
Meja-meja yang ada di ruang produksi lantai dua segaja disusun rapi dan diletakkan di tepi ruangan. Para pegawai sudah duduk diatas karpet besar yang tergelar rapi di tengah ruangan.
Senja memberikan sambutan atas maksudnya membuat para karyawannya berkumpul disana saat ini.
"Dan sebagai penutup, saya akan menyampaikan jika Mia yang selama ini menjadi sekretaris saya akan menggantikan posisi saya disini. Semoga Mia bisa menjalankan amanah dari saya dan bisa mengayomi teman-teman semua ya bekerja disini.
Saya sangat berterimakasih untuk teman-teman yang sudah membantu saya membesarkan toko ini hingga sebesar ini. Dulu saya hanya berlima dan sekarang kita sudah hampir berempat puluh ya?
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk teman-teman, yang tetap bertahan bekerja di tempat ini walau banyak tawaran diluar sana yang lebih menarik.
Saya Ijin pamit, Maafkan saya jika selama kepemimpinan saya ada tutur kata atau tindakan yang melukai perasaan kalian. Mari kita terus jaga komunikasi kita, ya?
Ada sedikit hidangan dari saya, bisa teman-teman jadikan laum untuk makan bersama keluarga kalian dirumah.
Sekian dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullohi wabarakatuh."
Senja menutup sambutannya, ia melihat beberapa pegawainya yang menitkkan air mata. Senja menghampiri satu persatu pegawainya untum bersalaman dan mengucapkan terimakasih.
Langit begitu tersentuh melihat kejadian itu, betapa beruntungnya Senja karena karyawannya sangat menyayanginya. Ia tak terlalj terkejut jika Senja mendapatkan loyalitas dari pegawainya, karena Senja memang mempunyai sifat yang sangat baik kepada semua orang.
*********
Usai berbincang ulang tentang proses renovasi bersama Mia dan Manajer proyek, Langit dan Senja beranjak pergi karena hari sudah malam.
"Pa, Jangan lupa ke rumah nek Imah dulu." Sky mengingatkan Langit ketika baru memasuki portal perumahan tempatnya tinggal.
"Iya, Sayang." Jawab Langit.
"Ini ke kiri terus sampai mentok, belok kanan mas." Senja memberi arahan.
"Sky sama Sora bawa kotak makannya ya, nanti kasih ke nek Imah dan Kek Udo." Senja menoleh ke belakang menunjuk dua kantong yang berisi kotak makan.
"Iya, Ma."
"Berhenti di rumah paling ujung itu mas, yang pagernya dari bambu."
Langit menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil berpagar bambu, sangat berbeda dari rumah lainnya.
Sky dan Sora turun terlebih dahulu, di susul Langit dan Senja.
"Nek Imah." Teriak Sky dan Sora, di iringi ketukan pintu.
__ADS_1
"Kok rumahnya beda sendiri sayang?" Tanya Langit.
"Nanti ku jelasin di rumah aja ya mas." Jawab Senja, ia melangkah mendekati pintu ruang tamu. "Assalamu'alaikum, Budhe?"
"Wa'alaikumsalam." Terdengar suara dari dalam rumah, lalu pintu ruang tamu terbuka.
Seorang wanita paruh baya bertubuh kurus terlihat disana.
"Eeeh, ada Sky dan Sora cucu nenek." Sapanya
"Nek, kami bawa makanan untuk nek Imah dan Kek Udo."
Sky dan Sora memberikan kantong plastik yang ia bawa ke Imah
"Terimakasih sayang." Imah mengambil pemberian Sky dan Sora.
Imah menatap Senja, "Ayo nak Senja, masuk dulu."
"Iya, Budhe." Senja mengangguk
Ia menatap Langit ingin mengajaknya masuk, namun Langit hanya terdiam menatap Imah dengan tatapan terkejut.
Membuat Sky, Sora dan Imah menatap Langit.
Brug!!
Kotak makan yang ada di tangan Imah terjatuh, Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya nanar menatap Langit, dan air mata mulai mengaliri pipinya.
"Langit?"
Satu kata keluar dari mulutnya, membuat Senja semakin bingung mengartikan situasi didepannya.
"Budhe kenal suami Senja?" Tanya Senja.
Imah terkejut mendengar pertanyaan Senja, "Jadi Langit suami kamu?"
Senja mengangguk bingung.
"Kita pulang sekarang, Sayang." Langit menarik pelan tangan Sky dan Sora meninggalkan teras rumah Imah.
"Langit!!" Imah memanggil Langit.
__ADS_1
"Pa, Nek Imah manggil papa." Ucap Sora, menarika tangan Langit agar berhenti.
Imah berlari mengejar Langit, Ia menarik tangan Langit agar berhenti. Namun dengan kasar Langit menepis tangan Imah dari tangannya.
"Jangan sentuh tanganku!!" Sentak Langit.
"Mas!!" Senja terkejut dengan sikap Langit.
Ia menghampiri Langit, mengajak Sky dan Sora masuk ke dalam mobil.
"Sayang maaf, kalian tunggu disini sebentar ya."
Senja menutup pintu dan menghampiri Langit yang beranjak menuju ke mobil, namun Imah masih mengejarnya.
"Mas mas," Senja menarik tangan Langit untuk mencegahnya masuk ke mobil. "tolong jelasin apa yang terjadi, kasihan budhe Imah." ucap Senja
Imah menangis menatap Langit, ia berusaha menyentuh Langit namun dengan kasar Langit menepisnya lagi.
"Langit. Tolong maafkan Ibu, Nak."
Senja terkejut mendengar kata 'Ibu' yang keluar dari mulut Imah. Ia terdiam mematung melihat Imah menangis memohon belas kasihan Langit.
Langit menarik tangan Senja untuk masuk ke dalam mobil, Ia tak berani membantah lagi dan menurut untuk masuk ke dalam mobil.
Langit juga beranjak masuk ke dalam mobil, namun Imah masih menghalanginya. Ia ingin mendorong tubuh wanita itu agar menjauh darinya, namun ia tak mau Sky dan Sora melihatnya.
Ia hanya diam dan masuk ke dalam mobil, Melajukan mobilnya dan mengacuhkan Imah memanggil-manggil namanya dari luar.
"Kenapa Papa tidak dengerin nek Imah manggil?" Tanya Sora, membuat Sky menutup mulut Sora.
Senja melihat ke belakang, menatap Sora agar tidak bicara terlebih dulu.
"Sssttt, Papa lagi marah. Diam dulu." Bisik Sky sangat pelan ditelinga Sora.
Setelah Sora mengangguk, Sky melepaskan tangannya dari mulut Sora.
Senja juga terdiam, melihat wajah Langit yang terlihat sangat marah. Menyentuhnya saja Ia tak berani.
-Bersambung-
Terimakasih dukungannya untuk readers yang sudah vote author..
__ADS_1