SENJA

SENJA
Pantaskah ?


__ADS_3

Ada berbagai macam rasa yang akan kita temui di perjalanan kehidupan. Rasa itu seolah menjadi warna-warni yang terus menghiasi perjalanan itu. Kemudian mimpi-mimpi dan angan mulai bermunculan dan menjadi pernak-pernik yang mengisi kekosongan. Dan setelahnya akan ada banyak rangkaian peristiwa yang menjadi tantangan dan rintangan yang harus di lewati. Kini diriku telah berada disana. Namun, sudah sejauh manakah diriku melangkah, akankah diriku bisa mencapai ujung dari lintasan ini, atau bahkan akhir itu tak akan pernah Aku temui.


Pantaskah?


Sejauh ini Aku telah melangkah, ada berbagai rasa yang telah Aku temui di kehidupan ini. Termasuk pula rasa cinta. Cinta hadir di kehidupanku sebagai tanda bahwa diriku kini hampir mencapai ujung perjalanan kehidupan. Cinta hadir dan mulai membuat perubahan besar dalam diriku. Cinta hadir dan memaksaku untuk melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Ya, mendapatkan seseorang yang telah membuatku merasakan apa itu cinta. Namun diriku lupa bahwa semua yang kita inginkan di kehidupan tidak akan selalu terwujud. Karena garis takdir yang memisahkan mimpi dan kehidupan seseorang memiliki jalan tersendiri yang telah ditentukan. Tidak ada seorangpun yang bisa melewati batasan itu. Lalu bagaimana cara seseorang terus menjalani kehidupan, hanya ada satu cara. Keihlasan...


Aku telah merasakan cinta dalam beberapa saat. Dan aku telah menemukan orang yang membuatku merasakannya. Lalu aku mengatakannya. Sungguh kemalangan memang telah menguasai kehidupanku. Orang itu belum mengatakan apapun kepadaku. Apa yang akan diriku lakukan?


Mengejarnya!


***


Lorong kelas...


"Aisyah!" teriakku.


"..." tanpa jawaban.


Lorong perustakaan...


"Aisyah! tunggu!" teriakku.


"..." tanpa jawaban.


Aula terbuka...


"Aisyah!" teriakku.


"..." masih sama, tanpa jawaban.


kringggg....


Jam istirahat telah berakhir. Waktuku terbuang hanya untuk mengejarnya dan meneriaki namanya. Tetapi, tidak ada respon apapun darinya. Seolah tidak mendengarku dan menganggapku ada di dekatnya. Namun, diriku masih belum menyerah.


"Aisyah! pliss!" teriakku.


"..." masih sama.


Masih sama tanpa suara. Tetapi kali ini aku berhasil menghentikan langkahnya.


"Aisyah!" tetiakku dari kejauhan.


"Ya?" sautnya.


Samar-samar suara lembutnya memasuki rongga telingaku. Sangat kecil, namun masih terdengar olehku.


"Aisyah, tentang perasaan aku padamu..."


Tiba-tiba saja Dia menyela perkataanku.


"Maaf! kamu pasti tau jawabannya..."


"Aku cuma mau tau isi hati kamu..."


"Aku...."


"Tolong jawab, karena aku ragu..."


"Ardan! cinta itu bukan hanya sekedar suka kepada seseorang..."


"Lantas?"


"Pantaskah dirimu untuk orang itu..."

__ADS_1


"Maaf, tapi aku masih belum mengerti..."


"..." tanpa jawaban.


Dia pergi tanpa memberikan jawaban apapun. Tidak ada sepatah katapun yang bisa aku terima darinya. Bahkan keraguan dihatiku semakin membesar dan membuatku semakin bertekat untuk kembali menanyakan hal itu kepadanya. Karena diriku masih belum mengerti arti dari kalimat,


"Pantaskah dirimu untuk orang itu..."


***


Aku masih belum bisa menemukan sebuah jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang muncul di benakku kali ini. Dan hingga saat ini diriku masih terus mencarinya. Keraguan ini harus segera aku singkirkan. Aku ingin mengetahui apa maksud dari kalimat yang di ucapkannya hari itu. Namun, sebelum menemuinya aku ingin mencari sedikit petunjuk dari seseorang. Mungkin saja Dia bisa memahami kalimat tersebut.


"Mat!" Ucapku


"Naon?" sautnya.


"Hm, kira-kira kamu teh faham gak sama kalimat ini, "Pantaskah dirimu untuk orang itu"......" tanyaku.


"Emangnya teh kenapa?"


"Faham gak?"


