SENJA

SENJA
105


__ADS_3

"Istri pak Langit!!" Batin empat wanita yang ada dibelakang.


Pernyataan Monic benar-benar membuat mereka terkejut. "Maafkan kami!!" ucap mereka kompak.


Senja yang kesal tak mengindahkan ucapan mereka. Langit tahu jika istrinya itu sedang kesal, ia mengalungkan tangan kirinya di bahu Senja dan mengusapnya pelan.


Senja menatap Langit yang tersenyum lembut, Ia seakan memberitahu untuk memaafkan pegawainya. Namun Senja mengabaikan itu.


Tring


Pintu lift terbuka dilantai satu. Semua pengguna lift keluar. Senja menghentikan langkahnya karena masih ingin berbincang dangan monic.


Sedangkan para pegawai wanita itu kembali meminta maaf kemudian pergi dengan rasa malu.


"Aku ke mobil dulu ya sayang." Langit beranjak pergi meninggalkan Monic dan Senja.


"Iya, Mas."


Monic mengajak Senja ke dekat dinding agar tidak menghalangi jalan.


"Anak-anak baru disini suka nyebelin Nja!! Sejak mereka tahu kalau pak Langit menjalin hubungan dengan pegawainya, jadi banyak pegawai cewek yang caper ke suami kamu." Monic menjawab apa yang sedang Senja pikirkan.


"Tapi kamu tenang aja, Pak Langit gak pernah nanggepin mereka. Senyum aja gak pernah." Monic menenangkan Senja. "Untung aja kamu dah balik kesini, biar sadar diri mereka."


Senja mengangguk-angguk. "Aku emang udah ngelakuin hal bodoh dengan ninggalin suamiku." keluh Senja.


"Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, Nja. Aku masih ada urusan nih. Kasian pak Langit juga nungguin kamu." Ucap Monic


Senja mengangguk, "Saya pergi dulu ya Bu." Senja beranjak pergi dan melambaikan tangan.


Senja berlari kecil ke arah mobil yang sudah terparkir di depan Loby. Bambang ada diluar pintu depan mobil siap membukakan pintu untuk Senja.


"Tuan muda ingin mengendarai mobil sendiri Nona." Ucap Bambang lalu membuka pintu mobil untuk Senja.


"Terimakasih ya, pak." Senja masuk ke dalam mobil dan segera memakai seatbelt.


"Memangnya kita mau kemana mas?" tanya Senja.


"Kan mau nyari sekolah buat Sky dan Sora. Emang gak jadi?" tanya Langit.


Senja cekikikan, sampai lupa niatnya sendiri. "Kamu nganter aku? Udah ngerasa punya anak sekarang?" sindir Senja.


"Iya ya, Aku sekarang udah punya anak. Kadang aku ngerasa masih belasan tahun."


Langit menatap pantulan dirinya di spion mobil dan hanya mendapatkan lirikan sinis dari Senja.


"Ayo mas, keburu sore nanti." Ucap Senja.


Langit langsung menancap gas, melajukan mobilnya meninggalkan halaman gedung kantornya.


Dijalan Senja mencari informasi sekolah sekolah TK yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah/kantor Langit. Karena dia berencana setelah menjemput anak-anaknya, ia ingin mengantarkan makan siang untuk Langit.

__ADS_1


"Habis ini belok kiri mas, di dekat sini ada." Senja memberi arahan dan Langit mengikutinya.


Hingga mobil Langit berhenti di sebuah Kindergarten dan Playgroup.


Sekolah sudah sepi, karena memang jam pulang sekolah sudah berakhir beberapa jam lalu. Seorang satpam menghampiri Langit dan Senja.


"Ada yang bisa dibantu pak, bu?" Tanya Satpam dengan sopan.


"Pak, saya mau cari informasi pendaftaran." Jawab Senja.


"Baik, Bu. Mari saya antar ke bagian informasi dan pendaftaran."


Satpam berjalan duluan menunjukkan arah dan berhenti di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Ada seorang perempuan berdiri dibalik meja menyambut kedatangan Langit dan Senja.


"Selamat siang, Mbak. Saya mau cari informasi pendaftaran untuk mutasi TK-A." Ucap Senja ketika masuk dalam ruangan.


"Selamat siang, Mama dan Papa. Mari silahkan duduk."


Senja dan Langit duduk di kursi yang telah disediakan.


Wanita itu meninggalkan meja sebentar mengambil sesuatu di dalam lemari besi yang ada dibelakangnya.


"Kenapa dia panggil kita Mama Papa? Kita kan bukan orangtuanya." Bisik Langit ke Senja.


Senja hanya mencubit pinggang Langit, karena wanita itu sudah kembali duduk didepan mereka dengan menyodorkan sebuah brosur.


