SENJA

SENJA
120


__ADS_3

Senja baru saja menidurkan Sky dan Sora, setelah memastikan anak-anaknya tertidur pulas Senja kembali ke kamarnya.


Langit sudah menyelesaikan pekerjaannya, kini ia sudah bersiap untuk istirahat. Senja mematikan lampu kamar dan segera naik ke atas tempat tidur.


"Mas, Aku ngerasa salah deh kita masukin Sky dan Sora ke sekolah itu." Senja mulai curhatannya.


"Kenapa Sayang?" Tanya Langit.


"Orang tua anak-anak disana itu sosialita banget. Bikin aku risih." Jawab Senja.


"Kalo anak-anaknya?" Tanya Langit


"Enggak sih sepertinya, Sky dan Sora tidak mengeluhkan teman baru mereka."


"Jadi kan kita gak salah pilih sekolah."


Senja diam, "Iya juga ya." Senja terkekeh kecil. "Aku gak suka aja beberapa wali muridnya mas. Lebih parah dari sosialita di sekolah lama."


"Apa mereka menghinamu?" Langit menatap Senja serius, "aku akan mengirim orang untuk memberi pelajaran ke mereka."


"Enggggaaak!!" Senja menendang-nendang kesal karena sudah curhat dengan Langit, "Mereka gak ngapa-ngapain aku, mas. Cuma aku sebel aja dengan sikap mereka yang sok."


"Oooh, kirain mereka berani macam-macam denganmu." Langit kembali menyandarkan kepalanya di headboard tempat tidur. "Belum tahu mereka siapa suamimu."


"Tahu kok! Makanya mulai besok kamu jangan ikut ke sekolah anak-anak, mas. Aku gak mau kamu jadi bahan pembicaraan mereka."


"Berani sekali mereka membicarakanku." Ujar langit kesal. "Sepertinya aku benar-benar harus mencari tahu siapa mereka."


"Enggak gitu, Mas." Senja menepuk-nepuk dada Langit, "Mereka tuh ngomongin kamu ganteng lah, keren lah, Hot daddy lah. Kan aku sebel mereka bilang kaya gitu di depan ku. Istri sah kamu loh."


"Oooh, kirain ngomongin jelek. Kalo gitu sih gak apa sayang. Siapapun gak akan bisa terlepas dari pesona ku." Ucap Langit dengan senyum yang amat sangat lebar.


Senja langsung menimpuk wajah Langit dengan bantal dan segera tidur membelakangi Langit.


"Ih, Jahat banget sih kalau lagi cemburu." Goda Langit, merangkul pinggang Senja dari belakang.


"Udah, jangan bicara denganku, mas." Ucap Senja kesal.


"Jangan ngambek gitu laaaah."


Langit menggelitiki pinggang Senja, membuat Senja menggeliat geli.


"Mas udah ah, udah malam nih." Senja menghadap Langit dan menahan tahan Langit.


"Jangan ngambek lagi." pinta Langit.


"Habisnya kamu kegenitan sih sekarang." Senja masih kesal.


Langit menyelipkan lengannya dibawah kepala Senja untuk dijadikan bantal. "Aku cuma bercanda. Gimanapun juga gak ada wanita lain yang bisa menggetarkan hatiku selain kamu sayang." Ucap Langit.


"Ih Gombal."


"Yaudah. Aku gombalin cewek lain aja nih." Goda Langit lagi.


"Jangaaan."


Senja mendekap tubuh Langit dan membenamkan wajahnya di dada Langit, membuat Langit tertawa gemas.


Malam itu Langit terus-terusan menggoda Senja hingga mereka ketiduran.


**********


Pagi ini Senja sudah sepakat dengan Langit bahwa hanya Senja yang mengantar Sky dan Sora ke sekolah, sedangkan Langit ke kantor.


Senja mengantar Sky dan Sora hingga ke pintu gerbang, Zia dan Kartika langsung menuju ke ruang tunggu.


"Zi!!" Senja memanggil Zia sebelum ia kembali ke dalam mobil.


Zia berlari kecil menghampiri Senja. "Iya, Nona."


"Kamu sudah mengabari keluarga kamu?" Tanya Senja.


