SENJA

SENJA
121


__ADS_3

Sesuai kesepakatan saat makan siang tadi, Langit pulang lebih awal hari ini. Ia segera membersihkan diri dan istirahat sejenak sambil melihat anak-anaknya bermain dikamarnya.


Tepat pukul enam sore Mereka berangkat pergi ke Mall. Senja dan Enna memilih untuk bertemu langsung di Mall. Tak lupa ia mengajak Zia dan Marko.


Saat tiba di lokasi tempat mereka berjanjian, Senja sudah melihat Zia dan Marko yang datang lebih dulu. Tak lama mereka menunggu, akhirnya Hengky dan Enna tiba juga.


"Mas, kami pergi belanja dulu ya. Titip anak-anak, jangan diajak main yang aneh-aneh." pesan Senja sebelum pergi.


"Iya, sayang." Ucap Langit, yang sudah menggandeng tangan Sky dan Sora.


Senja, Enna dan Zia beranjak menuju satu per satu toko untuk mencari barang-barang yang sudah Senja masukkan dalam list belanjaan.


Awalnya Senja mengajak Zia agar lebih mudah, cepat dan tepat dalam menentukan pilihan. Namun ternyata membuat mereka semakin lama. Karena ketika Zia melihat barang yang ia suka lalu ia melihat harganya pasti langsung ia urungkan niatnya.


"Udah, sekarang jangan lihat harga. Lihat suka apa enggak." Senja menunjukkan dua buah tas dari brand terkenal.


"Ayo, Zia." Enna memaksa. "Kita harus cepet selesai, Besok lusa kan ini harus kamu bawa ke solo duluan."


Setelah merasa lebih tak enak lagi Karen berlama-lama, akhirnya Zia dengan cepat memilih barang yang ia sukai.


Mereka bertiga menyusuri tiap lantai, mulai dari lantai satu sampai lantai lima sudah mereka jejaki. Kedua tangan mereka sudah penuh dengan papper bag dari berbagai toko.


"Capek, ya." Keluh Enna


"Maaf merepotkan anda, Nona." Zia semakin merasa gak enak.


"Zi, kita sekarang teman. Oke. teman!! Jadi please banget jangan panggil kita Nona Nona. Aku kan jadi gak enak ke pak Marko." Kata Enna.


"Iya, Zi. Kamu bisa panggil Mbak aja ke kita." Ucap Senja, mengingat Zia memang lebih muda beberapa tahun darinya.


Zia mengangguk.


"Kita langsung ke playground aja yuk." Ajak Senja.


"Oke."


Mereka bertiga menuju ke Playground yang kebetulan masih berada di lantai yang sama.


Senja meminta ijin ke petugas yang menjaga di pintu masuk playground untuk menemui anak-anak mereka yang di dalam. Setelah mendapat Ijin, Senja masuk ke dalam bersama Enna dan Senja. Tak lupa mereka menitipkan barang-barang mereka di penitipan barang.


"Na! Siapa mereka?" Tanya Senja yang melihat terlebih dahulu tiga pria yang memiliki wajah rupawan sedang duduk diantara mama-mama muda.


"Sayang!!" Teriak Enna menyita perhatian beberapa pengunjung, termasuk tiga pria itu.


Dengan kesal Enna menghampiri Hengky. Senja dan Zia menyusul dibelakang Enna.

__ADS_1


"Kenapa kalian deket-deket suami kami?" Tanya Enna kesal.


"Saya lagi duduk aja, nungguin anak saya main. Emang gak boleh?" Seorang wanita membela diri, mendapat anggukan dari wanita lain. Ada juga yang tak mau cari ribut dan memilih pergi dalam diam.


"Disana kan masih banyak kursi." Enna makin nyolot.


Membuat wanita-wanita itu memilih pergi.


"Kamu juga! kenapa gak usir mereka?" Enna memukul Hengky.


"Udah, sayang. Udah ku usir mereka. Tapi masih ada aja yang kesini. Tadi emang kursinya pada penuh. masa' iya aku gak bolehin mereka duduk. Hengky membela diri."


Senja menatap Langit tak berekspresi.


"Aku gak ikut-ikut sayang, lihat. Posisiku berada di tengah. Jauh dari wanita-wanita tadi." Langit membela diri.


Senja diam tak bergeming.


"Kamu tau kan, Zi. Kalau aku pria baik-baik, aku juga bukan pria yang menyombongkan ketampanannya." Marko meyakinkan Zia sekaligus menyindir Langit.


Zia mengangguk dan tersenyum.


"Kamu pasti sedang besar kepala mas dipuji-puji mereka." sindir Senja, ia mengabaikan suaminya itu dan mencari anaknya.


Marko hanya cekikikan saja, sedangkan Langit menyusul Senja yang menghampiri anaknya.


"Sora, mana Sky?" tanya Senja saat melihat Sora sedang bermain kuda-kudaan.


"Itu."


Sora menunjuk Sky yang sedang berada di tempat mewarnai. Ia terlihat sedang fokus mewarnai dengan dikelilingi anak-anak perempuan, bahkan mama-mama muda.


"Wah, Sky terlihat sangat tampan ya sayang kal\u lagi fokus." Puji Langit yang tiba-tiba datang.


"Huh!!" Senja mengabaikan Langit dan menghampiri Sky.


"Papa bikin mama marah?" tanya Sora.


"Enggak tuh." Jawab Sky.


"Pasti gara-gara papa duduk sama tante tante tadi itu ya?" Goda Sora.


Langit tertawa kecil, "Mama memang suka cemburu ke papa."


Sora ikut tertawa, lalu diam seketika ketika Senja dan Sky menghampiri mereka.

__ADS_1


"Sky mewarnai apa?" tanya Langit.


Sky menunjukkan sebuah gambar pangeran berkuda yang sudah diwarnai dengan baik.


"Bagus bener. Pantesan banyak yang lihat Sky ya tadi." Puji Langit.


"Mereka hanya sangat menggangguku, Pa. Aku tidak suka mereka." Kata Sky.


"Anak pinter, dulu mama juga kenal seseorang yang seperti Sky. Tapi semakin tua dia semakin genit." Ia melirik Langit jutek. "Sky jangan tiru ya."


Langit tersenyum gemas, ia mencubit kedua pipi Senja. "Gemes banget lihat kamu kaya gini."


"Sakit, Mas." Senja melepaskan tangan Langit dari pipinya. "Udah, yuk pulang. Udah mau tutup nih Mall-nya." ajak Senja.


Mereka berempat menghampiri Enna, Hengky, Marko dan Zia. Enna masih mengomeli Hengky, sedangkan Marko dan Zia sedang asyik duduk bergandengan tangan.


"Udaah, marah-marahnya lanjut dirumah aja. Udah mau tutup nih." Senja menarik Enna.


Akhirnya mereka semua keluar playground. Tak lupa Senja mengambil barang-barang belanjaan di Playground dan membaginya ke para pria.


"Gantian." kata Senja.


Walau menggerutu, Langit tetap membawanya.


Semua barang belanjaan mereka bawa ke rumah Langit, Karena besok Senja yang akan mengemasnya bersama beberapa asisten dirumah.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2