SENJA

SENJA
154


__ADS_3

"Aku gak mau lihat kamu berbuat hal bodoh seperti semalam, mas." kata Senja.


Langit diam, dia tidak ingin menjawab permintaan Senja.


"Mas, aku tahu kamu marah. Tapi dengan berbuat seperti itu malah akan merugikan kita. Aku tidak mau kamu masuk penjara karena hal ini." Kata Senja, "Serahkan saja Clara ke lihak berwajib, biarkan dia mendapatkan hukuman disana "


"Aku merasa hukuman dari polisi tidak setara dengan apa yang sudah ia lakukan pada kita, sayang."


"Apa yang menurut kamu pantas, Mas? Kematian? Apa kamu akan menjadi pembunuh? Apa kamu mau anak-anak mengenal papanya sebagai pembunuh?"


Langit diam.


"Tolong turuti kata-kataku, Mas. Serahkan dia ke polisi."


"Aku sulit untuk melakukannya, sayang."


Senja menghela nafas menatap suaminya penuh kekhawatiran, "Ku mohon jangan membuat kami harus kehilanganmu, Mas. Aku dan anak-anak butuh kamu."


Langit mengecup kening Senja, "Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian."


Senja masih menatap Langit berharap suaminya mendengarkan perkataannya.


"Aku pergi sebentar, sayang. Aku akan membawa anak-anak kemari melihat adiknya." Langit membedi kecupan lebih lama di kening Senja kemudian meninggalkan ruangan.


"Ibu, Langit pamit pergi dulu. Langit gak akan lama." Kata Langit


"Iya, Nak. Pergilah." Sahut Ibu.


"Jika Ibu butuh bantuan, bilang saja pada mereka." Langit menunjuk dua orang yang sedang berdiri tak jauh dari pintu ruangan Senja.


"Iya. Nak."


Langit dan Hengky bergantian mencium tangan Ibu Senja, kemudian mereka bergegas pergi.


Hengky membawa Langit pulang ke rumahnya, karena semalam ia sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa Clara ke gudang rumah Langit.


Ketika Langit menghampiri gudang, beberapa pria bertubuh tinggi besar sudah menyambutnya.


"Selamat pagi, pak."


Sapa mereka kompak, salah seorang membukakan pintu untuk Langit dan Hengky.


Terlihat Clara sedang meringkuk dengan kaki dan tangan yang terikat. Tanpa diminta, salah seorang pria bertubuh besar itu membangunkan Clara.

__ADS_1


Merasa tubuhnya digoncang kasar, Clara membuka matanya perlahan. Samar ia melihat ada Langit dan Hengky berdiri tak jauh darinya.


"Kak Langit!!" Nadanya bergetar ketakutan.


"Jangan sebut nama gue dengan mulut lo yang menjijikkan itu!" Sentak Langit.


"Kak, tolong maafin gue, Kak!" Clara bersujud didepan Langit


"Udah gue bilang, sampai lo mati gue gak akan pernah maafin lo! Kalau saja Senja gak ngelarang gue, hidup lo udah kelar hari ini!"


Clara terkejut menatap Langit, "Lo gak akan ngelakuin itu ke gue, kak. Lo sayang sama gue."


Langit tersenyum sinis lalu ia jongkok tepat di depan Clara dan melemparkan dua botol kecil air mineral.


"Gue gak akan laporin lo ke polisi ataupun masukin lo ke penjara."


Clara terlihat senang, "Makasih kak! Makasih! Gue janji gak akan ngulangi kesalahan gue lagi!"


"Bagus!"


Clara tersenyum senang ingin meraih tangan Langit namun segera ditepis.


"Minum itu dan habiskan!" Pinta Langit


"Makasih, kak. Lo masih peduli ke gue." kata Clara.


"Lo bisa minum lagi kalau masih haus!" Langit membukakakn satu botol lagi dan memberikannya pada Clara.


Clara mengambilnya dan meminumnya setengah lalu meletakkannya.


"Mulai sekarang bersiaplah menahan rasa sakit di perut lo." bisik Langit di telinga Clara.


Clara mengernyit menatap Langit, "Apa maksud lo, kak?" tanya Clara


Langit berdiri, "Dalam air itu ada obat yang akan membuat rahim lo rusak dan buat lo gak akan punya keturunan." jawab Langit.


"Lo bercanda kan, kak?"


"Satu lagi, mungkin kaki lo juga akan lumpuh." Langit menendang pelan kaki Clara. "Karena lo cuma minum setengah, mungkin gak akan terlalu ngefek."


"Lo bohong, kak. Lo gak akan ngelakuin semua ini ke gue?"


"Kenapa gue gak bisa ngelakuin ini ke elo? Lo lihat aja nanti. Rasain pelan pelan rasa sakitnya! Gue gak akan kirim dokter buat ngobatin Lo."

__ADS_1


"Lo jahat, Kak!" Air mata Clara mulai keluar.


"Gue bisa lebih kejam dari ini kalau saja gue gak punya Senja dan anak-anak gue!"


Langit hendak melangkah pergi, namun langkahnya terhenti karena teringat sesuatu.


"Oya, hampir aja gue lupa." Langit kembali jongkok dihadapan Clara, "Lo gak perlu khawatir cari orang yang mau ngerawat lo, gue akan balikin lo ke bokap lo. Dia akan senang putrinya sudah tumbuh jadi wanita dewasa dengan paras yang cantik. Pasti banyak pria hidung belang yang akan tertarik ke lo."


"Maafin gue, Kak. Maafin gue! Gue gak mau di jual bokap gue! Tolongin gue! Gue gak mau lumpuh! Gue gak mau jadi wanita penghibur, Kak!" Teriak Clara diantara tangisannya.


Langit dan Hengky pergi begitu saja. Teriakan Clara yang memanggil-manggil namanya tak membuatnya Iba dan berhenti.


"Setelah semuanya selesai, Kirim dia kembali ke bokapnya!" Kata Langit


"Ya, Lang."


Hengky pergi ke arah yang lain sedangkan Langit masuk ke dalam rumah. Ia memberi peringatan untuk semua asistenny agar tak ada satu pun orang yang boleh menolong Clara. Setelah itu ia pergi kekamarnya untuk mandi.


Usai mandi ia merebahkan dirinya di tempat tidur untuk istirahat sebentar. Mengingat masih ada sedikit waktu sebelum Sky dan Sora pulang.


Teriakan Clara terdengar sampai ke kamarnya, Ia tersenyum senang karena obat yang dia berikan mulai bereaksi.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


//Maaf ya telat up nya.


Jangan Lupa WAJIB like, coment, vote dan bintang limanya bagi yang belum kasih bintang lima buat novel Senja.


Dari 800 reader masa yang like gak ada yang sampe dua ratus, yang komen gak ada yang sampai seratus. Author sedih tau. Mewek nih aku.//

__ADS_1


__ADS_2