"Hehe, mangsudnya, "orang" di kalimat itu teh siapa?"


"Yaelah malah nanya balik, nih ya dengerin, kalo aku teh udah faham ngapain coba pake nanya sama kamu!"


"Hehe, iya ya..."


"Terus, faham gak?"


"Bentar bentar, emangnya ini teh siapa yang ngomong?"


"Si Aisyah..."


"Oh, eh tunggu, cieee abis dor! dor! cinta ya.."


"Hehe, udah jujur aja..."


"Bodo amat, gak faham kan! Bay! aku teh mau belajar buat ulangan!"


"Eh tunggu! tunggu!"


"Apaan lagi!"


"Menurut aku teh maksudnya neng Ica bilang gitu sama kamu yah nyuruh inttopeksi diri..."


"Hah? intropeksi?"


"Iyaaaa I-N-T-R-O-P-E-K-S-I."


"Hmm, udah ah aku teh ga faham kamu ngomong apaan!"


"Udah bagian itu teh gak usah di pikirin, yang penting kamu teh harus tanya sama neng Ica, pantes gak buat dia!"


"Oke deh, makasih atuh Mat."


"Sip, sami-sami"


Setelah bertanya dan mendengar jawaban dari Mamat, Aku sedikit memahami kalimat itu. Namun, Aku masih tidak tahu mengapa Dia mangatakannya kepadaku. Maka dari itu untuk mengusir rasa penasaranku dan untuk mengetahui detail makna kalimat itu, Aku kembali mencari orang itu dan ingin menemuinya secara langsung.


Sepulang sekolah, lapangan upacara...


"Aisyah! tunggu!" teriakku.

__ADS_1


Sepanjang jalan Aku terus meneriaki namanya, namun sikapnya tetap sama, tidak ada respon atau kaliamat apapun. Bahkan menurutku Dia tidak berkeinginan untuk melihatku sedetik saja. Namun tiba-tiba....


"Kenapa masih mengejar?"


Aku terhenti, sontak diriku terkejut mendengar suaranya. Kesempatan ini tidak boleh di sia-siakan. Kemudian Aku langsung saja mengarah pada inti kalimat yang ingin ku utarakan kepadanya.


"Aisyah! Pantaskah diriku untukmu?"


"..." tanpa jawaban.


Keheningan...


"Pantaskah Aku bersamamu?"


"..." tanpa jawaban.


Keheningan...


"Pantaskah?"


Tanpa sadar air mata ku menetes begitu saja. Entah apa yang membuat batinku terasa begitu menyakitkan. Seperti diriku akan merasakan sesuatu yang pernah aku rasakan di masa laluku.


"Tanyakan itu pada dirimu dan Tuhan yang menciptakan mu..."


"Aisyah! Aku bertanya pada dirimu!"


"Ardan!" bentaknya.


Keheningan...


"Aku bukan seseorang yang bisa mengatur kehidupan! Jadi tolong pergilah dan lupakan saja..."


Aku terdiam tanpa ada sepatah katapun terucap. Air mata mengucur deras membasahi pipiku. Begtu kejamkah kehidupan. Hingga kebahagiaan sesaat pun bisa lenyap dalam satu kedipan mata. Takdir kehidupan ku, aku ingin melewati batasan itu.


Aku belum pernah melihat dirinya berbicara dengan nada seperti itu kepada seseorang. Semarah itukah dirinya kepadaku. Apakah ini akhir dari segalanya. Bahkan kebencianpun hadir diantara diriku dan dirinya. Apakah perjuanganku telah usai, apakah cinta itu hanya sebuah khayalan tanpa ujung yang akan terus menghantuiku, apakah semua ini hanya sebuah ilusi, apakah semua yang telah aku lalui hanya sebuah mimpi, apakah kisah ini telah berakhir, sungguh diriku tidak tahu. Aku tidak tahu dimana kini diriku berada, diamna diriku tengah berjalan, dimana diriku menapakkan kaki, dimana diriku membuat jejak. Jalur yang aku lalui saat ini, akankah ini sebuah jalur menuju lautan kebahagiaan ataukah menuju lembah penyesalan.


"Pantaskah diriku wahai Tuhan?"


***


Waktu


Waktu...


Begitu cepat kau berlalu


Hingga diriku tak mampu


Tuk mengarungi luasnya samudra


Dan menikmati keindahan dunia


Dapatkah kau menungguku,


wahai sang waktu


Jika mampu


Lakukanlah! lakukanlah!


Hanya untuk diriku


Meski diriku tahu

__ADS_1


Bahwa sang waktu


Tidak akan pernah menunggu


__ADS_2