
^^^Jangan lupa jempolnya ya dear.^^^
^^^Syukur-syukur kalau nggak keberatan bisa komen, rate, dan vote, hehehe.^^^
^^^Kritik saran welcome banget.^^^
^^^Mau pedes, manis, asem, asin, diterima semua.^^^
^^^Enjoy reading.^^^
Duduk seorang diri di ruang UKS menjadi pilihan Senja daripada dia harus di kelas atau duduk meneduh kala seluruh peserta tengah melakukan kerja bakti membersihkan sekolah. Dia tak ingin menjadi pusat perhatian karena menjadi peserta yang tak mengikuti kegiatan seperti yang lainnya.
"Kamu namanya siapa?" tanya mbak Siti petugas UKS.
"Senja Mbak," jawab Senja dengan muka kusutnya.
"Kamu udah baikan?"
"Udah sih Mbak." Apa mending aku ijin buat gabung aja. "Mbak, aku keluar ikut yang lain aja ya?" ucap Senja dengan begitu antusias.
"Nggak ada!"
Senja dan Mbak Siti serempak menoleh ke arah sumber suara.
"Kak, rompi PMR-nya kok ditanggalin lagi sih?" Mbak Siti terkikik setelah menyelesaikan ucapannya.
"Ekh, ekhem." Arga berdehem dan menelan ludah setelahnya. "Aku cuma mau ngasih ini," ucapnya sambil menyodorkan sekotak bekal untuk Senja.
Senja memandang kotak bekal dan wajah Arga secara bergantian. Cih, dia melengos. Eh ngelirik dikit ding. Senja pun menggeleng setelahnya.
"Kamu nggak mau?" tanya Arga setelah ekor matanya menangkap bayangan Senja sedang menggelengkan kepala. "Kamu bisa beneran sakit kalau kamu nggak sarapan," ucap Arga yang kini menatap Senja.
"Kamu belum sarapan?" Mbak Siti terkejut setelah tadi dia berlagak acuh dengan interaksi dua remaja di hadapannya ini.
"Pas yang lain sarapan, dia masih sama aku di rumah Angga Mbak." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arga menarik kursi dan mendudukkan pantatnya di sana.
"Lah kok?!" Bahaya nih anak.
"Iya, siapa suruh pagi-pagi pingsan bikin orang susah aja!" ketus Arga dengan memandang langit-langit ruang UKS.
"Ya kan aku nggak minta Kakak susah-susah nolongin aku." Aku cuma berharap bisa ketemu kamu, tapi pingsan bukan menjadi bagian dari rencana ku.
"Cepet nih makan. Jangan bikin orang makin susah!" Arga bangkit setelahnya dan meletakkan kotak bekal itu di pangkuan Senja begitu saja.
"Iya, kamu cepet makan ya," ucap mbak Siti kalem.
Akhirnya Senja membuka kotak itu. Dengan ragu dia memasukan makanan itu satu demi satu suapan ke dalam mulutnya. Bukannya karena rasanya tak enak, tapi karena ia begitu sayang untuk memakannya.
Senja sesekali tersenyum menatap makanan di hadapannya. Ini kan bubur biasa. Kenapa aku bisa sebahagia ini menerimanya.
Senja POV
"Kamu latihannya kapan Ga?" tanya mbak Siti.
"Semalem Mbak. Kenapa?" jawab Kak Arga dengan sedikit merubah posisi agar Mbak Siti tak melihat langsung luka di wajahnya. Luka? Aku bahkan belum mendapat jawaban kala aku menanyakannya.
__ADS_1
"Enggak, tumben kamu bonyok, biasanya selalu main aman." Mbak Siti tersenyum mengejek setelahnya.
Kak Arga hanya tersenyum menanggapinya.
Aku menatap wajah Kak Arga. Dari posisi ini terlihat jelas luka disudut bibir kanan dan tulang pipi diatasnya.
Aku kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutku sambil memperhatikan mereka.
"Anggota kamu banyak Ga?"
"Alhamdulillah Mbak, banyak yang menyambut baik dilegalkannya latihan di sekolah. Tapi aku suka gedeg sama mereka yang gabung tapi salah niat," ucap Kak Arga dengan wajah serius.
"Maksudnya?"
"Ya harusnya kan mereka join untuk prestasi, atau sesuai tujuan aslinya yaitu bela diri. Bukan untuk ajang pamer kekuatan, kemampuan, atau bahkan untuk kekuasaan."
Yakin deh, aku nggak paham sama yang mereka bicarain. Dan lagi ngapain Mbak Siti manggut-manggut kayak gitu, emang dia ngerti gitu Kak Arga ngomong apa.
Tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar. Kami bertiga pun bangkit untuk melihatnya dari sini ambang pintu UKS.
"Ada apa sih Ga?"
"Bentar ya, aku kesana." Kak Arga segera bangkit dan berlari. Baru beberapa langkah dia sudah berhenti dan menoleh ke arah kami. Sejurus kemudian Kak Arga berlari dengan kaki panjangnya. Dari jauh aku melihat Kak Rivan menyambutnya, dan saat itu juga Kak Arga menghilang di tengah kerumunan.
"Ada apa sih Mbak?" tanyaku pada mbak Siti.
"Nggak tahu deh. Kayaknya heboh bener. Semoga nggak ada yang kesurupan?" ucap Mbak Siti sambil meraih dan membolak-balik buku yang aku tak tahu apa isinya.
"Kesurupan?!" Aku begitu terkejut mendengar kata mengerikan itu. "Masa iya siang bolong ada yang kesurupan?" tanya ku heran.
What? Mbak ini sepertinya doyan bener bercanda deh. "Mbak?" panggilku pada Mbak Siti kala aku mengingat sesuatu yang ingin ku tanyakan.
Dia mendongak, mengalihkan pandangannya dari buku kepada ku.
"Boleh tanya nggak?"
"Boleh, tanya apa emang?"
"Tadi Mbak ngomong latihan kan? Latihan apa?"
Mbak Siti hanya memandangku dan tak ada tanda-tanda untuk menjawab. Sepertinya dia tahu kalau pertanyaanku belum selesai. "Ada hubungannya kah sama lebam di wajah Kak Arga?" tanyaku kemudian.
Mbak Siti nampak tersenyum dan menghela nafas. "Kamu nggak tahu?"
Aku menggeleng. Ellah Mbak, kalau tahu ngapain aku repot-repot tanya segala.
"Dia itu ketua eskul pencak silat di sekolah. Ekstrakurikuler ini berdiri setahun yang lalu saat dia kelas 2. Dan mungkin sebentar lagi akan ada reorganisasi." Lagi-lagi Mbak Siti memamerkan senyumnya. "Kamu ada keinginan untuk ikut?" tanyanya dengan tatapan menggelitik.
Ya ampun, Kak Arga sangar juga. Padahal dia kaya kalem dan pendiam.
"Hayo mikir apa?"
Aku hanya menggeleng dan kembali menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutku.
"Terus kalau masalah lebam, kamu bisa tanya langsung sama dia. Kayaknya dia nggak bakal keberatan buat cerita sama kamu."
__ADS_1
Aku tak menjawab. Aku segera menundukkan kepala ku menatap bubur yang tinggal separuh.
"Permisi, permisi." Suara itu berkolaborasi dengan derap langkah beberapa pasang sepatu.
"Dudukin di lantai aja." Kak Arga muncul bersama beberapa orang yang memapah peserta persami.
"Kenapa dia Ga?" tanya Mbak Siti kepada Kak Arga.
"Keseleo kayaknya Mbak," kata kak Arga sambil berjongkok di depan anak itu.
Dia tampak keren kalau lagi serius gini. Eh tunggu deh. Dia juga seorang ketua, otomatis terbiasa meng-handle banyak anggota. Pantas saja dia begitu berwibawa dan nampak begitu berkharisma ketika bersama kak Rivan untuk minta izin kepada ayah 2 hari yang lalu. (part 34-Lancar)
"Tahan ya," ucap Kak Arga sambil memegang kaki anak tadi.
"Aaaarrggghhhh!!!"
Aku melonjak kaget hingga nyaris menjatuhkan bubur di tanganku. Dan Kak Arga yang menjadi penyebab teriakan itu terlihat santai sambil mengecek kaki yabg keseleo itu.
"Udah, kamu istirahat dulu," ucap Kak Arga dengan tenang. Gila, keren. Ih keren apa sangar ya?
"Udah itu Ga?" tanya Mbak Siti.
"Udah Mbak. Bukan cidera serius kok. Kalau pas latihan mah udah biasa yang kayak gini."
Aku takjub memandangnya. Bahkan hingga aku tak mampu berpaling ketika dia mulai berjalan mendekatiku.
Tuk
Aku terkejut ketika dia tiba-tiba menyentil keningku. Segera kulayangkan tatapan tajam sebagai protes kepadanya.
"Apa melotot-melotot?! Bukannya nakutin, malah bikin gemes iya." Saat itu juga mendarat sebuah cubitan di hidungku.
"Iiihhhh, lepasiiinnn."
Dia tertawa setelahnya.
"Kak?"
"Apa, hmm?"
"Itu muka Kakak kenapa?" tanyaku hati-hati.
Kenapa wajah ramah nya berubah seketika? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.
__ADS_1