"Sudah, Nona. Mereka akan menunggu kedatangan tuan Marko dan keluarga." Jawab Zia. "Tapi, rumah saya ini termasuk di desanya Nona. Bukan kota."


"Lalu?"


"Perjalanan dari Kota ke desa kami memakan waktu cukup lama, Nona. Sekitar tiga jam. Jika memang anda sekeluarga tidak keberatan, kami akan menyediakan tempat menginap. Tentunya dengan keadaan yang ala kadarnya, Nona."


Senja diam Sejenak.


Ia dan Enna pasti sangat setuju, apalagi dengan Sky dan Sora. Tapi bagaimana dengan Langit, Hengky dan Marko. Apalagi dengan kedua orang tua Hengky

__ADS_1


"Untuk masalah ini biar ku bicarakan dengan orang-orang ya, Zi. Aku cuma ingin tanya, kamu ingin seserahan apa? Marko memintaku dan Enna mengurus semuanya."


"Saya tidak berani meminta macam-macam, Nona. Apapun yang diberikan tuan Marko asal tidak berlebihan akan saya terima dengan senang hati."


Senja mengangguk. "Baiklah, Zi. Aku akan pulang, tolong jaga anak-anak ya?"


"Baik Nona, hati-hati di jalan."


Senja masuk ke dalam mobil.


Agung menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir meninggalkan area sekolah.


Sejak di dalam mobil hingga sampai rumah, Senja sibuk dengan mencatat list apa saja yang akan dijadikan seserahan untuk Zia.


Ia juga mengajak diskusi Ella, namun Ella tak bisa menjawabnya. Dan baru Senja ketahui jika Ella sama sekali belum pernah menikah. Sejak kecil ia sudah mengabdikan diri menjaga Kakek mertuanya hingga saat ini.


Sesekali ia menelpon Ibunya meminta pendapat, jika saja ada yang kurang dari barang-barang yang sudah dia list.


Setelah menyelesaikan list barang yang akan dia beli dan menyelesaikan masakan untuk suami serta anak-anaknya, Senja segera berangkat menjemput Sky dan Sora.


Baru saja ia turun dari mobil, Casandra dan gengnya menghampirinya. Kini ada beberapa personil tambahan yang mengikutinya.


"Jeng Senja, sini deh." Senja ditarik meneduh dj depan pintu ruang tunggu.


"Ada apa ya?" Tanya Senja.


"Kita kan mau pembukaan arisan nih, ikutan yuk?" Ajak Casandra.


"Iya, yang ikut pas dua puluh orang kalau kamu jadi ikut. " Tambah Melly


"Murah kok iurannya kalo yang kali ini, cuma sepuluh jutaan."


"Hah!! Sepuluh juta? Maaf, saya gak bisa ikut." Tolak Senja, "Saya gak ada uang sebanyak itu untuk arisan."


"Ih, Masa' segitu aja gak punya?"


"Iya ih. Mobil kamu bagus gitu masa' arisan cuma sepuluh juta gak mampu."


Senja merasa risih diantara sekumpilan sosialita itu.


"Maaf, saya bener-bener gak bisa ikut. Maaf Ya." Senja meninggalkan segerombolan wanita-wanita itu.


"Tuh kan, San. Bukan selevel kita dia." Ucap Melly


"Mungkin suaminya masih ngerintis usaha jeng. "


"Orang kaya baru, ya."


Geng Casandra tertawa terbahak-bahak. Senja hanya menghembuskan nafas panjang mengerti dia masih jadi bahan obrolan mereka.


"Sabar, mbak. Memang gengnya Macan Ternak itu kaya gitu. Yang gak gabung grub arisan mereka ya jadi cibiran gitu." Seorang wanita yang baru duduk disamping Senja.


"Iya, mbak. Aku gak ambil pusing kok. Suka-suka mereka aja."


"Saya Tari, Mbak. Anak saya di TK-A. Mbak Anaknya TK atau Playgroup?"


"Saya Senja, Mbak. Anak saya TK-A juga. Baru masuk kemarin."


"Gak usah khawatir mbak, mending kumpul sama kita-kita aja."


Senja mengangguk, Ia lanjut mengobrol beberapa hal tentang rutinitas sekolah yang belum terlalu ia mengerti. Hingga bel berbunyi, Senja dan beberapa wali murid lainnya menghampiri pintu gerbang.


