
Senja mengikuti kemauan Langit yang menginginkan untuk ikut belanja keperluan Sky dan Sora. Sambil menunggu Langit ia memutuskan untuk pergi ke food Court dan pergi makan siang disana. Kebetulan sedari bangun tadi dia belum makan apa-apa.
Ditengah-tengah ia menyantap makan siangnya, ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Mia.
"Iya, Mi? ada apa?" Sapa Senja.
"Bu, ini ada kontraktor bangunan yang datang. Katanya utusan dari jakarta untuk renovasi ruko yang disebelah." Mia memberi penjelasan.
Senja terkejut, apa lagi-lagi suaminya yang memberi perintah?
"Kapan rencananya mereka lakukan Mi?" tanya Senja.
"Mereka mau melakukannya Sabtu sore, Bu. Dan mereka menjanjikan senin pagi sudah bisa digunakan untuk bekerja."
Senja berfikir sejenak.
"Ya sudah, kami pastikan mesin-mesin aman ya. Kasih pemberitahuan ke customer kalau Sabtu kita buka setengah hari aja." pinta Senja.
"Baik, Bu."
"Mungkin sabtu aku sudah kembali Mi, jadi bisa lihat-lihat ke ruko juga." Ucap Senja.
"Baik, Bu. Saya tunggu kedatangan anda."
"Makasih ya, Mi." Senja mengakhiri panggilan telpon dari Mia.
Senja tersenyum dan menggeleng-nggelengkan kepalanya memikirkan Langit yang selalu memberikan kejutan besar padanya lalu Ia melanjutkan makan siangnya dengan lahap.
Hampir dua jam Senja menunggu Langit di Food Court, Langit belum juga datang.
Beberapa waktu lalu Langit sudah menelpon menanyakan keberadaan Senja. Ia pikir Langit sudah dekat, namun suaminya itu tak kunjung muncul.
Senja memutuskan untuk keluar dari food court dan pergi ke sebuah showroom furniture terbesar di Mall tersebut dengan tak lupa mengirim pesan pada Langit.
Ia melihat-lihat di bagian tempat tidur anak dengan ditemani seorang SPG. Ia mencari yang cocok untuk Sky dan Sora.
"Senja?"
Mendengar namanya dipanggil, Ia menoleh ke belakang.
"Mas Farhan?"
"Hai, Nja? Apa kabar?"
Mereka berdua saling menghampiri dan memberi pelukan.
"Aku gak nyangka ketemu kamu disini." Ucap Farhan lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Iya, mas. Lama kita gak komunikasi." Senja menimpali. "Mas kerja disini?" Senja melirim ID card yang tergantung di leher Farhan.
"Iya, Aku jadi kepala divisi disini." Ucap Farhan. "Gimana kabar keluarga di Malang, Nja?"
"Alhamdullillah, baik semua Mas. Dokter Aira gimana kabarnya? kalian sudah punya momongan?" Tanya Senja.
Farhan terlihat sedih, "Masih kurang beruntung, Nja. Beberapa bulan lalu Aira keguguran."
"Sabar ya, Mas. Pasti kalian segera dapat momongan." Ucap Senja sambil menepuk lengan Farhan.
"Ehem!!"
Senja terkejut mendengar seseorang berdehem di belakangnya. Langit sudah berdiri dibelakangnya.
"Eh, Mas. Udah sampai?" Tanya Senja.
"Asyik banget kamu, sampai gak lihat aku datang." Ucap Langit sinis.
Senja hanya menghembuskan nafas panjang menghadapi Langit yang sedang cemburu.
"Lo jalan dari belakang dia, ya jelas dia gak tau." Farhan membela Senja.
Langit menatap Farhan dari kepala hingga kaki. "Jadi lo kerja disini?"
Farhan hanya mengangguk.
"Mas Farhan jadi kepala divisi di Aoxtek ini mas." kata Senja.
"Ih, kumat deh." gerutu Senja.
"Dia masih cemburuan aja?" Farhan menatap Langit remeh. "Inilah kenapa aku gak suka kalo kamu masih lanjut hubungan sama dia, Nja." kata Farhan.
"Oooh, jadi lo mau jadi duri lagi di rumah tangga gue?"Langit beranjak maju mendekati Farhan.
