaget mendengarnya, namun Ayu dan Ifa juga sama. Ucik pun sebenarnya iya, namun karena dia sangat datar dan tidak ekspresif, hanya mata yang sedikit terbelalak menjadi indikasi bahwa dia terkejut dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Arga.
Glek
"Ga, kayaknya ini udah nggak bisa ditunda lagi deh, lu mesti ngejelasin sama kita, ada hubungan apa sampai elu sebegitu pahamnya tentang Senja."
"Nggak ada, emang beneran enggak ada. Dan aku tahu itu semua secara nggak sengaja," kata Arga dengan ekspresi datarnya.
"Lu pikir kita pada percaya," kata Rivan.
"Mau percaya silakan, nggak percaya juga nggak masalah."
"Oke, terus ini tadi lu kenapa tiba-tiba ngebet banget buat jengukin Senja, padahal tadi pagi masih ogah-ogahan pas gue ajak. Nggak mungkin kan kalau alasannya nggak sengaja tiba-tiba pengen jenguk adik kelas yang lagi sakit," tanya Rivan dengan tatapan penuh selidik.
"Indra nitip apa buat Senja?" bukannya menjawab Arga malah balik bertanya kepada ketiga sahabat Senja.
Ayu, Ifa, dan Ucik nampak terkejut dan saling memandang satu sama lain.
"Udah deh Ga, dari tadi pagi kejutan yang lu kasih banyak banget sih, nggak lupakan ini hari Jumat. Ini udah jam 10. Kalau nggak segera berangkat, masa iya nunggu abis jumatan. Terus ini bocah-bocah kita suruh nunggu di mana. Apa iya kita bawa pulang?"
Ketiga sahabat senja hanya mengangguk cepat, seolah kegalauan mereka telah terwakili oleh Rivan.
Mereka semua terdiam.
"Oke, ayo," kata Rivan kemudian.
"Ayu enggak apa-apa kan kita tinggal?" kata Ifa sebelum menaiki motor Arga.
"Enggak masalah kok, aku bareng sepupu aku, bentar lagi dia juga keluar," kata Ayu.
Mereka berempat pun akhirnya memulai perjalanan menuju rumah Senja. Arga berjalan terlebih dahulu sedangkan Rivan mengikutinya di belakang. Tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, hingga akhirnya Arga berhenti tepat di depan rumah sederhana dengan halaman yang luas.
"Ini Ga rumahnya?" tanya Rivan masih dari atas motornya.
Arga hanya mengangguk dan mengode Rivan agar masuk terlebih dahulu. Akhirnya Rivan berjalan mendahului Arga dan masuk terlebih dahulu ke halaman rumah Senja.
Belum juga standar motor mereka turun, sudah ada sebuah motor yang tiba dan melewati mereka begitu saja menuju samping rumah dan memarkirkan motor di sana.
Ifa hanya menelan ludahnya kasar. Meskipun ia belum pernah berinteraksi langsung dengan Atma, cukup dengan melihatnya saja dia sudah tahu bahwa kakak Senja ini orangnya cukup keras dan tegas.
Lagi-lagi Arga mempersilahkan Rivan untuk berjalan terlebih dahulu dan mengucap salam.
"Assalamualaikum, permisi Pak," sapa Rivan kepada Atma yang sudah terlebih dahulu berdiri di teras.
"Waalaikumsalam, ada perlu apa ya?"
__ADS_1
Sialan nih Arga, giliran yang beginian gua disuruh maju duluan. Batin Rivan.
Sedangkan Ifa sudah begitu gugup dan perasaannya tak karu-karuan. Tiba-tiba seseorang berjalan dari dalam rumah dan berdiri ditengah mereka.
"Loh Mas, ada tamu kok enggak suruh duduk sih," kata Arti yang keluar untuk menyambut suaminya yang baru saja pulang kerja.
"Tapi ini jam berapa sudah hampir waktunya jumatan loh," kata Atma sambil menyerahkan tas yang dibawanya kepada sang istri.
Arti kemudian tersenyum dan meraih tangan suaminya. Seakan luluh, Atma segera masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu yuk, temennya Cahaya ya?" tanya Arti pada mereka.
"Iya Mbak, gimana keadaan Aya, dia sakit apa?" kata Arga yang akhirnya bersuara.
Sedangkan Ifa, Ucik, dan Rivan yang masih tak paham dengan situasi ini pun hanya mampu saling mengumpankan kebingungan.
"Udah mendingan sih, cuma tadi pagi sama Ibu nggak boleh berangkat, mungkin besok udah sekolah," terang Arti.
Arga hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan 3 orang lainnya masih stand by dengan wajah bingungnya.
"Senja gimana?" bisik Rivan pada Arga.
Arti tersenyum mendengarnya, hingga akhirnya dia berkata, "Senja kalau di rumah biasa dipanggil Cahaya, atau Aya kaya yang Arga bilang."
"Ohh, maaf Mbak, kirain kita salah rumah. Soalnya diantara kita cuma Arga yang katanya tahu rumah Senja," kata Rivan.
"Oh iya kalian ada perlu apa?" tanya Arti.
"Jadi gini Mbak, besok kan Senja dapat tugas mewakili kelas VII untuk sambutan di acara persami penerimaan siswa baru, nah kita mau menanyakan apakah besok Senja bisa hadir atau tidak," terang Rivan.
Setelah mengatakan 1 kalimat panjang itu, Rivan baru teringat kalau dia belum memperkenalkan diri. "Oh ya Mbak saya Rivan ketua OSIS di sekolah Senja, sedangkan ini Arga, dan mereka berdua eemmm, teman sekelas Senja," kata Rivan memperkenalkan diri mereka. Saat hendak memperkenalkan Ucik dan Ifa, Rivan baru teringat kalau dia belum sempat berkenalan dengan mereka.
Seolah paham dengan jalan pikiran Rivan, akhirnya Ucik pun berkata, "saya Suci Mbak, dan ini Hanifa."
Arti nampak mengangguk paham.
"Bentar ya, saya panggilkan Aya dulu," kata Arti sambil bangkit dan masuk untuk memanggil Senja.
"Ga...," panggil Rivan lirih.
"Please jangan nanya apapun sekarang," potong Arga cepat.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
__ADS_1
Happy reading, love you all.