Seperti halnya kemarin, Senja menunggu Sky dan Sora dipanggil namanya.


"Mama!!" Teriak Sky dan Sora memeluk Senja setelah namanya di panggil.


"Kita langsung pulang, ya?"


Senja menggandeng edua anaknya masuk ke dalam Mobil, Zia dan Kartika juga menyusul masuk.


Setelah semuanya masuk, Agung mulai melajukan mobil meninggalkan pelataran sekolah menuju ke kantor Langit.


Senja sedang asyik mendengarkan anak-anakbya menceritakan setiap kejadian disekolah, dan tak sadar mereka sudah berhenti di pintu loby utama kantor.


Senja mengajak Sky dan Sora turun dengan Coolerbag tempat kotak makan Langit. Ia langsung menuju ke lantai dua belas.


"Mas Hengky!" Senja memanggil Hengky terlihat baru saja keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan Langit.


Hengky menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Anda sudah sampai, Nona?" Sapa Hengky.


Senja tersenyum.

__ADS_1


"Hai hai?" Hengky menyapa Sky dan Sora dengan senyum lebar dan lambaian tangan.


"Hai, Om ganteng." Sora balas menyapa Hengky, menambah rasa kepercayaan diri Hengky.


Hengky menatap Sky yang hanya diam menatapnya. "Kamu gak membalas sapaan Om, Sky?"


"Hai Om." Sapa Sky tanpa ekspresi.


Membuat Hengky bingung harus membalas atau mengabaikannya.


"Jangan dimasukkan hati ya, Mas. Dia banyak mewarisi sifat papanya." Kata Senja tak enak hati.


"Iya, Nona. Mari silahkan masuk." Hengky membukakan pintu ruangan Langit.


"Papaaaa!!"


Sky dan Sora berlari menghampiri papanya yang masih duduk di balik meja kerjanya


"Hallo Sayang!!" Langit berdiri dan menghampiri anak-anaknya, Ia duduk berjongkok dipeluk kedua anaknya.


"Hai, Sayang." Langit mencium kening Senja.


Senja mengajak anak-anaknya untuk duduk di Sofa, Langit mengikutinya.


"Aku sekalian mau ijin nyariin barang-barang seserahan untuk Zia, Mas." Senja membuka Coolerbagnya. "Jadi setelah ini aku langsung pulang, ya."


"Sama siapa?" Tanya Langit


"Aku sama Enna lah, Mas."


"Tapi kan masih jam kerja."


Senja diam sejenak, "Iya benar memang masih jam kerja. Apa aku bisa memanfaatkan jabatan kamu mas untuk ajak Enna keluar?" Senja memasang wajah imutnya.


"Tanya sama Bu Monic lah, sayang. Dia kan bukan anak buahku."


Wajah Senja berubah cemberut.


"Setahu saya dia sedang ada pertemuan di luar, Nona." Hengky yang baru saja memeberiksa beberapa berkas ikut bicara.


"Yah, Masa' sendirian." Keluh Senja


"Ajak Zia dan Kartika kan bisa. sayang." Ucap Langit diantara mulutnya yang penuh makanan.


"Mereka ku suruh jaga anak-anak dirumah."


"Gak mau!!" Tolak Sky dan Sora.


"Sora mau ikut Mama." Rengek Sora


"Sky juga, mau jalan-jalan." Rengek Sky juga.


"Tapi mama kan bawa barang banyak nanti, nak. Mama gak bisa ngawasin kalian. Jadi lebih aman Sky dan Sora dirumah aja ya." Senja mencoba memberi pengertian.


"Gaaak Maaaau." Sky dan Sora masih kekeh.


"Udah-Udah, Kamu belanja nanti malam aja sayang sama Enna. Aku sama Hengky juga ikut, ngajak anak-anak main di playground."


"Horeeeeee!!!" Sky dan Sora teriak kegirangan.


"Kok saya diikut sertakan pak?" Tanya Hengky.


"Kan bini lo ikut juga, Ky." Jawab Langit.


"Anda tidak mengerti seperti apa menunggu wanita berbelanja." Batin Hengky.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2