
Langit dan Senja baru saja tiba di Bandar Udara Aburrahman Saleh di Malang. Di pintu keluar penumpang sudah terlihat Wibowo melambaikan tangan. Rupanya Hengky sudah mengabari Wibowo untuk menjemput Langit dan Senja.
Wibowo langsung menghampiri Langit dan Senja, membantu membawakan koper yang dibawa Langit.
"Lewat sini, Pak." Wibowo menunjukkan jalan menuju mobil.
Langit dan Senja mengikuti wibowo menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pintu keluar.
Setelah semua masuk ke dalam mobil, wibowo segera menancap gas meninggalkan bandara dan menuju ke rumah Senja.
Senja mengajak Langit untuk mampir ke toko oleh-oleh terlebih dahulu, membeli buah tangan untuk Ibu, Bimo dan anak-anaknya.
Tak lama Senja memilih, Ia langsung kembali ke mobil lagi dengan satu kantor kresek camilan.
"Seharusnya kan bawa oleh-oleh khas betawi, sayang." Protes Langit.
Senja menatap sinis Langit, "Memangnya karena siapa kita gak sempat mampir toko oleh-oleh tadi?"
Senja mengingatkan permintaan Langit tadi pagi yang akhirnya membuat mereka harus berkejar-kejaran dengan waktu agar tidak ketinggalan pesawat.
"Namanya juga manusia, sayang." Ucap Langit meminta Senja memahaminya.
Senja hanya tersenyum masam lalu membuang muka keluar jendela, menikmati jalanan kota Malang yang lancar.
Tak sampai setengah jam, mobil yang dikendarai Wibowo sudah berhenti di depan rumah Senja.
Langit dan Senja keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Wibowo membantu membawakan koper Langit dan Senja ke dalam.
"Assalamu'alaikum" Senja memberi salam, pintu ruang tamu tidak tertutup.
Ibu dan Bimo muncul dari dalam arah dapur.
"Wa'alaikumsalam, Kok kalian gak ngabarin kalau datang pagi." Tanya Ibu
Senja dan Langit bergantian mencium tangan Ibu.
"Tahu gitu aku jemput kak." Kata Bimo
"Mau jemput pake apa emangnya?" Goda Senja.
"Pake awan kinton." Jawab Bimo, membuat Langit dan Senja tertawa.
"Sky, Sora. Papa sama Mama udah datang nih." Teriak Senja memanggil anak-anaknya.
Terdengar suara deru langkah kaki berlari menurununi anak tangga.
"Papaaa!!" Teriak Sky dan Sora yang langsung menghampiri dan memeluk Langit.
Langit berjongkok memeluk kedua anaknya dan mencium mereka bergantian.
"Papa kangen banget sama kalian." Ucap Langit.
"Sky juga."
"Sora juga."
"Jadi udah gak ada yang kangen sama mama nih?" Tanya Senja.
Sky dan Sora menatap mamanya lalu pindah ke pelukan mamanya.
"Kami juga kangen ke mama kok." ucap Sky.
Senja bergantian mencium anaknya.
"Pak, Saya tinggal dulu." Wibowo meletakkan koper di dekat kursi, dan menyerahkan kunci mobil ke Langit.
"Lho, pak Wibowo pulang pakai apa?" tanya Senja. "Bim, anter pak Wibowo ya" pinta Senja ke Bimo.
"Gak usah, bu. Saya bisa naik Ojol ke kantor." Ucap Wibowo.
__ADS_1
"Jangan, Pak. Biar adik saya yang anter. bapak." Ucap Langit, "Bim. Mas minta tolong ya."
"Beres kak." Jawab Bimo, ia masuk ke dalam mengambil kunci motornya.
"Mari, pak." Ajak Bimo setelah kembali dengan membawa dua helm.
"Maaf, merepotkan. Saya pamit kembali ke kantor dulu." Wibowo pamit ke Langit, Senja dan Ibu.
"Terimakasih ya, pak." Ucap Langit sebelum Wibowo meninggalkan ruang tamu.
"Sama-sama pak."
Bimo dan Wibowo beranjak meninggalkan rumah, sedangkan yang lainnya melanjutkan obrolannya di ruang tamu.
Sky dan Sora sudah duduk dikanan dan kiri Langit melepaskan rasa rindu mereka.
"Ibuk sudah siapkan pakaian anak-anak. Gak ibu masukin semua ke koper, Ibu simpan disini untuk ganti anak-anak kalau pulang ke Malang." Ucap Ibu, metanya terlihat sedih membayangkan besok tidak ada suara berisik Sky dan Sora dirumahnya.
"Maaf ya, bu. Ibu harus berpisah dengan mereka." Langit merasa tak enak dengan Ibu.
Ibu menggelang dan tersenyum, "Ibu lebih suka mereka tinggal dengan kamu, Nak."
"Iya, Sora gak mau jauh-jauh lagi sama papa." Sora menatap wajah Langit, takut Langit akan mengubah keputusannya.
Langit memengan kedua pipi putrinya itu, "Papa gak akan ninggalin Sora dan Sky lagi, kok. Kalau ada libur panjang kita kesini jenguk nenek, ya."
"Iya!!" Seru Sky dan Sora kompak.
"Mas, nanti aku mau bagi-bagi makanan ke karyawanku." Ucap Senja.
"Pesan dimana? dadakan gini bisa?" Langit terkejut dengan keinginan Senja.
Senja mengangguk, "Kemarin aku sudah pesan kok mas. Tenang aja."
"Nja, ada lebihan gak? Buat Budhe Imah." Tanya Ibu.
"Iya, Ma. Nek Imah jangan lupa dikasih." Sky terlihat antusias.
