
^^^Spam komen dear, biar author semangat ngehalu.^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Senja...."
"Bener ya, gara-gara Sita?"
"Nggak ada hubungannya."
"Terus?"
"Nggak terus Kakak."
"Kalau gitu senyum dong."
Alih-alih tersenyum, Senja justru menatap Arga dengan wajah cemberut. Orang sebel mana bisa senyum sih.
"Senja..."
"Lagi nggak pengen senyum Kak..."
Arga mendesah kecewa. "Gimana caranya bikin kamu senyum?"
"Ngarep banget?"
"Iya." Arga menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa?"
"Aku suka kalau kamu senyum, aku suka kamu yang cemberut, aku suka kamu yang merajuk. Tapi..." ucapan Arga menggantung.
"Tapi apa?"
"Aku nggak suka kamu marah dan diemin aku kayak gini."
Perlahan senyum terbit di wajah Senja. Ada rasa hangat menjalar di dada setelah mendengar ucapan Arga.
"Kalau marah bilang ya, biar aku ngerti..."
Senja menggigit ujung choki-choki untuk meredakan gugupnya. Masak iya aku bilang badmood gara-gara lihat dia sama Kak Sita. Eh, kok Kak Sita nggak marah ya Kak Arga deketan sama aku. Setahuku kalau di novel bakalan cemburu deh kalau cowoknya deket sama cewek lain?
Ingin rasanya ia bertanya pada Arga, tentang keanehan yang ia rasa.
"Kamu marah karena apa?" kembali Arga bertanya.
"Kak Sita?"
"Sita kenapa?"
"Nggak apa-apa gitu Kak Arga di sini sama aku?"
Arga meraih Choki-choki dari tangan Senja dan membukanya.
"Makasih Kak." Senja menerima choki-choki itu dan mulai memakannya.
"Sita kan udah Rivan, jadi aman nggak bakal gangguin aku atau Wahyu."
"Maksudnya?"
"Sejak dulu, Sita udah suka sama Rivan. Tapi Rivan suka nyuekin dia. Makanya kalau lagi gabut aku dan Wahyu yang sering jadi sasaran. Seringan aku sih." Arga tertawa kecil mengingat kelakuan sahabatnya ini.
"Kenapa Kak Arga bukan Kak Wahyu?"
"Karena Wahyu suka membalas kejahilan Sita, sedangkan aku lebih suka diam dan menghindar."
"Pacar kecil?"
"Soal julukan itu ya?" Arga balik bertanya.
"Ya karena aku nggak pernah jahilin Sita, makanya dia suka nyebut aku pacar kecil."
"Oooh."
__ADS_1
"Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Terus yang pacaran beneran siapa?"
"Maunya sih kamu."
"Uhuk..." saking terkejutnya hingga ludah pun bisa membuat Senja tersedak.
Arga yang baru sadar dengan ucapannya hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu nggak apa-apa?" Arga menepuk pelan tengkuk Senja.
"Rivan udah jadian dengan Sita, dan sekarang Sita benar-benar sudah mendapatkan cintanya."
Senja membulatkan matanya tak percaya.
"Kenapa gitu matanya?" Spontan Arga bertanya karena ia melihat dengan jelas perubahan wajah Senja.
Senja menelan ludah. Ya Tuhan, ternyata semua tidak seperti yang aku pikirkan. Untung aku belum sempat cerita sama yang lain.
"Senja." Arga mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Senja.
"Eh, iya...?"
"Kamu nggak apa-apa?"
Senja menggeleng.
"Jadi apa yang bikin kamu tiba-tiba ngambek sama aku?"
"Aaa, eemm ituuu." Senja salah tingkah. Ia juga bingung harus berkata apa. Tidak mungkin kan dia jujur kalau tak suka karena menyangka Arga pacaran dengan Sita.
"Senja cemburu ya, cciieeee!"
"Enggak enggak, siapa yang cemburu!" Spontan Senja mengelak. "Eh, kok suaranya." Senja baru sadar bahwa yang barusan itu bukanlah suara Arga. Senja menoleh....
"Halloo...." Sita melambaikan tangannya dan tak lupa memamerkan deretan gigi putihnya lewat senyumnya yang merekah sempurna.
Spontan Senja menarik lututnya untuk menyembunyikannya wajahnya di sana.
"Kalian udah lama?" Arga masih bisa mengontrol kewarasannya. Dia mampu bertanya dengan santai meski pada kenyataannya malu juga.
