
...*HAPPY READING* ...
Hari jum’at adalah hari yang singkat, karena pelajaran akan berakhir pukul 10.45. namun tidak bagi kelas unggulan dan kelas IX. Mereka ada jam tambahan selepas sholat jum’at.
“Senja ke kantin nggak?” tanya Ifa.
“Atau mau nunggu kak Arga,” goda Ayu.
“Ck, apa sih…” Senja berdecak sambil membereskan perlengkapannya.
“Nggak apaan tapi udah kebiasaan,” celetuk Ucik.
Mulut terbuka mata melotot kemudian saling memandang. Itulah Ayu dan Ifa. Mereka mengangguk bersama dengan tatapan menggoda kepada Senja.
“Kalau Ucik sudah bersabda, bisa dijamin nih kebenarannya,” kata Ifa kemudian.
“Bersabda-bersabda pala lu pitak.”
Ketus Senja sambil berjalan meninggalkan tempat duduknya.
Ketiga sahabat Senja pun mengikutinya dengan tawa. Mereka berjalan bersama menuju kantin. Lumayan lah, masih ada waktu untuk bersantai hingga seluruh laki-laki di sekolah ini menyelesaikan sholat jum’atnya.
“Lega banget nih kantin…”
“Iya lah Fa, cuma ada 10 kelas yang tertinggal, itu pun kalau mereka masuk semua,” jawab Senja.
Sementara itu Ucik dan Ayu sedang memesan makanan termasuk untuk mereka berdua.
“Gimana sih latihannya kemarin, cerita dong…”
“Apanya yang diceritain….”
“Ya kalian disuruh ngapain aja gitu, sampe kamu jalannya pincang gini.”
Senja melirik kakinya sekilas. “Ini karena aku belum biasa aja.”
“Asik dong dilatih sama gebetan.”
“Gebetan apa sih.”
“Berlagak nggak tahu kalau ilang tahu rasa kamu.”
“Hhhh…” Senja mendesah.
“Capek kakiku sakit, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi aku harus bertahan,” lanjut Senja.
“Ngobrolin apa sih?” tanya Ayu yang membawa makanan untuk dirinya dan Senja, sementara punya Ifa berada di tangan Ucik.
“Pstt…” Ifa menggerak-gerakkan matanya. Spontan ketiga orang di sana mengikuti arah pandangnya.
Begitu Senja mengangkat wajahnya, pandangannya langsung bertemu dengan Arga yang pula tengah mengembangkan senyum menatapnya. Spontan Senja menunduk dengan wajah bersemu merah.
Ifa langsung menyenggol bahu Senja. “Ecciieeeee….”
“Coba lihat mukanya…” Ayu tak mau kalah dengan mencolek dagu Senja.
__ADS_1
Dua orang yang sulit diam ini tak ada habis-habisnya menggoda Senja. Terlebih ketika tahu Arga yang terus saja menatap sahabatnya dan tak segan tersenyum kala Senja diam-diam balik menatapnya.
Arga POV
Istirahat kali ini begitu berbeda. Karena ada ingin yang harus ku tahan sekuat tenaga. Ingin sekali aku bergegas menemui Senja di kelasnya dengan membawa coklat pasta kesukaannya. Namun apa daya, kondisi kami tak memungkinkan saat ini.
Akhirnya dengan berat hati aku menerima ajakan Bambang dan Hari menuju kantin. Ya semoga saja di sana ada Senja. Meskipun tak dapat bersama setidaknya aku masih bisa menatapnya.
Keberuntungan sepertinya tengah berpihak padaku. Begitu memasuki area kantin, aku langsung dapat menemukan Senja lengkap dengan senyum manisnya. Namun sayang, sepertinya ia tak menyadari kehadiranku.
Aku terus berjalan mengikuti Hari, sementara Bambang memesan makanan untuk kami. Aku terus menatap Senja, hingga akhirnya aku melihat gadis ini mengangkat kepalanya. Sudut bibirku tertarik dengan sendirinya, hingga akhirnya aku dapat menatap wajahnya.
Namun sayang hal ini tak berlangsung lama saat ketiga temannya terus menggodanya. Ya Tuhan, aku sampai tak sadar kalau bukan hanya Senja yang tengah menatapku, namun ketiga temannya juga. Dapat dengan jelas kulihat wajah merah Senja yang terus digoda temannya.
“Ga!”
Brugh!
Dengan mata melotot aku pun menepuk dahiku setelah menyadari apa yang baru saja terjadi akibat ulahku.
“Lu napa sih main dorong aja!”