"Pasti Kakek Udo dan Nek Imah sedih, Sky." Sora terlihat sedih.
"Emang nek Imah itu siapa?" Tanya Langit.
Sky dan Sora saling menatap, mereka juga bingung hubungan mereka dengan nenek Imah.
"Orang yang suka bantu-bantu ibuk mas, bantu-bantu nyuci baju Orang komplek sini. Rumahnya di blok E sana." Senja menjelaskan.
Langit manggut-manggut.
"Kalian istirahat dulu aja sana." kata Ibu.
"Sayang, kamu istirahat aja. Aku tahu kamu capek." Langit tersenyum genit. "Aku mau temenin anak-anak main."
"Main dikamar aja yuk." Ajak Senja.
"Iyaaa!!"
Sky dan Sora menarik papanya menuju ke kamar.
"Senja istirahat sebentar ya, buk."
"Iya, Nak."
Senja menyusul Langit dan anak-anaknya ke kamarnya. menghabiskan waktu mereka bercengkrama dan bercanda tawa di atas tempat tidur.
*********
Sebelum pergi ke kantornya, Senja mampir ke salah satu restoran yang terkenal dengan Ayam Bakarnya untuk mengambil pesanan yang sudah ia pesan.
Dibantu dua orang pelayan, Senja membawa dua kantong kresek besar berisi kotak-kotak makan dan meletakkan di bagasi mobil.
__ADS_1
"Terimakasih ya, mas." Ucap Senja setelah semua pesanannya masuk di dalam bagasi mobil.
"Sama-sama mbak." Ucap kedua pelayan itu kemudian meninggalkan Senja.
Senja masuk ke dalam mobil. Sky dan Sora juga ikut, mereka duduk dengan baik dibelakang.
"Udah kamu bayar?" Tanya langit sambil perlahan melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir.
"Iya lah mas. Kalo gak gitu kamu bayarin nanti." Jawab Senja.
Langit hanumya tersenyum dan kembali fokus melihat kedepan sedangkan Senja mengarahkan Langit menuju ke kantornya.
Senja sampai di halaman rukonya tepat saat beberapa pegawainya menutup folding gate rukonya.
"Sudah gak ada customer di dalam, mas?"
Pertanyaan Senja membuat terkejut pegawainya.
"Bu Senja sudah datang?" Tanyanya, "Sudah sepi buk, customer terakhir barusan keluar."
"Minta tolong bantuannya bawain kantong kresek di bagasi ke lantai dua ya mas." Pinta Senja.
"Baik, Bu." Ia memanggil pegawai lain untuk membantunya.
Terlihat Langit baru saja membuka bagasi mobil, tiga orang pegawai Senja menghampiri Langit dan segera mengambil kantong kresek yang dimaksud Senja.
"Terimakasih ya." Ucap Langit, mendapat anggukan dan senyum pegawai Senja.
Sky dan Sora turun dari mobil, mengikuti langkah Langit menghampiri Senja yang masih berdiri di depan rukonya.
"Sudah punya gambaran ruko yang ini dijadikan apa sayang?" Tanya Langit.
Senja mengintip masuk ke dalam ruko yang akan direnovasi. Beberapa pekerja bangunan sudah memulai aktivitas mereka.
"Udah kok mas, aku dan mia sudah sering membicarakan perencanaan ini. Biar Mia nanti yang atur."
"Selamat Sore, Pak Langit." Seorang Pria setengah baya menghampiri Langit, "Saya Suryo, Manajer Proyek pak." Pria bernama Suryo itu mengulurkan tangan ke Langit.
"Oh, iya Pak Suryo." Langit menyalami Suryo dan tersenyum, "Hengky sudah bilang anda penanggung jawab proyek ini. Saya minta tolong untuk merenovasi ruko ini sesuai dengan keinginan istri saya, ya pak." Pinta Langit.
"Baik, Pak. Besok malam saya pastikan sudah selesai."
"Oke. Terimakasih bantuannya, Pak."
"Sama-sama pak. Saya permisi ke dalam, mau melihat pekerjaan mereka dulu." Suryo masuk ke dalam ruko meninggalkan Langit dan Senja.
"Makasih ya mas, kamu udah ngeluarin uang banyak untuk beli dan renovasi semua ini." Ucap Senja, ia melingkarkan tangannya di lengan Langit.
"Jadi papa beli ruko ini, Ma?" Tanya Sky, ia mengintip ke dalam ruko.
"Iya, sayang." Jawab Senja.
"Papa kita uangnya banyak Sky. Kan papa punya mobil. Gak seperti mama, cuma punya motor."
Ucapan Sora membuat Langit tertawa. "Mama kalian pasti sangat perhitungan, ya?" Langit sudah membayangkan bagaimana Senja selalu berhemat.
"Iya. Mama pelit banget, pa." Sky mengadu. "Ngajak kita ke Playground aja sulit. Masa' Sky dan Sora disuruh main di taman depan rumah aja. kan mainannya cuma dikit."
"Oya!? Kejam sekali Mama kalian." Langit menggoda Senja. "Kalau gitu, nanti Papa sediain kamar khusus di rumah dan kita buat playground disana ya."
"Beneran, Pa!?" Sky dan Sora teriak kegirangan.
Senja hanya menghela Nafas melihat Langit memanjakan Sky dan Sora.
"Bu, teman-teman sudah siap semua diatas." Tiba-tiba Mia sudah berdiri dibelakang Senja.
"Iya, Mi. Kami akan segera naik." Kata Senja. "Ayo kita keatas."
"Iya, Ma."
__ADS_1
Senja berjalan lebih dulu bersama Mia menuju ke lantai dua. Sedangkan Langit menggandeng Sky dan Sora berjalan dibelakang mereka.
-Besambung-