SENJA

SENJA
Cahaya Senja bukan Arwina


__ADS_3

^^^Apakan ada yang masih berhubungan dekat dengan mantannya Kakak atau mantannya Adik kalian?^^^


^^^Bagaimana hubungan kalian dengan mereka?^^^


^^^Happy reading, jangan lupa jejaknya ya.^^^


^^^Kritik saran welcome sangat.^^^


"Ma'af Pak, saya cuma mau ngambil ini." Arga berbicara dengan tenang.


"Penggaris saja harus pinjam pada Adik kelas."


Arga terkejut dengan pertanyaan guru matematikanya ini. "Karena punya saya tertinggal di rumah dia Pak?" jawabnya dengan menatap Senja.


"Untuk alasan apa penggaris kamu ketinggalan di rumah dia," kata Pak Umar dengan menatap remeh Senja.


Ya Tuhan, harus banget ya sinis kayak gitu. Batin Senja.


"Apapun alasannya, insyaallah nggak akan mempengaruhi prestasi kami Pak."


Bel masuk pun berdering.


"Baiklah, kalau begitu kamu ambilkan buku saya itu dan bawa ke kelas kamu," ucap Pak Umar sambil menunjukkan setumpuk buku di meja guru.


"Baik Pak." Arga segera masuk ke kelas Senja dan mengambil buku yang dimaksud.


"Permisi Pak."


"Mau kemana kamu?"


Senja terpaksa menghentikan langkah yang baru saja dia mulai.


"Kamu nggak punya penggaris?"


Senja berbalik menghadap Pak Umar dengan kepala menunduk. "Punya Pak."


"Jadi untuk apa kamu pinjam penggaris Arga?"


"Beberapa hari yang lalu saya mematahkan penggaris Senja Pak." Bukan Senja yang menjawab, tapi Arga yang baru saja keluar dari kelas Senja dengan buku di tangannya.


"Saya ingatkan sekali lagi, kalian sekolah untuk belajar, bukan main-main apa lagi pacaran! Kalian..."


"Permisi Pak Umar..." sapa Bu Nani ramah yang membuat Pak Umar menghentikan omelannya. "Saya ada jadwal di kelas ini Pak, atau jangan-jangan saya yang salah lihat jadwal."


"Bu Nani tidak salah. Saya hanya ke sini untuk mengambil buku yang ketinggalan. Sekarang waktunya saya di kelas IX c, tak tahunya ketua kelasnya malah masih asik di sini."


Senja yang merasa di sindir hanya bisa menunduk.


"Mohon maaf, saya hanya sedang mengambil penggaris," protes Arga


"Baik, ada lagi yang ingin di sampaikan Pak?"


"Saya hanya mengingatkan kamu, kamu itu nggak pinter-pinter banget, jadi kalau nggak serius, lebih baik jangan di kelas unggulan."


Tubuh Senja menegang, matanya memanas dan Arga melihat dengan jelas perubahan wajah itu.


"Senja mengerti?" tanya Bu Nani.


"Mengerti Bu," jawab Senja dengan suara bergetar.


"Baiklah, silahkan kamu masuk," ucap Bu Nani pada Senja. "Adalagi Pak?" tanyanya pada Pak Umar.

__ADS_1


"Tidak. Saya permisi Bu. Mohon maaf sudah menganggu." Pak Umar segera berbalik hendak menuju kelas Arga.


"Pak Umar."


Pak Umar menghentikan langkahnya. "Iya Bu?"


"Ingat Pak, ini adiknya bukan Mbaknya." Setelah mengucapkan itu, Bu Nani segera masuk ke kelas Senja.


Pak Umar menegang. Kilatan masa lalu muncul tiba-tiba di benaknya. Iya, kamu Senja dan di dalam tubuhmu mengalir darah yang sama dengan Arwina.


Arga yang mendengar jelas perkataan Bu Nani tiba-tiba diserang rasa penasaran. Ternyata bukan hanya perasaanku saja. Sejak tadi aku merasa Pak Umar begitu tak adil memperlakukan Senja. Apa yang terjadi sebenarnya? Arga kemudian kembali mengayun langkah mengikuti Pak Umar yang terlebih dahulu berjalan di depannya.


***


Sore hari di rumah Senja.


"Cepet pulang ya Mas..." Senja berbicara tepat menghadap layar ponsel pintarnya bersama Ayah dan Ibu di kiri kanannya.


"Iya. Kamu belajar yang pinter ya. Ibu dan Ayah jaga kesehatan."


"Iya An, kamu juga. Jaga pola makan jangan keasikan kerja," kata Ayah.


"Atau kalau kerepotan ngurusin semua sendiri, kamu boleh kok cari istri," timpal ibu.


"Hehe, Ibu yang sabar ya. Ya udah aku pamit dulu assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah," serempak Ibu, Ayah dan Senja.


Bip


Dan panggilan pun berakhir.


"Udah kelar PR-nya Yah," jawab Senja. "Eh, Ibu sama Ayah kenal Pak Umar nggak, guru matematika Aya?" tanya Senja sambil mengutak-atik remote tv mencari acara yang ia sukai.


Degh!


Ayah dan Ibu menegang mendengar pertanyaan anak bungsunya. Sejurus kemudian keduanya saling melempar pandangan.