Bambang harus jatuh tertimpa kursi karena aku tak sengaja mendorongnya dengan begitu kuat setelah ia meneriakiku di depan telinga. Ia protes karena kini harus menahan malu karena menjadi pusat perhatian di kantin. Memang kantin sedang tak seramai biasanya, namun tetap saja banyak mata yang menatap geli ke arahnya karena ia ambruk dengan kursi yang didudukinya.
Aku iba juga, akhirnya aku bangkit dan membantunya.
“Makanya jangan iseng.”
“Nggak ada yang iseng pe’ak. Kamu aja yang ngelamun sampek nggak denger kita panggil-panggil dari tadi, " protes Bambang masih berlanjut.
“Masa iya?”
Bahkan kini Hari pun terkena imbas kekesalan Bambang.
“Jangan marah sama gua dong, terima nasib aja jadi korban kebucinan Arga.”
“Siapa yang bucin sih,” elakku tak terima.
“Ya kalau kangen tuh ketemu, jangan cuma mandangin melulu.”
“Ade siape emang?” sepertinya Bambang belum tahu kalau ada Senja di sini.
“Noh…” Hari memutar kepala Bambang dan menunjukkan Senja yang berada di salah satu sudut kantin.
“Hmmmm, ya pantes.”
Aku berlagak cuek dan memakan bakso yang asapnya sudah tak mengepul lagi ini.
“Samperin sono gih, atau perlu dibawain ke sini…”
“Jangan Mbang!”
“Kenapa?” tanya Hari yang juga heran.
“Udah, lanjutin makannya aja. Dan maaf buat yang tadi.”
Entah mengapa mendadak aku kecewa dengan keadaan kami. Kami saling suka namun tidak bisa bersama. Kedua temanku tak lagi bersuara. Aku yakin karena perubahan wajahku yang seketika. Meskipun tak ada kaca, namun aku yakin wajahku sekarang dalam keadaan tak ramah.
Aku masih berusaha menatap Senja, gadis manis yang juga tanpa senyum di wajahnya.
__ADS_1
Senja, apa kamu juga merasakan yang aku rasa? Apa kamu kecewa juga karena kita tak bisa bersama.
“Ya ampun, ketemu juga akhirnya…”
Spontan kami bertiga menoleh ke arah gadis yang tiba-tiba muncul di meja kami.
“Kenapa Des?” tanya Hari.
“Aku nyariin Arga dari tadi…”
Desi, teman sekelasku datang dengan membawa selembar kertas.
“Ada apa?” tanyaku setelah menelan bakso terakhir yang semula berada di mulutku.
“Ini pak Bayu pengen kamu ikut seleksi lukis.”
“Nggak salah?” sahut Bambang tak percaya.
“Enggak Bang. Ini Arga lagi ditungguin.”
“Sejak kapan lu bisa gambar?” kembali Bambang bertanya
“Sejak kenal Senja…”
Aku tak tahu kenapa aku bisa menjadikan Senja sebagai alasan. Aku hanya merasa saat terakhir mendapat tugas menggambar dari pak Bayu, hanya dengan membayangkannya saja aku sudah merasa begitu terbantu. Terbukti dengan pak Bayu yang tidak mengmbalikan hasil karyaku dan memintanya untuk di simpan di sekolah. Biasanya hanya karya yang bagus saja yang akan ditahan bahkan di pajang.
“Senja? Kok Senja?”
Aku tak menggubris pertanyaan Bambang dan mengajak Desi bangkit meninggalkan mereka. Aku berjalan menuju kasir dengan Desi yang mengekoriku dari belakang. Tanpa sengaja, Senja juga berjalan ke arah yang sama denganku. Aku menghentikan langkah karena merasa berat jika bertemu namun hanya menyapa. Tak bisa ngobrol panjang atau pun sekedar memegang tangannya.
Ternyata Senja juga membeku.
Ya Tuhan, kenapa rasa ini harus muncul sekarang?
“Ga, pak Bayu udah nungguin," ucap Desi memperingati.
“Aku ke kasir dulu.”
Aku menjawab tanpa memandang Desi. Perlahan aku meneruskan langkahku. Aku segera membayar pesananku. Saat menunggu kembalian, Senja tiba dan menyapaku.
“Mas…”
“Hai,” jawabku. “Kakinya masih sakit?”
“Engg, sedikit,” lirihnya.
Sejenak aku mengalihkan pandangan darinya untuk menerima kembalian yang diulurkan padaku.
“Belum mau balik?” tanyaku pada Senja.
“Aku…”
“Ayo Ga…”
Ucapan Senja menggantung saat Desi tiba-tiba datang dan menarik lenganku.
“Permisi Mas…”
Senja pergi begitu saja saat aku sedang melepaskan cekalan Desi. Ingin sekali aku mengejar Senja dan berkata bahwa aku merindukannya, tapi aku siapa?
__ADS_1
TBC