"Udah, versi lengkap deh lihat keuwuan kalian kalau lagi berdua."
"Aku nggak ngira Senja bisa cemburu." Celetuk Ayu yang tiba-tiba memicu gelak tawa semua yang ada di sana. Sementara itu yang menjadi objek hanya diam dengan wajah yang di sembunyikan.
Bunyi bel masuk berbunyi nyaring. Arga yang duduk segera bangkit.
"Jangan kabur." Sita bangkit langsung menghadang Arga.
"Nggak denger itu bel."
"Iya, tapi belum jadian." Sita memutar tubuh Arga dan mendorongku agar mendekati Senja.
"Jadian apa?"
"Ya kamu jadian sama Senja...." Sita merengek dan menggoyangkan lengan Arga. "Van, ini..." Sita mencoba meminta bantuan Rivan.
"Senjaaaa," Sita melepaskan Arga dan jongkok di hadapan Senja. "Senja mau kan jadi pacarnya Arga." Sita mengguncang-guncangkan tubuh Senja.
"Nggak, aku nggak mau."
"Yaaahhh, kok gitu?" Sita bangkit dan mendekati Rivan. "Vaaaannn...."
"Udah, udah, yuk balik."
"Tapi mereka belum jadian Van..."
Rivan menarik Sita untuk pergi meninggalkan Senja. Wahyu pun melambaikan tangan dan ikut pergi dari sana. Sebaliknya dengan Arga. Dia justru berbalik dan jongkok di hadapan Senja.
"Kalian bisa masuk duluan." Arga minta ketiga teman Senja untuk meninggalkan mereka.
Ketiganya pun segera masuk.
__ADS_1
"Hey, udah ngumpetnya."
"Malu..."
"Cepet buka, bentar lagi guru-guru pada ke kelas loh."
"Kakak pergi dulu deh."
"Ngusir?"
Senja diam saja.
"Aku cuma pengen lihat wajah kamu, terus balik ke kelas."
"Nggak."
"Bentar aja," bujuk Arga. Ia mencoba mengangkat wajah Senja. Dan ternyata Senja sama sekali tak melawan. "Ayo berdiri." Arga membantu Senja untuk berdiri.
"Kakak balik deh."
"Senyum dulu."
Meski wajahnya terasa kaku saking gugupnya, Senja tetap berusaha menarik ujung bibirnya. "Udah."
"Makasih...." Arga segera berlari menuju kelasnya.
Senja memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia bahkan hingga gemetar, saking malu, gugup, dan bahagia. Dia segera berjalan ke kelas dan ambruk di tempat duduknya.
"Cciiyyeeee, ciye ciiyyeeeew...." Ayu dan Ifa terus menggoda Senja dengan sesekali menoelnya dari tempat duduk masing-masing.
Kelas mendadak sunyi karena datangnya seorang guru yang kini akan mengajar di kelas Senja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab kelas VII f dengan serempak.
Dan pelajaran pun di mulai. Seluruh siswa mengikuti pelajaran dengan serius.
Sementara itu di salah satu warung di luar sekolah.
"Ndra, nggak masuk?" tanya Tito yang datang dengan membawa sebotol cola.
"Nggak Bang. Lagi males."
"Jadi udah nyerah ceritanya?"
Indra menatap Tito sejenak. "Belum ada rencana selanjutnya aja Bang."
"Bagus. Ya gitu dong. Masak baru gagal sekali udah nyerah."
Tito menyambar rokok yang Indra sodorkan dan mengambil sebatang untuknya.
"Tadi temen-temen Arga ke kelas Senja untuk bantuin Arga nembak Senja..." Sengaja Tito menggantung ucapannya untuk membuat Indra penasaran.
Dan benar saja, Indra spontan menoleh dan menatap Tito. "Terus gimana Bang?" tanya Indra penasaran.
"Katanya sih Senja nolak."
"Bang Tito tahu dari siapa?"
"Adik gue ada yang sekelas sama Senja."
"Beneran Bang? Kok aku nggak tahu."
"Ya emangnya buat apa kamu harus tahu."
"Iya juga ya." Indra menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Tito geleng-geleng menatap Indra. "Sangar lu hilang kalau udah berhubungan sama Senja."
TBC
Say something dear.
__ADS_1
Thanks for reading.
Love you all.