"Ada apa Nak?" tanya Ayah.


"Emmm, dia galaknya nauzubillah Yah."


"Hush, nggak boleh ngomongin gurunya kayak gitu," timpal Ibu.


"Beneran Bu, bayangin deh, dia tu ngomongnya sinis banget sama Cahaya. Tiap ketemu pasti aja ada masalah, padahal kalau sama yang lain enggak," gerutu Senja menceritakan keluh kesahnya di sekolah.


"Sinis gimana sih?" tanya Ibu.


"Ya gimana ya?" Senja bingung menjelaskan kepada kedua orang tuanya. "Ya pokoknya kalau ngomong itu nggak enak deh di kuping."


"Barangkali Cahaya ada salah?" tanya Ibu.


"Enggak ih. Susah ngejelasinnya." Senja begitu putus asa kalau kedua orang tuanya meragukan kebenaran ceritanya. "Terus tadi aku juga sempet dengar kalau Bu Nani, guru Bahasa Inggrisnya Aya bilang...." Senja ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Bilang apa Nak?" tanya Ibu penasaran.


"Emmm, tadi Aya lupa nggak bawa penggaris, tapi pas pelajaran sebenarnya nggak ngebutuhin penggaris juga, dan eee...." Senja mendadak dilema. Masa iya aku kudu cerita kalau penyebab ditegur gara-gara kepergok ngobrol sama Kak Arga.


"Apa Nak?" penasaran Ibu.


"Bu Nani bilang, Ingat Pak, ini Adiknya bukan Mbaknya, gitu," ucap Senja menirukan ucapan guru nya tadi di sekolah.

__ADS_1


Tiba-tiba Ayah dan Ibu merasakan sesak di dada. Tahun-tahun yang penuh luka seperti kembali ke dalam ingatan.


Ayah Samsul POV


Kenapa harus Cahaya ya Allah. Apakah belum cukup dengan kepergian Arwina, putri sulung ku.


Flashback 13 Tahun yang Lalu


"Assalamualaikum..." Ina berjalan masuk rumah dengan sebuah koper besar dan sebu0ah kardus berisi buku.


"Wa'alaikum salam." Aku dan istriku menyambut dengan suka cita kepulangan Ina yang baru saja diwisuda seminggu yang lalu.


"Wah Bu, tumben-tumbenan masak banyak banget, kayak mau nyambut tamu aja," ucap Ina saat menghampiri istriku yang berada di dapur.


"Emang mau ada tamu, kamu cepet bersih-bersih terus pakai baju yang rapi ya," pinta istriku.


"Tamunya siapa Bu?" tanya Ina penasaran.


"Nanti kamu juga tahu, cepat bersih-bersih gih."


Ina yang baru tiba di rumah pun melaksanakan perintah istriku. Saat itu aku merasa bahagia karena menurutku ini adalah yang terbaik untuknya.


"Assalamualaikum..."


Aku yang sedang menonton televisi dikejutkan dengan kedatangan tamu yang memang sebenarnya sudah kami tunggu. "Waalaikumsalam, mari masuk Pak Yadi." Aku mempersilahkan Pak Yadi dan anak istrinya untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


"Wah baunya wangi sekali, Bu Ami lagi masak ya Pak Samsul?" tanya Bu Yadi. "Saya nyusul ke belakang ya Pak."


"Silakan Bu, tapi mohon maaf loh belakang berantakan."


"Halah Pak Samsul ini, kayak sama siapa aja." Kemudian Bu Yadi berjalan menyusul istriku yang masih berkutat di dapur.


Aku berbincang dengan pak Yadi dan putra tunggalnya, Aryo. Aryo adalah seorang kepala sekolah di SDIT terkemuka di daerah sini. Dia menjabat sebagai kepala sekolah sejak 2 tahun terakhir. Selain karena iya adalah anak dari ketua yayasan, dia juga punya segudang prestasi yang patut dibanggakan. Salah satunya adalah mampu membawa SDIT yang berada di pinggiran ini menjadi salah satu SDIT terbaik di kota kami. Selain itu pribadi yang santun dan sopan membuatku mantap untuk menjodohkannya dengan Arwina atau Ina Putri sulungku.


Tak lama kemudian istriku dan Bu Yadi muncul dan kembali bergabung bersama kami.


"Ina jadi pulang kan Pak Sam?" tanya Pak Yadi.


"Iya Pak," jawab ku.


"Ibu susulin Ina ke kamar ya Pak?" bisik istriku.


Aku hanya mengangguk.


"Lah ini, yang ditunggu muncul," ucap Bu Yadi kala melihat Ina yang muncul dari balik pintu kamarnya.


"Eh ada tamu. Ibu Bapak apa kabar?" tanya Ina sambil menyalami Pak Yadi dan keluarganya.


"Yang ditanyain kabar cuma Bapak sama Ibu nih?" tanya Bu Yadi menggoda.


"Eh, Mas Aryo apa kabar?"


Dan perbincangan pun dilanjut kembali. Ina dan Aryo sudah kenal sejak lama meskipun tidak terlalu akrab.


TBC


Alhamdulillah. Author masih bisa nulis sampai part ini.


Makasih temen-temen sesama author maupun reader yang udah dukung Senja.


Semangat berkarya untuk semua.

__ADS_1


__ADS_2