
Hanifa!"
Merasa namanya dipanggil, Ifa segera menoleh. Begitu pula dengan Ayu dan Ucik. Mereka kompak menatap objek yang sama, yaitu pemilik suara yang memanggil nama Ifa.
...***...
Ifa POV
"Iya Kak," jawabku pada Rayi.
"Senja sakit katanya? Beneran?" tanya Rayi padaku.
"Iya. Kok Kak Rayi tahu?"
Rayi tak menjawab namun dia malah menyodorkan sebuah paper bag kepadaku. "Bisa tolong kasih ini buat Senja?"
Aku menerimanya dengan ragu. Masalahnya aku bingung bagaimana cara memberikan bingkisan itu pada Senja. Setelah paper bag itu berada di tanganku, aku menatap Ayu dan Ucik secara bergantian untuk meminta pendapat mereka.
"Tapi kita belum tahu rumahnya Senja Kak," kata Ucik tiba-tiba.
Memang temanku yang paling irit bicara ini seringkali bisa diandalkan dalam kondisi dan situasi seperti ini.
"Ini dari Indra." Bukannya menanggapi pernyataan Ucik, Rayi ini malah menjelaskan kan dari mana bingkisan ini berasal.
For your information ya, Indra itu leader salah satu geng di sekolah, khususnya di kelas VIII. Dan geng yang dia pimpin bakal mencapai puncak kejayaannya ketika berada di kelas IX nanti. Setidaknya itu adalah info yang aku ketahui terkait geng yang ada di sekolah selama ini.
"Tapi Kak."
"Udah anterin aja, sekalian jenguk teman kalian kan?"
Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut.
Rayi kemudian merangsek mendekat ke arah ku. "Jangan lupa anterin, atau..."
Ya ampun, sengaja banget dia menggantung ucapannya terus melenggang gitu aja. Ganteng sih ganteng, tapi duh nggak banget kelakuannya. Aku yang semula berdiri kemudian ambruk di kursi. Kubuka tutup botol air mineral ku dan segera kutenggak dengan rakus. "Uhuk, uhuk, uhuk," aku sampai terbatuk-batuk saking paniknya.
"Santai woy santai," ucap Ayu sambil menepuk-nepuk punggungku.
"Tadi siapa?" tanya Ucik datar. Meskipun datar, tapi aku tahu dia tak tenang.
"Aku tadi mau bilang kalau Senja sebenernya udah ada fans. Belum juga ngomong utusannya udah nongol."
"Senja tahu?" tanya Ucik lagi.
"Belum. Aku belum sempet ngasih tahu," jawabku.
"Terus kamu tahunya gimana?" tanya Ucik.
"Ingat nggak aku pernah nganter Senja ke toilet berdua sekitar seminggu yang lalu?" tanyaku pada Ucik dan Ayu.
Mereka nampak berfikir sejenak.
"Pas sebelum pelajaran Pak Nanang ya?" tanya Ayu. (ada di part yang judulnya 'Resah')
Flashback On
__ADS_1
"Fa, toilet yuk," ajak Senja padaku saat dering bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
"Ngapain?" tanyaku pada Senja.
"Kebelet nih," jawab Senja sedikit gelisah karena menahan hajatnya.
"Ogah ah, aku nggak kebelet. Toilet sendiri aja sono, biasanya juga berani," jawabku sambil memainkan pulpen ku.
Senja pun menunduk nampak pasrah.
"Anterin aja napa Fa, nggak di kasih contekan bahasa Inggris mam**s kamu," ucap Ayu.
Seolah mendapat angin segar, Senja lalu menyunggingkan senyumnya sambil menarik turunkan alisnya menatapku.
"Ih, ayok, ayok." Aku menyerah dan segera bangkit dari tempat dudukku.
"Ifa cantik deh," ucap Senja.
"Nggak mempan, ayo buruan!" ucapku sambil berjalan. Aku dan Senja pun berjalan beriringan menuju toilet.
Di depan toilet ada beberapa siswa yang sedang bersandar di pagar taman. Saat ku perhatikan lagi, itu adalah Indra dan beberapa rekannya. Ngeri juga kalau ketemu dia di sekolah. Tanpa bersuara, tatapannya sudah berhasil mengintimidasi ku. Tak heran kalau dia jadi leader dari dari geng anak kelas VIII. Segera kualihkan pandanganku pada Senja yang semula berjalan di belakangku. Ternyata dia sudah menghilang dalam toilet wanita. Menyadari hal itu, aku segera masuk menyusulnya.
"Loh, kamu mau ngapain?" heran Senja saat melihatku masuk dengan tergesa.