"Perkenalkan, nama Saya Rahma yang akan menjelaskan informasi tentang KB-TK Happy Kids." Ucap wanita bernama Rahma itu.


Setelah penjelasan cukup dimengerti, Rahma mengajak Senja dan Langit mengelilingi sekolah melihat fasilitas sekolah.


Sekolah ini lebih besar dari sekolah Sky dan Sora di Malang, disini juga memiliki kolam renang sendiri.


"Cocok deh buat Sky dan Sora." Ucap Langit ketika mereka tiba didepan ruang pendaftaran.


Senja juga cocok tapi dia terlihat ragu karena biayanya beda hampir empat kali lipat lebih mahal dari sekolah lama anak-anaknya.


Langit menyadari itu, dia menatap Senja lagi. "Aku tahu yang kamu pikirin sekarang."


Senja tersenyum masam.


"Udah lupa kalau anak-anak tanggung jawabku?" tanya Langit mengingatkan Senja.


"Iya deh, terserah kamu mas." Ucap Senja pasrah.


Langit tersenyum, ia mengajak Senja masuk ke dalam untuk membayar Formulir pendaftaran dan biaya masuknya.


Usai menyelesaikan segala administrasinya, Langit dan Senja beranjak pergi dengan membawa dua kantong tas yang berisi seragam, dan beberapa buku pelajaran.


"Aku mau beliin sepatu dan tas untuk anak-anak, Sayang." Ucap Langit ketika baru masuk ke mobil.


Senja menggeleng, "Lebih baik kita pulang aja mas, karena aku mau kamu istirahat."

__ADS_1


"Tapi Sayang... "


"Jaga kesehatan kamu mas, aku dan anak-anak butuh kamu. Bagaiamanapun juga kesehatan nomer satu." Senja menggenggam tangan Langit.


Langit melihat Senja sedang benar-benar mengkhawatirkannya membuat ia pasrah menuruti kemauan Senja.


*********


Senja baru saja selesai menyiapkan makan malam di dapur dan segera kembali ke kamar untuk membangunkan Langit yang sedari sore tadi sudah tidur.


"Mas.."


Senja duduk ditepi tempat tidur, menggoyangkan lembut bahu Langit agar Langit segera terbangun dari tidurnya.


"Mas, Ayo bangun. Udah waktunya makan malam." Ucap Senja, ia melihat bola mata Langit sudah bergerak dari balik kelopak matanya.


Perlahan Langit membuka matanya dan tersenyum melihat Senja. "Aku tidur terlalu lama ya?" tanya Langit, Ia mengambil botol air mineral yang sudah Senja siapkan di meja kecil samping tempat tidurnya.


"Bagus donk, kamu bisa menikmati tidur kamu."


Langit melanjutkan meneguk air mineralnya hingga habis. "Kan ada kamu, tidurku jadi nyenyak." ucap Langit.


Senja tersenyum, " Ayo kebawah mas, aku udah masakin kamu."


Senja beranjak dari duduknya, namun Langit menarik tangan Senja hingga senja jatuh ke pelukannya.


"Mas, ayo makan dulu..." ajak Senja sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Langit.


Langit mendorong pelan tubuh Senja ke arah samping dan ganti menindihnya. "Nanti aja makannya, aku butuh nutrisi khusus dari kamu." Langit membuka satu persatu kancing baju Senja.


Senja tersenyum geli mendengar ucapan Langit. Dan dengan berani ia mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Langit, sedikit menariknya lalu ia melumat bibir Langit dan diakhiri dengan gigitan kecil dibibir bawah Langit.


Langit tak sempat menikmatinya karena terlalu kaget dengan ulah Senja.


"Sepertinya bukan aku aja yang butuh nutrisi?" goda Langit, membuat Senja tersenyum malu.


Langit langsung melumat bibir Senja dengan penuh gairah. Senja tak hanya diam, ia juga membalas ciuman Langit.


Tangan Langit sudah mulai bergerilya di dada Senja, ciumannya kini sudah berada di leher Senja yang jenjang diiringi rintihan kenikmatan yang mulai keluar dari mulut Senja.


"Apa ini yang selama ini kamu rindukan, sayang?" Tanya Langit di sela-sela ciumannya.


Senja mengangguk, "Aku merindukan semua tentang mu, mas." Ucap Senja parau


Dengan lembut Langit menenggelamkan jari-jarinya ditengkuk Senja dan sedikit mengangkatnya agar dia bisa leluasa menciumi leher Senja.


"Jangan coba-coba menjaga jarak denganku lagi, karena aku sedang menginginkan anak keduaku." Ucap Langit.


"Emmbbhh"


Senja tak menjawab, Ia sudah tenggelam dalam kenikmatan yang diberikan suaminya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2