SENJA

SENJA
Bolos


__ADS_3

Welcome.


Apa ada yang merindukan Arga dan Senja?


HAPPY READING


Arga diam saja mendengarkan apa yang pak Bayu ucapkan kepadanya saat ini. Memang hanya dia yang mendapatkan penjelasan sebanyak ini sekarang, karena semua calon peserta merupakan wajah lama yang sudah biasa bermain kuas dan warna. Selain dia, ada beberapa wajah baru yang merupakan siswa kelas VII namun sepertinya mereka hanya dikenalkan karena belum mendapat bimbingan di ekstra kuriuler yang sudah disiapkan.


“Paham nggak sih Ga?” lirih Desi yang sejak tadi memang ada di samping Arga. Ia sadar betul jika teman sekelasnya ini sejak tadi hanya diam saja, sehingga ia tak bisa menahan diri untuk bertanya.


Arga hanya menggerakkan alisnya tanpa sedikitpun menunjukkan minat untuk lebih banyak berbincang.


“Arga bagaimana?” kini giliran pak Bayu yang bertanya setelah ia merasa cukup menjelaskan semuanya pada Arga.


Arga menghela nafas. Memang isi kepalanya lari kemana-mana, namun ia tak lepas memperhatikan guru seni rupanya. “Saya sepertinya masih merasa tak cukup layak Pak,” jawab Arga dengan nada rendah.


“Tapi nyatanya kamu mampu. Hanya saja sepertinya kamu yang membatasi kemampuan dengan keragu-raguan kamu.” Pak Bayu menjelaskan tanpa memberitahukan bahwa hasil karya Arga sudah di bawa Atma.


Arga kembali menghela nafas namun tak ada kalimat yang ia ucapkan setelahnya.


“Pertimbangkan, dan kalau kamu sudah memutuskan segera hubungi saya,” putus pak Bayu.


Pak Bayu menepuk bahu Arga sebelum meninggalkan ia di ruangan kesenian bersama Desi yang entah sejak tadi bertahan entah untuk apa, padahal sudah jelas pak Bayu hanya ingin bicara dengan Arga.


“Ga, kamu ikut ya. Kan aku jadi ada temen tuh di kelas kalau ada bimbingan…. Ga, Arga!!!”


Desi mendengus karena Arga sepertinya sama sekali tak mendengarkannya. Bahkan teman sekelasnya ini pergi saat ia tengah bicara.


Desi melihat punggung Arga bergerak menjauh. Ia tak mengejarnya karena sepertinya akan percuma.


Selepas keluar dari ruang kesenian, Arga bergerak menuju kamar mandi. Tak ada hajat yang ingin ia tuntaskan, hanya saja ia ingin bisa melihat Senja dari sana. Beruntung ada kamar mandi yang berseberangan dengan kelas gadis ini, sehingga Arga ada alasan untuk bisa melihatnya saat ini.


Agar tak terlalu mencolok dengan keberadaannya seorang diri di tempat yang tak lazim dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu ini, Arga segera masuk untuk membasuh mukanya. Ia juga sempat melihat ke arah tempat duduk Senja dan sepertinya gadis kecil ini masih berada di kantin bersama teman-temannya.

__ADS_1


Beberapa waktu di dalam, akhirnya Arga keluar juga. Dan beruntung karena tepat saat ia muncul terlihat Senja bersama ketiga kawannya yang berjalan menuju kelas mereka. Sempat sekilas bertemu pandang dan Arga pun perlahan bergerak meninggalkan tempatnya semula. Ia sudah lega karena dapat melihat gadis kecil yang sering kali-wira-wiri di pikirannya akhir-akhir ini, sehingga ia merasa sudah rela pergi sekarang juga.


Senja memelankan langkah saat ia melihat ada Arga jauh di depannya. Sempat sejenak bertemu pandang, namun kenapa Arga sepertinya buru-buru untuk pergi. Apa benar karena kakak kelas wanita yang mencarinya tadi ada hubungan dengan pelatihnya ini?


She doesn’t know, and it will be hard for her to know. Jadi Senja tak ada niat untuk mencari tahu dan tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Senja…”


Panggilan Ifa menyadarkan Senja jika sejak tadi ia hanya diam saja di depan pintu. Hingga tak terasa guru pelajaran tambahan di kelas mereka sudah hampir tiba. Dan kelas VII f memulai pelajaran tambahan mereka kali ini.


Sementara itu di kelas IX c masih belum lengkap anggotanya karena ada satu yang belum kembali ke tempatnya.