"Jadi ikut kebelet, hehehe," dalih ku sambil masuk ke salah satu bilik. Setelah menuntaskan hajatku, aku segera keluar dan menunggu Senja di dalam toilet.
"Loh, Ifa. Ngapain kamu di sini?" tanya Senja saat melihat ku masih yang belum keluar.
"Itu, di luar ada Kakak kelas, takut aja nunggu kamu sendirian di luar," jawabku.
Aku mengangguk, kemudian kami keluar dari toilet bersama. Saat baru saja keluar dari toilet, Indra sama antek-anteknya nampak memperhatikan kami. Ya Tuhan, perasaan ku tak enak.
"Ifa, sini bentar," panggil seorang diantaranya.
Saat aku menoleh, ternyata Rayi yang baru saja memanggilku. Dia kemudian menyuruh ku menghampiri mereka.
"Fa, siapa?" tanya Senja tanpa bersuara saat aku hendak menghampiri mereka.
Aku hanya mengedipkan mata, seolah berkala nggak apa-apa.
"Ada apa Kak?" tanyaku pada Rayi dan Indra saat aku tiba di hadapan mereka. Diantara mereka berempat, aku hanya mengenal Rayi dan Indra. Namun Indra kini sama sekali tak menanggapi ku.
"Temen kamu namanya siapa?" tanya Rayi.
"Yang mana Kak?" aku balik bertanya pada Rayi.
"Yang itu," jawab Rayi sambil menunjuk Senja dengan matanya.
"Emangnya kenapa Kak?" bukannya menjawab aku malah balik bertanya lagi.
"Udah jangan banyak nanya, tinggal jawab namanya siapa?" tanya Rayi. Melihat ku yang tak kunjung menjawab pertanyaan mereka, Indra kemudian menatapku tajam.
"Se, Senja Kak," jawabku terbata. Gila, baru ditatap gini aja, aku udah gemetaran.
"Dia punya pacar?" tanya Rayi lagi.
__ADS_1
Tak sengaja ekor mataku menangkap sosok Indra yang kini tengah menatap Senja.
"Hey!"
"Ya?!" kagetku.
"Kamu jangan banyak mikir, tinggal jawab aja," kata-kata Rayi ditambah dengan perubahan raut wajahnya yang tak lagi ramah cukup membuatku keder.
"A, itu, anu..,"
"Apa?" potong Rayi sambil menatap ku tajam dengan senyum yang menawan tapi begitu menakutkan.
"Belum Kak," jawabku cepat.
"Gitu kek dari tadi," jawabnya dengan senyum ramah yang sudah terbit kembali.
Sementara itu Indra kembali menatap Senja, dan kedua temannya nampak asik berbincang.
"Fa, Pak Nanang," panggil Senja sambil menunjuk pak Nanang yang berjalan menuju kelasku.
"Kak, aku ke kelas dulu ya," pamitku pada Rayi, Indra dan kedua temannya. Aku kemudian berjalan menghampiri Senja.
Saat aku sudah bersama Senja, aku menoleh sejenak ke arah mereka, dan ternyata mereka tengah menatap kami dengan senyum ramah, kecuali Indra. Dia menatap kami tanpa ekspresi. Aku segera berpaling, ngeri lama-lama ngelihat Indra, suer.
"Fa, tadi siapa?" tanya Senja padaku saat kami berjalan beriringan menuju kelas.
"Yang mana?"
"Ya semua lah," kata Senja.
"Yang tadi manggil aku namanya Rayi dan yang diem aja namanya Indra, mereka tetanggaku. Dan yang dua aku nggak kenal," jawabku pada Senja.
Melihat pak Nanang yang baru saja masuk kelas, aku dan Senja mempercepat langkah dan tepat saat tubuh kami mendarat di tempat duduk, Pak Nanang mengucapkan salam.
Flashback Off
"Terus maksudnya?" tanya Ayu.
"Saat itu aku curiga kalau salah satu diantara mereka ada yang naksir Senja, tapi aku nggak yakin siapa. Tapi setelah Rayi ngasih ini, aku yakin kalau Indra yang naksir sama Senja."
"Bakal nyusahin Senja nggak?" tanya Ayu sambil menyeruput es teh nya.
"Menurut kamu?" ucap Ucik tiba-tiba.
Pandangan kami beradu. Bagai alat pemindai mata kami sibuk menelisik. Hopefully everything will be okay.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini.
Semoga yang baca suka.
Yang udah baca berkenan untuk meninggalkan jejak.
Serta melontarkan kritik dan saran demi perkembangan author.
__ADS_1
Thank you so much, love you all.