"Sudah sudah sudah!!" Senja menyelip diantara Langit dan Farhan. "Aku kesini mau cari perabotan untuk kamar Sky dan Sora, bukan lihat tingkah kekanak-kanakan kalian berdua. Oke!!"
Langit mundur selangkah dengan kesal.
"Mas, kita lanjutin ngobrol lain waktu ya. Sepertinya kamu kembali ke ruangan kamu aja. Aku mau keliling disini dengannya." Ucap Senja pada Farhan.
"Gak ada lain kali, Nja." Ralat Langit.
"Biar SPG ku yang temenin kalian. Semoga namu yang cocok ya." Ucap Farhan lalu meninggalkan Langit dan Senja.
"Mas, jangan gitu donk. Aku sama mas Farhan udah gak ada apa-apa. Dia dan Aira sudah seperti saudara bagiku." Senja memberi penjelasan.
"Aira?"
__ADS_1
"Istri mas Farhan, dia dokter kandungan yang merawat ku ketika hamil Sky dan Sora." Jelas Senja.
"Sebelum aku ke Malang, aku sempat pingsan dan Aira yang memeriksaku. Dia juga yang mengetahui jika aku sedang hamil. Ternyata aku berjodoh dengannya, ketika aku cari dokter kandungan di Malang kami bertemu lagi.
Karena kondisi psikis dan kandunganku tidak baik, aku mendapatkan perhatian lebih darinya mas. Dia dan mas Farhan sangat mensuport aku hingga Sky dan Sora lahir di dunia ini.
Aku harap kamu tidak bersikap seperti tadi dengan mas Farhan ataupun pada Aira jika kalian bertemu. Mereka juga sangat berarti di hidupku. Mereka yang membantuku kuat berdiri hingga dititik ini."
Langit menatap Senja penuh dengan penyesalan, "Maafkan aku ya, sayang. Seharusnya aku yang ada disampingmu saat itu."
Senja menggeleng, "Itu bukan kesalahan kamu mas, kini aku sadar. Itu semua hasil dari keegoisanku. Ternyata apa yang menurutku terbaik, belum tentu baik juga untuk orang lain."
Langit tersenyum, "Aku bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Apapun yang terjadi, kita adalah satu keluarga."
Senja mengangguk dan menggandeng tangan Langit untuk mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tidur untuk anak-anak mereka.
Di dampingi seorang SPG yang menjelaskan kelebihan dari masing-masing tempat tidur.
*********
Langit dan Senja tiba dirumah sekitar pukul delapan malam. Dua mobil box terpakir di depan teras rumah Langit. Beberapa pria asisten rumah tangga Langit menurunkan furniture dari dalam mobil menuju ke kamar yang sudah disediakan Langit untuk Sky dan Sora.
Senja dan Langit menurunkan beberapa paperbag dari beberapa toko dari dalam mobil. Ella dibantu para asistennya membantu membawakannya.
"Kamar anak-anak dimana, mas?" Tanya Senja yang masih belum tahu dimana letak kamar untuk anak-anaknya.
"Sebelah kamar kita, sayang." Jawab Langit.
"Bu Ella. Tolong tempatkan semua dikamar anak-anak, ya. Biar kami sendiri yang menatanya." Pinta Langit ke Ella.
"Baik, Tuan."
Langit dan Senja beranjak ke kamar mereka. Mereka sama-sama merebahkan diri diatas tempat tidur karena terlalu lelah.
"Ini lebih melelahkan daripada rapat!! tapi begitu sangat menyenangkan." Ucap Langit, Ia membuka kancing kemejanya karena gerah.
"Mas." Senja memanggil Langit, nadanya terlihat serius.
Langit menatap Senja, "Kenapa sayang?"
"Apa anak-anak akan baik-baik saja disini?" Tanya Senja.
Langit tersenyum, ia mengusap rambut Senja. "Jangan khawatirkan itu sayang. Aku akan selalu melindungi kalian."
"Apa boleh aku meminta Zia dan Kartika untuk mengawasi mereka?" Tanya Senja.
"Tentu, sayang."
__ADS_1
Senja tersenyum, "Makasih ya, Mas." Ucap Senja, ia memberikan pelukan di tubuh Langit.
-Bersambung-