“Ssttt, Arga mana?” tanya  Bambang pada Desi yang di kantin tadi membawa Arga pergi.


Desi yang ditanya hanya menggerakkan bahu karena di ruang kesenian ia juga Arga tinggalkan.


Dan pelajaran tambahan pun dimulai. Jam ini memang bukan jam wajib diikuti oleh setiap siswa, namun sekolah sangat menganjurkan terlebih pada mereka yang sudah kelas IX.


Satu jam kemudian, pelajaran tambahan pun berada di ahir waktunya. Semua guru menutup pelajaran mereka dan pergi meninggalkan kelas yang diajarnya. Saat semua siswa bersiap meninggalkan kelas, Arga datang dengan langkah santai tanpa beban.


Arga berjalan lurus menuju tempat duduknya dan mengambil tas yang sudah rapi sejak tadi.


“Eh kemane?” Bambang sempat melongo saat lagi-lagi Arga tak menunjukkan reaksi. “E kampret…” Bambang lanjut mengumpat karena merasa diacuhkan.


“Udah, udah. Balik yuk…” Hari merangkul Bambang dan mengajak sahabatnya ini untuk pulang.


“Tuh anak kesambet apaan ya?” tanya Bambang di sela langkahnya.


“Tck, kayak nggak kenal Arga aja,” timpal Hari.


“Tapi kemaren kan baik-baik saja.”


“Baik-baik saja versi Arga ya yang kayak gini. Dan beberapa waktu terakhir justru bukan dia yang biasanya.”

__ADS_1


Bambang manggut-manggut, karena jujur yang Hari katakan ada benarnya. “Tapi jujur aku lebih suka Arga yang yang beberapa saat terakhir,” lanjut Bambang.


“Mungkin dia kehilangan alasan untuk jadi yang seperti beberapa saat terkahir…”


Hari tak menyelesaikan ucapannya saat Bambang tiba-tiba berhenti. Ia kemudian menatap sahabatnya seakan bertanya kenapa.


“Ambil motor, aku tunggu di depan,” pinta Bambang sambil menyerahkan kunci motornya pada Hari.


Tak ada kesempatan untuk Hari lebih banyak bertanya saat ini karena Bambang pergi begitu saja setelah menyerahkan kunci motornya. Ia melangkah menuju arah yang berbeda dengan Bambang yang nanti akan menunggunya di gerbang.


Bambang menggunakan mata elang untuk menemukan sebuah objek diantara ratusan yang berjalan dengan arah yang sama menuju gerbang untuk pulang. Setelah merasa objek yang ia cari belum juga ditemukan, ia lantas berhenti untuk terus mencarinya sembari menunggu Hari yang kini mengambil motornya di parkiran.


“Itu dia…” gumam Bambang sambil mengunci targetnya.


Memang urusan Arga tak ada hubungannya dengan dia, tapi sebagai teman ia peduli dan ingin tahu apa yang membuat sahabatnya drastic berubah seperti ini.


Samar-samar sudut bibir Bambang tertarik saat ia melihat Arga berjalan melewati gerbang dengan motornya. Bambang tahu temannya ini sedang mencari sesuatu san ia punya ide untuk mengetesnya sekarang juga.


“Senja!” Bambang sengaja berteriak untuk memanggil adik kelasnya.


“Ya…”


Gotcha!


Bambang tersenyum miring saat merasa umpannya berhasil mendapat tangkapan. Spontan Arga berhenti dan mencari objek yang Bambang umpankan. Persetan dengan alasan yang akan ia gunakan jika Senja bertanya kenapa ia memanggilnya, yang jelas ia tahu Arga punya perhatian lebih terhadap gadis kecil ini. Ia lantas berjalan menghampirir Senja dan berlaga seolah tak melihat Arga yang tengah menatap objek yang sama dengannya.


“Eh kebetulan ada Arga juga…” ujar Bambang seakan baru sadar keberadaan teman sekelasnya ini.


Reaksi Bambang ini berbeda dengan Senja yang nampaknya benar-benar baru menyadari jika Arga berada tak jauh darinya.


“Hai…” sapa Arga saat ia harus terjebak dalam situasi seperti ini dengan Senja.


“Mas…” Senja sedikit menunduk saat membalas sapaan Arga.

__ADS_1


Tak masalah lah Bambang diacuhkan, toh ia tahu akan seperti ini jika mempertemukan dua orang ini.


Bersambung…


__ADS_2